
Baca dulu, baru like ya 🙏 mohon jangan tabung bab♥️
Shanaya mendengar keributan di luar rumah, di saat dia tengah sibuk membantu Bi Asih menyiapkan pangsit, karena tiba-tiba Shanaya ingin makan pangsit.
"Apa yang terjadi?" gumam Shanaya, berjalan pergi meninggakan dapur, menuju teras rumah. Tetapi, tiba di sana Shanaya melihat Clara yang sedang menerobos masuk ke dalam halaman rumah Adipratama.
Namun, beberapa pengawal menghalanginya, dan tak membiarkan Clara untuk bertemu dengan Shanaya. Bahkan, pengawal itu menyuruh Shanaya untuk masuk.
"Gue nggak akan ngemis gini kalau nggak penting! Shanaya Lo harus dengar apa yang mau Gue katakan!" teriak Clara saat melihat Shanaya di teras rumah, tetapi Bagas tiba - tiba pulang dan menghalangi Clara lebih jauh lagi, sehingga Bagas berhasil mengusir Clara dari halaman rumah Adipratama atas perintah Ferdi.
'Apa yang terjadi? kenapa Clara terus saja berusaha untuk bertemu dengan Ferdi dan aku?' batin Shanaya yang saat ini kembali ke dapur, dan melanjutkan membantu Bi Asih, di dapur. Namun, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang membuat Shanaya terkejut.
"Mas," cetus Shanaya, Ferdi hanya terkekeh melihat istrinya yang terkejut, bahkan akan memukulnya dengan sendok yang ada di tangan.
"Kenapa melamun? kalau sayurnya tumpah bagaimana?" tanya Ferdi, tetapi Shanaya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ferdi, lalu Ferdi mengajak Shanaya untuk keluar dari dapur menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Ferdi tak ingin melepas pelukannya, dia terus saja memeluk erat tubuh Shanaya, padahal Shanaya sudah menyuruhnya untuk mandi dan berganti pakaian, tetapi Ferdi saat ini sedang mood manja yang tak mau lepas dari Shanaya.
"Ada apa ini? kenapa hari ini begitu manja?"tanya Shanaya, mengusap lembut kepala Ferdi, membuat pria ini semakin betah memeluk istrinya.
"Pengen makan seblak," ucap Ferdi pelan, membuat Shanaya terkejut dan langsung terkekeh.
"Seblak? tinggal makan, kenapa harus manja seperti itu?" tanya Shanaya, lalu berbalik dan kini berhadapan dengan Ferdi, pria ini menunjukkan wajah manjanya di depan Shanaya membuat Shanaya tersenyum.
__ADS_1
"Aku ingin makan tadi pulang kantor, tetapi takut Bagas menertawakan aku, karena aku belum pernah makan yang begitu," jawab Ferdi cemberut, membuat pria ini cukup gemas dan imut.
"Alolo.... Sayang siapa ini? kenapa imut sekali?"
"Auh, Sayang!" pekik Ferdi, saat Shanaya mencubit pipinya karena tak tahan dengan wajah Ferdi versi imut. Ternyata, Ferdi sedang mengidam dan itu cukup lucu sehingga membuat Shanaya tak berhenti terkekeh.
"Makan seblak!" ketus Ferdi, sangat memaksa, sehingga membuat Shanaya harus bergerak cepat. Shanaya membantu melepaskan baju Ferdi dan memberikannya handuk menyuruh Ferdi untuk segera pergi mandi. Begitu Ferdi, pergi mandi Shanaya menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Shanaya dan Ferdi, turun ke lantai bawah, Bagas menghampiri mereka, dan bertanya kemana Ferdi akan pergi, tetapi Ferdi malam berbohong mengatakan mereka akan pergi ke tempat Juwita, padahal Ferdi ingin makan seblak.
"Kalian semua, ikut kami!" titah Ferdi, kepada lima orang pengawalnya, karena Ferdi tak ingin berurusan dengan Clara di jalan. Jadi, memilih untuk membawa semua pengawalnya ikut pergi bersama.
Dua mobil pergi meninggalkan halaman rumah Adipratama. Saat ini, Kakek Rudi, sedang ingin makan Ayam pop, dan menyuruh Bagas, untuk membelinya. Bagas segera pergi untuk membeli pesanan Kakek Rudi.
Bi Asih, sedang sibuk halaman belakang rumah, wanita ini tengah membersihkan taman baru milik Shanaya, semenjak hamil Shanaya gemar menanam bunga seperti mawar dan bunga matahari.
Begitu keluar dari restoran seblak, Shanaya meminta Ferdi untuk singgah di rumah Juwita, karena dia rindu Kakek Hardiman. Tanpa, mengatakan apapun Ferdi langsung menyetujui permintaan istrinya.
Ternyata, saat ini Lucki dan Juwita sudah kembali dari perusahaan, sehingga Shanaya dan Ferdi di sambut dengan baik oleh Juwita dan Lucki.
Lucki, mengambil alih Shanaya dari rangkulan Ferdi, membuat pria ini kesal.
'Aish, mulai lagi,' batin Ferdi, yang melihat Lucki, merebut Shanaya dari dirinya.
__ADS_1
"Datang ke sini, kenapa nggak bilang-bilang? aturan mama bisa memasak untukmu," ujar Juwita, yang saat ini mereka semua duduk di ruang tamu.
"Ini juga kebetulan, kami pulang dari...." Shanaya menggantungkan ucapannya ketika melihat Ferdi menatapnya penuh peringatan, ternyata Lucki sadar akan hal itu.
"Ada apa dengan tatapan dia? jangan bilang kalau kamu baru saja menemani dia makan sesuatu, bisa di tebak dia pasti ngidam," tukas Lucki, lalu menertawakan Ferdi, hanya saja Juwita langsung melempar Lucki dengan bantal sofa, agar tak mengejek menantunya itu.
"Dari pada kamu di sini nggak ada kerjaan, sana ke dapur bikin minum!" titah Juwita, Lucki malas sekali untuk bergerak, tetapi Shanaya merayunya akhirnya Lucki pergi tanpa menolak, mengingat adiknya tengah hamil.
Melihat jam di dinding sudah menunjukkan jam 17:20, sore hari. Shanaya dan Ferdi berpamitan untuk pulang. Mengingat Shanaya meninggalkan pangsit yang enak di rumah, bahkan dia belum mencicipinya.
Shanaya tertidur di mobil, mungkin karena lelah menempuh perjalanan ke restoran seblak dan ke rumah hartawan, jadi ketika mereka pulang Shanaya malah tertidur di dalam mobil.
Dua mobil memasuki halaman rumah Adipratama. Ferdi segera turun begitu juga Shanaya. Ternyata Firman baru juga pulang dari kantor, dan itu bersama dengan Bagas yang baru pulang juga.
"Bagas, itu apa?" tanya Ferdi.
"Oh, ini ayam pop untuk Kakek Rudi, tadi kakek meminta aku membeli ayam. Tetapi, Tuan besar malah meminta untuk menjemputnya," tukas Bagas, Ferdi mengambil ayam pop itu dan memberikannya untuk Shanaya.
"Sayang, berikan ini untuk kakek,"
"Baik, mas." Shanaya segera berlalu dari hadapan tiga pria itu, Bagas memberikan berkas yang di kirim oleh Tuan Ben untuknya. Ternyata Tuan Ben menawarkan kerjasama lagi dengan perusahaan Adipratama.
"Aggrh!"
__ADS_1
"Shanaya!"
Bersambung....