Kecelakaan Cinta

Kecelakaan Cinta
21. happiness


__ADS_3

Rossa dan Sonhee langsung saling pandang mereka terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Radit.


"Vivi benaran hamil?" tanya Bunda


" Iya Bund" jawab Radit dengan wajah yang berseri-seri


"Oh astaga aku akan menjadi seorang Grandma alias nenek, kok bisa hamil sih? kamu pas itu nggak pkae pengaman yah?" tanya Bunda


" nggak sempat Bund nanggung" bisik Radit ditelinga Bunda.


" dasar tengik" kata bunda sambil menjewer pelan telinga Radit.


"Trus kenapa Vivi bisa sakit perut jangan-jangan kamu mesumin dia yah di ruang SPA?" tanya bunda curiga.


" astaga Bunda kenapa curigaan sih,nggaklah kan ada petugas SPA disana masa gituan depan mereka" kata Radit.


"Trus kenapa dia bisa sakit gitu?" tanya Bunda


" dia sakit gara-gara efek SPA, kata Rahmat orang yang hamil masih baru gitu nggak boleh SPA apalagi Yoga, untung aja Vivi nggak keguguran tadi karena Radit buru-buru bawa ke sini" jelas Radit.


" astaga ide gila itu hampir saja mencelakai calon cucuku" kata bunda khwatir.


" tenang bunda sekarang Vivi baik-baik aja"


" jadi dia makan banyak karena efek hamil, cepat nangis , mual-mual karena hamil? bunda sebenarnya udah duga tapi ngagk mungkinkan baru ngelakuin itu langsung hamil, gila jago bet kamu" kata bunda memberikan Radit acungan jempol.


" Bunda ngomong apaan sih malu didengar orang" kata Radit mengakui pandangan nya.


" astgaa beneran bang?? Omo!" tanya Rossa


" iya " jawab Radit.


" selamat yah bang,Vivi udh tau?" tanya Sonhee


" Belum, aku nggak berani bilang takutnya dia marah dan nggak Nerima " kata Radit gelisah.


" Ya udah nanti bunda ngomong Ama Vivi biar dia ngerti" kata Bunda


" tenang aja bang pasti Vivi nggak bakal marah nanti kita Ama Bunda bakal ngomong Ama dia" kata Rossa.


" makasih yah" kata Radit tulus


"Baek kemana?" tanya Radit


" ke depan ketmeu Rang katanya harus ada berkas yang dia tanda tangani" kata bunda


" oh gitu" kata Radit


"Jadi gmn pernikahan kita besok?" tanya Radit


" Kita tunda 2 hari Vivi harus istrahat,dan Tempat pernikahan nya Bunda pindahin di Vila kita tunay awalnya udh Bunda kurangin jadi nggak perlu dipikirkan lagi " kata Bunda


" Baiklah Bunda yang penting Vivi akan baik-baik saja" kata Radit setuju dia tak boleh egois karena Vivi Sekarang sedang mengandung buah hati mereka, ~Hanya ditundakan? Bukan dibatalkan~ Batin Radit menghela nafas.


" Iya syukur aja dia nggam kenapa-kenapa Ama calon cucu Bunda"


"iya Bund" kata Rossa dan Sonhee setuju


"Sekarang ayo kita ke ruangan Vivi" ajak Bunda


" ayok" kata Radit ingin mengikuti Bundanya tapi dicegat Bunda.


"ngapain kamu?udah-udah sana pulang kamu ganti baju bau tau nggak" kata Bunda mengusir Radit.


" nggak aku udh suruh Rang bawa baju ke sini,dan bau? aku nggak bau kok aku tuh kan baru selesai SPA pasti wangilah " kata Radit


" oh aja sama2 ngenek bunda liat muka kamu" kata bunda


" Bunda tega bet Ama anak sendiri"


" tau ah bunda mau ke ruangan Vivi sama Rossa dan Sonhee" kata Bunda


" udah sana bye" kata Radit


"Ya udah bye!" kata bunda dan berlalu pergi meninggalkan Radit sendirian. Di perjalanan Sonhee dan Rossa hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu ibu dan anak itu.


