Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 48


__ADS_3

Ferdi, tidak menemukan kotak itu hingga Firman telah kembali pulang. Tetapi, Ferdi telah memberitahu Lucki, jika kotak itu telah hilang. Mereka semakin yakin, saat ini pelaku akan mudah dijebak.


Sesuai dengan kesepakatan semua orang, tepat jam yang telah di janjikan, Pengacara Giant datang ke kediaman Adipratama, bersama dengan Lucki dan juga Shanaya.


Meskipun, semua orang saat ini tahu, Shanaya bukan pelaku, tetapi masuk ke dalam rumah Adipratama adalah hal yang paling menegangkan, karena besok adalah hari terakhir untuk penyelidikan, dan ke dua keluarga akan di panggil ke pengadilan.


Begitu melihat Firman turun dari lantai dua, Pengacara Giant, langsung memberi kode kepada Firman, agar tak menyentuh Shanaya, jika tidak Pengacara Giant akan bertindak.


Semua orang kini duduk di ruang tamu, Shanaya duduk di sebelah Ferdi, begitu juga dengan Lucki di sebelah Pengacara Giant, Firman di sofa single dan Bagas duduk di depan Pengacara Giant.


"Jadi, apa benar kotak yang Anda bawa dari perusahaan telah hilang?" tanya Pengacara Giant, dan itu benarkan oleh Ferdi, karena memang telah hilang dan Ferdi tidak tahu kemana perginya kotak tersebut.


"Anda sudah melihat isi kotak tersebut?" tanya Pengacara Giant.


"Sudah, itu hanya barang milik Kakek, dan tidak ada yang penting di dalam itu," ujar Ferdi kemudian, tangannya sejak dari tadi menggenggam tangan Shanaya, seakan tak ingin di pisahkan lagi seperti kemarin, hari ini dan seterusnya Ferdi ingin selalu dapat menggenggam tangan itu.


"Tidak masalah, aku telah menemukan bukti lain, sebentar lagi mama akan datang kemari," pernyataan Lucki, mengejutkan semua orang, termasuk Firman dan Ferdi, barang bukti apa yang di temukan Juwita, sehingga membuat Lucki begitu yakin kalau kasus itu akan segera terungkap.


"Seandainya aku bisa memilih aku takkan ingin warisan itu, aku hanya ingin kakek kembali," ucap Shanaya, yang mulai terisak.


"Heeh! berhenti berpura-pura, bukankah kau senang melihat kakek telah tiada, pantesan kau selama ini mengincar warisan kakek," cibir Firman.


"Papa cukup," Ferdi menatap Firman penuh peringatan, Lucki juga memperingati kepada Firman agar tidak melewati batas, karena saat sudah ada bukti lain yang meringankan tuduhan untuk Shanaya.

__ADS_1


Suara mobil masuk ke dalam halaman rumah Adipratama, itu pertandanya Juwita telah tiba, semua orang terlihat cemas, dan suasana kembali menegang.


Juwita segera masuk ke dalam rumah tersebut setelah pintu di bukakan oleh Bi Asih. Juwita membawa sesuatu di tangannya, berbentuk paperbag.


"Selamat malam, Tuan Giant." Sapa Juwita, dan keduanya saling bersalaman, tetapi Juwita tidak menyapa pemilik rumah lainnya . Wanita ini segera duduk di sofa lain.


"Aku membawa bukti lain, yang di yakini lebih kuat dari bukti yang ada, ini adalah rekaman cctv dimana Kakek Rudi, dua hari yang lalu berdebat dengan seseorang di tempat parkiran perusahaan Hartawan. Tetapi, sayangnya orang itu tidak terlihat begitu jelas wajahnya, mungkin Pengacara Giant bisa membantu untuk mendeteksi wajah orang itu," pungkas Juwita memberikan paperbag itu untuk Pengacara Giant.


"Bagus, dengan bukti ini kita bisa langsung menjebloskan orang itu, mungkin hukuman yang dia dapatkan adalah hukuman mati!" ucap Pengacara Giant dengan tegas, Firman, dan Lucki membulatkan matanya mendengar pernyataan Pengacara Giant.


