
Vivi sudah kembali ke mansionnya.
" Loh Vivi dah pulang?" tanya Bunda heran
" iya Bund dia ngeyel pengen pulang" kata Radit
" Iya Bund rumah sakit pengap" kata Vivi
" Baek balik ke kantor dulu yah bund" pamit Baek
" eh nggak istrahat dulu??" tanya Bunda
" nggak deh Bund " kata Baek sambil menguap
"Yakin?" tanya bunda khwatir
"kamu terlihat lelah" kata Radit
" Bang istrahat dulu Sono," saran Vivi
" Nggak deh , Bang Baek ke kantor dulu yah" pamit Baek
" iya deh jangan lupa makan, Baek!" Bunda mengingatkan
" iya bang," tambah Vivi
" siapp" jawab Baek. Baekpun berlalu meninggalkan mansion menuju kantornya.
"Bunda kita ke kamar dulu yah, Vivi mau istrahat" pamit Radit Sambil menuntun Vivi menuju lift
" iya..eh! tunggu! kalian? no..no..no kalian belum halal ngapian berdua di kamar" kata bunda memperingatkan
" eh iya yah," kata Vivi
" aduh Bunda kan aku jagain Vivi, kalau bukan aku siapa lagi? lagipula ini akan menjadi salah satu bukti bahwa aku sungguh-sungguh menyayangi Vivi" bantah Radit
"Alah modus sana-sana balik ke kantor aja kamu biar bunda yang jagain Vivi" kata Bunda. Radit terlihat berpikir.
" eh..eh..eh kalau Bunda jagain Vivi siapa yang jagain Ayah?, hayoloh?" tanya Radit
" Eh iya juga Bund" kata Vivi
" Ayah baik-baik saja" Radit, Bunda, dan Vivi kaget
" eh ayah" kata Radit
" Ayah baik-baik saja tak perlu dijaga, sana balik ke kantor"pinta Ayah
" eh iya yah" jawab Radit.
"Aku akan kembali ke kantor baik-baik yah" kata Radit Sambil mengelus perut Vivi yang masih rata.
" iya" kata Vivi. Radit pun berlalu keluar dari mansion ketika hendak naik ke mobil ia mendapatkan panggilan dari anak buahnya.
"Halo" kata Orang diseberang sana
"iya" jawab Radit
"Tuan dia sudah mau berbicara"
" Baiklah siapkan alat kejujuran , aku akan kesana" kata Radit dan bergegas menuju tempat yang dituju..
*Perusahaan Baek*
Terlihat Baek sedang sibuk dengan dokumen-dokumen nya yang menumpuk di atas meja.
" Tuan apakah anda tak ingin beristirahat dulu?" tanya Sekertaris Young
" aku tak lelah" jawab terhadap Baek~Aku memerlukan ini untuk memulihkan pikiran ku~ batin Baek
~Apa-apaan dia "aku tak lelah?" kalimat itu sungguh sangat berkebalikan dengan kondisinya saat ini~ Batin sekertaris Young.
" Bos apakah kau mau makan sesuatu?" tanya sekertaris Young lagi
" Tidak" jawab Baek
" Bos Apakah aku minum?" tanya sekertaris Young lagi
Baek diam tak menjawab
"Boss ap..."
"Hei! berhentilah bertanya terus aku tak memerlukan apapun! keluar!" pinta Baek
" iya bos" jawab sekertaris Young dan langsung meninggalkan ruangan CEO.
Baek menghela nafas.
" kenapa aku bisa seperti ini?"
"Kenapa dia menghindari ku?
" apa kekurangan ku?"
" apa aku kurang tampan?"
" apa aku terlalu miskin?"
__ADS_1
" apa aku tak pantas untuk nya?"
" kenapa hatinya keras seperti batu?"
" Dia bahkan tak pernah Melihat segala perjuanganku"
" Apa aku harus melupakannya?"
" Ah....bikin pusing saja,aku tidak bisa tidur karena memikirkan nya ah! bisa-bisanya wanita itu menghiraukan ku" kata Baek memegang keningnya.
"Yah aku akan melupakan nya, ini yang terbaik"
" Tidak apa-apa setelah beberapa waktu berlalu pasti rasa ini akan hilang" kata Baek pada diri sendiri dan iapun lanjut bergelud dengan dokumen-dokumen kerja nya.
*Mansion Keluarga Vernando*
Vivi sedang berbaring di kasur sambil bermain ponsel.
" ah bosan sekali" katanya sambil mengotak Atik Instagram nya, tiba-tiba dia melihat iklan film Korea terbaru yang berjudul squid game.
