
Yahh sudah dua Minggu ini Vivi banyak berubah, Dia sering Menangis hanya karena hal sepele, nafsun makannya juga bertambah banyak, dan parahnya lagi dia sering bangun tengan malam dan pergi ke dapur mencari makan. Tubuhnya kini bertambah berisi saja.
Pagi ini Terlihat Bunda Radit sedang duduk di meja makan.
" Bund, Vivi akhir-akhir ini sangat aneh, dan tadi malam sekitar pukul 2 pagi aku melihatnya sedang makan didapur. apakah dia kerasukan?"
" Kamu ini kenapa ngomong gitu " kata bunda sambil menjewer telinga Radit.
" ampun Bunda" kata Radit
" wah ada tontonan yang menarik di sini" kata Baek yang baru turun dari tangga dan langsung mengambil kursi Nyang berhadapan. dengan Radit.
" ayo bunda Ter.. terus!" kata Baek memanaskan Bunda sela.
" bunda sudah sakit nih" kata Radit
Bunda melepaskan jewerannya.
" makanya jangan ngomong sembarangan" kata Bunda
" iya bund" kata Radit
"Bunda belum ke atas bawa sarapan buat ayah?" tanya Baek
" sebentar bunda lagi nunggu Vivi nih kok lama Banget"
" buat apa bunda?" tanya Radit" ituloh kamu lupa? astaga hari inikan kalian mau fitting gaun pengantin katanya semua gaun yang bunda pesan Di Millan sudah sampai" kata bunda
" oh iy bunda, Radit lupa astaga" kata Radit
" hal-hal penting seperti ini bisa kau lupakan? dasar pikun"
" heh! ini mendadak lagipula Bunda nggak bilang waktunya cuman bilang kalau dalam beberapa hari ini kita bakal fitting gaun pengantin" jelas Radit
" oooh aja" kata Radit
" nyenye"
" kok lama banget, Radit coba panggil Vivi, bunda akan mengantar makanan ayah duluan " pinta bunda Sela.
" iya bunda siapp" kata bunda
" Lo sana sarapan duluan nggak usah nungguin kita" kata Radit
" gue mau nunggu adik gue, lu Napa?" tanya baek sensi
" nyenyenye"
Radit bergegas menuju kamar Vivi. sesampainya disana ia mengetuk pintu kamar Vivi tidak ada jawaban dia mencoba membuka pintu dan ternyata pintunya tak dikunci dia pun bergegas masuk.
ketiak masuk ia bingung karena tak melihat Vivi.
"mungkin diruang ganti" kata Radit
Radit menuju ruang ganti sesampainya disana dia disuguhkan oleh pandangan yang indah, lebih indah dari kota Paris, lebih sejak daripada angin laut.bagaimana tidak Vivi terlihat telanjang hanya menggunakan bra dan ****** ***** membuat Radit menelan Saliva nya.
~Astaga....~ Batin Radit
" ahhh!! bang Radit ngapain disini" tanya Vivi terkejut
" aku? aku disuruh bunda memanggil mu" jelas Radit
" iya... tapi Jan sampe masuk ke sini dong" kata Vivi
Radit mendekat semakin mendekat hingga mengikis jarak diantara mereka.
" memang nya kenapa? sebentar lagi kita Suami istri dan kita sudah melakukan ritual nya terlebih dahulu" jelas Radit ditelinga Vivi.
" emm lepas nanti kalau ada yang masuk gmn?" tanya Vivi. tanpa aba-aba Radit langsung mencium Vivi, Vivi yang mendapat serangan kaget tapi dia tidak bisa marah, entah kenapa ia merindukan ciuman itu hangat...itu yang ia rasakan. perlahan-lahan Vivi mulai membalas ******* Radit itu membuat Radit senang dai semakin memperdalam ciumannya.
tangannya sudah bergerilya kemana-mana.
