Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 18


__ADS_3

Ferdi, meminta Bagas untuk mengantar dirinya ke kediaman Hartawan. Tetapi, tiba di sana Ferdi malah bingung, karena dia belum menyimpan ponsel milik Shanaya.


Terpaksa, Ferdi kali ini memanjat tembok lagi, agar bisa masuk. Seluruh lampu yang ada di dalam rumah Hartawan masih menyala, terlihat Kakek Hardiman, dan Juwita baru saja tiba dengan mobilnya. Itu artinya semua orang belum tidur.


Ferdi berniat untuk mengurungkan niatnya untuk tidak bertemu dengan Shanaya malam ini. Tetapi, begitu sadar ternyata Bagas sudah meninggalkan tempat tersebut. Terpaksa Ferdi akhirnya memilih untuk bertemu dengan Shanaya.


Shanaya, keluar untuk mengambil barang Juwita yang tertinggal di mobil, Shanaya masih memakai pakaian yang lengkap dengan cadar, dari jauh Ferdi terkesima melihat istrinya yang begitu cantik dan anggun memakai pakaian muslimah.


Ferdi, melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Shanaya yang masih mengeluarkan barang milik Juwita. Hembusan angin menerpa gamis yang di kenakan Shanaya, ujung hijab ikut terbang sehingga menerpa wajah Ferdi yang saat ini berdiri di belakang sang istri.


Wewangian yang di pakai Shanaya, mampu membuat aliran darah Ferdi mengalir begitu deras, sehingga tak sadar Ferdi memegang ujung hijab dan menciumnya. Shanaya berbalik setelah mendapat apa yang dia cari, tetapi wanita ini terkesiap tatkala melihat suaminya yang muncul tiba-tiba di hadapan Shanaya.


Raut wajah Ferdi, menampilkan senyuman yang begitu tampan, sembari menatap lekat ke arah netra sang istri. Tetapi, suara Lucki mengejutkan mereka berdua, Ferdi menoleh dan melihat Lucki sudah berdiri di belakang mereka.


"Kenapa kamu datang lagi?" tanya Lucki dingin, dan menarik lengan Shanaya, agar terpisah dari Ferdi. Ferdi yang melihat sikap kakak iparnya begitu membuat Ferdi kesal, dan menarik kembali Shanaya dalam dekapannya.

__ADS_1


Lucki, juga tak tinggal diam, ternyata senang mengerjai Ferdi. Pria ini kembali menarik Shanaya agar berdiri di sebelah dia, dan detik berikut Ferdi melakukan hal yang sama, sehingga membuat Shanaya kesal, dan segera menghentakkan ke dua tangan pria itu, sembari menatap kesal ke arah ke duanya.


"Menyebalkan," ucap Shanaya singkat, dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Sayang, tunggu!" tetapi Shanaya sudah berlalu pergi dan masuk ke dalam rumah, sementara Ferdi kini tinggal bersama dengan Lucki di luar rumah. Lucki menatap Ferdi, sembari menaikan satu alis, kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya.


"Tunggu apalagi? cepat pergi!" titah Lucki, sembari membuat raut wajah menyuruh adik iparnya untuk pergi dari rumah Hartawan.


"Kakak ipar ku yang jomblo, dan suka sekali mengerjai kami, aku katakan ya, aku ini suami Shanaya, dan adik iparmu. Apa kata orang dan tetangga jika kamu mengusir ku dari sini, apa kamu tidak takut jika tetangga tahu, dan besoknya ada gosip, keluarga Hartawan mengusir menantu mereka di malam hari," tukas Ferdi, dengan rautnya yang songong, membuat Lucki ingin sekali memukul pria itu karena sudah mengatainya jomblo.


Lucki, menghela nafasnya kasar serta berbalik dan ingin masuk, tetapi pria ini kembali berhenti dan menoleh melihat ke arah Ferdi, yang masih tersenyum mengejek ke arahnya.


Lucki, mematikan semua lampu di dalam rumah Hartawan, karena semua orang telah pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Begitu juga dengan Juwita dan Shanaya. Kakek Hardiman dan Lucki tidur di kamar lantai bawah, Juwita dan Shanaya berada di lantai atas.


"Jangan mengetuk pintu, kau hanya perlu menghubunginya, Shanaya akan membuka pintu kamar," tukas Lucki, Ferdi membulatkan matanya, melihat ekspresi Ferdi, Lucki kembali bertanya.

__ADS_1


"Apalagi?" menatap adik iparnya dengan malas.


"Aku melupakan ponselku di mobil," ungkap Ferdi, sembari nyengir kuda di depan Lucki, membuat Lucki berniat pergi dan meninggalkan pria itu.


"Itu masalahmu!" cetus Lucki, lalu pergi meninggalkan Ferdi sendiri di tangga. Ferdi, menatap kesal ke arah Lucki, tetapi pria ini sudah lebih dulu pergi menuju kamarnya.


"Dasar kakak ipar sialan!" maki Ferdi, yang melihat Lucki sudah hilang dari pandangannya, dari arah kamar Lucki tersenyum, lalu menghubungi Shanaya, meminta Shanaya untuk membuka pintu kamar, serta memberitahu jika Ferdi sedang menuju ke kamarnya.


Ferdi menginjak satu persatu anak tangga, hingga dia tiba di lantai atas, dan Ferdi di kejutkan dengan penampilan Juwita yang baru saja keluar dari kamar serta memakai masker, hampir saja Ferdi berteriak, untung saja pria ini cepat bersembunyi di balik vas bunga yang besar yang ada di lantai dua di dekat kamar Shanaya.


Juwita melewati tempat persembunyian Ferdi, dan bergegas pergi menuju lantai bawah, untuk mengisi minuman di dalam teko yang dia bawa bersama dengannya.


"Aish, mama mertua hampir saja membuat jantungku copot, enggak anak, enggak ibu sama-sama bikin darting," gumam Ferdi, sembari keluar dari tempat persembunyiannya.


"Siapa maksud mas Daffa, yang bikin darting?" tanya Shanaya, Ferdi berbalik dan melihat istrinya yang berdiri di ambang pintu kamar, melihat itu Ferdi kembali nyengir kuda, dan Shanaya masuk kembali ke dalam kamar meninggakan Ferdi di luar kamar.

__ADS_1


"Eh, sayang!"



__ADS_2