" astaga nih film pasti seru"
"nonton ah eh! aku belum langganan anjir" katanya pada diri sendiri. iapun bergegas melakukan registrasi di Netflix untuk berlangganan supaya bisa menonton film yang ia inginkan.
" selesai,mari kita nonton" katanya . tiba-tiba bunda sela masuk.
" Vivi? ngapain?" tanya Bunda sela
" ini Bund lagi nonton drakor" jawab Vivi
" oh iya, ini buah sayang Ama susu" kata bunda
" eh Bund ngapain bawa sendiri knp nggak suruh pelayan aja, lagipula vivikan nggak minta Kalau Vivi mau tinggal minta ke pelayan" kata Vivi
" Bunda mau sekalian nengok kamu" kata bunda
" iya deh lain kali nggak usah Bund yah" kata Vivi
" iya"
" eh Bund mau nonton film ini nggak?" tanya Vivi.
"Boleh yuk nonton berdua"ajak Bunda. merekapun menonton film bersama.
"eh Bund kenal nggak aktor yang megang kertas warna biru Ama merah nih?" tanya Vivi.
" Gong apa sih? Gong Yo?"
" Bunda kok tau " Vivi heran
" Wah Bunda Itu idolaku wkw" kata Vivi
" Iya? wah pkonya yang ost itu terkeren" kata Bunda memuji
" Bunda kok bisa ingat yah ? aku aja yang udh lama jadi K-popers Ama K-drama lupa-lupa ingat" kata Vivi
" Bunda kan sering liat jadi hafal, Walaupun bunda dah tua nggak bakal lupa Ama mereka merekakan idola bunda haha" kata bunda
" Kukira cupu ternyata suhu si Bunda" kata Vivi lalu mereka sama-sama tertawa, dan lanjut menonton film.
Film yang mereka tonton sangat seram,sadis, dan ada humornya juga sih tapi lebih banyakkan sadisnya.
" Vivi udah-udah jangan diterusin ini terllau sadis, kamu kan juga lagi hamil takut pamali" kata Bunda
" iya deh Bund aku juga takut" jawab Vivi setuju.
" tapi Bunda aku jadi pengen main Lampu Merah Lampu Hijau"kata Vivi
" Lah? ngidam?" tanya Bunda
" iya hehehe "
" ya udh ayo main sama bunda ama ayah" ajak bunda
" okedeh" jawab Vivi setuju
" Mainnya diruang olahraga aja yah?" ajak bunda
" eh nggak mainnya di ruang tengah dekat pintu.
"iya deh" kata bunda pasrah
semua pelayan mempersiapkan alat dan tempat untuk bermain Lampu Merah Lampu Hijau.
Bunda Sela, Vivi, dan Ayah Vernando sudah berkumpul untuk membahas cara bermain dan aturannya.
" jadi gini ayah, Vivi mau main Lampu Merah Lampu Hijau ayah pasti Taukan?, kalian harus diam kaalu lagunya dah berhenti kalau gerak nanti ketembak tujuan kita adalah berlari dari ruang tengah menuju ke pintu utama" jelas Vivi
" oke deh kita ngerti" kata bunda dan ayah bersamaan
" Kita pake sound aja yah"
" kalian semua dah siap Ama senapannya?" tanya Vivi yah Vivi sudah mengatur semua pelayan untuk berdiri berjejer memegang senapan jika ada yang bergerak maka ia akan tertembak.
" siap nona" jawab semua pelayan.
"Pelayan sound nya !" pinta Vivi
__ADS_1
" pelayan itupun segera menghidupkan sound Lampu Merah Lampu Hijau
"🎶Mugunghwa Kkoci pieot seumnida🎶"
Vivi,Bunda Sela, dan ayah segera berlari menuju pintu utama dan soundnyapun berhenti, semua diam tak ada yang bergerak.
" okey awal yang bagus" gumam Vivi pelan
musiknya mulai lagi
"🎶Mugunghwa Kkoci pieot seumnida🎶"
Mereka pun lanjut berlari,tapi tiba-tiba bunda tersandung dan terjatuh soundnya berhenti dan pergerakan Bunda terdeteksi Dor! suara tembakan terdengar sampai diluar pos satpam pas itu bertepatan dengan kepulangan Radit.
" astaga apa yang terjadi didalam, aku mendengar suara tembakan?" tanya Radit kepada satpam yang berjaga,
"Entahlah Tuan aku juga baru mendengar nya" kata satpam. Radit mengeluarkan pistol dari saku jasnya .
"Ayo!" ajak Radit pada satpam . Raditpun segera berlari menuju kedalam mansion ia cemas takut jika Vivi kenapa-kenapa ditambah ia mendengar suara tembakan dari dalam
~Vivi, ayah, dan bunda nggak boleh kenapa-kenapa~ batinnya.