" akh...ah.. bang jangan" kata Vivi ketika Radit meremas buah dadanya
" panggil namaku sayang" kata Radit
" bang... kita masih belum sah" Vivi berusaha lepas dari Radit. tapi Radit tidak peduli dia sudah tanggung hehheeh.
tapi tiba-tiba ada yang memanggil dari luar pintu.
"Hei!! Radit Vivi kalian ngapain di dalam kok lama banget?" tanya Bunda. mendengar teriakan bunda Vivi mendorong dada Radit dan segera memakai bajunya.
"Astaga " kata Radit
" bang Radit keluar sana nanti bunda curiga" kata Vivi
" emang knp? "tanya Radit mendekat
" jangan mendekat! kalau bang Radit mendekat Vivi bakal teriak" ancam Vivi
" I..iya" kata Radit pasrah dan segera keluar dari ruang ganti.
~Bunda ngapain sih? padahal tadi nangung anjrir~ Batin Radit sambil duduk di sofa. Bunda masuk ke dalam kamar
" Bunda?"
" Vivi mana?"
" itu lagi ganti baju" kata Radit sambil menengok ke ruang ganti
" ooh, Vivi sayang cepat yah bunda banyak urusan, ayah juga belum sarapan ini" kata bunda
" iya udh kok ayok turun" ajak Vivi.
" oh syukurlah" kata bunda
mereka turun untuk sarapan bersama .
"ini dia orangnya, jamuran aku tungguin kalian" kata Baek
" siapa suruh tunggu, tadikan disuruh duluan" kata Radit
" mana-mana mau guelah" kata Baek
" terserah "
" sudah-sudah jangan berantem ayo kalian makan " kata bunda
Vivi tak menghiraukan percakapan yang ada disana dia sedang sibuk menyantap makanannya.
" astaga kok kita nggak ditungguin?" tanya Baek
" aku lapar bang" kata Vivi
" hmmm" hanya itu jawaban Baek
" sayang kok kamu makannya banyak banget? nggak takut gemuk?" tanya Bunda
" dah terlanjur berisi itu Bund"
" Bang Radit bilang apa!? aku gendut yah?hiks...hiks.." tanya Vivi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" bukan gendut tapi berisi" jelas Radit.
" ya sama aja hiks...hikss"
" nangis lagi" kata Radit pelan
" hei..hei sayang sudah Radit benar kamu hanya berisi bukan gendut" kata bunda menjelaskan
"heh! kena Lo! perempuan paling benci di bilang gitu" bisik Baek dengan nada mengejek ke arah Radit
" ya mana gue tahu bisa nangis gitu njir" kata Radit
" rasain lo, nanti kalau Vivi nggak mau kawin Ama Lo gmn?" tanya Baek
" ya pasti maulah , nggk wanita yang bisa menolak pesona gue" kata radit bangga
" nyenyenye " kata Baek
" Vivi maaf aku bersalah" kata Radit, Vivi kaget'
" apa? coba ulangi lagi! bang Radit bilang apa?" tanya Vivi
" maaf" kata Radit
" waow tumben banget" kata Vivi dalam sekejap Vivi kembali tersenyum.
__ADS_1
~loh? bukannya tadi nangis? ya tuhan kenapa moodnya bisa berubah-ubah seperti ini bikin pusing aja~ batin Radit
" Vivi nanti pergi sama bang Radit yah kalian hari ini fitting gaun pengantin" kata bunda
" iya"
~ aku tak menyangka bahwa kakakku sendiri akan menjadi pengantinku ~ batin Vivi
" Ya sudah bunda mau ke atas liat Ayah dulu" kata bunda
" iya bund" jawab ketiganya
setelah ditinggal bunda mereka mulai makan bukan mereka sih tepatnya tapi Radit dan Baek karena Vivi sudah duluan tadi.
" ehem.. bang aku udh selesai aku mau siap-siap dulu yah. kita langsung pergi sekarang atau nanti ?"
" sekarang lebih cepat lebih baik" jawab Radit
Baek hanya menjadi penonton.
