Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 26


__ADS_3

Hardiman menunggu penjelasan dari kemarahan Lucki. Karena, Hardiman tak pernah melihat pria itu sampai marah begitu, kecuali memang ada masalah yang cukup besar yang tidak di ketahui Hardiman.


"Kenapa harus memaki? kenapa nggak langsung katakan saja apa yang salah?"akhirnya Juwita kembali bertanya setelah tidak mendapat jawaban apapun dari pertanyaannya tadi.


"Bagaimana aku tidak marah, kalau ada orang yang mengatakan lahan pertambangan kita bukan murni milik kita, jelas kita punya bukti, dan bahkan itu lahan bukan sehari dua hari kita kelola, lahan itu sudah kita miliki di saat Shanaya kecil, lahan itu adalah milik papa," ujar Lucki, yang tak sengaja air mata menetes terjatuh kelantai di saat pria ini menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Juwita dan Hardiman.


Juwita, tahu bagaimana Lucki sangat mencintai Rocki ayahnya yang telah lama meninggal, di saat usia Lucki berumur 15 tahun, dan waktu itu Shanaya berumur 9 tahun. Lucki menolak siapapun yang mau bekerja sama dengan lahan pertambangan itu, termasuk keluarga Adipratama, karena lahan itu akan Lucki berikan kepada Shanaya di saat wanita ini menikah.


Mengetahui akan hal itu, Kakek Rudi menawar sebuah rencana perjodohan kepada Kakek Hardiman, meskipun Lucki awalnya tak pernah setuju karena Lucki yang membantu Shanaya dulu kabur dari rumah. Tetapi, berkat bujuk rayuan dan keyakinan yang Kakek Hardiman punya akhrinya Lucki mengalah dan mau menerima perjodohan itu, terlebih lagi Kakek Hardiman dan Kakek Rudi adalah sahabat perjuangan di masa sulit mereka dahulu.


"Siapa yang kamu maksud? Tuan Ben?" tanya Kakek Hardiman, Lucki mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Kakek Hardiman yang sudah berhasil menebak isi hati Lucki.


"Eemmm, kakek tahu masalah ini?" tanya Lucki, pria tua itu mengangguk lalu meraih cangkir kopi dan menyeruputnya sedikit.

__ADS_1


"Kakek tahu banyak, kakek sudah lama menolak kerja sama Tuan Ben, karena keuntungan yang dia berikan tak sesuai dengan apa yang kita lakukan untuk lahan itu. Tetapi, kakek tak menyangka ternyata Rudi menerima kerja sama dengan manusia itu, bahkan itu di luar ketidaktahuan kakek," ungkap Kakek Hardiman. Lucki, tercengang jika kakeknya yang selama ini tenang ternyata tahu banyak.


" Kamu tidak perlu risau, Ferdi suami Shanaya adikmu, pria itu pasti tidak akan mengkhianati kamu," tukas Kakek Hardiman.


"Dia tidak akan mengkhianati kita? tetapi bagaimana dengan Shanaya? apa dia akan mengkhianati Shanaya?" tanya Lucki, pria ini sengaja bertanya setelah melihat apa yang tadi terjadi di perusahaan Adipratama, lebih tepatnya di ruangan Ferdi, Lucki tidak langsung mengatakan hal yang dia lihat karena Lucki tak ingin membuat Juwita dan Kakek Hardiman cemas.


"Apa yang kamu katakan Lucki, kamu hanya lelah, cepat ke kamar dan mandi, kamu butuh istirahat setelah lama bekerja di kantor," Juwita tak ingin pertanyaan Lucki barusan membuat Kakek Hardiman dalam kecemasan, apalagi Kakek Hardiman hanya tahu kalau Ferdi dan Shanaya tak benar-benar menerima pernikahan itu.


'Sudah ku duga, ayah takkan diam saja, meskipun Kakek Rudi sahabatnya, Ayah masih belum bisa mempercayakan Shanaya pada keluarga Adipratama.' Batin Juwita yang melihat ke arah Kakek Harisman yang saat ini kembali fokus pada siaran yang dia tonton sejak tadi.


"Baik, Kakek. Aku ke kamar dulu," Lucki bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan ruang tamu.


Juwita terlihat masih cemas, yang sesekali melirik ke arah Kakek Hardiman, Juwita takut jika Kakek Hardiman tak mempercayai Ferdi, menantunya itu.

__ADS_1


Di dalam kamar, sebelum Ferdi pergi mandi dia terlebih dulu ingin menghubungi Ferdi, awalnya Lucki mau menelpon Shanaya, hanya saja nomor Shanaya tak terhubung beberapa kali di hubungi oleh Lucki.


Lucki, menghubungi Ferdi dua kali, panggilan pertama terlewatkan, lalu panggilan ke dua baru terhubung.


"Ferdi, kakek me...."


[Hallo, dengan siapa ini?]


Terdengar suara seorang perempuan yang mengangkat panggilan Lucki dari ponsel Ferdi, Lucki memeriksa kembali apa benar yang dia hubungi adalah Ferdi, dan benar itu nomor Ferdi, Lucki tak salah menghubungi orang.


"Siapa ini?" tanya Lucki, karena Lucki tahu wanita ini tidak mungkin Shanaya, karena Shanaya akan tahu nomor Lucki, dan tidak akan bertanya lagi saat Lucki menghubungi Ferdi.


[Saya Clara,]

__ADS_1


__ADS_2