
Suara berisik motor yang menderu-deru di dekat makam sore ini, membuat Natasha yang sering di panggil Nana itu langsung menuju ke sumber suara. Dia yang sedang mendoakan mendiang orang tuanya sangat terganggu.
Nana berjalan mendekat melewati jalan yang penuh ilalang, ia mengendap-endap seperti mata-mata. Nana kemudian berhenti di pohon besar, ia mengintai situasi sekitar. Ternyata sedang diadakan balap liar di jalan raya dekat makam.
“Balapan kok di deket makam, apa biar dekat sama Yang Maha Kuasa?” cercanya sambil meninggalkan tempat.
Nana segera keluar dari tempat persembunyiannya, ia berpikir kenapa juga harus bersembunyi. Dia tidak kenal, bukan juga musuh dari mereka, harusnya ia bersikap seperti layaknya orang biasanya agar tidak dicurigai dan jadi masalah. Nana mengambil sepedanya yang tidak jauh dari tempat mereka melakukan balapan liar.
Nana menyipitkan matanya untuk membaca tulisan yang tertera di jaket yang di pakai salah satu orang di sana, “Lu-ci-fer,” eja Nana.
Orang yang memakai jeket itu sadar ada yang mengamati dirinya, Nana membuang muka dengan cepat. Ia menarik sepedanya dan segera meninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Ia sempat melihat dari ujung matanya, orang yang menoleh tadi sangat seram. Wajahnya terlihat sangat badas, tatapanya tajam seperti mata elang.
Nana menghentikan kayuhan sepedanya, ia menimbang-nimbang mau lewat jalan mana. Jika ia lewat jalan utama takut tertabrak yang sedang balapan. Kalau lewat jalan setapak membutuhkan waktu hampir dua lipat jalan utama.
“Baiklah, karena jalan setapak ini membuat gue muter. Kalau begitu gue memilih jalan setapak saja,” ucapnya sambil membelokan sepedanya. Ia tidak mau ambil risiko.
Nana mengayuh sepedanya santai, mulutnya bersenandung menikmati udara sore yang sangat sejuk.
Suara decitan terdengar melengking saat Nana menekan rem erat-erat, kedua kakinya dengan cepat mendarat di tanah untuk menambah pengereman. Jantungnya berdebar keras, ia hampir saja ikut dalam kecelakaan motor yang baru saja menyalipnya.
Dua motor yang baru saja menyalipnya terjatuh saling bertabrakan, sepertinya sengaja saling menjatuhkan. Namun mereka justru jatuh bersamaan dan terpental ke tanah. Dua orang di hadapan Nana itu bukanya bergegas mengambil motornya tapi malah langsung baku hantam.
“Wah-wah, nggak benar ini. Bisa-bisanya malah kelahi. Harusnya kan ke rumah sakit,” ujar Nana yang masih berada di atas sepeda.
“Woi berhenti!” teriaknya tanpa pikir panjang apa akibat dari perbuatanya itu.
Kedua orang yang sedang berantem itu berhenti, mereka menatap Nana tajam. Ia telah menggangu perkelahiannya. Nana menelan ludahnya, ia semakin takut. Dua pasang yang tatapanya seperti elang itu menatap bersamaan, serasa ingin melenyapkannya.
“Maaf, tapi motor kalian menggangu jalan gue,” Nana tersenyum, sembari menunjuk doa motor di hadapannya.
Wajah Nana berubah menjadi pucat pasi ketika kedua orang itu tidak bergegas mengangkat motornya malah menatap dirinya semakin lekat.
“Bisa kah kalian angkat motornya, dan silahkan lanjut perkelahian kalian,” meskipun takut namun mulutnya masih saja nyerocos. Ia bukanya buru-buru kabur malah kekeh mau melewati jalan itu.
Nana segera mengayuh sepedanya ketika salah satu motor diangkat. Ia melirik, dengan ujung matanya itu ia bisa membaca bajunya yang bertulisakan Lucifer.
...ΩΩΩ...
Nana menstandarkan sepedanya, ia berlari masuk di kafe milik omnya. Ia meneguk air putih di meja entah itu milik siapa. Ia menjatuhkan pantanya di kursi. Kakinya lemas, ia terlalu berani hari ini. Bisa saja ia mati sore ini kalau keberuntungan tidak berpihak padanya.
“Kenapa wajah lo pucat kayak begitu Na?” Zia duduk di depan Nana.