~Kapan aku akan menikah juga? masa aku keduluan Vivi? seharusnya aku yang duluan... huft menyebalkan sekali~ batin Baek, dan tiba-tiba terlintas dipikiran Rossa wanita yang tadi malam bersenang-senang bersamanya.
~ Apakah Rossa akan menerimaku? ah!! nggak mungkin dia mau sama aku yang udah tua ~ batin Baek.
"Aku sudah selesai " kata Radit bangun dari kursi nya
" Hem" kata Baek Radit hanya menggeleng kepalanya melihat Baek yang setengah melamun menjawab perkataan nya. dia bergegas mengambil kunci mobil di dalam kemarin khusus kunci mobil dan menunggu Vivi di ruang keluarga, sambil menonton TV.
setelah 15 menit Vivi turun dari tangga
"Bang Radit?" Vivi memanggil Radit
tapi tak ada suara, ketika hendak sampai diujung tangga mendadak Vivi merasa pusing
"akh kenapa aku pusing yah?" kata Vivi
" Astaga" Vivi hampir terjatuh tapi Radit menangkapnya.
" kamu kenapa? apakah kamu sakit?" tanya Radit khawatir
" nggak kenapa-kenapa aku hanya sedikit pusing" jawab Vivi
"Kita pergi besok saja bagaimana?" tawar Radit khawatir Vivi akan sakit
" nggak apa-apa bang aku udah mendingan kok" kata Vivi
" baiklah ayo" ajak Baek menggandeng pundak Vivi keluar
~ nyaman sekali kenapa aku sangat nyaman dengan sentuhan bang Radit, hangat~ batin Vivi
Radit juga menuntun Vivi naik ke atas dalam mobil.
Mobil yang ditumpangi Radit dan Vivi sampai di Butik mewah milik salah satu perancang busana terkenal dari Paris dan kebetulan orang itu adalah teman Bunda sela.
" Selamat Datang Tuan" sapa para pelayan di butik
" selamat datang tuan apa da yang bisa saya bahtu?" tanya Menajer butik tersebut. Radit hendak bicara tapi tiba-tiba ada seseorang yang memukulnya dari belakang
" shit!" kata Radit
" hahahah....kamu lemah sekali" kata wanita itu yang tak lain adalah Marty Natalegawa. putri dari pemilik butik tersebut dan teman kuliah Radit
" kamu ini wanita tapi suka memukul orang sembarangan" radit kesal
" hei aku hanya becanda, kamu ini memang lemah" Marty meremehkan Radit
" dasar wanita" human Radit pelan
" jadi ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Marty dan dia melirik Vivi yang ada disebelah Radit.
" Tunggu-tunggu are you getting married?" tanya Marty tak percaya
" oh astaga tak kusangka kulkas berjalan 1000 pintu ini akan menikah" katanya lagi
" dan kau hebat bisa membuat kulkas berjalan ini luluh" kata Marty sambil tersenyum manis kearah Vivi Vivi membalas dengan senyuman
" hei aku Marty" kata Marty mengulurkan tangannya
" Vivi" kata Vivi
" jadi apa yang aku katakan benar?"tanya Marty
" omo-omo Daebak" kata Marty sambil memberi acungan jempol ke arah Radit
~ apaan ini mereka sibuk berdua aku dikacangin~ batin Vivi kesal. melihat ekspresi Vivi yabg kurang mood membuat Radit tersadar.
" hei berikan dia gaun pengantin yang Bunda pesan kemarin"
"ooh jadi Bunda sela yang memesan gaun itu, astgaa pantas saja bayangkan dia memberi waktu kami hanya satu Minggu untuk merancang 5 gaun untuk calon menantunya ini" kata Marty
" kau tak tahu?" tanya Radit
" tidak ibuku hanya berkata anak temannya akan menikah dan menyuruh para pelayan bekerja keras untuk gaun itu, ibuku curang " katanya lagi
" sudahi ocehanmu itu aku dan Vivi pusing mendengar nya" kata Radit
" baiklah ayo kita coba gaunnya" ajak Marty
Vivi dan Marty menuju ke tempat ganti untuk mencoba beberapa gaun pengantin, sedangkan Radit menunggu diluar.
