
Nana mengikuti saran Agil semalam menjadi orang yang tak saling kenal. Nana berjalan mendahului Agil, Toro, Gavin dan Hendra tanpa permisi.
“Eh, main nyelonong saja itu bocah,” Toro menunjuk Nana yang sudah di depannya.
Agil menatap Nana dengan senyuman tipis, ia senang karena Nana bukan cewek bebal yang disuruh menghindar malah semakin dekat.
“Gil, kenapa ya dia?” Toro menatap Agil.
“Mana gue tahu, gue bukan emaknya. Lo kepo banget sih, pindah kelas sana tanyain sendiri,” ujar Agil.
“Benar juga, kalau boleh gue mau pindah kelas ah, Nana tunggu,” panggil Toro.
Agil mendelik ketika ucapanya di tanggapin dengan serius padahal dia hanya bercanda.
Toro menarik tas Nana karena ia tak mendengar panggilannya, “Lo kenapa?”
“Ha?” Nana melongo.
Toro menghela napas pendek, “Lo kenapa nggak menyapa, dan gue panggil juga nggak dengar?”
“Nggak lihat,” jawab Nana enteng.
Toro berdiri di depan Nana sehingga ia menghentikan langkahnya mendadak, begitu pula dengan Agil, Gavin dan juga Hendra.
“Apa?” nada Nana sedikit meninggi karena kaget.
“Orang sebesar ini lo nggak lihat, mata lo nggak sedang buta mendadak kan?” Toro mengecek kedua mata. Tubuhnya sangat mendekat sehingga ia memundurkan tubuhnya.
“Mundur atau gue tonjok,” ancam Nana.
“Berarti lo nggak buta, Nana gue mau pindah ke kelas lo anterin gue ke Miss Nana yuk,” Toro menggandeng tangan Nana.
“Gil, otak anak itu sudah hilang kah?” Hendra melongo.
“Nggak tahu,” Agil meneruskan jalannya yang tertunda.
Toro membawa Nana dengan sedikit berlari untuk ke ruangan guru menemui miss Ana. Enteh apa yang di pikirnya bisa dengan santai menggandeng Nana tanpa takut gosip yang beredar.
“Toro, lepasin gue,” rengek Nana.
Toro tidak peduli dengan rengekan Nana, ia tetap menggandeng Nana melewati lobi untuk ke ruang guru. Mereka berdua menjadi tontonan murid-murid dan Toro tidak peduli. Nana berjalan menunduk malu, pasti setelah ini akan menjadi gosip besar di sekolahnya.
“Eh, kalian kenaa gandengan tangan ke sini?” Miss Ana mendelik saat Nana dan Toro berdiri di samping mejanya.
__ADS_1
“Ini Miss, Toro yang menyeret saya ke sini,” adu Nana.
“Toro, lepaskan Nana. Kamu kenapa bawa dia kesini?”
Toro melepaskan gandengan tangannya, “Selamat pagi miss Ana yang cantik, saya ke sini mau pindah ke kelas miss. Boleh ya miss,” Toro memohong.
Nana melongo, ia di tarik dari gerabang ke ruang guru hanya meminta di temani untuk pindah kelas saja. Memang selalu di luar BMKG anggota Lucifer.
“Toro, atas dasar apa kamu mau pindah kelas?” Miss Ana geleng kepala, pusing menghadapi Toro.
“Miss, boleh ya. Saya mau pindah ke kelas Nana.”
“Kamu tunggu sebentar di sana, miss bicara dulu sama wali kelas kamu. Ada-ada saja kamu ini,” Miss Ana akan diskusi dulu dengan wali kelas Toro.
Toro kembali menarik tangan Nana, ia meminta menemani duduk di sampingnya.
“Toro, bisa nggak lo sekali saja nggak membuat masalah?” Nana menggelengkan kepala. Ia berharap Toro tidak pindah ke kelasnya yang damai itu.
Pastinya dengan kepindahan Toro akan membuat Geng Lucifer berada di kelasnya. Ia sedang berusaha menghindari Agil, tapi seakan semesta tidak mengijinkan karena perintilannya justru mau masuk ke kelasnya.
“Masalah apa coba, gue kan cuma mau dekat dengan lo,” Toro merenges.
