Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 36


__ADS_3

"Aggrh!"


"Shanaya!"


"Itu suara teriakan Shanaya," ujar Firman, Bagas dan Ferdi langsung berlari masuk ke dalam dan di susul oleh Firman juga, Bi Asih yang mendengar suara teriakan juga terbangun, sejak dari siang wanita tua ini merakan pusing, dan tertidur di kamar untuk istirahat. Sedangkan, dua pelayan yang lain berada di halaman rumah menggantikan Bi Asih membersihkan taman.


"Shanaya!" teriak Ferdi, terkejut melihat apa yang ada di depannya.


"Mas...." Bibir Shanaya bergetar hebat ketika benda tajam yang ada di tangannya di penuhi dengan darah. Bahkan, Firman segera berlari dan mendorong tubuh Shanaya yang ada di depan Kakek Rudi, dengan sigap Ferdi menangkap tubuh Shanaya agar tak terjatuh ke lantai.


"Tuan Besar, " ucap Bagas, melihat tubuh Kakek Rudi, yang bersimbah darah, perutnya telah tertusuk dengan benda tajam yang masih ada di tangan Shanaya.


"Nyonya, Anda," Bagas melihat benda itu masih di pegang oleh Shanaya, wanita ini menggeleng cepat guna untuk mengatakan jika bukan dia pelakunya.


"Shanaya! kenapa kau membunuh ayah!" teriak Firman, yang menggelegar seluruh ruangan dapur. Bi Asih berdiri di ambang pintu dapur tak percaya dengan pandangan yang ada di depannya.


"Mas, bukan aku. Papa bukan aku, benar aku tak melakukan itu," tukas Shanaya memperlihatkan kedua tangannya yang masih memegang benda tajam itu, Ferdi memegang lengan Shanaya meminta Shanaya untuk melepaskan pisau yang dia pegang sejak dari tadi.


"Bagaimana bisa? sedangkan di sini hanya ada kamu dan Ayah, kau membunuh ayah!" teriak Firman lagi, menatap sekilas ke arah Shanaya lalu beralih menatap Kakek Rudi, yang sedang menghembus nafas terakhirnya.

__ADS_1


"Ayah, apa yang terjadi? siapa yang melakukan ini?" tanya Firman, yang memangku tubuh Kakek Rudi yang sudah bersimbah darah, pria tua dengan tenaga yang sisa mencoba menggerakkan tangannya, lalu dia berusaha untuk menunjuk ke arah dimana Shanaya berdiri.


Tangan Kakek Rudi terjatuh ke lantai, membuat Bi Asih, menutup mulutnya itu pertanda majikannya telah meninggal. Firman, langsung menangis histeris begitu juga dengan Ferdi yang begitu merasa kehilangan.


"Ayah, bangun! ayah!" teriak Firman, begitu juga dengan Ferdi yang memangku tubuh Kakek Rudi, Shanaya yang berdiri sembari melihat kenyataan di depan mata membuat lutut Shanaya lemas, dan terjatuh ke lantai.


"Nyonya!" Bi Asih, memegang bahu Shanaya, memeluk Shanaya yang mulai terisak. Bahkan, seluruh tubuh Shanaya terasa gemetar, dan pada akhirnya Shanaya pingsan.


"Nyonya!" Bi Asih panik, begitu melihat Shanaya pingsan, Ferdi melihat Shanaya yang tak sadarkan diri begitu Ferdi ingin berdiri Firman langsung menatap Ferdi dengan tajam.


"Kalau kau berani menyentuh wanita itu, jangan harap kau bisa melihat pemakaman kakek malam ini!" tegas Firman, langsung membuat Ferdi lemas, yang satu istri yang satu lagi kakeknya.


"Dia yang membunuh Ayah, aku takkan memaafkannya!" teriak Firman, lagi-lagi membuat air mata Shanaya mengalir begitu deras, meskipun kepala teras berat mata tak bisa membukanya, tetapi Shanaya dapat mendengar semua itu, hanya saja tubuhnya terlalu lemas untuk bangun dan membantah semua ucapan ayah mertuanya.


"Bi Asih, tolong antarkan istriku ke rumah sakit, aku akan menghubungi Dokter Arum. Bagas, ikutlah dengan Bi Asih, aku minta tolong," ucap Ferdi, sembari memohon kepada Bi Asih dan juga Bagas.


"Bagas, periksa semua cctv yang ada di dalam ruangan ini dan di luar, kita akan segera tahu siapa pelakunya!" lanjut Ferdi, dengan tegas.


"Baik, Tuan." Jawab Bagas, dan berpamitan untuk membawa Shanaya ke rumah sakit.

__ADS_1


Setelah kepergian mereka membawa Shanaya ke rumah sakit, Ferdi dan firman dengan di bantu oleh lima orang pengawal mereka memboyong tubuh Kakek Rudi, ke kamarnya, yang ada di lantai bawah.


Firman cukup kekeh pada pendiriannya, dia menyimpan amarah yang cukup besar untuk Shanaya, bahkan dia berjanji takkan memaafkan menantunya itu, sampai rasa sakit itu terbalaskan.


Malam 'pun tiba, dan prosesi pemakaman Kakek Rudi, segera di lakukan. Banyak orang yang datang untuk melihat, hanya untuk keluarga Hartawan, Firman melarangnya. Bahkan, mereka tak di biarkan untuk melihat jenazah terakhir Kakek Rudi, sebelum di bawa ke pemakaman keluarga Adipratama, satu lahan dengan makam ibu Ferdi.


Ferdi, sendiri tak bisa membantah ucapan Firman sebelum proses pemakaman itu selesai, Ferdi tak ingin membuat arwah bersedih atas apa yang terjadi.


"Firman, kau tega melakukan itu kepadaku, aku ini sahabat Kakekmu, apa salahnya membiarkan aku untuk masuk," ucap Kakek Hardiman, berdiri di depan gerbang lahan pemakaman, dan di halangi oleh beberapa pengawal keluarga Adipratama.


Sementara Juwita dan lucky berada di rumah sakit, untuk menjaga Shanaya, sedangkan Bagas dan Bi Asih, telah pulang.


"Pa," panggil Ferdi, Firman tak menggubris panggilan itu, pria ini tahu apa yang ingin Ferdi katakan padanya. Hingga proses itu 'pun selesai Kakek Hardiman tak melihat sahabatnya untuk terakhir kali, sungguh tega Firman kepada Kakek Hardiman.


Semua orang telah meninggalkan lahan makam, kini hanya tinggal Firman dan Ferdi, Kakek Hardiman mencoba menerobos gerbang tersebut hingga dia tiba sampai di depan pemakaman Kakek Rudi.


Mengucapkan satu dua kata permohonan maaf atas nama Shanaya, tetapi begitu nama Shanaya di sebut, Firman kembali memarahi Kakek Hardiman dan mengusirnya dari sana.Terpaksa Kakek Hardiman harus pergi meninggalkan pemakaman itu.


Di rumah sakit, Shanaya sudah siuman, tetapi dia tak melihat adanya Ferdi di dalam ruangan itu. Di sana hanya ada Ferdi dan juga Juwita.

__ADS_1


"Dimana Mas Daffa, ma?"


__ADS_2