Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Bingung


__ADS_3

 Nana duduk melipat kedua tangannya, ia memandangi ponselnya yang masih terbungkus rapi. Nana belum berminta membukannya.


“Nana,” sapa Kaka teman Ozi


“Hai Om Kaka, Om Adam” Nana menatap ke arah Kaka sambil tersenyum.


“Lagi apa?”


“Lagi memandangi ponselnya mau di buka atau tidak,” sahut Ozi.


“Kenapa?” Adam menarik kursi lalu duduk di depan Nana.


“Bingung soalnya yang memberi teman sekolahnya,” jawab Ozi.


“Eh, anak kecik ini sudah punya pacar kah?” Kaka ikut duduk bergabung sama Nana dan Adam.


“Bukan pacar, dia juga bukan teman Nana,” Nana melirik tajam ke arah Ozi yang sedang membawa nampan ke arahnya.


“Terus apa kalau bukan teman, orang dia baik beliin kamu hp. Padahal bukan salah dia,” Ozi menaruh empat jus orange di meja.


“Memang hp Nana kenapa?”


“Gini Om, beberpa hari itu Nana di jahatin orang di jalan. Terus hp Nana sama mereka di jatuhin. Kan di tolongin sama teman sekolah Nana, malah dia yang ganti. Padahal Nana sudah menolak,” cerita Nana agar tidak terjadi kesalah pahaman.


“Siapa yang berani jahatin kamu?” Nada suara Adam meninggi, ia tidak terima ada yang menyakiti Nana.


Secara tidak langsung Adam dan Kaka juga ikut berperan membesarkan Nana. Ia juga sudah mengakui kalau Nana itu adalah keponakannya.mereka berdua sangat menyayangi Nana, kalau sampai ada yang menyentuhnya pasti mereka akan langsung melibasnya.


“Katakan Nana, biar Om hajar dia. Atau kalau perlu kita kerahkan,-”


“Kaka,” Ozi memotong ucapan Kaka. Ia menggelengkan kepala agar Kaka tidak melanjutkan ucapannya. Kaka mengerti, ia meredam emosinya yang sudah menggebu.


“Biarkan Nana mandiri, ia juga harus bisa bertahan hidup sendiri agar saat kita jauh bisa menangani semua masalah yang ada,” Kata Ozi.


“Benar sekali,” Adam setuju dengan pemikiran Ozi, karena tak selamanya mereka bertiga bisa di sampingnya dan terus melindunginya.


“Sayangnya dia terlalu penakut, masa beberapa kali ada yang jahatin tidak berani melawan,” Ozi membuka aib keponakannya.


“Ih Om, itu badanya gede-gede kayak Om Kaka sama Om Adam. Mana Nana berani,” Nana membela diri.

__ADS_1


“Hey, kamu kan sudah sabuk hitam. Apa perlu les lagi sama Om Adam?” Adam menawarkan diri untuk melatih Nana kembali.


“Mental dia yang perlu di latih,” kata Ozi.


“Nggak perlu, Nana mau ke kamar dulu saja,” Nana mengambil box ponselnya dan masuk sebelum mendapatkan ceramah dari ketiga om-om yang terus ingin melatihnya.


*****


Nana meletakkan kotak ponselnya di atas kasur lagi, ia bingung mau di kembalikan atau mau di ambil. Sebenarnya dia mau meminta pendapat Ozi namun kedatangan kedua teman Ozi membuat ia mengurungkan niatnya karena sudah di serang ceramah.


“Na, boleh masuh?” terdengar suara Zia meminta ijin masuk ke kamarnya setelah ketukan tiga kali di pintu.


“Ya,” jawab Nana singkat.


“Na, om-om di luar siapa sih? Seumur-umur gue disini nggak pernah lihat. Mana ganteng-ganteng,” cerocos Zia sembari menaruh tasnya di meja belajar.


“Teman Om Ozi,”


“Kenalin gue Na,” ucapnya sambil senyum-senyum tidak jelas.


“Ganjen, Zia hp ini mendingan gue balikin atau nggak?” Nana meminta pendapat Zia.


“Pakai saja lah, kan dia sendiri yang ngasih lo nggak meminta ini.”


“Kenapa?”


“Lo tadi juga lihat kan, jaket yang Agil pakaikan ke gue langsung di minta kembali saat Kak Zola telepon. Dan ternyata di pakaikan sama Kak Zola.”


