
Tiba di perusahaan Adipratama, Ferdi dan Shanaya segera turun dari mobilnya, mereka berdua berjalan ke arah pintu masuk kantor, sembari bergandeng tangan.
Di lobi perusahaan semua mata tertuju kepada mereka berdua. Tak hanya resepsionis, bahkan beberapa klien yang baru saja selesai meeting dengan Bagas dan Firman, juga menyapa mereka.
Apalagi tangan Ferdi, tak pernah lepas dari pinggang Shanaya, walaupun hanya sebentar, Ferdi membawa sang istri menuju ruangannya yang ada di lantai atas perusahaan.
Pintu lift terbuka, tas yang ada di bahu Shanaya terjatuh, tetapi Ferdi lebih dulu sudah keluar dari dalam lift. Dari jauh, terlihat Clara yang baru saja keluar dari ruangan Bagas, dan melihat Ferdi di depan lift, wanita ini bergegas pergi menghampiri Ferdi dan ingin menyapanya.
"Ferdi,"
Ferdi, tak mendengar Clara memanggilnya, dia sedang menunggu Shanaya untuk keluar dari dalam lift, Ferdi bahkan mengulurkan tangannya untuk Shanaya, wanita ini segera meraih tangan Ferdi dan membuat Clara tersentak ketika melihat seorang wanita berpakaian muslimah lengkap dengan cadar keluar dari dalam lift.
Ferdi, bahkan mengecup singkat kening Shanaya, lalu merangkul pinggang sang istri dengan begitu mesra. Begitu Ferdi dan Shanaya berbalik, mereka berdua terkejut melihat Clara yang ada di tempat itu.
Shanaya, untuk ke dua kalinya bertemu dengan Clara, wanita yang kerap kali membuat orang salah paham dengan kehadiran wanita itu di hidup Ferdi setelah pria ini menikah, padahal Shanaya tahu jika Clara adalah sahabat Ferdi semasa SMA dulu.
"Tuan Ferdi, " sapa Clara dengan sopan di saat melihat Shanaya dan Ferdi yang mematung di depannya.
"Sayang, kenalkan ini Clara sahabat SMA ku," Ferdi, sengaja memperkenalkan mereka berdua, agar tak membuat Shanaya salah paham.
"Hai, Shanaya," ucap Shanaya sembari mengulurkan tangannya ke arah Clara, wanita ini bukannya menyambut tangan Shanaya tetapi malah menatap Shanaya dengan begitu lama, sehingga membuat Ferdi dan Shanaya merasa tak nyaman.
"Clara, " singkat wanita ini menerima uluran tangan Shanaya, dan dua wanita tersebut saling berjabat tangan satu sama lain, Shanaya tersenyum ramah kepada Clara meskipun tertutup cadar, semua orang dapat melihat jika wanita ini tersenyum.
"Clara, kami permisi dulu," Ferdi, tak ingin membuat suasana semakin canggung, dan Ferdi berniat untuk mengajak pergi Shanaya saat tempat itu juga.
"Iya. Oh ya, jika kalian nggak keberatan aku ingin mengundang kalian makan siang bersama, sebagai tanda pertemuan pertama aku dengan istri sahabatku," ujar Clara, wanita ini berusaha untuk tersenyum di depan Shanaya dan Ferdi, agar tak membuat Shanaya curiga kalau Clara cemburu akan pernikahan mereka berdua.
"Maaf, ka...."
"Tentu saja kami tidak keberatan, sampai bertemu jam makan siang," Shanaya sengaja memotong ucapan Ferdi, karena tak ingin membuat Clara salah paham akan mereka berdua.
__ADS_1
"Tapi, sayang...."
"Sudah, nggak apa-apa, ayo kita pergi!" Shanaya dan Ferdi 'pun berlalu dari tempat tersebut. Clara menatap kepergian mereka dengan raut wajah tak rela.
"Seharusnya, aku yang di samping Ferdi," gumam Clara melihat Ferdi dan Shanaya sampai masuk ke dalam ruangan CEO.
Di dalam ruangan, Ferdi segera menghubungi Bagas, agar pria itu segera menemuinya, karena Ferdi, masih menunggu hasil penyelidikan dari Bagas, tentang kasus Tuan Ben dan Lucki.
Suara ketukan pintu dari luar, itu pertanda Bagas datang menemui Ferdi.
"Masuk!"
Pintu terbuka, Bagas bergegas menghampiri Ferdi di meja kerjanya, tanpa melihat di dalam ruangan itu masih ada orang lain, yaitu Shanaya.
"Tuan, ternyata yang memberikan informasi palsu itu kepada Tuan Ben, adalah Nona Clara," tukas Bagas, memperlihatkan selembar kertas putih yang sudah ada tanda tangan Clara di atas kertas itu.
Shanaya yang mendengar nama Clara langsung terikat akan wanita yang dia temui di depan lift tadi.
