
Satu Minggu yang lalu....
Ini kisah Lucky dan Humairah, pernah bertemu beberapa kali, tetapi tak pernah mengungkapkan isi hati satu sama lain.
Humairah, yang lahir dari keluarga yang berada dan paham agama, membuat Lucky segan untuk merajut cinta rumah tangganya dengan Humairah. Lucky, terlahir dari keluarga konglomerat dan minim agama, membuat Lucky segan untuk melamar gadis yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Namun, hal tersebut di ketahui oleh Juwita, ibu dari Lucky, wanita tua itu sangat setuju jika sang anak segera menikah. Apalagi, pilihan Lucky adalah Humairah, membuat Juwita begitu bahagia. Atas bantuan Shanaya dan Ferdi, Juwita datang ke pondok pesantren Al-Hakim. Guna untuk melamar Humairah untuk Lucky. Seluruh keluarga besar Adipratama dan Hartawan, sangat senang akan hal itu, apalagi Kakek Hartawan sangat senang kedua cucunya telah memiliki tambatan hati mereka masing-masing.
...****************...
Sebelum ijab qabul dimulai, Abi Hakim ingin menyampaikan sebuah pesan untuk calon suami dari anaknya.
"Saudara Lucky. Calon suami dari Anakku Humairah, saya tidak mengharapkan hartamu. Yang saya harapkan, jangan sekali-kali kamu dzalimi anakku. Karena, sakit hatinya akan melukai saya sebagai orang tuanya. Cintai dan Sayangi Humairah, bagaimana engkau mencintai ibu dan adik perempuanmu, bila nanti cintamu mulai memudar maka ingatlah bagaimana awal pertama cinta itu bersemi? Jika kelak kamu melihat perempuan yang lebih cantik dari Humairah, maka ingatlah bagaimana wajah cantiknya membuat kamu kamu tertarik, hingga membawamu pada hari ini, doa Abi semoga hidup kalian berdua selalu dalam Ridha Allah, Amiin." Abi Hakim mengusap embun bening yang hampir lolos dari netranya.
Ijab qabul pun di mulai, semua orang di buat terharu dengan acara pernikahan itu.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah," do'a pun dibacakan oleh Abi Hakim, setelah ijab qabul itu selesai.
Suara yang berasal dari arah ruang keluarga rumah Abi Hakim, di mana saat ini sedang berlangsung acara pernikahan sang anak, yaitu Humairah dan Lucky.
Lucky, yang tak pernah berbicara dengan Humairah lebih dari dua kali membuat pria ini gugup sama halnya dengan Humairah, keduanya sama-sama gemetar dan bahkan untuk berjabat tangan saja membuat keduanya malu-malu.
Dari jauh, Ferdi yang memang memiliki sifat usil memang senang menggoda kakak iparnya itu. Shanaya saat ini sedang menenangkan sang anak yang mulai rewel, anak Shanaya berumur lima tahun.
"Ehem!" Ferdi, berdehem. Pandangan Lucky teralih kepada pria itu, Lucky langsung memutar malas bola matanya kala melihat sang ipar yang mendekat.
'Ini anak mau apa lagi?'batin Lucky, yang melihat Ferdi semakin mendekat.
"Kakak ipar, selamat ya atas pernikahan kakak. Ingat, jangan terburu-buru masih ada malam kedua dan malam ke tiga," bisik Ferdi di telinga Lucky, di saat dua orang itu berpelukan.
"Ee, he he. Tentu, kami tidak akan terburu-buru," jawab Lucky, sembari mencubit pinggang Ferdi, membuat Ferdi mengeluh sakit, Ferdi langsung melepas pelukan mereka berdua.
__ADS_1
"Ukhti Humairah, selamat ya. Sekarang panggilnya Kakak Ipar, ya?" Goda Ferdi, membuat wanita bercadar itu nampak malu, Lucky langsung memberi tatapan maut kepada Ferdi, tak lama Shanaya pun datang dan memberi selamat untuk pengantin baru.
