
"Apa yang kau lakukan disini?" seseorang bertanya yang mengejutkan Shanaya dan juga Ferdi, keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu kamar mandi, ternyata ada seseorang yang sejak tadi berada di dalam kamar mandi ruangan tersebut.
"Mama," gumam keduanya bersamaan, Ferdi pikir Shanaya sendiri di dalam ruangan, ternyata masih ada Juwita yang sejak dari tadi berada di dalam kamar mandi ruangan tersebut.
"Apa yang kamu lakukan di sini? kenapa kamu datang kemari? harusnya aku tak melihat lagi wajahmu di sini!" cecar Juwita sedikit meninggi ucapan yang saat ini sedang berdiri di depan Ferdi.
"Ma, aku minta maaf. Aku bukan membiarkan Shanaya sendiri ke rumah sakit, tetapi mama sendiri tahu, ka...."
"Kalau kamu tak percaya dengan istrimu itu!" potong Juwita sembari menunjuk tangannya ke arah Shanaya.
"Ma, itu tidak benar. Mas Daffa, tidak begitu," meskipun sempat di abaikan oleh keluarga adipratama Shanaya masih saja membela sang suami yang sangat dicintainya.
Ferdi, kembali memeluk Shanaya ketika mendengar penuturan Shanaya yang membelanya. Ferdi memeluk erat tubuh sang istri, tetapi di waktu yang sama Lucki datang dan marah besar melihat Ferdi ada di dalam ruangan Shanaya.
Lucki, dengan langkah tergesa-gesa menghampiri mereka bertiga, dan menarik paksa bahu Ferdi, yang ingin melepas pelukan Shanaya dan Ferdi. Sekuat tenaga Ferdi menahannya agar pelukannya dan Shanaya tak terlepas, tetapi hal itu tak membuat dia berhasil. Juwita yang melihat itu langsung menarik Shanaya bersamanya, agar tak membuat wanita ini terjatuh dari ranjang, apalagi tangan Shanaya masih tertancap infus.
Setelah berhasil memisahkan dua orang itu, Lucki memukul Ferdi beberapa kali untuk melupakan rasa amarahnya yang sejak dari tadi dia tahan. Lucki, tak peduli dengan teriakan Shanaya, Lucki hanya terbayang saat Shanaya yang menangis dimana Ferdi tak ada di dalam ruang itu, membuat Lucki semakin marah, dan hampir saja memarkan seluruh wajah Ferdi.
"Kakak cukup!" teriak Shanaya, yang melempar gelas ke lantai, sehingga menghentikan tangan Lucki yang sudah siap memukul Ferdi untuk kesekian kalinya.
Lucki, menghempaskan tubuh Ferdi ke lantai, lalu menatap tajam pria itu, yang sedang berusaha untuk bangkit. Ferdi, menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya yang robek akibat ulah Lucki.
"Jangan pernah kau temui adikku lagi! sebelum kau berhasil membuktikan kalau adikku tak bersalah!" tegas Lucki, menunjuk wajah Ferdi dengan jarinya.
__ADS_1
"Aku tak keberatan jika keponakan ku lahir tidak memiliki ayah, dari pada memiliki ayah sepertimu!"lanjut Lucki, lalu mencoba mengusir Ferdi dari ruangan itu.
Meskipun Shanaya memberontak dan ingin menolong Ferdi, tetapi Juwita ataupun Lucki tak membiarkan itu terjadi, hingga Lucki berhasil mendorong pria itu keluar dari ruangan Shanaya, dan Lucki langsung menutup kembali pintu ruangan Shanaya.
Isak tangis Shanaya terdengar begitu pilu, tetapi Ferdi tak dapat melakukan apapun untuk saat ini. Apalagi kondisi Lucki yang tak memberi kesempatan Ferdi untuk berada di dalam ruangan Shanaya.
"Bagas, antar semua hasil rekaman cctv ke kamarku besok pagi!"
[Baik, Tuan]
Panggilan putus sepihak, sebelum pria ini pergi meninggalkan rumah sakit, Ferdi lebih dulu meminta Dokter Arum untuk merawat istrinya sebaik mungkin.
Keesokan paginya....
Sekitar sepuluh rekaman cctv yang di dalam rumah dan halaman rumah Adipratama tak ada yang menunjukkan adanya pelaku lain selain Shanaya. Bahkan, di cctv itu terlihat jelas ketika suara teriakan itu terdengar Kakek Rudi sudah tergeletak di lantai, dan Shanaya berusaha menolong dengan mencabut pisau yang menancap, padahal tindakan itu malah membuat korban dalam keadaan sekarat.
"Ini tidak mungkin!" ucap Ferdi, tegas. Karena tak mungkin Shanaya melakukan itu, Ferdi cukup percaya kepada istrinya.
"Tuan ...." Bagas, memotong ucapannya ketika Ferdi mendongakkan kepalanya menatap tajam ke arah Bagas.
"Tuan Firman telah melihat hasil rekaman cctv ini, dan Tuan telah membawa bukti ini ke kantor polisi sejak dari semalam, di saat Anda menyelinap keluar, Tuan Firman sudah pergi ke kantor polisi, itu artinya ...."
Ferdi langsung menutup paksa laptopnya sebelum Bagas melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Itu artinya, saat ini pihak kepolisian akan ke kantor polisi," sambung Ferdi, dan segera pergi meninggalkan kamarnya dengan di susul oleh Bagas.
Di lantai dasar, Ferdi melihat Firman yang baru saja keluar dari kamarnya, mereka berdua saling tatap satu sama lain, tetapi Ferdi tak peduli dia segera pergi.
"Berhenti di sana, atau kau takkan pernah melihat aku lagi!" ancam Firman, langkah Ferdi terhenti. Ferdi berbalik dan menoleh ke arah papanya.
"Heeh, lebih baik aku mati, jika aku tak bisa melihat lagi istriku!" ucap Ferdi dengan tegas, lalu segera pergi meninggalkan ruang tamu.
"Ferdi! berhenti!" teriak Firman. Pria ini meminta Bagas untuk mengejar Ferdi, begitu juga dengan lima orang pengawal yang berusaha untuk menghentikan Ferdi. Pintu pagar segera di kunci oleh Firman dari jarak jauh, sehingga membuat Ferdi tak bisa meninggalkan rumah Adipratama.
Ferdi, turun dari dalam mobil dan menghajar semua para pengawal. Namun, kekuatan Ferdi kalah dengan tujuh orang yang sedang berusaha melumpuhkan pertanahan Ferdi, sehingga Firman memukul kuat di bagian tekuk Ferdi membuat pria ini tak sadarkan diri .
Di rumah sakit, pagi-pagi sekali Juwita dan Lucki di kejutkan dengan kedatangan pihak kepolisian. Apalagi, tujuan mereka datang ke rumah sakit untuk menangkap Shanaya.
"Tidak bisa begitu, pak. Adik saya bukan pembunuh!" bantah Lucki, saat ini Juwita memeluk erat Shanaya, mencoba melindungi anaknya dari pihak kepolisian.
"Jangan halangi tugas polisi, Anda bisa terkena pasal,"
"Tetapi, kalian tidak bisa membawa adikku tanpa bukti yang kuat," tukas Lucki, menahan pihak kepolisian itu, untuk menangkap Shanaya.
"Bawa wanita itu ke kantor polisi!"
"Baik!"
__ADS_1