Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Agil Cemburu


__ADS_3

Lantunan lagu acustik dari speaker yang menggema ke seluruh ruangan restoran membuat terasa enak. Restoran yang bersih, tempat yang tidak membosankan menambah happy perasaan Agil. Yang pasti bukan semua itu yang membuatnya betah, tapi dengan siapa dia berada. Ya Zola, cewek yang selama ini bisa membuat dia tersenyum. Cewek yang mampu membangun mood Agil.


“Gimana belajar lo?” Zola menaruh gelas pelan.


“Bagus,” jawab Agil  singkat.


“Apa mood lo lagi nggak bagus?” Zola mencoba membaca wajah Agil.


“Tentu saja bagus orang lagi sama lo,” Agil tersenyum manis.


“Nah begini baru adik kecilku,” Zola mengacak-acak rambut Agil, dia senang kalau Agil tersenyum. Namun Agil tak suka jika selalu di panggil adik kecilnya.


Decit pintu dan suara hiasan pintu yang terbuat dari kerang menyita perhatian Agil, ia menoleh dan mengikuti orang yang baru saja masuk sampai ke depan kasir.


“Itu cewek aneh bukan sih?” batin Agil.


“Ada apa Gil?” Zola yang baru saja fakus dengan ponselnya lalu celingukan karena Agil berubah menjadi serius.


“Ah nggak.”


Agil memandangi Nana yang berjalan mendekatinya, ia pikir dirinya bakalan bergabung nyatanya ia duduk di seberang dirinya. Mungkin saja Nana tidak sadar kalau ada Agil.


Nana mengambil sumpit lalu mengaduk mie pedas yang di pesannya, wajahnya sumringah seperti biasanya.


“Nana,” Panggil Zola saat sadar orang yang ada di sampingnya itu Nana.


Nana meletakkan sumpit, mie yang siap mendarat di mulutnya ia batalkan, “Kak Zola, Agil.”


“Dunia kenapa sempit banget sih,” gumam Nana pelan.


“Sama siapa?”  Tanya Zola.


“Sendiri,” Nana tersenyum tipis.


“Kalau begitu gabung saja sini, biar tambah seru. Iya kan Gil?” Zola menatap Agil, namun Agil tidak merespon. Dia itu hanya mau berduaan dengan Zola, tanpa gangguan orang lain.


Melihat espresi itu Nana sudah tahu maksudnya, “Nggak usah kak, Nana disini saja," jawabnya, kalau bisa dia malah mau pindah yang paling jauh.


Zola beranjak dari kursinya, dia membawa piring dan es lemon tea pindah ke mejanya.


“Kak,” panggil Nana pelan, sebenarnya dia takut dengan Agil, pasti dia berpikir kalau dirinya mengganggu kebersamaanya dengan Zola.


“Sudah sini duduk,” Zola menarikan kursi sebelah Agil.

__ADS_1


Dengan ragu Nana duduk, ia melirik mencuri pandang dengan Agil dan ternyata Agil sedang menatapnya dengan seram. Nana langsung kembali melihat mienya. Perutnya yang lapar mendadak kenyang kalau terus di tatap tajam sama Agil.


“Katanya tadi lo digangguin sama Gia?” tanya Zola.


“Nggak kok, cuma kepeleset saja. Oiya mumpung lo disini, gue mau ucapin terima kasih ya. Berapa harga bajunya biar gue ganti," Nana mengambil dompet.


“Nggak perlu,” jawabnya datar.


Nana mendengus, kenapa kalau dengannya itu sengak tapi kalau dengan Zola sangat manis.


“Anggap saja itu hadiah buat lo, Agil jarang lo beliin sesuatu buat orang lain selain orang terdekat," kata Zola. Disaat dua orang ini ingin saling menjauh, tapi Zola justru mau menjodohkan Agil bersama Nana.


“Gue bukan beliin dia, gue-" Agil menghentikan ucapanya saat Zola memegang tangannya.


“Nggak usah malu, aku senang loh kalau lo itu bisa berteman baik selain sama gue, Toro, Gavin dan Hendra,” senyum Zola sangat manis.


Pantesan kalau Agil terpesona mungkin bisa saja tergila-gila, orang di depan Nana itu sangat ramah.


Agil menatap tangan Zola yang terangkat tinggi, ia ikut menatap arah pintu.


“Yogi, disini,” Zola melambaikan tangan.


