Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 16


__ADS_3

Pak!


Seseorang menepuk pelan bahu Ferdi dari belakang, sehingga mengejutkan pria ini.


'Aku tertangkap?' batin Ferdi, lalu pria ini berbalik, dan menundukkan kepalanya sudah pasrah jika dia akan di usir sebelum bertemu dengan Shanaya.


"Kenapa kau datang kemari?" tanya Lucki, Ferdi mengerutkan keningnya, ternyata itu adalah Lucki kakak laki-laki Shanaya, atau lebih jelasnya adalah kakak ipar Ferdi.


Biar tidak terjadi kesalahpahaman lagi, Ferdi 'pun menceritakan niatnya yang datang untuk bertemu dengan Shanaya. Bahkan, Ferdi menceritakan bagaimana dia dan Shanaya bertemu di pondok pesantren Abi Hakim.


Ferdi, menceritakan niat awalnya yang ingin meminang Shanaya di pondok pesantren, dan Shanaya menerimanya, bahkan mereka telah menjalani ta'aruf itu, tetapi tiba-tiba masalah datang, ketika identitas asli Ferdi terkuak dan Abi Hakim mengusirnya dari pesantren.


"Jadi, begitulah alasan yang sebenarnya, aku datang kemari bukan untuk menyakiti Aya, seperti yang kalian pikirkan, tetapi aku ingin menemuinya. Di antara kami berdua masih ada kesalahpahaman yang belum terselesaikan, kak aku mencintai Shanaya jauh sebelum kami berdua di nikahkan hari ini, jadi ku mohon izinkan aku bertemu dengan istriku," ucap Ferdi, memohon kepada Lucki, agar mau membantunya untuk bertemu dengan Shanaya.


Lucki menghela nafas beratnya, lalu melihat raut wajah Ferdi, dengan intens dan cukup dalam. Lucki akhirnya sadar jika Ferdi memiliki perasaan yang tulus untuk Shanaya.


"Aku akan mengizinkanmu bertemu dengan Shanaya, tetapi aku memiliki syarat untukmu," ujar Lucki pelan, Ferdi mengerutkan dahinya ternyata masalah tak selesai di situ saja.


"Jangan sakiti Shanaya, sekali kamu membuat dia menangis, aku berjanji akan menjauhkan Shanaya dari hidupmu!"ucap Lucki dengan tegas, dan Ferdi mengangguk mantap, sembari berjanji kalau dia tidak akan menyakiti istri yang di cintainya, Ferdi berjanji akan memberi seluruh cintanya untuk Shanaya.


Akhirnya, Lucki membantu Ferdi untuk bertemu dengan Shanaya. Lucki membawa pria itu sampai ke lantai atas, tetapi tiba di sana mereka tidak bisa membuka pintu kamar Shanaya.


Lucki, menyarankan Ferdi untuk pergi melalui balkon kamarnya, meskipun dalam keadaan sulit untuk berpindah ke balkon sebelah, hanya itu satu-satunya cara agar Ferdi bisa tiba ke balkon kamar Shanaya.


Lucki ikut khawatir melihat adik iparnya yang berusaha memanjat ke balkon sebelah, sedikit saja dia salah menginjak sudah di pastikan Ferdi akan pindah alam segera.


Tiba di balkon kamar Shanaya, pintu balkon malah tertutup, Ferdi berusaha mengintip tetapi tak terlihat begitu jelas keberadaan Shanaya.


"Aya, buka pintunya," seru Ferdi, dari luar tetapi tak di dengar oleh Shanaya, karena kamar Shanaya kedap suara kecuali pintu balkon terbuka, barulah Shanaya dapat mendengarnya.


Sudah hampir dua jam Ferdi berada di balkon kamar Shanaya, tanpa sepengetahuan pemilik kamar. Bahkan, Lucki sudah kembali ke kamarnya yang ada di lantai bawah, Lucki berdoa supaya Shanaya dan Ferdi dapat menyelesaikan masalah mereka.


Ferdi menyerah untuk memanggil istrinya lagi, akhirnya Ferdi memilih untuk tidur di balkon kamar Shanaya, tidak mungkin dia kembali lagi dalam keadaan sedang gerimis, dan pijakan balkon sudah pasti sangat licin.


Akhirnya Ferdi tidur beralaskan lantai saja, dan tidak memiliki selimut, tubuhnya dipenuhi hawa dingin sampai membuat Ferdi menggigil sepanjang malam.