"Daddy, panas na...."Rengek Izhan, anak dari Shanaya dan Ferdi. Pria ini segera menggendong Izhan dan membawa anak itu pergi dari ruangan tersebut.
Acara pernikahan itu, berlangsung cukup mewah dan meriah, seluruh santriwan dan santriwati ikut andil dalam membantu membuat acara tersebut berlangsung dengan lancar.
Bahkan, Ustaz Aiman juga turut hadir pada acara tersebut. Nurul Masyitah dan Putri Maryam adalah santriwati pondok pesantren Al-Hakim yang telah selesai masa pengabdiannya. Masyitah dan Maryam hanya mengambil satu tahun saja masa pengabdian di pondok pesantren Al-Hakim.
"Kami permisi dulu, karena kami akan kembali ke kampus," ujar Masyitah, wanita ini adalah adik perempuan dari Ustaz Aiman. Humairah memberi pelukan terakhir untuk adik-adik santrinya, selama mereka tinggal di pondok pesantren itu, Maryam dan Masyitah sangat dekat dengan Humairah.
Setelah Masyitah dan Maryam pergi, Ustaz Aiman pun mendekat dan memberi salam.
"Selamat, untuk kalian berdua,"ucap Ustaz Aiman. Humairah dan Lucky mengucapkan terima kasih, atas ucapan itu.
"Ustaz Aiman, apa benar? Kata Abi Anda akan menyelesaikan masa pengabdian Anda?" tanya Humairah, hal itu di benarkan oleh Ustaz Aiman, pria ini menganggukkannya.
"Benar, papa membutuhkan tenaga saya di kantor, jadi saya harus mengabdi kepadanya, mungkin saya akan mengambil alih pekerjaan papa yang di kantor," imbuh Ustaz Aiman.
"Wah, Anda akan menjadi CEO, turut senang semoga karir Anda semakin membaik," timpal Humairah, Ustaz Aiman tersenyum.
"Aamiin," singkatnya. Ustaz Aiman berpamitan dengan Humairah dan juga Lucky.
Tetapi, Shanaya dan Ferdi telah pulang lebih dulu karena Izhan tidak mau berlama-lama di rumah orang.
Waktu sore pun kini telah berganti dengan malam, ternyata atas permintaan keluarga mereka meminta Humairah untuk ikut dengan Lucky, yang akan tinggal di kediaman Hartawan, meskipun berat Abi Hakim harus mengikhlaskan sang anak yang saat ini sudah menjadi istri dari pria yang baru saja menikahinya.
Lucky dan juga Humairah, serta beberapa keluarga yang lain baru saja tiba di kediaman Hartawan. Shanaya menyambut teman sekaligus kakak iparnya, yang baru saja tiba di rumah Hartawan.
Juwita, segera menyuruh Lucky untuk membawa Humairah ke kamar agar Humairah dapat berganti pakaian sebelum makan malam tiba. Shanaya baru saja akan kembali ke kediaman Adipratama, tetapi Juwita melarang mereka untuk pulang malam ini dan meminta Ferdi dan Shanaya untuk menginap. Apalagi, Juwita masih rindu akan cucu pertamanya Izhan.
Makan malam pun tiba, semua orang nampak berkumpul di ruang makan begitu juga pengantin baru. Di sini yang sudah pernah melihat wajah cantiknya Humairah hanya Shanaya, karena wanita ini pernah tinggal serumah dengan Humairah.
Meskipun nampak malu-malu tetapi Humairah memperlihatkan keperduliannya terhadap Lucky. Wanita ini melayani suaminya dengan begitu baik, sehingga membuat Ferdi ingin sekali menggoda mereka berdua.
"Sayang, coba yang ini, ini sangat enak dan bisa membuat kamu bertenaga malam ini,"cibir Ferdi, meletakkan telur rebus di atas piring Shanaya, membuat Shanaya menaikan satu alisnya. Shanaya paham betul jika suaminya tengah menggoda Lucky dan juga Humairah.