“Jangan bilang lo suka sama gue?” Nana mengangkat kepalan tangan kanannya siap meninju Toro kalau sampai dia mengatakan menyukainya.
Nana menggelengkan kepala, ia meninggalkan Toro dan langsung pergi ke kalasnya sebelum bel berbunyi.
“Zia,” teriak Nana sambil berlari mendekati Zia yang sedang sibuk menyalin tugas milik Sena.
“Apa?” tanyanya dengan mata yang masih memandangi tulisan di buku depannya.
“Masa Toro mau pindah ke kelas kita,” kata Nana heboh.
“Hey, dalam rangka apa?” Zia mengangkat bolpennya dan memiringkan tubhnya sehingga menghadap ke Nana.
“Gue juga nggak tahu,” Nana menyenderkan tubuhnya. “Gimana mau jauh dari Agil kalau Toro saja di sini.”
“Menjauh?”
“Iya, semalem gue telepon dia mau berterima kasih, malah di maki. Katanya kalau gue nggak perlu mengganti helmnya. Dengan syarat kalau gue harus menjauhi Agil,” Nana memanyunkan bibirnya.
“Lo kelihatanya kok nggak senang sih, lo sedih ya kalau menjauhi dia,” Zia tersenyum sembari menyenggol-nyenggol tangan Nana.
“Apa sih, gue bukannya sedih karena itu, tapi gue kepikiran sama Kak Zola.”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Kurang tahu, tapi gue pikir mereka berantem soalnya Agil jadi marah sama gue. Atau jangan-jangan gara-gara hp ini?” Nana menaruh hp di atas meja.
“Bisa juga,”
“Medingan lo kembaliin saja hpnya, daripada jadi masalah,” sahut Bagas yang baru saja sampai di kelas.
“Nggak bisa begitu juga, ini kan sudah di kasih sama Nana. Lagian ini bentuk tanggung jawab,” celoteh Zia tidak setuju kalau Nana mengembalikan ponselnya.
“Kembalikan saja, nanti gue ganti yang baru,” pinta Bagas.
Nana mengerutkan keningnya, ia menatap Bagas heran kenapa ngebet banget pingin Nana mengembalikan dan menggantinya yang baru.
“Nggak lah, kenapa jadi lo yang mau ganti,” Nana mengambil ponselnya dan memasukan kekantong.
“Nana, nanti lo bakalan dapat masalah kalau lo nggak mengembalikan itu,” jelas Bagas.
“Masalah apa yang bakalan Nana dapatkan?” sahut Toro. Ia berjalan dengan santai menuju tempat duduk Nana.
“Boleh nggak gue duduk sini?” tanya Toro dengan Rizal yang duduk di belakang Nana.
“Lo ngapain duduk sini, kelas kita beda,” sewot Bagas.
“Kata siapa, gue sudah resmi pindah ke kelas ini.”
“Beneran?” Zia menoleh ke belakang.
Toro nggak main-main pindah ke kelas Nana, satu beban masuk ke kelas yang adem ayaem ini.
“Iya dong, Na, Zia nanti habis sekolah kita main timezone yuk,” Toro ketagihan main bareng Zia dan Nana.
“Jadi tujuan lo ke kelas ini cuma mau ngajak main mereka berdua, mending lo jauh-jauh jangan gangguin mereka. Bawa sekalian itu hp milik Nana,” kata Bagas.
“Memang lo siapa ngatur gue,” Toro melipat kedua tangannya, tatapannya tajam ke arah Bagas. Ia tidak suka dengan cowok di depan Zia itu.
“Kalian berdua kenapa malah berantem sih, Toro lo pasti ada maksud lain kan pindah kesini?” Nana menunjuk wajah Toro dengan jari telunjuknya.
“Tidak,” Toro mengangkat kedua tangannya.
Zia menatap Toro lekat, “Jangan-jangan lo di suruh Agil ya?”
“Iya.”
__ADS_1
Nana dan Zia saling berpandangan, jawaban yang terlalu singkat dari Toro menimblkan kesalah pahaman bagi Nana. Dia yang meminta Nana menjauh tapi kenapa dia menyuruh Toro menjadi mata-matanya.