Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Mari Minum


__ADS_3

Agil mengantar Nana pulang terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah Zola. Padahal dia melewatinya.


"Makasih," kata Nana.


"Ya."


"Gil, lihat kedua tangan lo," pinta Nana.


"Kenapa?' Agil masih tak mau memberilan kepada Nana.


"Buruan gue lihat," Nana menarik tamgan Agil.


Nana memeberika permen lolipop rasa susu ke tangan Agil.


"Kalau lo mau merokok tahan, makan ini saja," tutur Nana.


Agil menatap Nana, meskipun ia sering bersama tak sekalipun Zola memeperingatkan atau melarang agar dirinya tidak merokok.


Agil menaruh di dasbor, ia kemudian naik ke motornya.


"Buruan masuk," suruh Agil.


"Ya, lo nggak-," Nana mengatupkan mulutnya lagi saat hendak menawari Agil mampir karena dia langsung menjalankan motornya.


"Dasar orang aneh," katanya sembari geleng kepala, Nana belum selesai bicara sudah pergi saja.


Nana masuk ke rumah sudah di tunggu sama Ozi, "Sayang, kamu baik-baik saja?" Ozi memeluk Nana.


"Nana, baik-baik saja Om."


"Kamu kenapa main pergi saja, Om kan cemas. Kamu jangan dengarkan nenek ataupun yang lain."


"Tapi Om, nenek benar. Om harus mengurusi diri sendiri. Sudah saatnya Om menikah dan membuat keluarg Om sendiri. Nana bisa kok hidup sendiri," Nana mulai meneteskan air mata.


Ucapan neneknya terus mengiang di telinganya, dengan berat hati ia akan menjalani hidupnya sendiri demi Omnya.


"Kamu ngomong apa, kamu kelurga Om satu-satunya."


"Tapi Om, kalau Om terus bersama Nana. Kapan Om mau menikah?"


"Menikah masalah mudah, kamu jangan khawatir," Ozi mengusap air mata Nana.


"Om, Nana bisa kok hidup sendiri. Nana sudah besar. Om bisa kok tinggalin Nana sekarang," dalam benak Nana, ia harus segera mencari pekerjaan paruh waktu agar bisa membiayai hidupnya agar tidak bergantung sama Ozi terus.


Ozi mengeratkan pelukannya, "Kita tidak akan pernah datang lagi kesana. Kita cukup hidup berdua," kata Ozi.


"Apa Om tidak akan menyesal?"


"Apa yang Om sesalkan."


...ΩΩ...


Agil menaruh premen di atas meja berjumlah sepuluh biji, ia menatap lekat-lekat pemberian Nana.


Si bocah bebal ini kenapa peduli sama gue, batin Agil


"Lo belanaja jauh-jauh cuma dapat permen?" Toro mengambil satu permen berwarna pink.


"Taruh," seru Agil.

__ADS_1


Toro menaruh lagi permen yang sudah terbuka sedikit.


"Pelit amat sih lo," omel Toro dengan mulut manyun.


"Lagian itu kan dari pusat, kenapa lo main ambil," ujar Hendra.


Agil membuka permen yang tadi di ambil Toro, dan lalu melahapnya. Ia sama sekali tidak kasihan sama Toro yang udah mupeng. Agil mengambil semua permen dan memasukan ke dalam tasnya.


"Gil, sejak kapan lo suka sama permen?" tanya Hendra. Dia jarang sekali melihat Agil memakan permen.


"Nggak tahu."


Agil menyenderkan tubuhnya, ia menutup matanya menikmati permen pemberian Nana. Wajah Nana tiba-tiba terbayang, senyum dan ketakutanya tercipta jelas di bayangannya.


Agil membuka mata dengan cepat, ia melepas permen dari mulutnya.


"Lo mau?" tanya Agil kepada Toro.


"Mana?" Toro menadahkan tangannya wajahnya berbinar.


Agil melepar satu permen, Hendra dan Gavin ikut menadahkan menginginkan bagian permen juga.


"Rasanya apa?" tanya Agil.


"Manis, apa lagi?" kata Toro.


"Yang lainnya?" ujar Agil.


Mereka bertiga saling berpandangan, dan menarik permen dari mulutnya.


"Gil, ini bukan permen narkoba kan?" Hendra was-was.


"Benar, lo nggak menjerumuskan kita kan?" sahut Gavin.


