Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 34


__ADS_3

Kakek Rudi menjelaskan tujuannya untuk mengumpulkan semua orang, untuk menyerahkan perusahaan Adipratama untuk Firman dan Ferdi.


Saat ini memang Firman mengurus perusahaan itu, hanya saja Firman lebih banyak memberikan pekerjaan untuk di kelola oleh Ferdi, karena saat ini Ferdi adalah CEO Adipratama.


"Setelah ini, kakek akan pensiun, semua pekerjaan akan di urus oleh Firman, dan Ferdi. Kakek harap kalian berdua dapat mengelolanya sebaik mungkin. Satu lagi, untuk Bagas, Kakek akan memberikan 10% keuntungan dari perusahaan Adipratama untukmu, karena kamu telah mengikuti sejak lama,"pungkas Kakek Rudi, Firman dan Ferdi tidak keberatan akan hal itu. Tetapi, sepertinya Bagas keberatan.


'Dulu hanya dapat 5%, sekarang juga tidak lebih baik dari dulu, apa ini adil?' Bagas memperhatikan seluruh keluarga Adipratama, meskipun tidak adil, tetapi Kakek Rudi sudah memberi hidup yang layak untuk Bagas syukuri.


"Terima kasih, kakek." Ucap Bagas, Kakek Rudi hanya mengangguk saja tanpa memberi komentar apapun.


"Untuk Shanaya, Kakek akan memberikan lahan pembangunan sekolah gratis untuk kamu, dan kamu dapat mengelolanya. Bahkan, jika kamu mau, keuntungan perusahaan Adipratama 60% untukmu, dan anakmu. 10% untuk Firman, dan 30% untuk Ferdi, ini adalah keputusan Kakek, dan kakek sudah meminta pengacara untuk membuat surat wasiat itu." Tukas Kakek Rudi, tetapi hal yang membuat bingung atas pernyataan kakek adalah kenapa Shanaya mendapatkan lebih banyak dari Firman.


"Kakek, apa itu tidak terlalu berlebihan, mendapatkan lahan saja Aya udah cukup, tidak perlu memberikan keuntungan dari saham Adipratama," tukas Shanaya yang merasa tak enak dengan ayah mertuanya.


"Ini adalah keputusan kakek, tidak ada yang bisa menolak atau membantahnya. Hanya itu saja, kakek pamit istirahat dulu," Kakek Rudi meninggalkan meja makan, begitu juga dengan Firman.


Bagas juga berpamitan dengan Shanaya dan Ferdi, kini hanya tinggal pasangan suami istri itu saja. Bi Asih, datang membereskan meja makan, Ferdi juga mengajak Shanaya untuk kembali ke kamar mereka.


Keesokan paginya....


Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Ferdi, dia sudah menyelesaikan pekerjaannya kemarin, jadi hari ini Ferdi bisa membawa Shanaya pergi untuk memeriksa kandungannya.


"Sayang, sudah siap?" tanya Ferdi, yang berdiri di balkon kamar sembari menunggu Shanaya selesai bersiap-siap.


"Sudah, Mas. Ayo, berbakat!" ajak Shanaya, mereka berdua berniat sarapan di jalan, karena hari ini Shanaya ingin makan bubur ketan yang ada di restoran Jakarta house.

__ADS_1


Tiba di depan restoran, tiba- tiba tangan Shanaya di tarik oleh seseorang yang membuat Ferdi, begitu marah.


"Clara! apa yang kau lakukan!" teriak Ferdi, menepis tangan Clara yang berusaha memegang tangan Shanaya.


"Shanaya, kamu harus dengar apa yang mau ku katakan, aku tidak pernah berbohong, ka...."


"Hentikan Clara!" Ferdi mendorong Clara hingga terjatuh ke tanah, Shanaya ingin menolongnya tetapi Ferdi melarang, akhirnya mereka memilih untuk pergi meninggalkan restoran tersebut.


Di dalam mobil, Ferdi masih terlihat begitu kesal.


