Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 22


__ADS_3

Ferdi, menunggu Shanaya di ruang tamu, begitu juga dengan Lucki, dan Juwita. Mereka semua berada di ruang tamu yang sama. Hanya saja, saat ini Hardiman masih di perusahaan, sedang mengadakan rapat dengan beberapa klien penting, terkait dengan lahan pertambangan milik Hardiman yang beberapa bulan lalu tekan mereka resmikan.


Lucki, dan Ferdi saling menghindari pandangan satu sama lain, tanpa mereka sadari Juwita memperhatikan mereka berdua. Tak lama kemudian, Shanaya datang dengan membawa koper bersama dengannya.


"Lho, sayang. Kamu sudah siap?" tanya Juwita, di saat melihat Shanaya, turun dengan membawa koper, dan wanita ini juga sudah menggantikan pakaiannya dengan yang lain.


"Iya, ma." Singkat Shanaya, dan duduk di samping Juwita. Mereka mendengar suara mobil di luar rumah, ternyata itu Kakek Rudi, yang datang menjemput Shanaya.


Begitu Kakek Rudi turun dari mobil, dia terkejut melihat mobil Ferdi, yang ada di halaman rumah Hartawan. Tatapi, sedetik kemudian membuat Kakek Rudi cemas. Kakek Rudi, takut Ferdi mengatakan hal yang seharusnya tidak pria itu katakan. Mengingat jika Ferdi pernah mengatakan kalau dia tidak akan menerima Shanaya sebagai istrinya.


Kakek Rudi, di sambut hangat oleh semua orang yang ada di dalam rumah, ternyata Ferdi dan Shanaya telah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan kediaman Hartawan.


"Kakek,"seru Ferdi, saat melihat Bi Inah, mengantar pria tua itu ke ruang tamu. Lucki dan Juwita menyambut Kakek Rudi dengan ramah, begitu juga dengan Shanaya, langsung mencium punggung tangan Kakek Rudi.


"Kalian sudah siap?" tanya Kakek Rudi, begitu melihat koper yang ada di samping Shanaya. Wanita ini hanya mengangguk, menanggapi pertanyaan dari Kakek Rudi.


"Kalau begitu, ayo kita pulang!" ajak Kakek Rudi, mengambil koper yang ada di samping Shanaya. Tetapi, Lucki langsung mengambil koper tersebut dan mengantarnya ke depan teras.


Sebelum Shanaya pergi, dia terlebih dulu berpamitan dengan Juwita dan juga Lucki.


"Aku titip Shayana, jangan pernah sakiti dia, ataupun membuat dia menangis, kalau sampai itu terjadi akan ku buat kamu sampai menyesal," ucap Lucki, dengan memperingati Ferdi.

__ADS_1


"Tentu, aku takkan membuat dia menangis, kakak bisa percaya sama aku," ujar Ferdi, Lucki memeluk singkat Ferdi sebelum mereka semua pergi meninggalkan rumah hartawan.


Ferdi, membuka pintu mobil untuk Shanaya, sementara Kakek Rudi pulang dengan sopir, karena mereka datang dengan mobil yang berbeda.


Di sepanjang perjalanan, Ferdi tak pernah melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Shanaya, sesekali pria ini mengecup punggung tangan Shanaya dengan lembut.


"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanya Ferdi, di saat melihat Shanaya yang hanya diam saja.


"Jujur aku sangat bahagia, terima kasih sudah mau memperlakukan aku dengan begitu lembut," ucap Shanaya, sembari merebahkan kepalanya di bahu Ferdi, membuat pria ini mengusap pelan kepala Shanaya.


Mobil Alphard bewarna putih, memasuki gerbang rumah Adipratama, beberapa pengawal berbaris di depan rumah, untuk menyambut menantu keluarga mereka.


Beberapa pelayan juga ikut berbaris di teras rumah untuk menyambut Nyonya muda keluarga Adipratama.


"Selamat datang, Nyonya muda," sapa pengawal tersebut, sembari menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada anggota keluarga baru Adipratama.


Untuk kekayaan mungkin keluarga Adipratama lebih unggul dari keluarga Hartawan. Namun, soal bisnis banyak lebih menguntungkan bisnis dari keluarga Hartawan, oleh sebab itu keluarga mereka banyak di kenal oleh orang luar.


Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Ferdi langsung mengendong Shanaya, untuk membawa sang istri masuk ke dalam rumah. Perbuatan Ferdi, membuat Shanaya malu karena di sana bukan hanya mereka berdua, masih banyak orang lain, termasuk Bagas dan Kakek Rudi.


Kakek Rudi, membulatkan matanya sempurna ketika melihat pemandangan itu.

__ADS_1


"Sejak kapan mereka akrab?" gumam Kakek Rudi, yang berdiri tepat di samping Bagas.


"Ketika keduanya melewati malam yang panjang, " ujar Bagas, dengan santai. Kakek Rudi langsung terkejut, dan memegang dadanya yang tiba-tiba sesak.


Pelaku yang membuat semua orang terkejut, kini sudah berada di dalam kamar. Ferdi menurunkan Shanaya dari gendongannya, tetapi tak melepaskan wanita berjarak darinya meskipun hanya selangkah.


"Mas Daffa, perbuatanmu ini bisa membuat Kakek Rudi, serangan jantung mendadak," cetus Shanaya, memukul pelan dada bidang Ferdi, dengan tangannya yang lembut.


Ke dua tangan Ferdi mendekap erat pinggang Shanaya, menghapus jarak di antara keduanya. Dengan malu-malu Shanaya menundukkan kepalanya ketika Ferdi terus melihat ke arah dia, apalagi menyimpulkan sebuah senyuman yang membuat Shanaya seketika melayang.


Tanpa Shanaya sadar, cadar yang di kenakan Shanaya telah terbuka, sehingga membuat Ferdi dapat melihat kecantikan istrinya yang tersembunyi di balik sepotong kain kecil yang hampir tiap hari melekat di wajah Shanaya.


Ferdi, memegang dagu Shanaya, mengangkatnya sedikit agar wanita itu melihatnya, Ferdi mengusap bibir ranum Shanaya dengan ibu nyarinya, membuat aliran darah Shanaya kembali mendidih, tatkala tangan kiri Ferdi yang nakal mengusap punggung Shanaya dengan lembut.


Tidak ada yang menganggu keberadaan dua sejoli itu, Kakek Rudi yang awalnya cemas Shanaya di sakiti oleh Ferdi, tetapi pria tua itu saat ini cukup senang berada di taman dan di dekat kolam, sedang menikmati secangkir kopi hitam dengan di temani oleh Bagas.


Ferdi, mengambil kesempatan itu untuk kembali menikmati momen bercintanya dengan sang istri, dimana dia dan Shanaya tak akan ada yang gangguin.


Ferdi, membuang jas yang dia pakai ke sembarangan arah, tak peduli dengan pakaian mereka yang telah berserakan di lantai. Di tengah, percintaan mereka layar ponsel Ferdi menyala, ternyata Clara saat ini sedang mencoba menghubungi Ferdi. Tetapi, siapa yang tahu pria ini sedang begitu bersemangat di balik selimut, memadu cinta bersama dengan istri tercinta.


Ponsel itu beberapa kali bergetar, tetapi tak juga terhubung, karena Shanaya dan Ferdi, sudah terlelap dalam tidur mereka.

__ADS_1


Clara is calling....!


__ADS_2