"Ya lo aneh, kalau permen itu pasti manis. Tidak ada yang asin," cicit Toro.


Tapi kena setiap Agil merasakan permennya menjadi terbayang Nana.


Apa gue di pelet, batinya.


Ketukan pintu kamar membuat keempat anak yang sedang membahas rasa permen itu terdiam.


"Agil, mama boleh masuk?" ucapnya.


Agil diam, wajahnya berubah suram mendengar ibu tirinya nyamperin dia ke kamar.


Tanpa persetujuan dari Agil, mamanya tetap masuk ke kamar Agil.


"Makan yuk sayang," ajak mama tirinya.


"Sudah kenyang," jawabnya ketus.


"Cabut," Agil mengambil jaket lalu beranjak meninggalkan kamarnya. Ketiga sahabatnya pun mengikuti Agil.


"Permisi tante," ujar mereka bertiga bersamaan.


Meskipun sudah berjalan beberapa tahun pernikahan papanya yang kedua namun tidak membuat dia menerimanya.


"Agil, kamu mau kemana?" tanya Gunawan papanya.

__ADS_1


Agil nyelonong saja tanpa mendengarkan pertanyaam dari papanya.


"Agil, berhenti atau papa akan cabut semua fasilitas yang kamu pakai sekarang," ancam papanya.


"Gil, kita tunggu di luar," bisik Toro, dia mengajak Hendra dan Gavin untuk pergi keluar dulu.


"Pa, jangan seperti ini. Kasian kan Agil. Bagaimana kalau dia kesusahan?"


"Mariska, kamu jangan terlalu memanjakan Agil. Dia saja tidak menghargai kamu. Lihat Agil, mama kamu peduli sama kamu, tapi apa yang kamu lakukan?"


"Mama Agil sudah meninggal, tidak ada yang bisa menggantikannya. Tante, jangan terlalu peduli sama saya. Itu tidak akan pernah mengubah apapun," Tegas Agil. Selamanya ia tidak akan menerima Mariska sebagai mamanya.


"Agil," teriak Gunawan.


Agil mengambil dompetnya, ia meletakkan kartu ATM dan juga kunci motor.


"Kunci mobil ada di kamar, papa bisa ambil," ujarnya sambil pergi.


Mood Agil benar-benar kacau, ia mengambil helm yang ada di atas motornya lalu menumpang milik Toro.


"Jalan," pinta Agil.


Toro menjalankan motornya sesuai dengan perintah Agil.


"Mau kemana?" tanya Hendra ketika motornya sejajar.


"Terserah kalian mau bawa gue kemana, Tor temani gue minum lagi." jawab Agil datar.


"Kita ikut," kata Gavin.


Ia sudah lama mengingikan minum alkohol, Agil selama ini melarangnya. Namun, kali ini dia tidak akan menyia-nyiakan ajakan Agil. Toh dia tidak akan di depak dari geng karena Agil sendiri yang mengajakknya.


"Ok, kalian tunggu di rumah gue," ucap Toro.


...ΩΩΩ...


Agil mengambil satu batang rokok, untuk penawar otaknya yang sedang kalut. Ia menaruh lagi di meja ketika melihat permen di dalam tasnya saat mau mengambip korek.


Permen itu kembali mengingatkan Agil akan nasehat Nana, kalau merekok itu tidak bagus untuk kesehatan.


"Kenapa Gil?" tanya Hendra melihat Agil bengong.


"Nggak apa-apa," katanya sambil membuka premen dan segera melahapnya.


"Ini Toro mana sih lama banget?" ujar Gavin yang tidak sabar.


"Iya gue datang, bawel amat sih," omel Toro.


Gavin menatap botol di ambil dari kantong plastik oleh Toro.


"Tor, mana minumannya?" tanya Gavin.


"Lo nggak salah ambil kan?" tambah Hendra.


"Tidak, ini minuman yang sama persis kayak kemarin gue minum sama Agil," jawab Toro.


"Tapi kan ini teh botol, sprite, cola, larutan, susu kotak. Eh, mana minumanya?" Gavin mengabsen jenis minuman yang di beli Toro.


"Kalian mengharapkan apa?" Agil menyentil kening Hendra dan Gavin bergantian.

__ADS_1


"Maaf anda kena prank," Toro tertawa terbahak-bahak. Mereka akhirnya merasakan apa yang Toro rasakan ketika di ajak minum.


"Sialan," umpat Gavin dan Hendra.


__ADS_2