"ngakak bet mereka berdua" bisik Rossa


" iya wkwkw, tapi kata Vivi mereka jarang bet gituan kan bang Radit jarang pulang"

__ADS_1


" hahahaha jarang goyang kalik wkwk" kata Rossa terkekeh pelan


"Lo sebleng amat" kata Sonhee menyentil jidat Rossa.


" sakit lo sialan"


Pembicaraan mereka akhirnya selesai ketika mereka sudah sampai di ruangan rawat Vivi.Disana ada dua perawat yang bertugas emnjaga ruangan Vivi.


" selamat datang nyonya besar" sapa perawat


" silahkan masuk" kata pelayang yang satunya sambil membukakan pintu.


"Terima Kasih" kata Bunda Sela


Rossa,Sonhee,Dan Bunda Selapun Memasuki ruangan Vivi, disana sudah ada Vivi ynag sedang duduk sambil memakan buah naga.


" Vivi sayang bagaimana keadaannya?" tanah Bunda


" Aku baik-baik saja tapi kepala ku agak pusing bund" jelas Vivi


" cepat sembuh yah viviku sayang " kata Rossa memeluk Vivi diikuti oleh Sonhee.


" Bunda aku sakit apa? kok aneh yah tadi perut bawahku tiba-tiba sakit bet" kata Vivi.Rossa dan Sonhee saling pandang dan langsung berdehem.


" Begini sayang ini bukan penyakit" jelas Bunda.


"terus apa dong Bund?" tanya Vivi


" Berjanjilah Untuk Tak marah dan kamu harus menerima kenyataan ini" kata Bunda


" aku emangnya kenapa bund?" tanya Vivi cemas matanya mulai berair ia takut ia sakit parah dan waktunya di dunia ini tinggal sebentar. Bunda masih diam.


"Bunda! Bilang ke Vivi!,kalian tau? bilang dong ke gue" kata Vivi sambil menggerakkan tangan rosssa.


Rossa dan Sonhee belum berani bicara diliat dari raut wajah Vivi yang cemas seperti itu membuat mereka takut.


" Janji dulu sama Bunda" kata budna sela.


" janji! sekarang bilang Bunda?!" kata Vivi.


" Vivi,kamu Hamil sayang" kata Bunda menunduk ia tak berani menatap wajah Vivi.


"Vivi Lo nggak apa-apa?"tanya Rossa memberikan tisu ke Vivi.


"Vivi Jan nanges" kata Sonhee


" ehem " Tiba-tiba terdengar suara deheman dari seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Ayah Vernando dan Bang Baek, mereka bertiga kaget, apalagi Bunda dan Vivi mereka takut ayah akan marah mengetahui kalau Vivi sedang Hamil.


"A..ayah" kata Bunda terbata-bata.


"Ayah datang? " tanya Vivi.


"iya " jawab ayah dingin.


"Kalian semua keluar ada yang ingin aku bicarakan dengan Vivi"pinta ayah Vernando.


" Ayah Baek akan menemani Ayah"bujuk Baek dia ingin tau apa yang dibicarakan ayahnya dan Vivi alias kepo.


tiba-tiba ayah menarik telianga Baek.


"Ah! ah ayah lepas" kata baek


" Sialan perintah orang tua jangan dibantah keluar! dasar tukang kepo" kata ayah.semua orang diruangan itu menahan tawa melihat hal yang lucu itu.Baek pun pasrah ia keluar bersama Bunda,Sonhee,dan Rossa.


~Apakah ayah akan memarahi atau bahkan menampar Vivi karena kehamilannya?~ Batin Baek gelisah


"Sialan si Radit pake acara nggak pake pengaman lagi, awas aja Lo gue bakal kasih perhitungan sama Lo" gumam Baek pada diri sendiri sambil tersenyum smirk.


