
Ozi meletakan nampan berisikan gelas kosong ke meja, ia sedikit berlari melihat Nana yang menggigil.
Ozi memandangi langit, “ Yang hujan wilayah mana Na?”
“Wilayah wakanda,” jawabnya asal. Nana nyelonong masuk, ia ingin segera mandi dan ganti baju sehingga tak mau ngobrol lama sama omnya.
“Kamu kenapa?” Ozi menarik tangan Nana. “Apa kamu di bully di sekolah?”
Ozi berubah menjadi cemas, dia selalu was-was kalau sampai keponakannya itu kena bully. Sejak kecil Ozi sudah memasukan Nana ke kelas karate agar ia bisa menjaga diri selagi jauh darinya.
“Bilang Om kalau ada yang bully kamu,” ujar Ozi lagi.
Nana menarik kedua ujung bibirnya, sebisa mungkin ia harus tersenyum jangan sampai ia membuat Omnya itu sedih. Ia sudah cukup merepotkan dari kecil di rawatnya. Ia tak mau menambah bebannya lagi.
“Ini tadi teman Nana ulang tahun, lagian siapa yang berani membully Nana. Nana kan sabuk hitam,” Nana merenges.
“Baiklah, tapi ingat ya kalau ada yang mengganggu kamu. Dan kamu tidak mampu mengatasinya bilang om. Biar om patahkan batang lehernya.”
“Siap Om, Nana ke atas dulu ya,” Nana mencium pipi kanan Ozi.
“Ok, om buatin teh hangat buat kamu.”
Nana segera membersihkan diri, ia berganti baju panjang dan langsung masuk ke dalam selimut. Tubuhnya terasa menggigil.
Nana mulai memejamkan matannya, ia merasa badanya tidak enak dan ingin istirahat lebih cepat. Belum juga masuk ke dunia mimpi sudah terganggu dengan dering dari ponselnya.
Dengan malas tangannya mengambil ponsel di samping dia tidur, Nana memiringkan tubuhnya.
“Halo, ada apa Zia?” Nana menempelkan telepon di telingannya.
“Na lo tadi nggak kenapa-kenapa kan, soalnya gue lihat ada geng lucifer di dekat gerbang.”
“Gue sebel banget tahu,” Nana duduk dan menyenderkan tubuhnya.
“Mereka membuat ulah?”
“Iya, gue kan sudah basah gara-gara cewek gila tadi.”
“Gia namanya,” potong Zia.
“Ya siapalah namanya itu, habis itu gue di bikin jatuh sama Agil sampai semua baju kotor semua. Dan parahnya lagi mereka mengguyur gue pakai air seember di halte.” cerita Nana menggebu-gebu.
“Ya ampum kelewatan banget sih mereka. Lo kan jago berantem kenapa nggak lawan sih?”
“Zia, gue memang bisa berantem. Tapi mereka itu berempat badannya gede-gede. Mereka itu juga bukan orang sembarangan loh.” Nana sangat paham dengan kapasitas dirinya, ia merasa tidak mampu melawan geng lucifer itu.
__ADS_1
“Ya coba dulu,”
“Nggak ah, gue takut malah kalau gue kalah. Terus gue di sentuh-sentu dan, ah tidak-tidak,” Nana menutup dadanya sendiri. Ia sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Ozi membuka pintu kamar Nana, ia tersenyum sembari mendekat ke ranjang Nana.
“Minum dulu gih biar hangat,” Ozi menyodorkan teh hangat dengan gelas tanggung.
“Makasih ya Om,” Nana perlahan meneguk tehnya.
“Kamu beneran nggak apa-apa?”
“Iya Om, Nana baik-baik saja.”
“Tadi om dengar kamu bilang kelahi-kelahi.”
“Oh ini lagi bahas film yag ada berkelahinya, ya nggak Zia.”
“Iya Om.” jawab Zia.
“Ya sudah, jangan telponan saja istirahat dulu.”
“Siap Om.”
Setelah Ozi meninggalkan kamar, Nana kembali menaruh ponsel di telingannya.
“Ok, perlu gue bawain obat ngga?”
“Nggak usah, di rumah ada kok. Gue tidur dulu ya,” pamit Nana sambil mematikan sambungan teleponnya.
