
Kakek Rudi bersama dengan Firman memasuki ruangan tunggu yang ada di perusahaan Adipratama. Ruangan yang cukup besar dengan interior modern klasik, suasananya adem dan juga begitu sejuk.
Ada beberapa pemandangan bingkai sakura yang terpampang di dinding ruangan itu. Kakek Rudi ataupun Firman saling menyapa keluarga Hartawan. Niatnya mau makan malam, tetapi keluarga Hartawan membatalkannya.
"Dimana calon istri cucu saya?" tanya Kakek Rudi, yang tak melihat adanya Shanaya di antara mereka semua.
"Assalamualaikum, " ucap Shanaya, semua orang menoleh. Kakek Rudi dan Firman terpesona melihat penampilan baru Shanaya, padahal Kakek Hardiman sudah wanti-wanti, takut Kakek Rudi menolak penampilan baru Shanaya.
"Waalaikumsalam, " jawab semua orang setelah Shanaya tiba di hadapan mereka, dan membuyarkan lamunan mereka semua. Lucki yang melihat itu tersenyum, karena memilih untuk berpihak pada adik perempuannya untuk menutup aurat.
Padahal, sebelum ke tempat itu Kakek Hardiman dan juga Juwita terlebih dulu berdebat dengan penampilan Shanaya, tetapi karena Shanaya mengancam tidak mau menikah, akhrinya mereka menyetujui syarat dari Shanaya.
Shanaya duduk di sebelah Lucki, Kakek Rudi tak pernah lepas pandangannya ke arah Shanaya, entah kenapa pria tua ini cukup terkesan melihat calon istri cucunya.
"Shanaya punya syarat untuk semua orang yang ada disini," setelah semua orang selesai membahas tanggal pernikahan Shanaya dan Ferdi, akhirnya Shanaya membuka suaranya yang membuat semua orang terdiam dan melirik ke arahnya.
"Kami menikah atas keinginan dua keluarga, jika di antara kami tidak memiliki daya tarik sama sekali, maka bersabarlah untuk menghadapinya. Kami tidak marah ataupun membenci semua orang, tetapi setidaknya beri kesempatan untuk kami untuk saling berkenalan terlebih dulu, untuk saling mengenal satu sama lain, karena tiba-tiba sekamar dan serumah dengan orang asing itu tidaklah mudah, karena ini bukan drama, tetapi kehidupan nyata," ungkap Shanaya, semua orang diam mendengar pendapat dan ungkapan dari hati Shanaya.
"Satu lagi, jangan harap banyak kepada kami, jika kalian ingin menimang cucu karena itu tidak akan pernah kalian dapatkan!" ucap Shanaya tegas, sontak membuat Kakek Rudi dan Kakek Hardiman terkejut dan menatap nyalang ke arah Shanaya.
Ternyata ucapan Shanaya lebih pedas dari ucapan Ferdi barusan, Kakek Rudi sekali lagi menghela nafas beratnya.
"Shanaya, apa yang kamu katakan, cepat minta maaf sama mereka," ucap Kakek Hardiman, tetapi sebelum Shanaya kembali berbicara Kakek Rudi lebih dulu menyela ucapan Kakek Hardiman.
"Tidak apa-apa, kita semua bisa bersabar sampai kalian berdua bisa saling menerima satu sama lain."Imbuh Kakek Rudi, barulah Kakek Hardiman merasa lega karena Kakek Rudi menerima syarat dari Shanaya.
Syarat dari Shanaya, dia tidak akan bisa memberikan cucu kepada mereka, selama dia belum jatuh cinta kepada Ferdi, begitu juga dengan Ferdi, dia tidak akan menerima Shanaya selama dia belum jatuh cinta kepada wanita itu.
Di dalam ruangan CEO, Ferdi di sibukkan dengan berbagai macam berkas yang ada di atas meja. Tetapi, sesekali bayangan Shanaya selama di pondok pesantren Al-Hakim menganggu pikiran Ferdi, sehingga pria ini berhenti memeriksa berkas, melemparkan pulpen yang ada di tangannya ke sembarangan tempat.
*
__ADS_1
*
*
Hari yang di tunggu- tunggu telah tiba, tetapi Aya ataupun Daffa belum bisa move on pada masa lalu, yang sempat membuat ke duanya merasakan arti dicintai dan mencintai orang lain.
Bahkan, niat Daffa yang ingin ta'aruf dengan Aya membuat wanita ini terkesan banyak, tetapi Daffa malah memilih membohongi Aya dengan menyembunyikan kebenaran kalau pria ini pura-pura amnesia.
Kakek Rudi berdiri di ambang pintu kamar Ferdi, di dalam ternyata ada Bagas yang membantu Ferdi untuk menyiapkan semua keperluan Ferdi.
"Kamu cukup tampan Ferdi, Kakek bangga padamu, akhirnya kamu menikah juga di usiamu yang tak muda lagi," ujar Kakek Rudi, lalu menyentuh bahu sang cucu yang berdiri di depan kaca rias. Ferdi, tak menjawab. Bahkan, Ferdi menghindari Kakek Rudi yang mengajaknya untuk berbicara.
"Kakek, aku tidak bisa menerima wanita itu sebagai istriku, aku menerima perjodohan ini karena kamu memaksaku, jadi berhenti memujiku, dan mencoba mengatakan hal-hal baik kepadaku, karena sampai kapanpun aku takkan merubah semua syarat dua hari yang lalu!" Kakek Rudi menatap Ferdi dengan marah, tetapi masih berusaha untuk menahannya.