Agil mendengus, ia melipat kedua tangannya di dada. Dadanya bergemuruh saat cowok yang bernama Yogi itu duduk di samping Zola.


“Kenalin ini pacar gue,” Zola memperkenalkan cowok yang baru datang itu sebagai pacarnya.


“Hai, gue Yogi.”


“Ini Agil, adik kecil gue yang sering aku ceritain sama kamu.”


“Gue bukan adik kecil lo,” ucap Agil sengak.


Nana mengangkat kepalanya mendengar suara keras Agil, ia mengunyak perlahan mie yang ada di mulutnya. Ternyata suasana sangat tegang. Namun Nana tidak mau ikut campur, ia kembali menikmati mienya saja.


“Iya-iya, begitu saja ngambek. Benarkan sayang, kalau dia itu lucu dikit-dikit ngambek. Tapi wajahnya gemesin,”


Nana menepuk dadanya, ia batuk-batuk tersedak mie pedasnya. Pujian yang di berikan untuk Agil membuanya kaget, sampai tersedak. Menurutnya pujian Zola tidak pas.


“Minum dulu,” Zola memberikan minum untuk Nana.


“Makasih Kak,"


"Pelan-pelan kalau makan."

__ADS_1


“Sayang, ini siapa?” Tanya Yogi.


“Ini teman dekat Agil."


“Dia bukan teman dekat gue, teman dekat gue cuma lo,” Agil menolak semua ucapan Zola kali ini. Dia itu hanya mau dianggap anak dewasa yang menyukai dirinya bukan malah di perkenalkan sebagai adik kecil.


“Siapa juga yang mau jadi teman dekatnya,” ucapnya pelan, Agil menoleh karena mendengarnya.


“Sayang, kita nonton yuk habis makan,” Ajak Yogi.


“Boleh, Nana bagaimana kalau habis ini nonton?” ajak Zola.


“Sorry Kak, Nana habis ini masih ada acara,” Nana ingin melepaskan diri dari situasi yang tidak diinginkan ini.


“Yah, kan kita nggak jadi kelihatan doubel date,” Zola kecewa.


“Mungkin lain kali sayang, mereka membiarkan kita untuk berduaan dulu,” Ucap Yogi sambil mengelus lembut rambut Zola.


Emosi Agil sudah sampai ke ubun-ubun, pangilan sayang Yogi buat Zola membuatnya risih. Agil tak sengaja memegang tangan kiri Nana lalu meremasnya kuat-kuat.


“Aa!” Nana mengibas-ibaskan tangannya ketika Agil sudah melepaskan tangannya.


“Lo gila ya, kalau cemburu bilang bukan malah melampiaskan sama gue,” cerocos Nana.


“Ngomong apaan sih lo, nggak jelas,” Agil gelagapan, ia takut Zola tahu dan menjauhi dirinya.


“Agil, lo jangan galak-galak kenapa sama Nana."


“Dengerin itu,” Nana kesal, ia kembali menyantap mienya yang tinggal satu suap.


Nana mengelap area bibir yang gelepotan dengan tisu, ia menaruh tisu di piring lalu beranjak.


“Kak Zola, Kak Yogi, Nana pamit dulu ya,” sebelum ada jawaban Nana langsung kabur. Daripada dia di tahan, dan disitu menyaksikan kisah yang sangat rumit membuat dia jadi salah tingkah sendiri.


“Gil, kenapa diam saja. Sana anterin Nana," suruh Zola.


“Dia kan datang sendiri, kenapa harus gue yang anterin. Gue anterin lo balik saja, kan gue yang ajak lo kesini,” Agil tak akan melepaskan Zola dengan cowok lain. Ia akan ikut kemana saja mereka pergi, ia akan membuat kekacauan. Samapi Zola dan Yogi nggak bisa berduaan.


“Gue kan ada Yogi, sudah sana buruan kasian kan cewek pulang sendiri," paksa Zola.


“Benar, dia imut loh takutnya banyak yang godain,” Yogi ikut membujuk Agil.


“Dengarin Yogi ngomong, kalian juga serasi lo. Lucu imut sama ganteng gemes. Ya nggak sayang," Zola memandang Yogi.

__ADS_1


“Benar, buruan keburu jauh.”


Telinga Agil panas, kenapa malah Zola semangat banget jomblangin dia dengan Nana. Kenapa cewek yang di sukainya itu tidak peka. Agil mengambil jaketnya lalu pergi tanpa pamit.


__ADS_2