*****
Mata Nana sudah tak bisa terbuka, rasanya lengket banget. Sebelum berangkat sekolah ia meminum obat demam. Nana mengangkat tangannya saat Miss Ana sedang memberikan pertanyaan.
“Ya Na, apa jawaban kamu?”
“Miss maaf, Nana bukan mau menjawab pertanyaan Mis. Tapi Nana mau ijin ke UKS. Kepala Nana sakit.”
Melihat Nana sudah pucat Miss Ana pun tidak banyak bertanya, “Baiklah.”
“Biar gue temani,” bisik Zia.
“Nggak usah, lo rangkumin saja materi hari ini buat gue.”
Zia mengangkat tanganya berbetuk ok, “Gue samperin nanti pas istirahat.”
__ADS_1
Mata Nana sudah mulai gelap, sedangkan UKS ada di lantai satu. Ia masih harus menuruni tangga dan jalan sedikit untuk sampai ruangannya. Nana sempoyongan, ia berpegangan dengan anak tangga.
“Nana, ayo kuat. Lo jangan sampai jatuh di sini.” ujarnya.
Nana sekuat tenaga menyeret kakinya, memcoba membuka matanya lebar-lebar meskipun terasa susah. Setelah sampai di UkS Nana mendorong pintu kuat-kuat. Sama-samar ia melihat ada empat orang yang sedang bercanda di UKS. Semua terasa berputar, kakinya semakin lemas tidak kuat menopang badanya. Nana pun akhirnya jatuh di depan pintu UKS.
“Eh, Gil pingsan mendadak dia melihat kita. Memangnya kita hantu apa?” celoteh Toro.
“Dia itu pingsan gara-gara lihat ketampanan gue,” Gavin mulai sok ganteng. Mereka berempat tidak kunjung mengangkat Nana justru masih bercanda.
“Angkat gih,” perintah Agil.
“Pura-pura kali dia, malu gegara kita ada di sini,” ujar Hendra yang langsung negatif tingking.
Agil turun dari kasur, ia berjalan mendekati Nana karena teman-temannya banyak alasan. Agil memegang tangan Nana, lalu keningnya. Ia lalu mengangkat Nana.
“Minggir,” Agil mengusir Toro dan Hendra yang masih rebahan di kasur.
“Ck, menggangu saja,” Hendra kesal.
“Dia demam, lebih butuh,” Kata Agil.
Meskipun dia sangat kejam, namun melihat orang tergeletak tak berdaya, Agil tak bisa mengabaikannya. Mana dia perempuan dan tak ada urusanya sama Dia.
“Natasha Yunita,” baca Toro.
“Bukanya ini cewek yang kita kerjain kemarin?” Gavin mengingat wajah Nana.
Mereka berempat mengelilingi Nana, memandang wajah Nana yang pucat pasi sekarang ini.
“Iya benar gue ingat, jadi namanya itu Natasha Yunita,” Toro mengangguk-anggukkan kepala.
“Harusnya lo nggak perlu menggendongnya, biarkan saja mati disitu,” kata Hendra dengan tak punya hati.
Toro memukul lengan Hendra kuat-kuat, membuat Hendra meringis sakit.
“Lo nggak punya hati ya, dia kan perempuan masa tega,” Toro tidak setuju dengan ucapan Hendra.
“Benar, jangan-jangan dia sakit gara-gara kita kemarin,” Gavin setuju dengan Toro.
Agil merasa juga semua ini karena ulahnya kemarin, “Tor, belikan teh hangat, Gavin lo cari apa saja buat kompres dia. Lo Hen, carikan obat demam,” Agil memberikan tugas masing-masing sama temannya.
“Hah, merepotkan saja,” gerutu Hendra.
“Buruan, lo jangan macam-macam cari obat yang bener, jangan sampai lo bunuh anak orang.” kata Agil.
__ADS_1
“Ya.” jawabnya datar.
Agil menyuruh teman-temannya yang bergerak karena ia sudah mengusir semua anak yang ada di UKS. Jadi mau tak mau dia yang merawat Nana terlebih lagi Zola yang jaga kalau tidak merawatnya pasti dia yang kena marah.