*Didalam Ruangan Rawat Vivi*


"Ayah baik-baik ajakan?" tanya Vivi


" hmm" jawab ayah menandakan iya


"Ayah...maafin Vivi, Vivi udh buat ayah kecewa dan sakit lahir batin" kata Vivi menangis sambil memegang tangan ayahnya.


" Vivi tau Vivi salah maafin Vivi, ayah percaya takdir? inilah takdir Vivi, Vivi akan berusaha merubah takdir yang buruk ini menjadi takdir yang indah" kata Vivi meyakinkan ayahnya, ayahnya masih diam.


" Ayah Tau Vivi hamil? ini adalah kado terindah untuk Vivi setidaknya Tuhan masih menyayangi Vivi dengan menitipkan bayi ini dirahim Vivi" kata Vivi lagi.

__ADS_1


"ayah marah? ayah ingin Vivi menggugurkan janin Vivi ?" tanya Vivi gemetar ia takut, takut jika ayahnya ingin Vivi mengugurkan kandungan nya, karena ia sangat menyayangi bayi didalam rahimnya ia bangga dan senang karena Tuhan telah mempercayakan nya untuk menjadi seorang ibu, ia ingin menjaga anaknya dan memberikan kasih sayang orang tua kepada anaknya agar anaknya tak seperti dia yang kekurangan kasih sayang seorang Ibu makanya tadi ia menangis saat mengetahui dia sedang hamil.


"Ayah tidak marah,kecewa, atupun akan menyuruh mu untuk mengugurkan kandungan mu itu untuk apa ayah marah? ini sudah terjadi nasi sudah menjadi bubur tinggal ditambahkan madu manis kehidupan sedikit pasti akan terasa enak, marah? ayah awalnya marah tapi kalau ayah marah-marah terus itu takkan merubah kenyataan, dan masalah menggugurkan kandungan ayah takkan pernah menyuruhmu melakukan hal gila itu karena ayah bukan orang yang egois dan tak berperasaan yang akan tega melenyapkan nyawa yang bahkan belum hadir didunia ini ditambah dia calon cucu ayah, ayah senang kau hamil" ayah mulia membuka suara


" Ayah hanya merasa gagal menjadi ayah, Vivi sayang kamu sekarang memang bahagia tapi seharusnya bukan dengan jalan yang seperti ini, ayah tau Radit laki-laki yang baik, dan dia kaya juga dermawan hanya saja sikap narsisnya membuat ayah ilfeel padanya ditambah lagi mungkin kamu tak mencintai nya makanya ayah takut hidupmu takkan bahagia tapi mau bagaimana lagi kalau bukan sama Radit sama siapa lagi? ditambah dia ayah biologis dari anak yang kau kandung, setidaknya kehidupan mu tercukupi dan mapan tapi...maafkan ayah ayah gagal menjadi ayah yang baik untukmu" kata ayah menunduk air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Vivi memeluk ayahnya


" Ayah ku sayang jangan bersedih , aku senang karena ayah tak kecewa,marah, ataupun menyuruhku mengugurkan kandungan,aku sekarang mungkin memang belum mencintai bang Radit , tapi dia pria yang baik dan dia sangat menjagaku, aku yakin aku akan jatuh cinta padanya suatu saat ,dia memang narsis ayah itu membuatku menahan diri untuk tak bergantung padanya tapi malah sebaliknya, mungkin karena efek kehamilan. Ayah jangan meminta maaf seperti itu mungkin ini cara Tuhan untuk membuat ku bahagia." kata Vivi sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya .


~Aku tak tahu apakah bang Radit akan senang dengan kabar ini?~ Batin Vivi sedikit gelisah.


"Ayah senang jika kau bahagia " kata ayah sambil mengelus rambut Vivi.


" ayolah ayah sudahi acara menangis hari ini mari kita berbahagia" kata Vivi menghibur ayahnya.


