
"Mas Daffa, kamu mengkhianati aku, mas ...." Shanaya mengusap dadanya yang begitu terasa sesak, air matanya mengalir tak terbendung lagi, sakit sungguh sakit. Apa yang Shanaya rasakan bukan hanya sekedar rasa sakit, tetapi membayangkan suaminya bersama dengan wanita lain, pergi ke rumah sakit, apa yang bisa Shanaya bayangkan untuk saat ini, selain merasakan begitu kejamnya pengkhianatan itu.
Shanaya, menyeka air matanya tak ingin menangis lagi, tetapi lagi-lagi air mata itu menetes begitu saja. Sholat sunat dua rakaat, meminta petunjuk sama Allah, mungkin itu lebih baik dari pada duduk menangisi nasib yang mungkin belum tentu benar seperti yang di lihat oleh Shanaya, itu yang Shanaya pikirkan saat ini.
Begitu selesai sholat, Shanaya menengadahkan ke dua tangannya ke atas, berdoa kepada Allah, meminta petunjuknya sama Allah, berharap itu semua hanya kesalahpahaman.
"Semoga apa yang ku lihat, tidak sama dengan apa yang ku pikirkan ya Allah,"
"Amiin," jawab seseorang yang berdiri di ambang pintu, Shanaya langsung menoleh dan melihat Ferdi sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Mas," Shanaya segera berdiri, ketika Ferdi menghampirinya, dan Ferdi langsung memeluk Shanaya dengan erat, membuat wanita ini bingung, tetapi Shanaya belum membalas pelukan Ferdi, sampai pria ini mempereratkan pelukannya.
Ferdi, memegang ke dua pipi Shanaya dan menatap lekat ke dalam netra sang istri, melihat buliran bening masih mengambang di pelupuk mata, Ferdi menyeka itu, Ferdi tahu Shanaya baru saja menangis.
"Aya, kamu percaya sama aku? kamu tidak akan berpikir yang enggak-enggak tentang wanita itu?" tanya Ferdi, langsung membuat Shanaya terkejut karena Ferdi dapat menebak isi hati Shanaya.
__ADS_1
Akhirnya, Ferdi menuntun Shanaya ke arah tempat tidur, dan menyuruh sang istri untuk duduk di tepi ranjang. Ferdi, menceritakan semua kejadian yang menimpa Clara, dan tak satupun yang Ferdi lewatkan. Bahkan, pria ini juga memberitahu alasan kenapa dia mau membantu Clara, karena Clara adalah sahabatnya.
"Aya, kamu percaya padaku?" tanya Ferdi lagi, yang membuat Shanaya langsung mengangguk.
"Aku melihatmu bersama dengan Mama Juwita, tetapi di saat aku mau menyusul kalian, mobil kalian sudah pergi meninggalkan tempat parkiran. Aku takut, kamu salah paham, dan juga takut Mama Juwita salah paham lagi sama aku, makanya aku segera menyusul kalian ke sini, dan meninggalkan Clara di rumah sakit," ungkap Ferdi, barulah Shanaya merasa cukup lega, jika apa yang dia lihat ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dia pikirkan.
"Jadi, kenapa pagi ini kamu dan mama pergi ke rumah sakit tanpa memberitahu aku? apa yang terjadi?" tanya Ferdi, langsung Shanaya menyembunyikan raut wajahnya dari Ferdi, membuat pria ini tersenyum melihat wajah Shanaya yang merona.
"Apa itu masih sakit?" bisik Ferdi, sembari menggoda Shanaya, wanita ini memukul pelan paha Ferdi, membuat pria ini semakin ingin menggoda istrinya yang nampak malu-malu. Shanaya, segera berdiri tetapi Ferdi menarik kembali tangan Shanaya sehingga membuat wanita ini terjatuh ke atas pangkuan Ferdi.
Ke duanya saling pandang satu sama lain, kedua netra itu bertemu dan memancarkan sinar cinta yang begitu kuat dari dalamnya. Ferdi, membantu melepaskan mukena yang di pakai oleh Shanaya, sehingga memperlihatkan rambut cantik Shanaya yang terurai.
Ferdi, mengecup singkat kening sang istri, lalu mengecup ke dua mata dan juga ke dua pipi Shanaya. Sungguh hal itu membuat jantung Shanaya berdetak cukup kencang membuat Ferdi tersenyum.
Mereka berdua larut dalam kemesraan singkat itu, sehingga tak menyadari seseorang telah membuka pintu kamar, dan orang itu berdiri di ambang pintu sembari menatap mereka dengan raut wajah yang tak percaya.
__ADS_1
"Woi, ini masih pagi, sudah mau naninu saja!" ketus Lucki, mengejutkan Shanaya dan Ferdi secara bersamaan, ke duanya segera berdiri dan terlihat canggung di depan Lucki.
'Aish, ini pengacau kenapa tiba-tiba muncul sih, bikin kesal aja, untung ipar,' batin Ferdi, yang menatap malas ke arah Lucki, sedangkan Lucki yang di tatapi begitu hanya tersenyum dalam hati sembari mengejek Ferdi.
"A-aku akan bersiap-siap dulu, kakak sama Mas Daffa, bisa tunggu di luar," ujar Shanaya mengusir dua pria itu dari kamar, sembari mendorong Ferdi, dan juga Lucki, begitu mereka di luar Shanaya langsung menutup pintu kamar.
"Sayang, kenapa aku di usir juga, aku ini suamimu," ucap Ferdi, yang berdiri di luar kamar Shanaya, sembari berkacak pinggang.
"Heh, alay." Cibir Lucki, yang masih ada di depan kamar Shanaya, sembari menertawakan Ferdi.
"Mending alay gini sudah nikah, dari pada kak Lucki belum nikah, masih jomblo. Jadi, enggak heran suka gangguin hubungan orang," balas Ferdi, sembari melipatkan kedua tangan di dada, menyombongkan diri di hadapan Lucki.
"Kamu!" Lucki menghela nafasnya dan menarik kembali tangan yang semula menunjuk wajah Ferdi dengan jarinya. Ferdi, hanya menaikan ke dua alisnya dan berlalu pergi dari hadapan Lucki.
"Dasar adik ipar songong!" teriak Lucki dengan kesal, semenjak Ferdi menikah dengan Shanaya, Lucki sering kali berdebat dengan pria itu, apalagi Lucki memiliki sifat yang jahil yang suka menggoda mereka berdua.
__ADS_1
Lucki, berkacak pinggang dan tersenyum membayangkan Shanaya dan Ferdi, yang berhasil di ganggu olehnya barusan.
Bersambung.....