*Gaun Pertama*
Vivi keluar dari ruang ganti, Radit yang sedang membaca majalah langsung mengangkat kepalanya dan tekagum melihat kecantikan Vivi.
~Sangat cantik... tapi.. ah tak boleh baju ini tak cocok untuk dipertontonkan~ batin Radit sambil menggelengkan kepalanya
" nggak ini nggak bagus" kata Radit
" ini bagus kok ini rancangan terbaru" elak Marty
" pkonya ganti ini terlalu terbuka" protes Radit
" ayo " ajak Marty pada Vivi untuk masuk kembali ke dalam ruang ganti.
* Gaun Kedua*
vivi keluar dari ruang ganti lagi, Radit kaget melihat payudara Vivi terekspos membuat Radit marah-marah.
" Mar kenapa semua bajunya kurang bahan " protes Radit
" ini style terbaru dasar kampungan " Kata Marty
" ini bagus tapi ini terlalu terbuka aku tidak terlalu suka" kata Vivi setuju dengan perkataan Radit
" tapi kau lihat ini terlalu terbuka, ganti!" pinta Radit
" baik-baik" kata Marty
* Gaun Ketiga*
" astaga ini kenapa punggungnya harus keliatan" teriak Radit yahg kesekian kalinya.
" ini cuman setengah ngak semua" kata Marty
" iya bang ini bagus" Vivi menimpali
" nggak ganti!" pinta Radit
" bang Vivi cape!, dari tadi bolak balik terus" Vivi mulai emosi
" Vivi bajunya nggak bagus" kata Radit
" hiks..hikss... aku cape" Vivi mulai terisak
" tinggal satu lagi yah?" tawar Radit sambil mengelus pundak Vivi
" hiks...hikss.." Vivi masih terisak
" ayolah Vivi, cup" Radit mencium kening Vivi, tanpa melihat sekitar dan tanpa memperdulikan Marty yang jomblo akut dan pelayan butik wkwkw.
~ bisa-bisanya Radit mesra depan gue asataga tegannya~ batin Marty. semua pelayan menunduk sedangkan Marty membuang muka.
__ADS_1
" coba satu lagi yah?" bujuk Radit, Vivi mengangguk
~akhirnya gue punya senjata rahasia buat bikin Vivi nurut~ batin Radit.
*Gaun Keempat*
" ini bagus" kata Radit
" aku juga suka, tapi ada yang putih tapi y lengannya pendek lagi?" tanya Vivi, karena vivi tau gaun tersebut sedang trending
" ada ini baru aku rancang, soalnya sedang trending" Kat Marty.
" ayo aku ingin mencobanya" kata Vivi semangat. Martypun membawa Vivi mencoba gaun terakhir
~astaga bukannya tadi dia bilang cape? bisa2nya dia mau lagi~ batin Radit , Radit tak berani berkomentar takut Vivi menangis' lagi.
*Gaun kelima*
~vivi cantik sekali...~ batin Radit terpana
" bagus nggak bang?" tanya Vivi,Radit belum bicara dia masih memandang Vivi.
" hei! bangun!" teriak Marty sambil Memukul lengan Radit, Radit tersentak kaget.
" I..iya bagus " kata Radit
" aneh" kata Vivi
" perhiasannya adakan? sepatu yang senada dengan gaunnya? soalnya kata bunda dia sudah memesan nya juga di sini " tanya Radit
" iya semuanya sudah di siapkan dan pas dengan gaun yang dipesan Vivi.
