Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Sandwich


__ADS_3

Nana membuka buku matematikanya, ia siap menyalin tugas milik Sena. Hari ini Nana datang lebih pagi karena ada tugas dan harus di kumpulkan pagi ini.


“Lo belum buat Na?” kata Zia sembari menaruh tasnya.


“Belum, memang lo sudah buat?” Nana menatap Zia, dia nyengir lalu mengambil buku di tasnya.


“Belum,” jawabnya sembari terkekeh.


“Dasar, gue kira sudah.” katanya sembari membagi buku milik Sena.


Bagas tersenyum melihat dari pintu Nana yang sedang sibuk, ia melenggangkan kakinya menuju di kursinya.


“Pagi,” sapanya.


“Pagi,” jawab Nana dan Zia tanpa melihat ke arah Bagas, mereka terlalu sibuk karena waktu tinggal lima belas menit lagi menuju pelajaran pertama.


“Pada serius amat sih,” kata Bagas.


“Ya bagaimana nggak serius, orang waktu tinggal sebentar,” sahut Sena sembar menengok ke arah Nana dan Zia.


“Kelar,” Nana menutup bukunya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bagas mengambil kotak bekal ukuran lumayan besar, “Nih buat lo,” kata Bagas.


“Apaan ini,” Nana membuka tutup bekal.


Sandwich berjumlah enam potong tertata rapi di tepat bekal, Toro yang baru saja datang langsung nyelonong mengambil satu.


“Wih, enak ini,” katanya sembari memasukan ke dalam mulutnya.


“Toro, taruh,” seru Bagas.


“Ya elah, sudah nempel di mulut ini, lagian kan itu punya Nana,” ujar Toro mengeluarkan sandwichnya yang belum jadi di gigit.


“Iya memang, tapi itu gue kasih buat dia,” katanya kesal.


“Itu kan masih ada banyak,” cicit Toro dengan menunjuk dagunya ke tempat makan.


“Stop,” Nana berdiri menghentikan perdebatan Toro dan Bagas.


“Tapi Na, dia lancang ambil makanan lo.”


“Bagas, lo ikhlas kan memberi sandwich ini sama gue?” Nana menatap Bagas.


“Ikhlas,” jawabnya cepat.

__ADS_1


“Ok, berati ini sekarang sandwich milik gue. Toro lain kali kalau mau minta sesuatu sama orang biasakan izin.”


“Ya,” jawabnya sembari menggigit sandwich hingga setengah.


“Zia, Sena ayo ambil,” Nana membagikan kepada teman-temannya.


Bagas mendengus, dia tidak senang Nana membagi bekal yang dia siapkan untuknya. Itu makanan khusus yang dia buat penuh cinta, dan hanya Nana seharusnya yang boleh makan.


“Wah, asyik ini kalau tiap agi ada yang bagi-bagi makanan,” kata Agil yang berjalan memasuki kelas Nana bersama Gavin dan Hendra.


“Tentu saja dong, makanya lo pindah kesini,” ujar Toro meminta ketiga sahabatnya pindah ke kelasnya.


“Satu orang saja sudah ngeselin apa lagi tiga,” gumam Bagas.


“Bagi boleh?” tanya Gavin sembari mengambil.


Nana mengangguk, “Ambil saja.”


Nana mendelik saat Gavin mengambil dua potong yang di bagi kepada Hendra, dan disusul Agil sehingga ia tidak kebagihan. Nana menghela napas, ia menaruh kotak bekal.


Agil merasa tidak enak, ia menggigit separuh lalu menyodorkan ke mulut Nana sisa gigitannya. Nana kaget, ia menggelengkan kepala sembari tersenyum untuk menolaknya.


“Makan,” paksa Agil.


“Nggak usah memaksa, lagian siapa yang mau makan bekas lo,” Bagas sudah geregetan. Semua perhatiannya gagal karena ulah Agil dan teman-temannya.


Nana langsung menggigit sedikit sebagai tanda kalau dia tidak menolak suapannya. Agil tersenyum dan kembali menyuapinya.


“Good girl,” ucapnya. Senyuman tipis tercipta dari Agil, yang membuat dada Bagas membara.


Nana dan Agil saling berpandangan, seperti ada percikan api di mata mereka yang sampai menyentuh ke hati. Nana memalingkan wajahnya yang mulai memerah, jantungnya berdegup karena malu dilihati teman-temannya bahkan satu kelas.


