Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 40


__ADS_3

Ferdi membuka pintu kamar Shanaya, dan tak lupa mengunci dari dalam. Melihat istrinya yang sedang tertidur membuat Ferdi, tak tega menganggu Shanaya. Perlahan-lahan langkah kaki Ferdi mulai mendekat dan duduk di tepi ranjang. Mengusap pelan pucuk kepala Shanaya, lalu mengecup singkat di kening.


"Tidak, bukan. Bukan aku yang melakukan itu," Shanaya mengigau membuat Ferdi terkejut, Ferdi dapat melihat betapa takut dan sedihnya raut wajah Shanaya saat ini, wanita ini begitu tertekan. Ferdi langsung memeluk Shanaya dengan erat, mengusap punggung Shanaya untuk menenangkan sang istri yang mulai di bayangi rasa takut dan rasa bersalah atas perbuatan yang tak pernah di lakukan oleh Shanaya.


Tiba-tiba, Ferdi kembali mendengar isak tangis dari bibir Shanaya membuat hati Ferdi sakit. Ferdi menatap wajah sendu sang istri yang masih terlelap dengan bibir yang gemetar karena menangis. Perlahan-lahan tapi pasti, Ferdi mengecup lembut bibir ranum Shanaya, agar Shanaya tenang dan tak menangis lagi dalam tidurnya.


Namun, hal itu justru membuat Shanaya terbangun dan terkejut melihat Ferdi yang ada di dalam kamarnya. Shanaya langsung memeluk erat tubuh Ferdi, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setidaknya Shanaya masih merasakan cinta dari suaminya meskipun saat ini harus tinggal di rumah yang berbeda.


Akhirnya, Ferdi memilih untuk menemani Shanaya malam ini, dia tidak akan meninggalkan istrinya dalam keadaan yang masih takut, karena kematian Kakek Rudi.


Pagi-pagi sekali, Lucki terbangun dan bersiap-siap untuk mengantar Kakek Hardiman bertemu dengan kliennya yang ada di Bali, dan Kakek Hardiman harus berangkat pagi itu juga.

__ADS_1


"Ayah, hati-hati di jalan," ucap Juwita mencium punggung tangan Kakek Hardiman, lalu mengantar pria tua ini masuk ke dalam mobil, Lucki sendiri juga segera masuk ke dalam mobil dan mengantar Kakek Hardiman menuju bandar udara.


Mobil Lucki meninggalkan halaman rumah Hartawan, begitu mobil itu melesat pergi dari rumah, Lucki tak pernah sadar mobil milik Ferdi yang terparkir tepat di samping rumah Hartawan.


Juwita kembali masuk, dan terkejut melihat Ferdi dan Shanaya sudah tiba di lantai dasar.


"Ma, kakak sudah pergi?" tanya Shanaya,


"Sudah, kamu mau kemana?" melihat koper yang ada di tangan Ferdi, Juwita tahu itu hak Ferdi karena dia suaminya Shanaya, tetapi bagaimana bisa Ferdi membawa Shanaya pergi, sedangkan Shanaya belum terbebas dari tuduhan itu.


"Berjanjilah kepada Shanaya, kamu takkan mengecewakannya," tukas Juwita, menepuk pelan punggung Ferdi, pria ini mengangguk begitu mantap, seakan berjanji dia takkan membuat Shanaya kecewa.

__ADS_1


Ferdi dan Shanaya segera pergi meninggalkan rumah Hartawan setelah berpamitan dengan Juwita. Tujuan mereka saat ini adalah pondok pesantren Abi Hakim, karena tempat itu yang sangat aman untuk mental Shanaya untuk saat ini. Ferdi tak ingin sesuatu terjadi dengan istri dan calon babynya.


Di sepanjang perjalanan Shanaya merebahkan kepalanya di pundak Ferdi, sembari tangan mereka berdua tergenggam cukup erat. Sesekali Ferdi mengecupnya, butuh waktu sekitar tiga jam untuk menempuh perjalanan itu.


Ferdi, menghentikan mobilnya di depan pondok pesantren Abi Hakim, dimana Humairah sudah menunggu. Ferdi, tak bisa masuk karena urusannya saat ini sangat penting, dia harus segera mencari bukti untuk membebaskan Shanaya dari tuduhan itu.


"Humairah, aku titip Shanaya, tolong jaga dia. Jika sesuatu terjadi, segera hubungi aku, dan satu lagi berhubung Shanaya tengah hamil, aku minta tolong kepadamu agar menjaga dengan baik," ujar Ferdi, lalu mengeluarkan sebuah amplop untuk Humairah.


"Ini untuk pondok ini, aku tak membayarmu atas kebaikanmu, tetapi aku sangat berterima kasih atas kebaikanmu," lanjut Ferdi, menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Terima kasih, kembali." Humairah mengambil amplop itu atas perintah Shanaya, meskipun Humairah segan tetapi Shanaya tetap akan memaksanya.

__ADS_1


Ferdi dan Shanaya saling berpelukan untuk berpisah dalam beberapa hari ke depan. Ferdi, mengecup mesra kening Shanaya dan itu membuat Humairah tersenyum betapa besar dan kuatnya cinta mereka, meskipun masalah mereka begitu besar, Ferdi tak pernah memandang Shanaya begitu buruk, tetap bagi Ferdi Shanaya adalah cinta dan hidupnya.


Setelah mobil Ferdi melesat jauh, Humairah membawa masuk Shanaya, dan mengantar Shanaya ke rumah Abi Hakim, karena hanya di rumah Abi Shanaya akan tinggal dengan nyaman.


__ADS_2