Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 45


__ADS_3

Pengacara Giant mengirim sebuah pesan singkat untuk seseorang. Terlihat senyuman yang penuh arti terlukis di bibirnya. Bagas yang melihat Pengacara Giant keluar dari ruangan Ferdi, langsung menghampirinya.


"Tuan Giant," panggil Bagas, pria ini menoleh ketika namanya di ucap oleh seseorang, begitu melihat Bagas yang memanggilnya, Tuan Giant langsung tersenyum.


"Apa ada bukti lain, yang membebaskan Nyonya Shanaya dari segala tuduhan?" tanya Bagas, Pengacara Giant menaikan satu alisnya.


"Ada," singkat Pengacara Giant, dengan senyum khasnya membuat Bagas, tertegun saat melihat pria itu tersenyum. "Semua bukti ada di dalam tas yang aku simpan di lemari yang ada di dalam ruangan Kakek Rudi, dan kita semua akan tahu siapa pelaku sesungguhnya, hanya saja untuk saat ini, aku hanya bisa menaruh curiga kepada orang yang mendapat hak warisan dari Kakek Rudi, karena aku tahu pelakunya mungkin salah satu keluarga Kakek Rudi," ungkap Pengacara Giant, membuat Bagas menghela nafasnya.


"Itu artinya, kami juga harus mencurigai Anda? karena Tuan Besar, meninggal setelah menghubungi Anda?" tukas Bagas, Pengacara Giant tertawa kecil.


"Bisa jadi," setelah mengatakan itu, Pengacara Giant pergi meninggalkan Bagas yang masih mematung di tempat. Bagas, menatap curiga ke arah Pengacara Giant, pria ini hanya muncul dua kali dalam beberapa bulan ini, sekali waktu pernikahan Ferdi, sekali lagi waktu Kakek Rudi meninggal, sungguh membuat Bagas, begitu curiga.

__ADS_1


Tiba di lantai dasar perushaana Adipratama, Pengacara Giant bertemu dengan Firman, yang kebetulan ingin pergi menghadiri meeting di perusahaan lain.


"Tuan Giant, Anda masih di sini? saya pikir Anda telah pergi,"


"Tidak, saya baru saja berbicara dengan Tuan Ferdi, terkait kasus yang menimpa istrinya, karena saya yakin pelaku yang sesungguhnya masih ada di sekitaran tempat ini," tukas Tuan Giant, dengan senyumannya. Firman, yang mendengar itu merasa geram, karena tak suka dengan pernyataan dari Pengacara Giant.


"Kenapa coba Shanaya tidak di tangkap, jelas-jelas semua bukti tertuju kepadanya," ujar Firman, geram.


'Sial,' umpat Firman, dalam hati karena sakit hati dengan ucapan Pengacara Giant barusan.


Jam makan siang, Ferdi memilih untuk bertemu dengan Juwita, ibu mertuanya. Karena, rasa penasaran Ferdi begitu besar terhadap album foto yang Ferdi temukan di kamar rahasia kakeknya.

__ADS_1


Juwita yang saat ini sedang memasak rendang hati ayam, segera keluar dari dapur saat mendengar suara mobil. Ternyata, yang datang Ferdi, kebetulan sekali Juwita baru saja selesai memasak dan akan meminta Ferdi untuk mengantar hati ayam rendang untuk Shanaya. Juwita tahu, Shanaya akan suka hati ayam rendang.


Juwita, menyambut menantunya dengan ramah, lalu meminta Ferdi untuk duduk di ruang tamu, Juwita kembali ke dapur untuk mematikan kompor, dan dia kembali ke ruang tamu dengan membawakan segelas jus jeruk dingin untuk Ferdi.


"Apa yang membawa mu datang kemari? Mama yakin, kamu pasti telah menemukan bukti lain, untuk membebaskan Shanaya dari tuduhan itu," tebak Juwita yang duduk di sofa single, tak jauh dari Ferdi.


"Belum, untuk saya ini ma," raut wajah Juwita langsung berubah, karena kenyataan tak sesuai dengan harapannya.


"Aku ingin bertanya soal foto ini kepada mama," Ferdi menyodorkan selembar foto yang dia ambil di dalam album usang milik Kakek Rudi, dan di perlihatkan Ferdi kepada Juwita.


"Foto ini? dari mana kamu mendapatkannya?" Juwita teringat foto itu di ambil di saat Lucki dan Ferdi masih kecil, dan foto itu diambil di perusahaan Adipratama.

__ADS_1


"Mama kenal dengan wanita itu?"


__ADS_2