"Menuduh orang tanpa bukti adalah hal yang tercela, karena fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan," imbuh Shanaya yang masih duduk di sofa, Bagas langsung menoleh karena terkesiap mendengar ucapan Shanaya. Bagas, tak menyadari keberadaan Shanaya di dalam ruangan itu.
"Bagas, kamu kembali bekerja dulu, biarkan urusan ini aku yang urus, untuk sementara jangan kasih tahu siapapun dulu soal ini terlebih kepada kakek,"
"Baik, Tuan." Bagas pergi meninggalkan ruangan Ferdi, dan kembali bekerja. Melihat Bagas, yang sudah keluar Ferdi bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Shanaya di sofa.
Ferdi, memberikan kertas yang di berikan oleh Bagas untuk Shanaya. Wanita ini melihat ada kejanggalan di kertas itu, dan meminta kepada Ferdi, jangan gegabah mengambil keputusan tanpa ada bukti yang lebih kuat. Shanaya bukan membela Clara, hanya saja sepertinya bukti yang di berikan Bagas, sedikit janggal sehingga feeling Shanaya mengatakan untuk untuk mencari bukti yang lebih kuat.
"Sayang, kamu benaran mau pergi makan siang sama wanita itu? atau kamu masih curiga sama aku?" tanya Ferdi, yang memegang tangan Shanaya.
"Mas Daffa tampan, juga mapan, dari segi manusia saja bisa sesempurna ini, pasti banyak wanita di luaran sana yang ingin berada di samping, Mas Daffa. Termasuk wanita ini mungkin, tetapi Aya tidak mau suuzan sama Mas Daffa ataupun Clara,"
Mendengar pujian yang keluar dari mulut sang istri membuat Ferdi, tersenyum. Hal itu terlihat begitu jelas di depan Shanaya.
__ADS_1
"Kenapa mas senyam senyum begitu? lagi membayangkan wanita cantik ya?" tebak Shanaya, membuat Ferdi tertawa kecil.
"Aku lagi bayangin wajah cantik istriku pas bilang aku tampan, wajahnya pasti memerah,"
"Auh, mas!" pekik Shanaya, mengusap pelan pipinya karena sakit di cubit oleh Ferdi, setelah melihat Shanaya merajuk karena pipinya sakit. Ferdi langsung mengecup pipi Shanaya dengan lembut.
Ferdi, lebih banyak menghabiskan waktu menemani istrinya dari pada bekerja. Bahkan, Ferdi menceritakan masa-masa sekolahnya kepada Shanaya bagaimana dia dan Clara berteman begitu akrab.
Ferdi, menepati janjinya untuk pergi makan bersama dengan Shanaya dan Clara. Ferdi, sedikit was-was karena takut Clara mengatakan apapun yang mungkin membuat Shanaya cemburu atau marah, jujur saja Ferdi tak ingin itu terjadi.
Di dalam mobil, terlihat Ferdi tak melepaskan tangan Shanaya, membuat Shanaya terus mengomel, pasalnya Ferdi sedang menyetir.
"Mas, nyetir saja dulu yang benar," tukas Shanaya, tetapi pria ini malah senang mencium punggung tangan Shanaya berulang kali, membuat Shanaya tersenyum geli melihat tingkah suaminya tingkat kebucinannya tak dapat di tolong lagi.
"Mas, itu bukannya Clara?" tanya Shanaya, melihat Clara berbicara dengan seseorang. Ferdi, langsung mengikuti arah pandang Shanaya, dan benar saja itu Clara sedang berbicara dengan Tuan Ben.
"Apa yang dia lakukan? kenapa dia berbicara dengan Tuan Ben?" tanya Ferdi, Shanaya menoleh ke arah Ferdi.
"Apa itu Tuan Ben, yang Mas bicarakan dengan Bagas?" tanya Shanaya.
"Iya," singkat Ferdi, mereka berdua melihat Clara dari dekat, Ferdi menurunkan laju mobilnya agar dapat melihat dengan jelas apa yang di lakukan Clara dengan Tuan Ben.
Bahkan, Tuan Ben memberikan amplop coklat untuk Clara, wanita ini memberikan sebuah map bewarna biru untuk Clara, dan hal itu membuat Ferdi terkesiap. Shanaya memegang tangan Ferdi, melarang suaminya untuk turun dari mobil.
"Kita ke restoran segera ya, mas. Aku lapar," ucap Shanaya, Ferdi masih melihat ke arah Clara dan juga Tuan Ben.
"Mas,"
"Mas Daffa, baru saja bilang memikirkan aku, tapi sudah berpaling secepat itu," cibir Shanaya, ketika panggilannya tak di gubris oleh Ferdi.
"Sayang, maaf." Ucap Ferdi, ketika melihat Shanaya merajuk. Ferdi pun memilih untuk segera pergi ke restoran seperti yang di katakan Shanaya. Saat ini Ferdi, masih menyimpan berbagai macam pertanyaan untuk Clara, ini adalah bukti yang kuat untuk memecahkan Clara dari Adipratama group.
__ADS_1
'Clara kecurangan apa lagi yang kau lakukan terhadap Adipratama?' batin Ferdi.