
Tiba di restoran, Ferdi dan Shanaya segera turun. Meskipun Ferdi, ingin membatalkan makan siang dengan Clara, tetapi Shanaya tak ingin Ferdi melakukan itu. Baru saja keduanya duduk di meja yang telah di pesan oleh Ferdi, Clara 'pun tiba menyapa mereka berdua.
"Maaf, aku telat datang. Tadi, aku pergi menemui papaku sebentar, " tukas Clara yang langsung duduk di depan mereka berdua. Ferdi, menatap Clara kesal, sudah tertangkap basah masih mencoba membohongi mereka berdua.
"Sejak kapan Tuan Ben, menjadi papamu?" tanya Ferdi, dengan dingin. Clara membulatkan matanya tak percaya, Shanaya menggenggam tangan Ferdi agar tak berkata kasar untuk Clara.
"Kamu pikir aku tidak tahu, dengan apa yang baru saja kau lakukan? kali ini apalagi yang akan kau lakukan untuk mencurangi perusahaan Adipratama. Sebelumnya, kau menyalakan api antara Adipratama dan Hartawan, sekarang apa lagi yang ingin kau lakukan, Haah!"teriak Ferdi, membuat Clara terkejut, begitu juga dengan Shanaya, pria itu sampai berdiri berteriak di depan Clara.
Semua pengunjung yang datang ke restoran itu melihat ke arah mereka. Tetapi, Ferdi tak memedulikan itu. Shanaya ikut berdiri, dan berusaha menenangkan Ferdi.
"Mas,"Shanaya mengusap pelan dada pria itu, tetapi terlihat Ferdi, tak tenang sedikitpun bahkan emosinya kian meledak-ledak.
"Kau pikir kita semua bodoh! kau sengaja bekerja di Adipratama untuk mencuri semua data penting perusahan kami, jangan menganggap karena kau sahabatku, aku tak berani memecatmu, bahkan aku bisa menyeret kau ke kantor polisi!" tegas Ferdi, Shanaya menarik lengan suaminya agar tak memaki Clara lebih dalam lagi.
"Fer, itu tak seperti yang kau pikirkan, aku tak melakukan hal itu, bahkan sedikitpun aku tak ada niat untuk mencurangi perusahaanmu," tukas Clara membela diri.
__ADS_1
" Shanaya, kau percaya aku 'kan?" tanya Clara, berusaha meraih tangan Shanaya, Ferdi langsung menepis tangan Clara yang ingin memegang tangan Shanaya.
"Jangan sentuh istriku dengan tangan kotor kau, itu!" Ferdi membawa Shanaya pergi dari restoran itu, Clara berusaha mengejar Ferdi dan Shanaya hingga ke tempat parkiran.
"Ferdi, tunggu!"
"Ferdi, aku tak melakukan itu semua, kamu salah paham,"
Mobil Ferdi sudah berlalu pergi meninggalkan tempat parkiran restoran tersebut. Kini hanya ada Clara yang menangis melihat kepergian Ferdi bersama dengan Shanaya.
"Apa ini balasan dari persahabatan kita selama ini? sungguh tidak adil. Aku sudah menahan diri sejak lama, demi melindungi rasa persahabatan ini, tetapi kenapa selalu aku yang harus menerima ketidakadilan ini,"ucap Clara yang bersimpuh di tanah sembari menatap mobil Ferdi yang sudah tak nampak lagi bayangan mobil tersebut.
"Sayang, maaf. Aku membuatmu takut," ucap Ferdi memegang kedua tangan Shanaya dan langsung membawa Shanaya ke dalam pelukannya.
"Mas, kenapa harus menyelesaikan masalah dengan cara itu, mas tahu Clara seorang wanita, pasti dia merasa malu di marahi di tempat umum,"
__ADS_1
Ferdi langsung duduk dengan posisi semula, sembari menghela nafasnya berulang kali.
"Kita tak perlu membahas lagi masalah ini," ujar Ferdi, Shanaya juga memilih tak bertanya lagi untuk saat ini, karena dia tahu saat ini Ferdi masih dalam keadaan mood yang buruk.
Sebelum kembali ke kantor Ferdi lebih dulu mengantar Shanaya ke rumah, setelah itu Ferdi bergegas kembali ke kantor setelah mendapatkan panggilan dari Bagas.
Ternyata benar saja, Bagas sudah menunggu Ferdi di lobi kantor, dan beberapa berkas di tangan Bagas.
"Tuan Ferdi, untung Anda datang lebih cepat,"
"Apa yang terjadi?" tanya Ferdi masih dengan raut wajah yang sama, ketika pria ini memarahi Clara.
"Ini adalah beberapa saham milik Adipratama yang telah di jual oleh Clara, kepada orang lain, tetapi aku tidak tahu dia menjualnya untuk siapa?" tukas Bagas, memperlihatkan isi berkas yang ada di tangannya.
"Aku sudah tahu, dia menjual untuk siapa, aku sudah memecatnya, dan mulai saat ini jangan biarkan dia masuk ke perusahaan ini!" tegas Ferdi, Bagas mengangguk sembari menyimpan kembali berkas itu. Ferdi berlalu pergi meninggakan lobi.
__ADS_1
Satu masalah lagi baru saja terselesaikan meskipun Adipratama rugi banyak, tetapi Ferdi memaafkan Clara mengingat wanita itu adalah sahabat sekolahnya dulu.