
"Shanaya!"
"Aya!" panggil Daffa, Ustaz Aiman melarang Daffa untuk mengejar Shanaya.
"Abi Hakim, saya meminta maaf atas semuanya, tolong berikan kesempatan untuk saya meminta maaf, serta memperbaiki semuanya, " tukas Daffa, tetapi Ustaz Aiman malah melarang Daffa untuk mengejar Shanaya.
"Abi, Humairah akan berbicara dengan Aya. Tolong beritahu pria ini, jika hati itu bukan mainan, yang bisa di permainkan sesuka hatinya. Perasaan itu bukan hanya sekedar menerima ucapan, tetapi harus di hargai juga apa yang telah di ucap. Humairah permisi dulu Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, " jawab Abi Hakim, Humairah 'pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Akhirnya Abi Hakim, memutuskan untuk mengusir Daffa dari pondok pesantren itu atas saran dari Ustaz Aiman. Karena, sesuatu yang telah di mulai dengan kebohongan tidak akan membuahkan hasil yang baik.
"Saya memaafkan Anda, Ustaz Daffa. Tetapi sebagai konsekuensinya Anda, harus pergi meninggalkan tempat ini!" ucap Abi Hakim yang sudah kecewa dengan kebohongan yang di lakukan Daffa. Abi Hakim pergi meninggalkan Daffa dan Ustaz Aiman.
"Abi, saya meminta maaf, jangan usir saya dari tempat ini," teriak Daffa, Ustaz Aiman tersenyum mengejek, akhrinya Ustaz Aiman telah berhasil menyingkir satu penghalang.
"Sudahlah, Ustaz Daffa orang kaya seperti Anda bukan di sini tempatnya. Anda harus kembali kepada habitat Anda," cibir Ustaz Aiman, menyentuh ke dua bahu Daffa.
Daffa yang merasa geram dengan sikap Ustaz Aiman, akhirnya menepiskan tangan pria itu yang menyentuh ke dua bahunya. Daffa menatap marah ke arah Ustaz Aiman, yang telah memojokkannya sejak dari tadi.
"Saya tahu, Anda sengaja melakukan ini kepada saya, karena Anda sendiri menyukai Aya, tetapi Anda jangan bangga dulu, saya akan datang dan membawa Aya pergi dari tempat ini, sebagai calon istri saya!" ucap Daffa teegas, lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
Ustaz Aiman yang merasa di ancam oleh Daffa merasa tak terima, tetapi merasa lega karena satu saingan yang merebut perhatian Shanaya darinya telah berhasil di singkirkan dari tempat itu.
Humairah, mengejar Shanaya hingga sampai ke kamarnya. Di sana Shanaya duduk di tepi ranjang, sembari terisak.
"Aya," ucap Humairah pelan, dan menyentuh bahu Shanaya, Humairah langsung memeluk tubuh Shanaya, dan mengusap pelan punggung Shanaya dengan lembut.
__ADS_1
"Langkah, rezeki, pertemuan dan maut, itu adalah rahasia Allah. Apa yang terjadi hari ini semua itu atas kehendak Allah, jangan berkecil hati, Humairah yakin kalau jodoh takkan kemana," ujar Humairah, sembari mengusap punggung Shanaya.
Shanaya melepas pelukan Humairah, lalu Humairah menggenggam tangan Shanaya dengan erat, sembari menepuk pelan punggung tangan Shanaya.
"Aya kamu tidak ingin bertemu dengan pria itu untuk terakhir kali? dia menunggumu di depan, apa enggak ada yang ingin kamu katakan?" tanya Humairah.
"Tidak ada, semua yang ku katakan, telah di jawab dengan semua kebohongan yang telah di perbuat olehnya. Humairah, memaafkan orang yang menyakiti kita itu mudah, tetapi melupakan apa yang orang itu perbuat kepada kita yang gak mudah, sekuat dan sebesar apapun hati untuk berkata ikhlas, tetapi jujur saja saya ini manusia biasa tempat khilaf dan salah, saya tak semudah itu dapat melupakan kejahatan orang lain kepada saya Humairah," ucap Shanaya pelan di akhir perkataannya.
"Saya tak sebaik itu, saya masih belum bisa melupakan kebohongannya," lanjut Shanaya, yang kini kembali terisak. Humairah langsung menarik kedua bahu Shanaya dan kembali memeluknya.
Melihat Shanaya yang tak ingin bertemu dengan Daffa, akhirnya Humairah memilih untuk bertemu dengan Daffa, di luar kamar tersebut.
"Humairah, dimana Aya, saya ingin berbicara dengannya," ujar Daffa, tetapi Humairah menggelengkan kepalanya.
