
Ferdi masuk ke dalam kamar Shanaya, dan menutup kembali pintu kamar itu. Melihat Shanaya yang sedang membenarkan sprei di tempat tidur lantas Ferdi mendekat dan memeluk sang istri dari belakang, membuat Shanaya kembali terkejut.
"Jangan marah," bisik Ferdi, sembari meletakkan kepalanya di bahu Shanaya, membuat Shanaya tersipu malu, apalagi tangan Ferdi yang melingkar di pinggang Shanaya, terasa nafasnya tak beraturan seakan naik turun, seperti perasaannya saat ini.
Perlahan-lahan Ferdi membalikkan tubuh sang istri, dan keduanya saat ini saling berhadapan satu sama lain. Ferdi mengambil selimut yang ada di tangan Shanaya dan meletakkannya di atas ranjang.
Ferdi, menuntun Shanaya untuk duduk di tepi ranjang, tanpa ada penolakan Shanaya menuruti semua keinginan sang suami. Ferdi, duduk di lantai tepat di depan Shanaya membuat Shanaya terkejut akan sikap suaminya itu.
"Jangan melarangku, biarkan aku tidur sebentar di atas pangkuanmu," ujar Ferdi, Shanaya membiarkan apapun yang di lakukan suaminya, saat ini Ferdi tengah bermanja dengan Shanaya, hal yang tak pernah di Ferdi sejak ibunya meninggal.
"Jangan pernah meninggalkanku, jangan pernah membenciku, jangan pernah marah padaku, aku tak ingin kamu pergi meninggalkanku. Aya, kamu orang pertama yang membuat aku mengerti arti cinta, aku tak pernah jatuh cinta pada siapapun selain kamu, Aya." Ferdi memegang tangan sang istri dan masih setia membaringkan kepalanya di atas pangkuan Shanaya.
Tangan lembut Shanaya menyentuh pelan rambut Ferdi, dan mengusapnya dengan lembut, membuat Ferdi memejamkan matanya merasakan setiap sentuhan dari jemari Shanaya yang penuh kasih sayang.
Ferdi, mendongakkan kepalanya menatap lekat ke arah netra sang istri, wajah Shanaya masih tertutup cadar, dan itu membuat Ferdi segera berdiri dan duduk di samping Shanaya.
__ADS_1
"Aya, aku tidak bisa berjanji untuk membuatmu selalu bahagia, tetapi aku bisa melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, untuk membuatmu nyaman hidup bersama denganku. Aku tak ingin menjanjikan apapun, karena kita manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Allahlah pemilik semuanya," tukas Ferdi memegang tangan Shanaya lembut, wanita ini tersenyum dan mengusap lembut punggung tangan Ferdi.
"Mas Daffa, ketika dimana hari aku menyetujui untuk ta'aruf denganmu, hari itu juga aku berdoa semoga nama Mas Daffa lah yang tertulis di Lauhulmahfudz sebagai jodohku kelak. Lihatlah, meskipun kita pernah berpisah, tetapi Allahlah yang punya kuasa yang melebihi manusia. Oleh sebab itu, jangan pernah menyerah atau bersedih, ketika Allah tak mengabulkan doa kita sekali, bisa saja yang kita anggap baik untuk kita, tetapi Allah tahu jika itu tidak baik untuk kita," ucapan Shanaya membuat pria ini terdiam membisu, sembari memperhatikan setiap gerak bibir Shanaya yang terhalang oleh cadar.
Ke dua tangan Ferdi bergerak untuk membuka cadar Shanaya, sehingga membuat aliran darah Shanaya mendidih seketika karena rasa gugup dan juga rasa malu, yang begitu bergetar di hatinya.
Perlahan-lahan kain itu terbuka dan menampilkan sedikit demi sedikit raut wajah Shanaya yang selama ini tersembunyi di balik kain tipis itu. Begitu kain tersebut sudah berhasil di lepas, Ferdi langsung tersentak akan kecantikan sang istri yang selama ini tak pernah di lihatnya.
Jujur saja, Shanaya adalah wanita yang tidak suka berpose di depan kamera ketika keluarga besar mengambilkan gambar mereka semua untuk di pampang di dinding rumah, oleh sebab itu, Ferdi tak pernah mengenali Shanaya sebelumnya.
"Shanaya, ikuti ucapan aku," ucap Ferdi lembut, wanita ini yang masih merasakan gugup, perlahan Ferdi menggenggam tangan Shanaya dan membuatnya untuk tenang.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.” Ucap keduanya secara bersamaan, seiring gerakan tangan Ferdi yang menyentuh ke dua bahu Shanaya dan membaringkan tubuh sang istri ke atas kasur.
Sesekali petir terdengar cukup keras, dan sedetik kemudian hujan 'pun turun membasahi jalan aspal sehingga harum semerbak dari tanah yang tersiram hujan tercium cukup nyata.
__ADS_1
Kendaraan yang lalu lalang kian mulai sunyi suaranya tak terdengar lagi, di tengah malam di sepanjang jalan yang di guyur hujan. Setelah melewati hari dimana ke duanya mengucapkan ijab qabul baru di malam ke dua, Shanaya dan Ferdi dapat melabuhkan kasih sayang mereka yang sempat tertahan karena kesalahpahaman dari kedua keluarga.
Suara desis kecil yang terdengar sesekali dari bibir Shanaya membuat Ferdi semakin bersemangat untuk melakukannya lebih dalam lagi, membuat Shanaya semakin memeluk erat tubuh sang suami.
Malam yang panjang di lewati oleh dua sejoli yang sedang memadu cinta mereka untuk pertama kali, setelah adanya pernikahan. Ternyata nikmat itu bisa berkalipat rasanya jika hubungan itu terjadi karena adanya pernikahan.
Jam, 04:20 menjelang subuh. Ferdi bangun lebih dulu dari Shanaya, dia merasakan sebagian tenaganya terkuras cukup banyak, sehingga tubuhnya terasa begitu lelah.
Tanpa membangunkan sang istri, Ferdi segera pergi ke kamar mandi, dan membersihkan tubuhnya. Begitu selesai mandi, Ferdi kembali memakai bajunya yang semula, serta mencari secarik kertas untuk meninggalkan sebuah pesan untuk Shanaya.
Ferdi, meletakkan pesan tersebut di atas nakas, lalu dia berpamitan dengan Shanaya yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebelum pergi, Ferdi kembali mengecup kening serta ke dua mata Shanaya, meminta maaf yang tak bisa menunggu Shanaya untuk bangun.
"Terima kasih, Aya. Tunggu aku, aku akan datang menjemputmu dengan keluargaku, kita akan hidup bersama setelah ini," ucap Ferdi, sebelum pria ini pergi meninggalkan kamar Shanaya.
Bersambung....
__ADS_1