Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Main Bareng


__ADS_3

Zia menarik tangan Nana setelah turun dari angkot setelah hampir empat puluh menit di dalam angkot penuh dengan ketegangan.


“Mereka sebenarnya mau apa sih?” bisik Zia.


“Gue juga nggak tahu, mereka nggak akan menjual kita beneran kan?” Nana masih kepikiran kalau dirinya dan Zia bakalan di jual.


“Gue nggak tahu,tapi soal helm dan Geng Tiger itu apa? Gue sama sekali nggak tahu. Dan ponsel lo kenapa bisa jadi dua?” Zia memberondong pertanyaan.


“Nanti gue bakalan cerita kalau sudah sampai rumah, mending sekarang kita cari cara untuk kabur.”


“Gimana caranya mereka saja di belakang kita kaya bodyguard,” Zia menoleh sedikit melihat keadaan di belakangnya.


“Gimana kalau kita pura-pura ke toilet?” ide Nana.


Agil menarik tangan Nana sehingga terlepas dengan Zia, Zia yang hendak lari pun di tarik sama Hendra.


“Kalian jangan coba-coba mau kabur ya,” Ujar Hendra.


Agil berhenti di lantai tempat jualan segala macam merek hp, Agil tidak tahu hp apa yang Nana mau jadi lebih baik dia mengajaknya langsung membiarkan dia memilih sendiri.


“Pilih yang lo mau,” kata Agil sambil melepaskan pegangan tangannya.


“Buat gue?” tanya Nana.


“Ya.”


“Tapi gue nggak punya uang, lo nggak suruh gue maling kan?” pikiran Nana langsung negatif tingking.


“Agil, lo jangan mentang-mentang berkuasa jangan mmenyuruh kita melakukan kriminal dong,” Zia sudah mulai bersuara. Ketakutanya bersama pentolan penting Geng Lucifer tidak semenakutkan saat mereka belum mengenalnya.


“Pikiran kalian kenapa jahat banget sih, Agil kesini mau beliin hp Nana yang baru. Kemarin kan sudah menjadi dua bagian bukan?” Gavin menjelaskan tujuan mereka ke mall pagi itu.


“Lo nggak usah gantiin, Om gue sudah mau beliin kok. Lagian itu bukan salah lo. Tapi salah mereka, gue kalau ketemu lagi bakalan gue patahin batang lehernya,” ujar Nana sok berani.


“Memangnya lo berani?” tanya Agil sembari menahan tawa.


“Ya enggak, kan ada kalian sekarang,” Jawab Nana dengan entengnya.


“Wah nggak bener ini Gil, kita bakalan dimanfaatin sama dua cewek cupu ini," Toro tidak terima menjadi alat mereka berdua.


“Apa lo bilang Tor?” Zia menepuk lengan Toro sampai menggema di telinga Toro saking kerasnya.


“Sakit kali, ini tangan bukan tempat pelampiasan.” Toro meringis mengusap lengan kanannya yang terasa panas, sekujur lengannya terasa sangat perih.


“Makanya jangan sembarangan, yang cupu itu lo," seru Zia.


“Lah-lah, merepet saja ini bocah, mulutnya nggak bisa diam.”


Agil, Gavin dan Hendra mengehala napas panjang, setelah lama tidak melihat Toro berdebat kini mendapatkan lawan yang imbang.


“Lo kali yang diam, lo itu beraninya cuma sama cewek,” Nana ikut menyerang Toro.

__ADS_1


“Gue?” Toro menunjuk tubuhnya dengan jari telunjuknya.


Nana menarik Agil hingga pindah tempat,  di samping kanannya, Nana berkacak pinggang. Matanya melotot kearah Toro.


“Kalau lo nggak cupu, kemarin nggak bakalan bikin gue telat terus lepas tangan.”


“Cupu itu bukan dilihat dari situ, cupu itu,”


“Lalu dilihat dari apa?” potong Zia.


Agil menggeser Nana, lalu mendorong Nana ke salah satu konter. Kalau dia tidak melerainya maka sampai lebaran kucing juga bakalan nggak kelar.


“Sekarang lo pilih mana saja,” katanya.


“Agil lo nggak usah beliin, beneran gue nggak apa-apa. Lagian bukan salah lo,” Nana kekeh tidak mau menerima pemberian Agil.


“Cepat pilih atau gue bakalan cium lo,” kata Agil tanpa memikirkan efek dari ucapannya.


Nana bergegas mencari ponsel yang dia mau, setengah jam memilih akhirnya Nana sudah mendapatkan ponsel dengan warna biru.


“Sekarang mau kemana?” tanya Gavin.


Agil melihat jam di tangan kirinya, “Kita main saja kalau balik ke sekolah juga bakalan dapat hukuman.


“Setuju ini mah,” jawab Gavin, Toro dan Hendra bersamaan.