"hahaha anak ayah tersayang"ayah merasa senang Vivi bahagia karena anaknya tidak menikah dengan berandalan melainkan dengan Radit yang baik, pengertian dan kaya raya setidaknya hidup Vivi akan terjamin kan? apapun yang ia inginkan akan ia dapatkan, begitulah yang dipikirkan oleh ayah Vernando.Lalu ia menekan tombol darurat ,susterpun datang.


" maaf tuan besar apa ada yang bisa kami bantu?" tanya suster.


" panggilkan Baek!"pinta Ayah


" baiklah tuan " jawab pelayan itu dan segera pergi memanggil Baek. Baekpun datang.


" ayo antar aku keluar aku ingin pulang aku tak suka dirumah sakit" kata ayah.


~Bukannya tadi mukanya dingin bet kek es batu?" batin Baek.


" bocah! apa yang kau lamunkan aku akan pulang kau akan menjaga Vivi disini" pinta Ayah


" iya ayah aku denger ayo aku antar pulang" kata Baek


"Vivi sayang ayah akan pulang kau cepat sembuh yah sayang" pamit ayah.


" iya ayah jangan banyak pikiran yah" kata Vivi lagi.


" iya " jawab ayah dengan tersenyum. ayah pun pulang diantar bang Baek sampai parkiran.


setelah ayah pulang Bunda, dan kedua teman Vivi masuk lagi.


" Vivi semuanya baik-baik saja kan sayang? Apakah ayah kecewa padamu? tapi dilihat dari raut wajahnya tadi pas keluar dia sangat bahagia" tanya Bunda.


" Ayah tidak kecewa ataupun marah padaku" Vivi tersenyum


" ayah hanya gelisah dia takut aku tak bahagia" kata VII dengan wajah yang berseri-seri.


" oh syukuralh" kata Bunda


" iya Vi syukur bet tadi aku takut bet sama ayah lo" kata Rossa


" Lo ngapain ngomongin ini didepan Istri nya goblok Lo" kata Sonhee menyentil jidat Rossa, Rossa meringis.


"ah sakit woy" kata Rossa


" hahaha santai saja,bunda ngagk marah kok" kata Bunda


" heeh iyabund" kata Rossa


" tapi ada satu pun masalah disini" kata Vivi wajahnya agak sedikit ditekuk.


" apa!" tanya Bunda, Rosssa,dan Sonhee bersamaan.


" Aku takut Bang Radit nggak Nerima aku hamil, aku takut dia marah" kata Vivi.


" hahahaha!" spontan mereka bertiga tertawa menertawakan kebodohan Vivi.


"pikir aja Vi kalau dia nggak mau tuh anak ngapain ccook tanam di rahim Lo " kata Rossa.


"Tapikan itu kecelakaan" kata Vivi pelan.


" astagay Vi! Lo nggak tau betapa khawatir nya dia pas liat keadaan Lo tadi?" tanya Sonhee.


"Dan Vivi tau? betapa bahagianya Radit saat dia tau kamu hamil?" tanya Bunda sambil mengelus rambut Vivi.


" Kalau dia nggak Nerima Lo Ama anak kalian buat dia suruh sekertaris Rang buat kasih bonus ke pegawainya, kasih sumbangan, bagi-bagi rezeki ke setiap panti asuhan?"kata Rossa. Vivi tenganga dia tak percaya jika bang Radit melakukan itu semua air matanya keluar dari sudut matanya ini air mata bahagia! Vivi sangat bersyukur mendapatkan pria seperti Radit, Ayah dan Bunda yang selalu memberikan kasih sayang kepadanya, Bang Baek ynag selaku melindunginya, dan kedua teman-teman nya yang selalu ada untuknya di saat suka maupun duka.


"Loh Vivi kenapa nangis?" tanya Radit yang heran melihat Vivi menangis.


"Bang Radit ngapain masuk!? keluar!" pinta Vivi.


"Deg!"

__ADS_1


~apakah Vivi tak menerima anak itu makanya ia berperilaku seperti itu padaku? apakah dia akan membenciku?~ tanya Radit dalam hatinya


__ADS_2