
Nana shock setelah membuat Amru terjerambab di aspal, sedangkan Agil melongo. T eknik tendangan Nana sangat bagus, ia merasa kalau Nana pasti bisa bela diri.
“Bangsat! Cewek sialan!” maki Amru, dia berdiri di bantu temannya.
Tangan kiri Nana memegang erat jaket milik Agil, jantungnya berdegup keras. Tubuhnya gemetar, Agil meraih tangan Nana, mereka sekarang berdiri sejejar dengan Nana.
“Good girl, mereka memang cemen. Bahkan sama cewek pun harus keroyokan. Memang nggak salah lo jadi cewek lucifer,” Agil membanggakan Nana di depan Amru. Yang baru saja mendapatan tendangan Nana sudah terjatuh.
“Bangsat! Bawa cewek itu di depan gue!” perintah Amru.
“Langkahin dulu mayat gue,” Seru Agil.
Baku hantam pun terjadi, serangan dari segala penjuru. Nana mau tak mau harus terjun juga.
“Cewek, mending lo menyerahkan diri baik-baik, biar bos gue tidak terlalu murka,” tawar anak buah Geng Tiger.
“Mending kalian yang pergi, sebelum geng lucifer menghabisi kalian,” Nana membalikan omongannya dengan bangga.
“Dasar perempuan ******!”
Nana memasang sikap kuda-kuda, ia akan mepraktekan latihan bela dirinya selama ini. Biasanya ia gunakan tipis-tipis namun sekarang ia menggunakan dengan seluruh tenaganya.
Telinga Nana berdenging saat ia terjatuh karena pukulan dan tendangan yang Amru lakukan padanya. Samar-samar dia mendengar tawa yang sangat renyah. Nana mencoba membuat dirinya fokus, dan tetap sadar. Ia merangak mundur, untuk menjauhkan dari Tiger.
“Makanya jadi cewek jangan sok jual mahal,” Amru berusaha membuka helm yang di pakai Nana.
Nana menendangkan kakinya hingga Amru terjungkal, Nana berusaha bangkit untuk melarikan diri. Namun ia kembali terjatuh saat ada yang menendangnya. Untung Nana menggunakan helm, kalau tidak pasti wajahnya penuh luka karena berkali-kali mengenai aspal.
Agil memberikan pukulan mematikanya kepada orang yang di depannya, karena menghalangi dirinya untuk menolong Nana.
“Nana, bangun,” Agil panik Nana tidak bergeming.
"Gue baik-baik saja," jawabnya lemah.
“Agil awas,” Katanya sambil mendorong Agil hingga berguling di sampingnya. Nana menendang Amru, bersamaan dengan kayu yang mengenai lengan kanannya.
Nana merintih kesakitan, ia memegangi tangannya yang berlumuran darah. Agil berdiri,ia menarik kerah Amru, kepalan tangan kanannya sangat kuat, ia melakukan pukulan di wajah Amru berkali-kali. Sampai tangan Agil sendiri berdarah saking kerasnya.
Rupanya pesan Nana tersampaikan, geng lucifer akhirnya datang. Mereka menghabisi sisa-sisa orang yang masih menyerang Agil.
Geng tiger pun akhirnya kabur, mereka sudah tak berdaya untuk melawan geng lucifer yang staminanya masih bagus.
Agil mengangkat kepala Nana di pangkuannya, Ia perlahan membuka helm yang di pakai Nana.
“Nana, bangun,” Agil menggoyang-goyangkan tubuh Nana.
__ADS_1
Nana membuka matanya, ia tersenyum lebar, “Apa kita sudah selamat, atau sampai akhirat.”
Nana kembali memejamkan matanya setelah mengatakan itu. Agil mengangkat tubuh Nana.
“Siapa yang bawa mobil!” teriak Agil.
“Gavin,” jawab salah satu anggota.
Agil berlari menuju tempat Gavin memparkirkan mobilnya, “Vin, buraun buka pintu.”
“Ok Gil, itu siapa?" tanya Gavin.
"Buruan jalan, jangan banyak tanya," ucap Agil.
Gavin pun langsung naik ke kursi kemudi setelah membukakan pintu belakang untuk Agil. Toro tidak mau ketinggalan, ia naik di sisi Gavin.
“Kita mau bawa kemana dia Gil?”
“Rumah sakit,” jawab Agil.