"Tuan Ferdi, simpan paperbag ini di ruangan Kakek Rudi, satukan dengan barang bukti yang lain, kita akan pergi ke kantor polisi besok lagi, dan membawa semua bukti ini," tukas Pengacara Giant, Ferdi mengambil paperbag tersebut, dan mengajak Lucki untuk menyimpan paperbag itu ke kantor Adipratama.


"Pa, malam ini aku akan menginap di tempat Mama Juwita," Ferdi, Shanaya dan Lucki serta Juwita berpamitan dengan yang lain, mereka segera pergi meninggalkan kediaman Adipratama, menuju perushaana Adipratama untuk menyimpan paperbag tersebut.


Tak lama, setelah Pengacara Giant pergi Firman juga ikut pergi entah kemana tujuannya tidak ada yang tahu. Di rumah hanya tinggal Bi Asih, dan juga Bagas.


Saat ini, seseorang berjalan dengan mengendap-endap menelusuri halaman rumah yang cukup besar, pria itu memakai hoodie hitam, menutup kepala dan memakai penutup mulut, agar tak di kenali oleh orang yang lain.


Sebuah pintu terbuka, menampilkan sosok wanita muda yang lemah dan tak berdaya, wajahnya pucat basi, orang itu adalah Clara.


"Terima kasih, sudah mau berdiam diri di sini tanpa menganggu rencana ku, malam ini adalah malam terakhir kamu di sini," ucap orang itu. Dua orang pria berbadan besar masuk ke dalam gudang tersebut dan berdiri di belakang pria yang memakai hoodie.


"Buang wanita ini ke jurang, jangan sampai ada yang curiga, jika tidak kalian semua akan mati!" ucap pria itu memerintah beberapa anak buahnya.

__ADS_1


Dua orang pria berbadan besar membawa pergi Clara dalam keadaan tak sadarkan diri, selama hampir tiga hari Clara tak di beri makan ataupun minum oleh pelaku penyekapan dirinya.


Pria ini berdiri sembari tersenyum smirk, menaikan matanya dengan sorotan yang cukup tajam , sehingga terlihat begitu jelas tidak ada yang bisa menebak siapa pria di balik masker penutup wajah itu.


Perusahaan Adipratama....


Tepat jam 23:30, malam, suasana kantor lumayan sepi, hanya ada seorang satpam yang berjaga di luar. Tetapi, begitu melihat pria itu yang datang satpam langsung memperbolehkan untuk masuk, karena memang sudah mengenal pria tersebut.


Dengan langkah kaki yang besar, serta netra yang tersenyum, pria ini menggunakan tangga darurat untuk tiba di lantai atas.


'Kalian tidak akan pernah berhasil menangkapku,' batin pria itu yang kini sudah tiba di lantai atas, dan lebih tepatnya berdiri di depan ruangan Kakek Rudi, suasana kantor begitu sepi, koridor perushaana hanya di terangkan lampu kecil saja.


Ceklek!


Pintu ruangan Kakek Rudi langsung terbuka, setelah pelaku menggunakan kunci cadangan yang dia ambil beberapa hari yang lalu. Hanya mengandalkan lampu senter kecil di tangganya tanpa menyalakan lampu ruangan tersebut karena di dalam ruangan Kakek Rudi masih ada cctv yang menyala, dan mungkin saat ini ada orang lain yang akan memantaunya.


Pria berpakaian hoodie hitam tersebut membuka lemari, dan mulai mencari keberadaan paperbag serta bukti yang lain, yang di simpan di ruangan tersebut.


Setelah membuka pintu lemari, dan beberapa laci, pria itu menemukan brankas kecil dan dia yakin di dalam brankas kecil itu mungkin di simpan paperbag dan barang bukti lain, pria ini yang sudah menghafal sandi brankas, dengan lihai sekali tekan langsung membuat brangkas tersebut terbuka.


Pria ini membukanya segera, dan begitu terbuka....


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2