__ADS_1
“Gue baru saja mengganggu orang berkelahi?” ucap Nana dengan napas yang masih tersengal-sengal. Ia mengayuh sepedanya tiga kali lipat dari biasanya.
“Maksud lo, gue nggak ngerti.”
“Tadi kan gue pulang dari makam lihat orang-orang yang balap liar. Eh tiba-tiba ini dua orang naik motor jatuh di depan mata gue. Mereka bukanya segera menyingkarkan motornya. Justru berkelahi.”
“Terus?” Zia antusias mendengar cerita Nana.
“Gue minta angkat itu motor, baru lanjut berkelahinya,” ceritanya semakin antusias.
“Gila lo ya, gimana kalau mereka menyerang lo,” Zia geleng-geleng dengan tingkah sahabatnya. Sahabatnya itu selalu bertingkah sesuka hati tanpa memikir bahaya apa yang akan menimpanya.
“Ada apa kok ribut-ribut?” mendengar keributan Ozi yang berada di belakang langsung nyamperin Nana dan Zia.
“Om, masa Nana menghentikan orang berantem,” adu Zia.
“Nana kamu itu ya, jangan aneh-aneh, bagaimana kalau mereka menyakiti kamu,” Ozi cemas kalau keponakannya itu sampai kenapa-kenapa.
“Santai Om, toh sekarang Nana sudah ada disini.”
“Dasar gesrek lo, kan bisa putar haluan nggak perlu menggangu orang berrantem.”
“Gue sudah dapat setengah jalan setapak, kalau gue muter sayang tenaga gue dong. Masa pulang dari makam ke rumah sama kayak jarak ke rumah sampai sekolah,” Ujar Nana.
...ΩΩΩ...
Nana melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas. Lima belas menit lagi bel akan berbunyi namun Nana masih berada di dalam bus yang tak jalan. Ia melihat ke luar jendela, jalanan padat merayap tak seperti biasanya.
“Huh, bakalan telat ini mah,” gerutunya.
“Kalau gue lari, masih bakalan keburu nggak ya?” ucapnya sembari berdiri beranjak dari kursinya.
“Mau kemana Dik?” tanya kernek dari belakang.
“Mau turun Bang, sudah mau telat tapi busnya nggak jalan-jalan,” keluh Nana kepada kernek bus yang sedang mendekatinya.
“Mending telat saja Dik, di depan itu ada tawuran dan sedang di bubarkan polisi. Daripada kamu kenapa-kenapa mending disini saja.”
Nana kembali duduk, ia kembali memangku tasnya. Ia tak mungkin mengambil risiko. Mendadak ia tersenyum karena punya ide, kalau ia telat ada alasan dan sangat logis. Pelajaran pertama bahasa ingris ia tidak menyukainya. Selain gurunya garang ia juga tidak ngerti-ngerti.
Nana mengambil ponsel yang ada di dalam tas, ia melihat chat dari Zia.
__ADS_1
...Zia...
...Dimana?...
...Nana...
...Otw, masih dalam bus...
...Zia...
...Ok, gue tunggu di depan...
...Nana...
...Masuk saja dulu, sepertinya gue bakalan telat...
...Zia...
...Kenapa?...
...Nana...
...Busnya masih belum jalan, katanya ada tawuran...
...Zia...
...Ok, hati-hati lo...
Nana sampai sekolah gerbang sudah di tutup rapat, untung saja ada beberapa orang yang telat bersamanya. Jadi kalau sampai di hukum atau di tanya alasan kenapa terlambat bisa samaan jawabnya.
“Pak, tolong bukain dong,” pinta Nana sama satpam.
“Udah telat mana bisa masuk,” jawab Pak satpam yang duduk di pos.
Nana melihat jam di tangannya,”Baru juga sepuluh menit Pak, ini juga karena ada tawuran tadi di jalan jadi busnya mogok.”
“Benar Pak, kalau nggak percaya tanya sama kernek busnya,” salah satu siswa menyahut. Mencoba membantu Nana ngomong sama satpam.
“Tidak menerima alasan.”
“Ya ampun Pak, beneran kita nggak bohong. Coba deh cek berita hari ini kalau nggak percaya?” Kata Nana.
__ADS_1
“Emang sudah masuk berita?” tanya siswa di sebelahnya.
“Gue ngarang saja.” Nana meringis.