
"Sialan kalian "
prang!!!!! Vivi melempar kotak makan ynag di bawakan untuk Radit tepat mengenai wajah Radit.
Ketika Vivi membuka pintu Vivi melihat Radit yang kakinya sedang diraba-raba oleh seorang wanita,wajah wanita itu tidak terlihat hanya rambut sebahunya yang kelihatan dia duduk berjongkok sambil memegang dan sesekali memijat paha Radit Vivi marah sangat marah.
"ah ! astaga. Vivi?"!" kata Radit kaget dengan wajah dan baju yang dipenuhi dengan sisi kotak makan yang Vivi bawa.
"Ngapain kalian berduaan disini?! hah! kalian mau selingkuh? bang Radit mau selingkuhin aku nih? benaran? hah!! gertak Vivi
"glek" Radit menelan ludahnya susah payah
~astaga Vivi serem bet kek setan Kepanasan~ batin Radit
"ngg..nggak..Vivi kkkamu ah" Radit memekik ketika Vivi memukul nya dengan sepatu yang dipakai nya.
" sialan berani-beraninya bang Radit selingkuh , anjir !! sialan,, brengsek!! bang Radit kira bang Radit aja yang bisa selingkuh ?aku juga bisa liat aja bakal selingkuh Ama Sehun Habis itu kawin lari Ama suho" teriak Vivi.
"Konsepnya gmn itu?" tanya Radit bingung disela-sela pukulan Vivi.
"banyak bacot diam!" kata Vivi Radit diam tak berani berbicara.
lalu pandangan mata Vivi beralih ke wanita yang sedang duduk membelakangi nya wanita itu hendak menoleh tapi Vivi langsung menyerangnya
"Lo juga! ngapain Lo deketin laki gue hah!? ngapain sialan kalian !" teriak Vivi sambil beralih menjambak rambut wanita yang menggoda Radit dari belakang,tanpa melihat wajah ataupun mendengarkan penjelasan Vivi.
"ah.. aduh a...a..an..da salah paham" kata orang itu.
"loh kok? suaranya kek cowok?" gumam Vivi pelan.
"bodoh amatlah mungkin karena kesakitan makanya suara beda " pikir Vivi. Vivi tidak menghiraukan org itu yang yang dijambak vivi dan mengaduk-aduk wajah serta tangan nakal wanita itu.
"Vivi hentikan !dia laki-laki dia temanku ! dia dokter pribadi ku Robert" kata Radit.vivi kaget dia menengok kedepan untuk memastikan dan ternyata benar org yang dia siksa adalah seorang laki-laki.
"Omo! aduh ! kok bisa ! ah kamcagiya" kata Vivi
"ah hei nyonya Radit kau menyiksaku hanya karena aku sedang memijatnya? aku ini seorang dokter Radit pasien ku dia bilang Kalau kakinya agak pegal makanya aku pijat aiss sialan kalau bukan karena gajinya besar ogah aku diginiin " kata dokter
"Ya maap makanya jangan gondrong " kata Vivi
"hidupku pilihanku" jawab Robert
"yang gaji Lo laki gue yah" kata vivi.vivi masih merasa marah dan kesal entahlah mungkin karena efek kehamilan nya.
"buakn berarti..k"Robert. elin menyelesaikan kalimatnya
"Robert diam!" pinta Radit
"iya maap" kata Robert
"keluar" pinta Radit
"iya" jawab Robert patuh.
~bininya bos kok ngeri banget yah ? kek setan kepanasan anjir aku hampir mati muda dia siksa , apes bet gue nasib cari uang~ batin dokter Robert bergidik ngeri sambil berjalan keluar.
" Vivi tenanglah jangan marah-marah kaukan sedang mengandung " kata Radit berusaha menenangkan Vivi.
"kalau bang Radit mau aku nggak marah jangan ngelakuin hal yang bikin aku emosi Ama kesal dan emang kenapa kalau aku Hamil? hah? orang hamil juga punya hak buat marah kesal kalau tau lakinya selingkuh " jelas Vivi. Radit tersenyum.
~Dia cemburu~ batin Radit. Radit mendekati Vivi ia hendak memeluknya tapi Vivi menghindar.
"eh jangan sentuh-sentuh yah aku udh mandi udh wangi" Kata Vivi.Radit diam sambil tersenyum.
"akukan kotor gara-gara kamu" kata Radit
"itu urusan kamu siapa suruh bikin aku esmosi" kata vivi mengejek Radit.