Bungkus semuanya
*Gambaran semua perlengkapan yang di pakai Vivi*
* Yang DiBeli Untuk Jaga² (Kata Radit)*
*Pakaian Radit*
*pakaian ynag akan dipakai Radit*
*cincin pernikahan*
"semuanya kirimkan ke mansion" Kata Radit
" baiklah, selamat untuk kalian berdua" kata Marty
" terimakasih " jawab Vivi Canggung
" ayo kita pulang" ajak Radit, Vivi mengangguk.
mereka menaiki mobil dan pergi meninggalkan butik.
diperjalanan Vivi bingung jalan yang dipilih Radit berlawanan dengan jalur pulang ke mansion.
~ bang Radit mau kemana sih? padahal aku pengen pulang pengen makan~ batin Vivi.
" bang kita mau kemana?"tanya Vivi
" Kitakan akan makan di restoran kesukaanku" ajak Radit
" dan satu lagi jangan panggil aku Bang pangg aku mas, tapi kalau mau panggil aku sayang juga boleh" kata Radit sambil tersenyum smirk
" heh mas aja nggak ada sayang-sayang" kata Vivi
" Mmmh yang penting bukan bang"
Vivi melihat ke luar kaca dan tak sengaja melihat penjual ice Cream.
" stop!!" teriak Vivi
" ada apa? apa yang terjadi?" tanya Radit khawatir
" nggak.. ko bang.... eh mas... aku cuma mau beli ice Cream" kata Vivi
" ooh kamu bikin kaget aja" kata Radit
" ya udah mas beliin yah" kata Radit, Vivi mengangguk
" kamu maunya rasa apa?" tanya Radit
" rasa vanila" jelas Vivi
" Baiklah tunggu disini jangan kemana-mana" pinta Radit
" siap bos" jawab Vivi
setelah 5 menit menunggu raditpun datang dengan es satu kantong plastik hitam semuanya rasa vanilla.
" ini" Radit memberikan ice cream
" banyak banget bang.. eh mas " kata Vivi
" kamu kenapa masih lupa?" yanyay Radit
" kalau kamu lupa lagi cium yah " tawar Radit
" nggak ah ngapain" elak Vivi hanya di jawab senyuman oleh Radit.
Vivi mulai menikmati ice Creamnya
" Vivi pelan-pelan, " Radit mengingat kan
" mhh enak banget bang eh mas kata Vivi sambil tersenyum"
Radit melihat Vivi yang menjilat ice cream merasa tergoda
~ astaga bibir ...~ batin Radit
" mas mau?" tanya Vivi menawarkan ice cream ke arah Radit
" mau dong sini dekat" kata Radit
" Ngapain dekat ini gigit aja" kata Vivi
" sini ada yang nempel itu" Radit bersandiwara
" oh " Vivi memajukan kepalanya berhadapan dengan Radit.
" bersihin mmmph..." belum sempat menyelesaikan ucapannya Radit sudah menciumnya main nyosor aja wkwk.
~ manis...~ batin Radit semakin memperdalam ciumannya dan menjilati ice cream yang ada disekitar bibir Vivi
~hangat..~ batin Vivi
Vivi sudah kehabisan nafas dia mendorong Radit
" bang Radit mau bunuh aku yah?" tanya Vivi
" makanya sini aku ajarin cara ciuman biar kamu nggak kehabisan nafas " ajak Radit
" nggak Makasih, kenapa sih bang Radit main nyosor aja" Vivi marah
" manis.... bibir mu terasa manis" kata Radit
sontak membuat wajah Vivi memerah
~ bisa-bisanya dia ngomong gitu jadi malu~ batin Vivi
" ihh apaan sih ayo jalan udah lapar ini" kata Vivi
" hah? kamu masih lapar bukannya Kamu tadi baru makan ice cream?" tanya Radit
__ADS_1
" nggak Kenyang" jawab Vivi Jujur
~ astaga apa benar Vivi kerasukan? oh aku harus berbicara dengan Rang~ batin Radit sambil menyalakan mesin mobil dan menuju restoran.