"Mas, apa yang membuat kamu kesal, kenapa kamu begitu kasar sama Clara, dia itu sahabat kamu, kenapa kamu tidak mau berbicara dengannya?" Shanaya bertanya, agar semua masalah bisa terselesaikan, Shanaya juga tak ingin Ferdi dan Clara bermusuhan mengingat Ferdi dan Clara dulu adalah teman baik.


Ferdi tak menjawab lagi, memilih untuk diam hingga mereka kini tiba di rumah sakit, dan ternyata Dokter Arum sudah menunggunya begitu lama.


Pertama kali, Ferdi mendengar detak jantung baby, membuat Ferdi meneteskan air matanya karena begitu bahagia, apalagi Dokter Arum mengatakan janin Shanaya cukup sehat.


Kini keduanya kembali pulang ke kediaman Adipratama. Tetapi, tiba di depan pintu gerbang Shanaya dan Ferdi melihat mobil Clara, itu artinya Clara sudah sampai di kediaman Adipratama.


"Benar-benar wanita itu," gumam Ferdi, geram. Shanaya meminta Ferdi untuk tenang agar tak memarahi Clara lagi, Shanaya juga meminta pengawal untuk menyuruh Clara segera pergi karena Ferdi tidak akan menemui wanita itu.


Benar saja, Clara turun dari mobil begitu tahu Ferdi dan Shanaya telah pulang, tetapi pengawal tak mengizinkan Clara untuk masuk atas perintah Shanaya.


"Maaf, Nona. Anda tidak boleh masuk,"


"Siapa kalian, berani melarang aku, Haah?" tanya Clara yang tak terima di perlakukan begitu rendah.

__ADS_1


"Tetapi, ini perintah Nyonya muda,"


'Wanita itu,' Clara mengepalkan tangannya dan berlalu pergi meninggakan kediaman Adipratama.


Dari lantai dua, rumah Adipratama, lebih tepatnya dari arah balkon Shanaya melihat ke arah mobil Clara yang sudah pergi meninggalkan rumah Adipratama.


"Sayang, kenapa berdiri di sini. Ayo, sini masuk," panggil Ferdi, yang saat ini tengah duduk di atas kasur, menyenderkan kepalanya di pinggir ranjang.


Shanaya melangkah masuk, dan duduk di samping Ferdi, pria ini langsung merubah posisinya, jadi tidur di sebelah Shanaya dengan menjadikan paha Shanaya sebagai bantal.


Niat hati ingin bertanya tentang Clara, tetapi melihat mood Ferdi, Shanaya memilih untuk tidak bertanya. Shanaya mengelus lembut rambut Ferdi, hingga membuat pria itu tertidur.


Ferdi, terlelap baru 15 menit, tetapi, terbangun ketika Shanaya buru-buru ingin ke kamar mandi, dan perutnya terasa cukup mual. Hanya makan roti dan susu hangat, membuat Shanaya harus memutuskan semuanya.


"Sayang, apa semua baik-baik saja?" tanya Ferdi, lalu bergegas turun dari ranjang untuk melihat keadaan Shanaya di kamar mandi.


Ferdi, berdiri di ambang pintu, melihat Shanaya yang berdiri di wastafel kamar mandi, pria ini langsung masuk, dan mengelus tekuk Shanaya dengan pelan dan lembut, agar tak membuat Shanaya sakit.


"Sudah enakkan?" tanya Ferdi, membantu membersihkan mulut Shanaya, dan bahkan iya membantu melepaskan hijab, dan membenarkan ikat rambut Shanaya yang terlepas.


"Aku nggak apa-apa," ucap Shanaya, tetapi Ferdi langsung mengendong Shanaya dan membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.


Ferdi, meminta Bi Asih, untuk membuatkan bubur untuk ibu hamil, serta minuman hangat, agar tubuh Shanaya kembali enak, setelah beberapa kali muntah.


Ferdi, berulang kali mengecup kening Shanaya, dan mengelus lembut perut Shanaya, yang belum terlalu terlihat buncitnya. Atas permintaan Shanaya, Ferdi membacakan surat-surat pendek sembari mengusap perut Shanaya, tak terasa Shanaya tertidur dengan di temani oleh Ferdi.

__ADS_1



__ADS_2