Nana dan Zia saling berpandangan, mereka bingung mau ikut membolos atau mau balik ke sekolah. Masih lumayan mendapatkan dua kali mata pelajaran.


“Udah membolos sekali nggak akan menentukan masa depan lo,” Agil menarik tangan Nana agar dia mau ikut membolos dengan mereka.


“Ada apa?” Agil menghentikan langkahnya.


“Kita nggak bisa masih pakai seragam, ini masih jam sekolah kita bisa diusir.”


“Hendra lepas jaket lo kasih dia,” kata Agil sembari melepas jaketnya lalu memakaikan ke tubuh Nana.


Setelah itu mereka kembali meneruskan jalan-jalan, Toro meminta makan di lantai satu.


“Udah lama ya kita nggak makan seperti ini sama cewek, biasanya kita berempat kalau nggak sama anak-anak,” cuit Toro.


“Udah lama atau nggak pernah?” sindir Zia.


“Lo lama-lama kayak mak lampir ya, nyerocos saja,” Toro mau meremas mulut Zia yang tajam.


Agil merogoh kantong bajunya ketika ponselnya berdering, ia melihat sebentar lalu menutup kembali setelah sekilas membaca pesan yang masuk.


“Guys, gue cabut dulu ya ada urusan, Nana gue ambil jaket gue ya,” Agil meminta jaket yang di pinjamkan oleh Nana. Dengan cepat Nana melepas jaket yang di pakainya.


“Lo mau kemana sih Gil, makanan juga belum datang?”


“Kalian makan saja, pakai saja ini kalau kalian masih mau makan atau pergi ke mana,” Agil meninggal kartu ATMnya. Ia memakai jaketnya lalu bergegas pergi.

__ADS_1


Setelah puas main Nana, Zia, Toro, Hendra dan Gavin pulang. Mereka berlima pulang naik angkot ke sekolah untuk mengambil motor mereka. Sedangkan Nana dan Zia langsung pulang ke rumah.


“Sayang banget ya Agil nggak ikut,” ujar Toro.


“Benar pasti dia menyesal sudah melewatkan main bersama kita,” sahut Gavin.


“Mungkin Agil ada urusan yang sangat penting, nanti kita main bareng lagi,” kata Nana.


“Benar, kalian berdua seru banget kalau main. Nana gue bakalan tantang lo main lagi di timezone,” Gavin masih tertantang saat main game dengan Nana. Dia kalah telak membuat dia makin penasaran dengan Nana.


“Siapa takut,” jawab Nana.


“Nanti lo nangis Vin,” kata Zia.


“Wah, berani lo menghina. Kita tanding besok,” Gavin menantang Zia.


“Lo sama Nana saja kalah apa lagi sama gue,” ledek Zia.


Angkot berisikan lima orang namun rame seperti penuh, Hendra beberapa kali menarik napas, ia merasa tidak nyaman jalan sama mereka yang terlalu berisik dan konyol.


“Eh, bukanya itu Agil sama Zola?” tunjuk Gavin saat angkot melewati mobil yang mogok.


“Mana?” Toro membuka jendela angkot lalu melongok. “Iya, itu Agil.”


“Bang, berhenti,” stop Hendra.


Setelah membayar mereka berlima nyamperin Agil yang sedang membenarkan mobil. Nana memperlambat larinya, saat melihat Zola yang sedang mengusap kening Agil.


“Agil, Zola,” panggil Hendra.


Agil menoleh, “Loh kalian kok disini?”


“Panggilan pusat sih, pantesan langsung cabut,” Kata Toro.


Nana tertarik dengan yang di kenangkan Zola, yaitu jaket Agil yang tadi sempat dimintanya saat di pakai. Ternyata Agil memintanya untuk di pakaikan kepada Zola.


Jadi benar mereka pacaran beneran batin Nana.


“Maaf ya jadi menggangu kalian main,” Zola merasa bersalah.


“Nggak kok Kak, kita juga sudah selesai mainnya,” jawab Nana sembari tersenyum.


“Nggak ada yang merasa terganggu, begini baru benar kalau ada apa-apa lo harus hubungi gue,” ucap Agil dengan masih sibuk memperbaiki mobil Zola.


“Kalau begitu kita permisi dulu ya,” Nana pamit duluan.


“Nana tunggu, kita anterin ini sudah mau jadi kan Gil?” tanya Zola.


“Hem,” jawab Agil datar. Rasanya dia tidak mengingikan mengantar Nana dan Zola.


“Nggak usah Kak makasih, kita sudah mau di jemput kok. Iya kan Za?” Nana menyenggol tangan Zia.

__ADS_1


“I-iya Kak. Kita permisi dulu.”


Nana menggandeng tangan Zia, mereka bergegas jalan sebelum mobil selesai di perbaiki dan membuat dirinya terpaksa di antar.


__ADS_2