
Tiba Ferdi, di kantor. Ternyata Bagas, telah menunggu Ferdi begitu lama.
"Tuan, dari mana saja Anda?" tanya Bagas, saat Ferdi memasuki lobi.
"Dimana papa?"
"Tuan Firman, baru saja berangkat ke Bali, karena katanya ada pertemuan penting," ujar Bagas.
'Itu artinya papa akan bertemu dengan Kakek Hardiman?' batin Ferdi, Bagas memperhatikan raut wajah Ferdi.
"Ada apa Tuan?"
"Tidak, ada."
Ferdi berlalu pergi menuju lift, Bagas juga mengikutinya sampai ke lantai atas, tetapi yang membuat Bagas heran adalah Ferdi melewati ruangannya, tetapi memilih untuk pergi ke ruangan kerja milik Kakek Rudi, yang sudah tak ditempatinya selama beberapa hari, setelah pembagian warisan untuk keluarganya.
Hal itu, justru membuat Bagas penasaran lalu bertanya, " kenapa Anda datang ke sini, Tuan? ini semua barang milik Tuan Besar? apa yang ingin Anda lakukan dengan ini?" tanya Bagas, Ferdi menghela nafasnya, lalu duduk di kursi kebesaran milik Kakek Rudi.
"Aku merindukan kakek, aku ingin mengenang kakek di dalam ruangan ini, tinggalkan aku di sini sendiri!" titah Ferdi, lalu Bagas berpamitan pergi meninggalkan ruangan Kakek Rudi.
Setelah kepergian Bagas, Ferdi bangkit dari tempat duduknya lalu, dia membuka rak buku milik Kakek Rudi, dan melihat semuanya tak ada yang mencurigakan semua itu adalah buku almarhum semasa hidupnya.
Lalu satu buku yang membuat Ferdi penasaran akan buku itu, lalu pria ini mengambil, begitu buku dia ambil ada hal yang mengejutkan yang tersimpan di balik buku itu, ternyata tombol rahasia, Ferdi langsung berpikir jika itu adalah ruangan rahasia kakeknya.
__ADS_1
Begitu tombol Ferdi tekan, lemari buku bergerak dan menggeser ke samping sehingga terlihat jelas sebuah ruangan usang yang seperti itu gudang, tentu saja membuat Ferdi terkejut, pasalnya Ferdi tak pernah masuk ke dalam ruangan itu, begitu juga dengan Firman.
Beberapa foto keluarga Adipratama terpampang di dinding ruangan tersebut, dari nenek dan kakek, Ferdi dapat melihat betapa bahagia keluarga mereka, di saat ibunya Ferdi masih hidup.
Ferdi juga membuka lemari, dan menemukan sebuah album yang sudah usang, pria ini langsung mengambilnya lalu membersihkan debu yang mengepul di atas kulit album, debu itu mampu membuat Ferdi batuk, itu pertanda album tersebut telah di simpan lama oleh Kakek Rudi.
Bahkan, tak sengaja Ferdi menemukan sebuah kotak besi tua yang tersimpan di dalam kotak itu, Ferdi langsung mengambilnya, hanya saja tidak ada kunci untuk membuka kotak tersebut.
"Aku akan membawa pulang," gumam Ferdi, lalu meletakkan kotak tersebut, di sisi kasur yang ada di dalam ruangan tersebut. Ferdi, mulai membuka album yang tadi di ambilnya di dalam lemari, dan mulai melihat satu persatu album tersebut.
Di sana, juga ada beberapa lembar foto keluarga Adipratama dengan keluarga Hartawan, dua keluarga terlihat begitu akrab. Di dalam gendongan Juwita ada foto baby mungil itu pasti Lucki, pikir Ferdi.
Ferdi, mengusap foto ibunya, foto wanita yang tak pernah di lihat oleh Ferdi lagi ketika dewasa, bahkan masa kecil Ferdi juga kurang kasih sayang dari ibunya.
Ponsel Ferdi bergetar, ternyata Humairah menelpon Ferdi, pria ini segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, "
[Waalaikumsalam,] jawab Ferdi, membawa kotak dan album itu bersama dengannya.
[Tuan Daffa, istri Anda sedang mengidam sate lilit, dan dia mau langsung yang dari Bali, nggak mau yang di kuliner lain,]ungkap Humairah, sembari menahan senyum, karena saat ini Shanaya juga ada di samping Humairah.
"Baik, One the way!"
__ADS_1
Ferdi, memutuskan panggilan sepihak, membuat Humairah terkejut dan membulatkan matanya.
"Apa yang salah?" tanya Shanaya, begitu melihat ekspresi Humairah.
"Suamimu ini, kenapa mematikan panggilan tanpa mengucapkan salam?" tanya Humairah melihat ke arah Shanaya, wanita ini menaikan ke dua bahunya.
"Mungkin Mas Daffa, sedang meeting," tukas Shanaya tak ingin membuat Humairah berpikir yang enggak-nggak.
Humairah, menyimpan kembali ponselnya, lalu mengajak Shanaya untuk kembali ke rumah Abi Hakim, tetapi tiba-tiba Ustaz Aiman muncul, dan mengejutkan dua gadis bercadar itu.
"Ukhti Shanaya yang cantik jelita," panggil Ustaz Aiman, membuat Shanaya memutar malas bola matanya yang sudah tahu kelakuan Ustaz Aiman dari Daffa.
"Nih, aku membawa es krim, untuk kalian berdua," lanjut Ustaz Aiman memberikan kantong plastik berisi kotak es krim, Shanaya rasanya cukup ngiler melihat es krim, apalagi hari ini cuaca cukup panas, membuat Shanaya ingin sekali memakan yang dingin-dingin. Tetapi, Humairah langsung menahan tangan Shanaya.
"Kata dokter Shanaya tidak boleh makan es krim, karena sedang datang bulan," ujar Humairah berbohong, membuat Shanaya membulatkan matanya.
"Haah?" Ustaz Aiman, sendiri ikut terkejut, lalu Humairah segera menarik Shanaya untuk pergi dari sana.
"Tidak boleh terima apapun dari Ustaz Aiman, nanti Mas Daffa mu marah," cibir Humairah, Shanaya hanya tersenyum melihat Humairah yang begitu peduli pada hubungan mereka berdua. Humairah mengirim pesan singkat untuk Ferdi, dan langsung mendapat jawaban dari pria itu.
Bagas, melihat Ferdi yang pergi dengan mobil, padahal Bagas tahu jika hari ini Ferdi tidak memiliki jadwal meeting di luar kantor, sehingga membuat Bagas, harus menghandle semua pekerjaan kantor, selama Ferdi pergi. Tidak ada yang tahu, kemana Ferdi pergi, bahkan Ferdi tidak berpamitan kepada Bagas, sebagai asisten pribadinya.
Bersambung.....
__ADS_1