Jam 04:35 subuh. Shanaya bangun dari tidurnya, Shanaya melirik jam sekilas yang atas di atas nakas, lalu segera turun dari ranjang, meraih baju mandi segera berlalu ke kamar mandi.


Ferdi, merasakan tubuhnya semakin dingin, dia 'pun terbangun dari tidurnya melihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi hari.


"Ternyata sudah pagi, aku tidur begitu lama," gumam Ferdi dan sedetik kemudian dia tersadar dengan Shanaya, Ferdi berusaha untuk berdiri, tetapi tiba-tiba kakinya kesemutan.

__ADS_1


Langkah kaki terdengar dari dalam kamar Shanaya, wanita ini ingin membuka pintu balkon setelah AC di matikan, dua jendela kamar telah di buka oleh Shanaya.


Perlahan-lahan pintu balkon terbuka, Ferdi mencoba untuk berdiri tetapi dia tidak bisa karena kakinya masih kesemutan. Begitu pintu balkon terbuka lebar, dan sosok wanita dengan pakaian serba biru muda serta cadar keluar dari kamarnya, berniat untuk menghirup udara segar di pagi hari, tetapi sosok Ferdi yang berada di lantai kamar malah mengejutkan Shanaya.


"Aaahhh!" pekik Shanaya dengan keras, tetapi entah kekuatan dari mana Ferdi langsung berdiri dan membungkam mulut Shanaya, membuat wanita ini berhenti untuk berteriak. Netra Shanaya membulat sempurna, pertama kali dirinya di peluk dan di sentuh oleh pria asing, meskipun saat ini Ferdi suaminya sebelum itu keduanya tak pernah bersentuhan.


Juwita masih di dalam kamar, mendengar suara teriakan Shanaya, Juwita bergegas untuk mengecek kamar sebelah yaitu kamar anaknya.


"Shanaya, apa yang terjadi?" tanya Juwita, sembari mengetuk pintu kamar Shanaya, wanita ini tak bisa menjawab karena Ferdi masih membungkam mulut Shanaya, netra keduanya masih bertemu dan larut dalam bayangan masing-masing.


Kelopak mata terbuka dengan sempurna, sehingga memperlihatkan bola mata yang cukup indah, dan masih ada yang lebih indah dari itu, yaitu bulu mata Shanaya yang lentik dan lebat, serta alis yang tebal, membuat Ferdi diam-diam tersenyum apalagi posisi Shanaya saat ini berada di dalam dekapan Ferdi, pria ini memeluk pinggang Shanaya dengan satu tangannya yang lain.


"Shanaya!" panggil Juwita lagi, kali ini sedikit lebih keras, membuat Ferdi tertegun dan barulah sadar dengan apa yang dia lakukan kepada Shanaya.


"Aku tidak menyakitimu, tetapi jangan berteriak, ku mohon," ucap Ferdi pelan, dan berbisik di telinga Shanaya, wanita ini mengangguknya, Ferdi langsung melepaskan Shanaya.


"Shanaya,"


"Iya, ma. Sebentar," sahut Shanaya dari dalam kamar, padahal suara Shanaya tak terdengar begitu jelas dari luar kamar. Shanaya pergi menemui Juwita membiarkan Ferdi di balkon dan pintu balkon juga di biarkan terbuka oleh Shanaya.


Shanaya membuka pintu kamar, Juwita langsung mengintip ke dalam kamar.


"Bagaimana mama tahu? bukankah, kamar ini kedap suara?" tanya Shanaya balik.


"Jelas mama dengar, orang kamu teriaknya dari balkon," ujar Juwita yang melangkah masuk, dan kini duduk di tepi ranjang.


"Bagaimana keadaan mu sayang?" tanya Juwita, Shanaya ikut duduk di samping Juwita dan sedikit was-was, Shanaya takut kalau ibunya curiga dengan keberadaan Ferdi.


"Baik, ma. Shanaya sudah lebih baik," jawab wanita ini, tersenyum di balik cadarnya.


"Mama lega, apa kamu sudah memutuskan untuk tinggal di sini? atau ikut suamimu?" tanya Juwita, Shanaya tak langsung menjawab, tetapi dia melirik ke arah balkon, di balik pintu balkon Ferdi memohon agar Shanaya mau ikut dengannya.


Namun, siapa sangka Shanaya malah memilih untuk mengerjai Ferdi, karena Shanaya masih marah dengan pria ini yang telah membohonginya.


"Enggak, ma. Shanaya mau di sini dulu, sampai semua keadaan membaik," tukas Shanaya, di balkon Ferdi mengeram kesal dan ingin sekali berteriak di depan dua wanita itu.


