
Sudah seminggu ini, Ferdi semenjak tahu istrinya hamil, Ferdi selalu menghubungi Shanaya untuk menanyakan kabar Shanaya. Padahal istrinya hanya di rumah, dan tidak melakukan apapun karena Ferdi tak membolehkan Shanaya untuk melakukan pekerjaan rumah.
Bukan hanya Ferdi, Kakek Rudi dan Firman cukup bahagia mendengar kabar itu, ini adalah cucu pertama mereka tentu saja mereka sangat bahagia mendengarnya.
Ferdi, membuka email dan melihat ada sebuah email masuk, email itu dari supermarket waktu mereka belanja satu minggu yang lalu. Sebuah vidio yang mereka kirimkan atas permintaan Ferdi, karena Ferdi cukup penasaran dengan siapa waktu itu Shanaya berbicara.
Ternyata Shanaya berbicara dengan Clara dan membuat Ferdi marah, karena wanita itu sudah mulai mengusik hidup mereka lagi.
'Apa yang ingin Clara katakan? apa dia ingin mengatakan bagaimana kami dulu dekat, dan dia ingin menceritakan hal itu kepada Shanaya? ingin membuat Shanaya cemburu?'batin Ferdi yang berperang dengan hatinya.
'Aku takkan membiarkan itu terjadi, bagaimanapun saat ini Shanaya tengah hamil, jangan sampai dia memikirkan hal itu, bisa-bisa berbahaya untuk calon anakku," Ferdi mengepalkan tangannya, dan berlarut memikirkan masalah itu hingga Ferdi tak sadar jika Bagas sudah berada di dalam ruangannya.
Bagas melihat Ferdi yang melamun lalu mendekat, sembari melihat ke arah layar laptop Ferdi yang membuat Bagas membulatkan matanya. Kini Bagas tahu, apa penyebab Ferdi melamun.
"Tuan, ini berkas yang di berikan kolega kita di Jepang, dan semuanya berjalan dengan lancar, kita juga mendapatkan proyek baru satu minggu lagi akan tanda tangan kontrak," Bagas, meletakkan berkas itu di depan Ferdi membuat pria ini membuyarkan lamunannya.
"Bagas, sejak kapan kamu disini?" tanya Ferdi, yang menutup laptopnya kembali.
"Tuan, aku sudah di sini 10 menit yang lalu, saya melihat Anda melamun, pantesan saja tak mendengar saya mengetuk pintu," ujar Bagas, agar tak di marahi oleh Ferdi.
__ADS_1
"Bagas, nanti malam ada makan malam bersama di rumah, kamu juga ikut gabung dengan kita semua," tukas Ferdi, sembari memeriksa berkas yang di berikan Bagas. Begitu selesai dengan urusannya Bagas lalu berpamitan dengan Ferdi, untuk kembali bekerja.
Hari ini pekerjaan Ferdi, bebas dari yang namanya meeting, dia hanya memeriksa beberapa berkas yang di berikan oleh Bagas.
Hari ini Clara telah datang dua kali ke kantor Ferdi, tetapi pria ini menolak untuk bertemu, bahkan Clara rela menunggu di luar kantor untuk berbicara dengan Ferdi, tetapi Ferdi kembali menyuruh satpam untuk mengusirnya sehingga Clara tak bisa bertemu dengan Ferdi.
Jam 20:11, malam. Ferdi, hari ini pulang sedikit terlambat karena menghabiskan berkas yang tersisa, agar besok bisa menemani istrinya untuk periksa kehamilan. Lagi-lagi Clara mencegat Ferdi di jalan, yang saat ini tengah pulang ke rumah.
"Tuan, sepertinya itu mobil Nona Clara?" Bagas menoleh ke arah Ferdi yang duduk di kursi penumpang.
"Tidak usah pedulikan dia, langsung cari jalan lain, kita harus segera tiba di rumah, semua orang pasti menunggu kita untuk makan malam,"ujar Ferdi, yang tak mau melihat Clara yang saat ini berusaha untuk menghampiri mobil Ferdi.
"Ferdi, tunggu! kita perlu bicara, ku mohon berhenti!" teriak Clara, sembari mengejar mobil Ferdi yang sudah berlalu pergi, tetapi hasilnya tetap nihil mobil tersebut telah pergi meninggalkan Clara.
Bukan hanya itu, Ferdi memblokir nomor Clara yang sedang menghubunginya, Clara mencoba dengan nomor lain di waktu yang sama, hasilnya tetap sama Ferdi kembali memblokir nomor Clara.
Tiba di rumah, Ferdi langsung turun dan meminta Bagas juga untuk makan bersama dengan mereka semua. Shanaya menyambut suaminya dengan hangat, langsung mengambil tas yang ada di tangan Ferdi lalu memberikan itu untuk Bi Asih simpan di ruang kerja Ferdi.
"Kenapa kamu pulang terlambat? istrimu sudah menunggumu begitu lama," tukas Firman, Ferdi melirik ke arah Bagas, meminta Bagas tak memberitahu hal yang sebenarnya.
__ADS_1
"Tadi jalanan cukup macet, makanya telat tiba di rumah. Sayang, maafkan aku membuat kamu cemas ya," ucap Ferdi mengecup kening Shanaya, serta tangannya mengusap pelan perut Shanaya yang sudah mulai berbentuk.
"Eeheem, bikin iri aja," cibir Firman, langsung melanjutkan makan malamnya.
"Iri kenapa jangan bilang papa mau menikah lagi," timpal Ferdi, yang langsung kesal. Tetapi, Firman hanya terkekeh melihat anaknya kesal. Pasalnya Ferdi, tak suka jika Firman menikah lagi di usianya yang tak muda lagi.
"Ayo, Bagas makan sama," ajak Ferdi, Bagas langsung duduk berhadapan dengan Ferdi dan Shanaya berhadapan dengan Firman, kursi kepala keluarga masih milik Kakek Rudi.
Sepanjang makan malam, tak ada yang bersuara, hanya ada kemesraan antara dua insan yang sedang makan malam keluarga. Sesekali Ferdi menyuapi Shanaya, begitu juga dengan Shanaya, mereka berdua seakan lupa ada orang lain yang ikut makan sama mereka berdua.
"Ayah, aku mau pindah ke planet mars aja," ketus Firman, Kakek Rudi hanya terkekeh saja melihat anaknya.
Makan malam 'pun selesai, Kakek Rudi meminta mereka semua untuk tinggal, tidak membiarkan mereka pergi meninggalkan meja makan dulu, karena Kakek Rudi ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
"Berhubung semua sudah selesai makan, kakek mau menyampaikan sesuatu kepada kalian semua yang ada di meja makan,"
"Kakek, saya...."
"Bagas, kamu duduk saja, kamu 'kan juga bagian dari keluarga ini, kamu sudah ikut kami lebih dari 20 tahun," Kakek Rudi, menyela ucapan Bagas, dan meminta pria itu untuk duduk kembali.
__ADS_1
Akhirnya Bagas, memilih untuk duduk kembali di kursinya, padahal niatnya tadi mau pergi, karena merasa tak enak hati jika bergabung dengan yang lain.