Sebelum membuka pintu, Radit menguping dibalik pintu dan terdengar suara "🎶Mugunghwa Kkoci pieot seumnida🎶" "kok ada musik?aneh" gumamnya pelan dan tiba-tiba terdengar suara tembakan lagi iapun bergegas membuka pintu Ketika Radit membuka pintu ia melihat cairan berwarna merah mengalir dilantai.Tangan dan kaki Radit gemetar ia takut apakah benar-benar terjadi penembakan disini? ia bingung ia ia menatap intens cairan berwarna merah itu dan mencari sumber nya ternyata sumber dari cairan berwarna merah itu adalah Bunda Sela. Radit kaget ia segera menyembunyikan Pistol ke jasnya.
" Bunda?"tanya Radit
" Radit?" tanya bunda
" Bang Radit dah pulang?" tanya Vivi
" Bunda kenapa?siapa yang melakukan ini kepada Bunda" tanya Radit dengan wajah yang memerah menahan amarahnya.
"Bunda nggak apa-apa" kata Bunda
"apa? trus cairan berwarna merah ini apa?" tanya Radit.
" hah? ini? ini saos" kata Bunda. Radit melongo dia menatap sekelilingnya dia melihat semua pelayan di setiap sudut mansion sedang berdiri sambil memegang pistol berisi saos tomat berwarna merah dan satu pelayan lagi sedang memegang ponsel disamping speaker.
"astaga apa-apaan semua ini!" kata Radit kesal
" kita hanya bermain Lampu Merah Lampu Hijau" jawab Vivi polos.
"hah? lalu kenapa ada bunyi tembakan?" tanya Radit
" Hehe itu sound dari musiknya aku ambil nya di tik tok jadinya ada suara tembakan nya juga hehehe.." kata Vivi cengengiran.
" siapa yang memiliki ide bermain permainan gila seperti ini" kata Radit kesal.
" Itu semua kemauan Vivi, vivikan lagi ngidam jadi harus dituruti kemauannya" kata Bunda.
"Ayah juga?" tanya Radit heran
" heheh" ayah hanya bisa cengengiran.
" astaga bisa gila aku" kata Radit mengacak-acak rambutnya.
"Permainan selesai bubar, kalian semua bersih kekacauan ini" pinta Radit kepada pelayan.
"Bunda bisa tolong antarkan Vivi ke kamar?" kata Radit
" iya ayo Vivi sayang kita ke kamar" ajak bunda
"oke" jawab Vivi patuh.
"Ayah aku ingin bicara" Kata Radit.
"Ayo keruangan pribadi" ajak Radit. Radit dan Ayah Vernando pun berbicara empat mata di ruang pribadi Radit.
"Apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Ayah
" Aku ingin bertanya dulu, kenapa ayah ikut-ikutan bermain permainan konyol itu dengan Bunda dan Vivi?"
"Karena Vivi menginginkannya jadi ayah harus menuruti nya dan juga itu kemauannya cucu ayah atau bisa dibilang keinginan anakmu lagipula itu menyenangkan jadi flashback ke masa lalu "jawab ayah Vernando yah ayah Vernando masa kecilnya ia lalui di Korea ia tinggal dan setelah besar d
ia kembali ke Indonesia kampung halaman nenek dari ibunya.
"oh seperti itu, Ayah tau? aku benar-benar takut aku baru mengetahui bahwa orang itu telah kembali ditambah Vivi skrg sedang hamil, aku benar-benar bingung harus bagaimana" kata Radit.
"orang itu?apakah?" tanya Ayah curiga Radit mengangguk.
"Ayah sebaiknya pernikahanku dan Vivi di tunda beberapa Minggu lagi" kata Radit menunduk
" kenapa?" tanya Ayah
" Aku takut org itu akan bertindak dan melukai Vivi" kata Radit
"Tenanglah Jernihkanlah pikiranmu terlebih dahulu" Ayah kaget
" Aku mengetahui informasi ini dari anak buahnya yang kukurung dia mengatakan bahwa bosnya akan datang dan menghancurkan keluarga kita, aku tau itu hanya ancaman dan aku takut ia akan mengusik barang berharga ku walaupun itu akan terjadi aku akan berusaha untuk mencegah hal itu terjadi"kata Radit
"Kau berkata seperti seorang pria sejati" kata ayah
"Aku memang pria sejati" kata Radit bangga
"In your dream" Kata Ayah Vernando
" Baiklah kita susun rencana" ajak Radit ayah Vernando mengangguk.
__ADS_1