"Aya tidak ingin bertemu dengan Ustaz Daffa, dia sangat kecewa dengan kebohongan yang Ustaz Daffa lakukan, Anda harus mengingatnya Aya bukan wanita yang mudah di dekati, bukan hanya Anda di sini, tetapi Ustaz Aiman menyukai Aya, hanya saja Aya malah lebih memilih membuka hati untuk anda, tetapi Anda dengan lancangnya malah menipu dan membohongi kami semua," ungkap Humairah, terlihat raut wajah Daffa penuh dengan penyesalan.
"Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada ukhti Aya, saya berjanji akan datang kemari lagi dan membawanya pergi sebagai calon istri saya," ucap Daffa dengan tegas, lalu berpamitan dengan Humairah.
Dari balik jendela kamar Shanaya melihat Daffa pergi meninggalkan tempat tersebut. Humairah juga merasa kasian dengan Daffa, selain kebohongan itu, Daffa tidak pernah melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, ataupun pesantrennya.
Ferdinand Daffa Adipratama, kini telah tiba kembali di kediamannya. Semua pengawal yang berjaga di depan rumah itu terkejut dengan kepulangan Daffa.
"Tuan muda, telah kembali." Seru seorang pengawal dan memberitahu semua anggota keluarga Adipratama.
Kakek Rudi, berserta Firman segera keluar untuk melihat kepulangan Ferdi.
"Ferdi, cucuku. " Ucap Kakek Rudi, lalu segera memeluk Ferdi dengan erat, begitu juga dengan Firman.
__ADS_1
"Akhirnya, kau kembali lagi. Sudah ku katakan, hidup di rumah lebih enak dari pada tinggal di luar sana, " ujar Firman. Ferdi melepas pelukan sang ayah.
"Ferdi ingin istirahat, papa."Ucap Ferdi yang membuat Firman dan Kakek Rudi, bingung. Apalagi melihat raut wajah lelah Ferdi membuat mereka berdua semakin penasaran.
"Apa yang terjadi?" gumam Firman,
"Cepat, hubungi keluarga Hartawan. Katakan pada mereka untuk melakukan jadwal makan malam bersama, aku ingin membawa Ferdi untuk bertemu dengan mereka sekali lagi," ujar Kakek Rudi penuh dengan semangat. Firman segera menghubungi keluarga Hartawan.
Di dalam kamar, Ferdi membaringkan tubuhnya di atas kasur, sembari menatap langit-langit kamarnya yang penuh dengan interior mewah.
Di saat Ferdi memejamkan matanya bayangan Shanaya selalu muncul di ingatannya. Ferdi belum pernah melihat wajah Shanaya tanpa cadar, tetapi telah membuatnya sulit untuk melupakan Shanaya.
"Aku harus bisa mendapatkannya," gumam Ferdi, yang kembali mencoba memejamkan matanya. Tetapi, masih saja bayangan Aya melintas di pikiran Ferdi.
Bagas adalah asisten sekaligus ketua pengawal keluarga Adipratama. Bagas adalah pengawal pribadi sekaligus teman Ferdi, Bagas akan ikut kemana saja Ferdi pergi. Hari ini, Bagas di utuskan untuk membawa Ferdi bertemu dengan beberapa klien mereka pada malam perjamuan.
Setelah bertemu dengan klien, Ferdi tak menunjukkan rasa senangnya berada di tempat itu. Bagas melihat Ferdi yang tak menikmati perjamuan itu, mengajak Ferdi untuk kembali pulang.
"Tuan, aku perhatikan Anda seperti orang yang sedang memiliki masalah?" Bagas duduk di kursi kemudi, sedangkan Ferdi berada di kursi penumpang.
"Aku baru kembali ke duniaku lagi jelaslah aku berbeda," jawab Ferdi asal, yang kini merebahkan kepalanya di kursi mobil.
"Heeh? memangnya selama ini Tuan berada di dunia siapa?" tanya Bagas yang penasaran. Bagas masih fokus menyetir mobil untuk membawa Ferdi kembali ke rumah.
Ferdi tak menjawab, dia terus saja memandangi ke arah jalan dimana banyak kendaraan yang lalu lalang di jam malam. Mobil mereka berhenti pada lampu merah, Bagas mengintip Ferdi dari spion depan.
Tiba-tiba Ferdi melihat sosok wanita cadar yang baru saja keluar dari restoran yang ada di seberang jalan sana, Ferdi langsung turun dari mobil berniat untuk mengejar wanita itu.
__ADS_1
"Tuan!" panggil Bagas, yang cemas melihat lampu merah yang tiba-tiba sudah hijau, Ferdi malah berusaha untuk menerobos kendaran yang lalu lalang.
Tit! Tit! Tit!