"Aku membenci wanita itu!" lanjut Ferdi, dan berlalu pergi meninggalkan Kakek Rudi di dalam kamar. Pria tua ini hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Benci? apa kamu yakin? Kakek bersumpah, kau akan jatuh cinta dalam sehari dengan wanita itu!" ucap Kakek Rudi menyimpulkan senyumannya, lalu ikut pergi meninggalkan kamar Ferdi.
Suasana di kediaman Hartawan cukup meriah, banyak tamu yang di undang oleh mereka, semua kolega dan klien hadir semua tak ada yang terlewatkan, sehingga papa bunga yang ada di depan rumah itu menandakan jika mereka semua turut berbahagia atas pernikahan yang di langsungkan oleh keluarga Hartawan dan Adipratama.
Juwita memegang kedua bahu Shanaya, yang duduk di depan kaca rias. Wanita ini hanya memakai hijab saja dan belum mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya. Tetapi, atas permintaan Kakek Rudi dan keluarga besar Hartawan, untuk hari ini mereka meminta Shanaya untuk tidak memakai cadar, karena ini adalah momen sekali dalam seumur hidup.
Humairah, dan Abi Hakim datang pada acara tersebut, wanita ini segera masuk ke dalam kamar Shanaya, dan menyapa Juwita dengan ramah.
"Aku ingin memakai cadar," pinta Shanaya kepada ibunya.
"Tidak, Shanaya. Kakek memintamu untuk hari ini tidak memakainya, ini permintaan kakek!" ucap Juwita tegas, tetapi Shanaya memohon penuh iba, agar permintaannya mau di dengar oleh Juwita.
"Alasanmu?" kini Juwita berdiri di samping Shanaya dan bertanya alasan wanita ini untuk menutup wajahnya.
"Aku tidak punya alasan, selain menjaga pandangan orang kain," Juwita mengalah, dan tidak banyak bicara lagi, Juwita takut pernikahan ini gagal jika tidak mengizinkan Shanaya memakai cadar.
__ADS_1
Lucki memberitahu Juwita dan yang lain, kalau keluarga dari membelai pria telah tiba, di kediaman Hartawan. Tiba-tiba seluruh tubuh Shanaya membeku, nafasnya tersengal. Rasa gugup mulai menganggu pikirannya.
"Bismillah, dulu jangan gugup," ucap Humairah berbisik dan menggenggam ke dua tangan Shanaya.
"Shanaya pernikahan itu suci, jangan pernah mempermainkan sebuah pernikahan. Soal perasaan, terimalah dengan pelan-pelan insyaAllah Allah akan memudahkan jalanmu, yang lalu biarlah berlalu, ini masa depanmu terima suamimu dengan ikhlas, dan Allah akan hadirkan cahaya cinta dalam pernikahan kalian, lebih indah dari cinta yang pernah gagal kamu bina,"lanjut Humairah, Shanaya memeluk wanita bercadar itu dengan erat, selain Humairah tidak ada orang lain yang memiliki ungkapan yang begitu lembut, sehingga membuat Shanaya tersentuh.
Pengantin pria sudah menunggu pengantin wanita di sebuah tenda yang sudah di rias dengan dekorasi yang cukup indah. Ferdi berada di antara banyak orang dan di depannya ada bapak penghulu dan juga saksi untuk pernikahan mereka berdua.
Juwita dan Humairah menuntun Shanaya ke tempat dimana semua orang telah menunggunya, semau pandangan orang kagum melihat penampilan baru dari Shanaya, sedikit orang yang mengenal putri dari keluarga Hartawan, mereka semua banyak mengenal Lucki sebagai pimpinan group Hartawan.
Beriringan langkah Shanaya yang di hantarkan ke tenda pernikahan, Abi Hakim membacakan sebuah sholawat atas permintaan Shanaya beberapa hari lalu, dan sholawat itu semakin membuat suasana mendadak menjadi haru biru, semua orang tersentuh dengan setiap lafaz sholawat yang Abi Hakim ucapkan.
Ferdi, menundukkan pandangannya, tak ingin melihat ke arah calon istri yang di hantarkan di hadapannya. Hingga Shanaya tiba di tempat itu, Ferdi masih setia dengan posisinya semula, sikap Ferdi itu membuat Kakek Rudi geram, dan hampir saja berteriak memarahi pria itu, tetapi Firman mencoba menenangkan Kakek Rudi dari jauh.
"Baiklah, ijab qabul segera kita mulai,"
Bapak penghulu mengulurkan tangannya ke arah Ferdi, tetapi pria ini masih diam menundukkan pandangannya, padahal Shanaya telah duduk di samping Ferdi selama lima menit yang lalu.
Bagas, mengangkat tangan Ferdi agar mau menerima tangan bapak penghulu, agar ijab qabul bisa segera berlangsung.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Ijab qabul, berjalan dengan lancar, tetapi baik hari Ferdi ataupun Shanaya berdetak cukup kencang, karena kedua nama itu tak asing bagi mereka berdua.
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah,"
Semua orang terlihat senang dan lega, pernikahan berlangsung begitu lancar, bapak penghulu meminta Ferdi dan Shanaya untuk bersalaman, dan Ferdi harus mendoakan istrinya dengan doa-doa yang baik untuk keselamatan pernikahan keduanya.
__ADS_1
"Nak, Ferdi. Berbaliklah, dan doakan istri Anda," ucap Bapak Penghulu, Ferdi dengan malas, berbalik, tetapi perasaan gugup masih terus menyerangnya begitu juga dengan Shanaya, yang duduk dalam keadaan tak tenang.