"maaf yah sayang muah" kata Radit mencium kening Vivi. vivi membalas pelukan Radit sangat erat dan langsung menangis.
"huwa..!!!"
~anjir kok dia meluknya erat bet astaga susah nafas aku~ batin Radit
__ADS_1
"hei-hei nggak mungkin aku ninggalin kamu Vi , udh-udh berhenti nangisnya" bujuk Radit sambil membelai kepala Vivi dalam pelukan nnya.
"Emang mau berhenti . Gue mau pergi bye! " kata Vivi ia berniat berjalan menuju pintu keluar tetapi malah berjalan ke arah dispenser.
"katanya mau pergi kok ke situ?" tanya Radit
"Haus cape marah-marah" kata Vivi Radit tersenyum Sambil menggeleng.
"udh ? "tanya Radit
"udh bye aku mau pergi" pamit Vivi
" tunggu! siapa yang menyuruh mu keluar rumah? aku tak pernah memberimu izin" tanya Radit
"hehehe maaf" kata Vivi
" kali ini aku maafkan . ganti bajumu aku tak ingin ada org yang mengenalmu untuk saat ini" kata Radit
" baiklah ganti kekamar sana" pinta Radit.
"baiklah" Jawa Vivi patuh.vivipun bergegas Menganti pakaian nya.setelah selesai Vivi keluar da disana ia melihat Radit sudah rapi lagi seperti nya dia sudah manxi dan berganti pakaian.
"Bang mo nanya" kata Vivi
"apa?" tanya Radit
"Kok kenapa kita pindah ke mansionnya bang Radit? alasannya bukan karena ada renovasi kan? trus kenapa bang Radit nyembunyiin tempat kita sekarang? ditambah kenapa cuman bang Baek yang tinggal dimansion? kenapa dia nggak ikut kita pindah?" tanya Vivi.Radit diam
~Vivi sudah mulai curiga, aduh aku bingung harus menjawab apa~ batin Radit
"Bang? jawab dong?" kata Vivi
"kitakna dah jadi pasangan harus saling jujur dong" kata Vivi
~Vivi benar tapi aku menyembunyikan ini dari demi kebaikan Vivi, kalau Vivi tau dan ikut mausk ke rencana pasti dia akan terkena masalah, aku tak ingin dia kenapa-kenapa. Tapi untuk memperkuat hubungan ku dengannya aku harus memberikan nya penjelasan apa salahnya jujur padanya? Baiklah~ batin Radit
"Bang? kok diam kesambet yah?"tanya Vivi
"iya " kata Vivi mengangguk
"ikut aku"Radit membawa Vivi ke ruangan rahasia yang belum pernah diliat orang dengan kode keamanan yang canggih.
"Bang Radit ngapain kita kesini?" tanya Vivi
"Kau mau tau tentang semuanya kan? liat ini?"kata Radit sambil memberikan buku tebal yang berisi foto-foto album masa lalu. Vivi membukanya disana terlihat foto dua orang satu wanita dan satu laki-laki yang sedang berpelukan, Vivi tau wanita itu adalah ibunya dan pamannya.
"Ini foto ibu Ama paman?" tanya Vivi Radit mengangguk
"ini album pamanmu yang aku dapatkan dari seseorang" kata Radit
"oh trus?" tanya vivi
"lihatlah baik-baik"kata Radit sambil menunjuk foto ibu dan pamannya Vivi.
"tidak" kata Vivi
"buka sampai selesai" Vivi mengangguk dan membuka album itu awalnya foto-fotonya terlihat ceria, ketika Vivi membuka lembar selanjutnya Vivi melihat foto cincin dan kalung dengan caption "waktu yang tepat" Vivi tersenyum ia berpikir apakah paman akan menyatakan cintanya kepada kekasih nya? itulah yang dipikirkan Vivi , sampai ia melihat foto orang yang tertembak disampingnya tertulis "Revenge failed" hah? balas dendam dengan siapa? Vivi semakin bingung membuka lagi lembaran selanjutnya ia melihat foto ibunya yang di disilangkan lengkap dengan tanggalnya dan yang membingungkan adalah tanggalnya sama dengan hari kematian ibunya.
"maksudnya ini apa? " tanya Vivi
"Kan sudah ku bilang kau melewatkan sesuatu liat dari awal " kata Radit Vivi mengulang dari awal seperti sebelumnya Vivi melihat foto ibunya dan pamannya ia mengeluarkan nya dan mencari tahu siapa tau ada kalimat yang memberikan nya petunjuk tentang semua ini.ketika membalik foto itu Vivi terkejut bukan main.