'Sialan!' umpat Lucky dalam hatinya sembari menatap Ferdi, yang tengah tersenyum mengejek ke arah Lucky.
__ADS_1
Makan malam berlalu begitu saja. Shanaya membawa Izhan ke kamar, karena sang anak sudah mengantuk. Berhubung semuanya lelah dan ingin beristirahat semua orang pergi ke kamar masing-masing.
Kini di dapur hanya ada Ferdi dan Lucky, awalnya Ferdi sendiri di dapur membuatkan susu untuk Izhan. Tiba-tiba Lucky juga datang berniat untuk mengambil minuman untuk Humairah, tetapi begitu melihat Ferdi di dapur raut wajah Lucky langsung berubah kesal. Orang dua ini tak pernah akur, padahal dua-duanya sudah menyandang status seorang suami.
"Kakak mau kemana?"Tanya Ferdi, begitu melihat Lucky yang akan pergi.
"Mau garap sawah, kenapa bertanya? Kau mau ikut?" Lucky menatap malas ke arah Ferdi.
"Idih, kenapa harus marah-marah. Padahal, niat aku baik lho kak, mau bagi ini untuk kakak,"ujar Ferdi, lalu berbalik kembali mengaduk susu di dekat gelas kecil milik Izhan.
Ferdi, memperlihatkan sebutir obat kepada Lucky, langsung saja rasa penasaran Lucky memberontak dan ingin tahu, obat apa yang tengah Ferdi pegang.
"Itu apa? Sesama ipar nggak boleh pelit lho...."Lucky mendekat, Ferdi tertawa dalam hatinya.
"Emmm, Kakak mau? Itu lho...." Sembari membuat otot lengan dan berkata dalam bentuk isyarat kalau itu obat kuat. Lucky, langsung mengambilnya di tangan Ferdi, tetapi masih sempat juga mengancam pria itu.
"Awas lho, kalau ngerjain Gue," ancam Lucky dan berlalu pergi, begitu Lucky pergi Ferdi langsung tertawa begitu puas.
Tiba di dalam kamar, Humairah nampak duduk di tepi ranjang, menunggu Lucky tiba di kamar. Obat yang di berikan Ferdi, Lucky telah meminumnya dan itu membuat wajah Lucky seketika memerah karena malu.
Suara pintu yang berderit, artinya Lucky telah membuka pintu kamar, Humairah langsung menoleh dan tersenyum ke arah sang suami. Lucky, meletakkan gelas berisi minuman mineral di atas nakas, lalu Lucky duduk di samping Humairah, sembari tangan yang ikut dingin.
"Apa aku boleh melihat wajahmu?" tanya Lucky yang memberanikan dirinya. Humairah hanya mengangguk memberi jawaban untuk sang suami.
"Semua yang ku punya adalah milikmu, tidak ada larangan atas permintaanmu, Humairah siap menyerahkan jiwa dan raga untuk dirimu, wahai suamiku,"ucap Humairah pelan, langsung saja wajah Lucky bersemu merah dan itu terlihat cukup jelas di mata Humairah.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Lucky, mengangkat ke dua tangannya untuk membuka penutup wajah sang istri, ingin melihat wajah bidadari cintanya yang selama ini di kagum olehnya. Perlahan-lahan kain cadar itu terbuka dan memperlihatkan kecantikan yang selama ini tersimpan rapi di balik potongan kain tersebut.
"MasyaAllah," lanjut Lucky, begitu melihat raut wajah Humairah yang putih berseri layak bunga melati yang mekar di pagi hari, dan wanginya begitu harum.
Lucky, mendekat dan mengajak Humairah untuk melakukan kewajiban ke duanya, ternyata ajakan Lucki tak pernah di tolak oleh Humairah membuat Lucky begitu bahagia.
"Wahai Humairah, istriku. Istri yang sangat ku cintai, aku tak dapat berjanji akan membuatmu bahagia, tetapi aku bisa berusaha untuk selalu memberimu sebuah kebahagian, Aku...."
Sambungan kisah Lucky dan Humairah!
__ADS_1