
Plak!
Sebuah tamparan berhasil mendarat sempurna di pipi kanan, Ferdi. Sehingga pipi Ferdi terasa cukup panas dan perih, netra Kakek Rudi membulat sempurna menatap Ferdi penuh dengan amarah yang sudah di tahannya sejak berada di kantor tadi siang.
Juwita bersama dengan Bagas, berdiri di ambang pintu. Bi Asih, sampai menutup mulut terkejut melihat Kakek Rudi yang menampar Ferdi begitu keras.
"Kau sudah dewasa, sudah tahu bagaimana cara mempermalukan aku, dan keluarga ini!" hardik Kakek Rudi dengan suara yang cukup lantang. Ferdi terdiam dengan tangan yang ikut terkepal. Ferdi tak melihat ke arah Kakek Rudi, yang senang menatapnya dengan lekat.
"Suka atau tidak, mau atau tidak, kau tetap harus menikah dengan wanita itu!" lanjut Kakek Rudi, sembari menunjuk ke arah Ferdi.
"Kakek, tidak bisakah aku menikah dengan wanita pilihanku? aku memiliki wanita dalam hidupku, aku punya cinta kakek!" ucap Ferdi dengan lantang, membuat Kakek Rudi menatapnya tak suka.
"Sejak kau lahir, hidupmu adalah milik keluarga ini, kau hidup atas peraturan ku, aku tidak akan mengizinkan mu menikah dengan wanita lain selain dari keluarga Hartawan!" ucap Kakek Rudi dengan tegas, dan berbalik ingin pergi meninggalkan kamar Ferdi.
__ADS_1
"Aku tidak akan menikah dengan wanita lain, selain wanita yang ku cintai, kecuali kakek mau melihat wanita itu tersiksa setiap harinya!" teriak Ferdi dengan keras.
"Egh!"
"Kau, berani?" tanya Kakek Rudi, yang mencengkram kuat rahang Ferdi, sekuat sisa tenaga yang Kakek Rudi miliki, membuat Ferdi kesusahan untuk bernafas, meskipun tua pria itu memiliki tenaga yang bagus.
"Kalau kau bisa coba saja, aku takkan melarangmu," lanjut Kakek Rudi, lalu pergi meninggalkan Rudi setelah menghempaskan tubuh pria itu ke lantai.
Kakek Rudi melewati Bagas dan juga Bi Asih, begitu Kakek Rudi sudah turun ke lantai dasar, Bagas masuk dalam kamar Ferdi.
"Tuan muda," seru Bagas, membantu Ferdi untuk berdiri dan memapah tubuh pria itu untuk duduk di tepi ranjang. Bagas membantu Ferdi untuk mengompres memar yang ada di wajah Ferdi.
Pagi-pagi sekali Ferdi telah berpakaian rapi, memakai jas hitam dan kemeja biru elektrik, seperti biasa wajah Ferdi tampan setiap harinya.
__ADS_1
"Nanti malam, kita memiliki jadwal makan malam dengan keluarga Hartawan, ku harap kau takkan membuat aku malu," tukas Kakek Rudi, Ferdi tak menjawab karena roti panggang yang ada di atas meja lebih nikmat dari ucapan Kakek Rudi, pikirnya.
Firman hanya diam saja melihat dua orang yang ada di meja. Kakek Rudi, sudah kewalahan mengurus cucu satu-satunya keluarga Adipratama.
"Harusnya kau memberikan aku dua cucu, agar aku tak naik darah setiap kali berbicara dengan pria ini, bahkan aku bisa serangan jantung kalau lama-lama berada di meja makan," setelah mengatakan itu, Kakek Rudi pergi meninggalkan meja makan. Firman melihat ke arah Ferdi yang masih tak memedulikan apa yang terjadi di depannya.
"Apa ini yang kau mau, Ferdi?" tanya Firman, Ferdi mendongakkan kepalanya melihat ke arah sang ayah.
"Bukan, itu bukan keinginanku, karena keinginanku cuma satu, yaitu menikah dengan wanita yang ku cintai," Ferdi berdiri dan berlalu pergi dari ruang makan.
Di luar rumah, Ferdi melihat Bagas yang sedang menunggunya. Bagas membuka pintu mobil untuk Ferdi, pria ini segera masuk ke dalam mobil.
"Tuan, hari ini kita tidak ada jadwal meet...."
__ADS_1
"Kita ke pondok pesantren, Al-Hakim," timpal Ferdi, yang menyela ucapan Bagas, pria ini melihat ke arah Ferdi dan tak percaya kalau Ferdi masih belum mau menyerah, dan menerima perjodohan itu.