"Mama akan memberitahu kakek, ayo kita turun untuk sarapan,"


"Nanti dulu ma, Shanaya mau membereskan kamar dulu,"


"Baiklah, mama tunggu di bawah,"

__ADS_1


Shanaya mengantar Juwita sampai ke pintu kamar, dan dia menutup kembali pintu kamarnya.


"Aah!" Shanaya terkejut saat berbalik Ferdi sudah berdiri di belakangnya sembari berkacak pinggang.


"Apa maksudmu mengatakan tinggal di rumah, Aya kamu lupa? kalau aku ini suamimu, kamu harus ikut denganku, tinggal di rumahku!" tegas Ferdi, Shanaya melewati Ferdi dan mengabaikan pria itu.


Ferdi yang tak senang di abaikan, lalu mendorong tubuh Shanaya hingga terjatuh di atas kasur, dan Ferdi mengunci kedua tangan Shanaya ke atas.


Detak jantung Shanaya ataupun Ferdi berdetak tak karuan ketika ke duanya berada di atas ranjang yang sama, netra mereka kembali bertemu, dan membuat Ferdi berani mendekatkan wajahnya dengan wajah Shanaya yang masih tertutup cadar.


Semakin lama wajah Ferdi semakin dekat, sehingga membuat Shanaya memejamkan matanya segera, dan tentu saja kaki dan tangan ikut dingin, apalagi seluruh darahnya mendadak mendidih.


Getaran ponsel milik Shanaya, mengejutkan mereka berdua, di layar ponsel terlihat nama Lucki terpampang di sana. Niatnya Ferdi mau mematikan panggilan itu, tetapi pria ini teringat jika bukan karena Lucki dia tidak akan bertemu dengan Shanaya.


Shanaya langsung mendorong tubuh Ferdi, hingga berbaring di samping dan Shanaya mengangkat panggilan tersebut.


[Kakek dan mama sudah pergi, karena kakek ada pertemuan di perusahaan. Cepat suruh suamimu untuk meninggalkan kamar, sebelum mama dan kakek kembali,]tukas Lucki, membuat netra Shanaya membulat sempurna.


Panggilan terputus, Shanaya langsung melirik ke arah Ferdi yang masih betah berbaring di atas kasur milik istrinya, yang masih di penuhi taburan bunga mawar di atas kasur itu.


"Wangi sekali di sini, kenapa semalam aku harus tinggal di balkon kamar yang cukup dingin," cibir Ferdi, Shanaya terdiam dia merasa kasian dengan Ferdi.


"Kakek sama mama sudah pergi, Kak Lucki menyuruh kamu untuk segera meninggalkan rumah ini, kalau enggak kakak akan menyeret kamu keluar," ujar Shanaya, Ferdi langsung bangun dari tempat tidur itu, dan berdiri di sebelah Shanaya.


"Tunggu, Aya tadi kamu manggil aku apa?" tanya Ferdi, Shanaya 'pun baru sadar, dan cepat-cepat menyuruh Ferdi untuk pergi.


"Cepat pergi, sebelum kak Lucki menyeretmu dari sini," Shanaya menarik baju piyama yang di kenakan Ferdi.


"Tunggu, Aya kamu harus manggil aku ini dengan sebutan mas, atau Mas Daffa, karena aku ini suamimu!" tegas Ferdi, Shanaya hanya memutar malas bola matanya.


Shanaya dan Ferdi, kini turun ke lantai dasar, dimana Lucki sudah menunggu mereka berdua. Lucki bangun dari tempat duduknya ketika pengantin baru itu baru saja tiba di ruang tamu.


"Kenapa bajumu begitu kusut?" tanya Lucki kepada Shanaya, saat melihat hijab Shanaya yang sedikit berantakan, serta gamis Shanaya yang sedikit kusut akibat ulah Ferdi tadi. Pria ini hanya melirik sembari menyembunyikan senyumannya. Sedangkan Shanaya sudah menahan malu sejak di tatap oleh Lucki dengan intens.


"Kamu tunggu apalagi? cepat pergi!" titah Lucki, mengusir Ferdi, pria ini tak terima tetapi dia juga tidak bisa membantah, karena Ferdi masih ingin bertemu dengan Shanaya besoknya lagi.


"Sayang, aku pergi dulu, bye...." Ucap Ferdi, sembari melambaikan tangannya ke arah Shanaya, wanita ini malah tersipu malu, apalagi di sana ada Lucki, yang siap-siap akan menggodanya.


Bersambung.....


__ADS_1


__ADS_2