Sedangkan Agil merasa senang hatinya, setelah semalaman dia merasa badmood.


"Mendadak musim semi, menjadi warna -warni," kata Gavin sembari senyum-senyum dengan pemandangan indah dari Agil dan Nana.


“Manis sekali pagi ini,” Zia menggoda Nana, Nana menyenggol tangan Zia dengan kedua mata melotot.


“Semanis yang buat sandwich,” sambung Toro yang membuat Bagas bergidik.


“Kalian ada urusan apa kesini, bikin onar saja,” Cetus Bagas.


“Bebas, ini tempat juga bukan milik nenek moyang lo. Kenapa ribet banget sih,: Hendra tidak suka dengan Bagas yang nyolot.


“Dah yuk cabut, penungunya ngamuk,” kata Agil sembari meninggalkan kelas.

__ADS_1


“Iya, takut kesupuran gue. Tor hati-hati lo, jangan lupa baca-baca doa biar nggak ketempelan,” celoteh Gavin.


“Aman,” seru Toro.


Bagas semakin mendendam di katain seperti itu sama Agil, Hendra dan Gavin. Hidupnya mulai tidak nyaman setelah Toro menjadi murid di kelasnya.


“Sabar Gas, mereka memang seperti itu. Jangan masukin ke hati,” Zia menenangkan Bagas.


“Iya, lo jangan terpancing emosi,” tambah Nana.


“Tapi gara-gara mereka lo nggak kebagian sandwichnya,” Bagas masih kesal.


“Gue sudah makan kok, rasanya enak makasih,” Nana tersenyum yang membuat hati Bagas sedikit mencair.


“Enak sandwichnya atau karena sudah tersentuh bibir Agil,” bisik Zia yang langsung mendapat pukulan di tangannya keras-keras.


“Nana, sakit tahu,” seru Zia membuat perhatian teman-temannya.


“Makanya kalau ngomong itu di sharing, sembarangan saja.”


“Ngomong apa memang Zia?” tanya Bagas.


“Mau di bawain tiap hari katanya,” Zia menumbalkan Nana untuk keuntungannya sendiri sebenarnya. Dengan Bagas membawakan makanan untuk Nana dia juga akan ikut memakannya.


“Benar, bawa yang banyak. Lumayan kan buat ganjalan perut di pagi hari,” sahut Toro. Dia juga setuju sekali kalau Bagas memberikan makanan untuk Nana.Bagas berdesis mendengar sahutan Toro.


“Yaelah Gas, sama teman sekelas saja kok pelit amat,” ujar Toro melihat ekspresi Bagas.


“Teman, memangnya siapa yang mau berteman sama bocah berandalan macam lo,” Bagas menyeringai.


“Apa lo bilang?” Toro mendekati Bagas.


“Berandalan, lo dan teman-teman lo itu nggak pantas di sekolah ini. Lagian Agil kalau bukan anak yang punya sekolah ini juga bakalan sudah di depak dari sini,” oceh Bagas yang membuat Toro naik darah. Dia tidak suka ada yang menjelek-jelekkan Agil.


“Katakan sekali lagi?” Toro menarik kerah baju Bagas.


“Kenapa? Lo nggak terima?” Bagas masih saja terus bicara, dia sama sekali tidak takut dengan Toro.


Toro menatap lekat, ekspresi wajahnya menegang, wajahnya memerah serta kedua alisnya diangkat. Satu tangannya mengepal, siap melayangkan pukulan ke wajah Bagas.


“Pukul saja, lo tidak mau menerima kenyataan kalau Agil itu berandalan. Kalau kalian itu baik tidak akan membuat onar sana-sini. Rusuh bersama geng kalian yang membuat malu dan merugikan orang lain.”


Semua anak langsung berkerumun melingkari Bagas dan Toro yang siap berkelahi. Sebelum semua terlambat Nana langsung sigap melerai Bagas dan Toro.


Nana berdiri menarik tangan Toro, “Toro cukup. Lepaskan dia, sebentar lagi bel bunyi. Lo nggak mau kan terkena masalah?” Nana menenangkan Toro.

__ADS_1


Toro mengikuti saran Nana, ia melepaskan kerah baju Bagas. Bagas tersenyum penuh kemenangan saat ini. Ia puas sudah mengatai Agil.


__ADS_2