Gavin tancap gas, ia mengendarai dengan kecepatan penuh. Ia tidak mau cewek di pangkuan Agil itu tidak terselamatkan.
“Gil, cewek itu siapa?” tanya Toro, ia menoleh ke belakang namun tak bisa melihat wajahnya karena gelap. “Pacar lo?” tanyanya sebelum mendapatkan jawaban pertanyaan awal.
“Nana,” jawab Agil dengan wajah yang masih cemas memandangi Nana.
“Ya,” Agil mengangguk.
“Nana teman sekolah kita?” Toro memastikan.
“Ya, kalian berdua sekarang jangan banyak tanya. Buruan jangan sampai dia kenapa-kenapa,” perintah Agil.
Toro dan Gavin pun langsung bungkam, meskipun penasaran. Kenapa Nana bisa berada di lokasi bersama Agil.
Agil mengusap wajah Nana, untung saja dia nurut untuk tidak membuka helmnya. Pandangan Agil beralih ke tangan kanan Nana, darahnya masih basah.
“Lo pasti kesakitan banget,” gumam Agil.
Ia masih tidak percaya berkelahi berpatner dengan seorang cewek. Agil menjadi penasaran dengan Nana. Cewek aneh itu bisa berubah-ubah, dan ia melihat perubahan itu berkali-kali.
Kadang terlihat seperti cewek lemah, namun bisa juga menjadi cewek yang keren. Tak hanya itu wajahnya bisa sangat imut, namun bisa juga berubah sangat menyebalkan di matanya.
“Gil, bagaimana bisa Nana sama lo?” Gavin masih kepo.
“Kalian pacaran?” Toro menatap wajah Agil dekat, hingga berjarak beberapa senti saja. Agil mendorong dagu Toro.
__ADS_1
“Ngaco, gue nggak sengaja ketemu dia. Pas mau nganterin dia pulang malah ada Geng Tiger," jelas Agil agar teman-temannya tidak salah sangka.
“Berarti ini nomor Nana,” Toro menunjukkan pesan yang sempat di kirim Nana.
“Tadi dia ngirim pesan sama lo?”
“Iya Gil, dia cuma shareloc terus minta tolong, pas telpon gue angkat tiba-tiba mati.”
‘Gil, Nana dalam bahaya pasti, ia akan jadi incaran anak-anak tiger.”
“Sepertinya tidak, Nana tidak membuka helm selama itu. Jadi mereka tidak akan menegnalinya.” Agil merasa tenang anak-anak tiger tidak melihat wajah Nana.
Nana membuka matanya saat mendengar keramaian di sekitarnya, ia seperti dejavu. Beberapa hari lalu waktu pingsan di tungguin Agil cs, sekarang pun terjadi lagi.
“Lo baik-baik saja?” Agil memegang tangan Nana, Nana meringis menahan sakit.
“Gil, santai kenapa. Tangan Nana sakit itu,” Toro menepuk pundak Agil.
“Sorry,” Agil melepaskan tangan Nana.
“Ini jam berapa?” tanya Nana lemah.
“Jam delapan malam,” Jawab Gavin sambil melihat jam di tangannya.
“Mampus gue,” Nana bergegas duduk dan hendak turun dari kasur di tahan sama Agil.
“Lo kenapa? Ada masalah?” tanya Agil.
“Om Ozi pasti cariin gue,”
“Gue anterin pulang,” Agil meminta kunci mobil milik Gavin.
“Kita pulang sama siapa Gil?”
“Minta jemput Hendra atau yang lain kan bisa, nggak usah manja, kayak cewek saja.”
Agil membantu Nana turun dari kasur, ia pun memapah Nana.
“Agil, gue masih bisa jalan sendiri,” Nana malu kalau harus di papah sedangkan dirinya masih kuat jalan sendiri.
Agil bukanya melepaskanya malah menggendong Nana di depan Toro dan Gavin, mereka berdua langsung bersiul.
“Katanya nggak pacaran, kok gendong-gendongan,” celetuk Toro.
“Malu kali, gengsi dia kan selangit.”
__ADS_1
“Benar Vin, ah senangnya hati gue akhirnya Agil punya pacar. Dengan begitu bisa melupakan Zola.”
Toro senang kalau Agil memiliki perasaan sama orang lain, selama ini cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan Zola pun tidak peka kalau Agil menyuaiknya sehingga ia sering tersakiti.