Zia mengangguk-angguk, tapi tangannya sudah mulai melepas plastik hp. Bahkan tanpa sadar sudah lepas box dan menaruh ponselnya di kasur. Ia kemudian mengecek kelengkapan ponselnya.


“Zia, kok lo sudah buka sih,” Nana mengambil ponselnya.


“Sudah ambil saja, lagian kapan lagi di beliin hp sama ketua Geng Lucifer,” Zia meringis.


Nana menghela napas, kalau dia menerima ponselnya berarti dia juga harus mengganti helm yang sudah baret-baret karena beberapa kali di lemparnya.


“Tahu nggak kalau gue terima ini hp, berarti gue juga harus mengganti helmnya,” rengek Nana.


“Oiya, gue mau tanya masalah helm dan hp lo itu bagaimana?”

__ADS_1


“Jadi malam itu, gue mau balik dan di ganggu orang. Agil datang membatu terus anterin pulang. Eh, di tengah jalan di hadang sama Geng Tiger,” ucap Nana.


“Dengar-degar Geng Tiger itu musuh bebuyutan Geng Lucifer, mereka itu selalu berlomba untuk memenangkan trek liar. Dan kalau nggak salah itu sampai ada yang terbunuh di Geng Tiger sampai mereka menuntut balas,” ujar Zia.


Zia mendapatkan informasi dengan cepat karena anak-anak di sekolahan selalu menggosipkan Geng Lucifer dan Geng Tiger.


“Zia, lo tahu nggak kenapa Agil masuk geng motor. Dan dia juga nggak kena masalah di sekolah?” Nana mulai kepo dengan kehidupan Agil.


“Kalau kata anak-anak sih, karena orang tuanya bercerai terus menikah lagi. Dia nggak terima begitu.”


Nana mengangguk-angguk, sangat di sayangkan kalau Agil memilih jalan itu untuk melampiaskan kekesalannya.


“Katanya lagi, dulu itu sebenarnya dia anak baik lo, sering mendapatkan juara. Entah apa yang terjadi dia memilih gabung menjadi Geng Lucifer. Dan dia pun langsung di angkat menjadi ketua. Karena kemahiran dia dalam berkelahi, memimpin anak buahnya.”


“Lo tahu banyak banget tentang Lucifer?” Nana mengangkat alisnya, bibirnya sedikit terbuka bagian ujung kirinya. Ia heran, Zia bisa mendapatkan informasinya lumayan detai.


“Ya kan gosipnya sudah menyebar seantero sekolahan. Na mending lo sekarang kirim pesan sama Agil.”


“Ngirim apa?”


“Makasuh lah, jangan sampai mereka itu merasa lo tidak tahu diri tidak tahu terima kasih setelah di belikan ini hp,” nasehat Zia.


Nana mulai menjalankan ponselnya, ia kemudian memasukan nomor Agil dari ponsel Zia. Nana sebenarnya sungkan dan takut kalau Agil sedang berada di samping Zola. Takut kalau dia di katakan pengganggu hubungan mereka.


“Kenapa cuma di ketik hapus mulu sih,” protes Zia.


“Zia, kan sekarang Agil sedang sama Kak Zola. Bagaimana kalau nanti malah bikin mereka bertengkar?”


“Nggak, percaya sama gue. Kak Zola kan baik dia pasti nggak berpikiran seperti itu.”


“Kak Zia baik tapi Agil kan nggak,” cicit Nana.


“Nana, setelah jalan sama mereka berempat namun nggak seserem itu deh mereka. Gue rasa baik kok meraka,” Zia memuji Agil, Rendra, Gavin dan juga Toro.


“Siapa yang lo incar di sana?” Nana memandang Zia. Ia tidak mungkin mengatakan itu kalau tidak ada salah satu diantara mereka yang menjadi incarannya.


“Nggak ada, sumpah,” Zia mengangkat jari tengah dan telunjuk ke udara.


“Nggak percaya gue,” Nana tidak bisa di bohongi begitu saja dengan Zia yang sudah di kenalnya lama.

__ADS_1


Zia meringis, “Kalau sekarang belum sih, coba beberapa kali kita main.”


Nana hanya bisa berdesis, ia terus menyuruh hati-hati dengan Agil dan teman-temannya namun kini dia yang berusaha menerobos kandang Lucifer.


__ADS_2