"ja..jadi? paman bukan adik kandung ibu?" tanya Vivi gemetar
"iya " jawab Radit
"dan foto org yang tertembak Ama foto ibu yang disilangkan apa maksudnya?" tanya vivi. jangan sampai apa yang ia pikirkan adalah faktanya.
" kau taukan? i..itu memang kenyataannya" kata Radit memegang bahu Vivi.
"apa?! ini nggak mungkin" kata Vivi air matanya menetes.
"kenapa paman tega membunuh ibu" kata disela tangisnya.
__ADS_1
"karena paman mu sudah jatuh cinta pada ibumu" kata Radit.
"apa? nggak mungkin" kata Vivi
" itu semua bisa mungkin ditambah mereka tinggal satu rumah mereka melakukan semuanya sama-sama dari kecil ada banyak kemungkinan pamanmu menaruh hati pada ibumu tetapi mungkin ibumu tak tahu, pikiran ku foto bunga mawar ini adalah ketika Paman mu ingin mengatakan cintanya pada ibumu, tapi mungkin pada saat itu ibumu dijodohkan dengan ayahmu dan itu membuat Paman mu tak menerima kenyataan kau taukan obsesi pria sangat kuat mungkin ia melakukan hal nekat dengan..dengan membunuh ibumu" kata Radit.
"ini nggak mungkin, kenapa paman sejahat itu" kata Vivi ia tak menyangka bahwa pamannya yang sangat baik padanya melakukan hal sekeji itu. Radit memeluk Vivi
" tenanglah sayang kau sedang hamil" kata Radit
"tapi kenapa paman melakukan hal itu" kata Vivi
"entahlah, dan sampai sekarang pamanmu masih terus mengawasi mu mungkin sewaktu-waktu dia akan datang dan menghancurkan hubungan keluarga kita" kata Radit
"apa?" tanya Vivi tak percaya
"dia kembali kau ingat saat kau mabuk diklub pada saat itu?" tanya Radit Vivi mengangguk
"Pamanmu lah yang memasukkan obat perangsaang dalam minuman mu " kata Radit
"dari mana kau tahu?" tanya Vivi.
"anak buah dialah yang menyampur kan obat itu kedalam minumanmu" kata radit Vivi diam
"kau baik-baik saja?" tanya Radit
"aku baik-baik saja aku lapar ingin pulang" kata Vivi
"sebaiknya kau jangan membenci nya, kita akan memikirkan cara untuk menghadapi nya saja" saran Radit
"kau benar walaupun dia sejahat itu aku tak ingin membencinya dia adalah paman ku" kata Vivi Radit tersenyum sambil mengangguk.
"jadi semuanya rencana bang Radit?" tanya vivi.
"iya kau tinggal ikuti saja arahanku" kata Radit
" ngoheyy"
"sudah-sudah jangan menangis ayo pulang dan makan yabg banyak" kata Radit Sambil mengusap air mata Vivi.
" kau akan pulang denganku?" tanya r
Vivi
"ya aku akan mengantarmu lalu kembali lagi" kata Radit
"nggak usahlah aku akan pulang sendiri Kaukan sedang bekerja"
"tidak ada bantahan ayo pulang" ajak Radit. Vivi dan raditpun pulang bersama.
"sediakan dua mobil yang sama suruh asisten mu dan satu penjaga naik mobil yang satunya"' pinta Radit
"baik tuan" kata sekertaris Young. Vivi dan Radit menaiki mobil dan berlalu meninggalkan perusahaan SR Pradipta.
*Mansion Radit*
semua pelayan mansion sedang berkumpul di ruang rapat keluarga, para pelayan dan penjaga di tanya satu-satu.
"kemana vivi?" tanya ayah Vernando
"tu..tuan nyonya tadi keluar bersama dengan supir yang lainnya Menuju kantor tuan Radit" kata penjaga
"apa! kenapa kalian mengizinkannya keluar?" tanya
"nyonya bilang dia telah mendapatkan izin dari tuam Radit" kata pelayan itu gemetar
"apa? Vivi pasti berbohong" kata ayah.dan tiba-tiba bunda masuk ke ruangan itu sambil berteriak.
"ayah! ayah!! Vivi ! radit!" kata bunda sambim menangis
"apa?" kata ayah
"Mereka kecelakaan!"
__ADS_1