
Nana duduk di kursi panjang ber cat hijau di taman, ia menadahkan kepalanya. Menunggu Zia yang sedang membelikan minuman untuknya. Lama-lama mata Nana meredup, angin sepoi siang hari ini membuatnya mengantuk. Sangat sejuk, menenangkan tubuhnya yang lelah.
Nana berdiri saat air mengguyur tubuhnya, ia kira hujan ternyata ada tiga siswa berdiri di depannya sedang menertawakannya setelah menyiramnya.
“Maksud kalian apa menyiram gue?” Nana bingung, nyawanya yang baru saja menuju dunia mimpi belum kembali sepenuhnya.
“Ini balasan buat lo karena gangguin cowok gue.”
“Cowok lo?” Nana mengerutkan keningnya, ia benar-benar tidak mengerti siapa pacar yang dimaksudnya.
“Lo nggak tahu siapa gue?” Dia melihat ke dua temannya. “kasih paham paham, Lon.” Dia menyuruh temannya untuk memperkenalkan dirinya.
“Dia itu Giana Adelia, putri pemegang saham ke tiga setelah ayah Agil dan Zola. Dan terpenting lagi Gia ini pacar dari Agil.” jelas Lona teman Gia.
“Oh.” jawab Nana singkat.
“Oh dong.’
“Terus?”
“Lo harus hormat,” katanya nyolot.
“Apa ini ribut-ribut, Nana lo kenapa basah kuyup begini?” Zia bingung melihat Nana yang basah.
“Noh pacarnya Agil yang ngerjain gue.”
“Pacarnya Agil?” Zia tertawa. “Lo halu kali, Agil saja masih jomblo. Dia cuma suka sama kak Zola.”
“Ooo, jadi cuma halu,” ejek Nana.
Gia kesal diledek sama Nana dan Zia, ia mendekati Nana dan dengan kekuatan penuh menampar Nana. Nana mengaduh memegangi pipinya yang memerah sampai menapak tangan Gia.
Wajah Nana berpaling ke kiri dengan cepat, rasa sakit dan panas merambat di area pipi kananya. Nana mengusap sejenak, kemudian melakukan pembalasan kepada Gia.
Pembalasan yang lebih, bahkan kelima jarinya menapak di pipi kanan Gia.
“Ini baru setimpal.” Zia menjentikan tangannya, dia senang karena sahabatya itu mau membalasnya.
Gia semakin tidak terima, ia menarik rambut Nana. Nana melepaskan genggaman rambut Gia lalu memelintir tangan Gia.
“Sakit, lepasin gue. Lona, Sarah tolongin gue,” Pekik Gia,dia meminta bantuan kepada dua sahabatnya. Zia dengan sigap menghalangi Lona dan Sarah.
“Mau kemana?” Zia menarik rambut Lona dan Sarah bersamaan.
“Lepasin!” teriak Lona dan Sarah bersamaan.
“Kalian jangan macam-macam sama gue. Atau lo nggak akan pernah hidup tenang,” wajah Nana menjadi sangat seram.
__ADS_1
Nana melepaskan tangannya, “Ingat ya, jangan sekali-kali rese sama gue dan Zia,” Nana memberikan ancaman.
“Cabut Na,” Zia menggandeng tangan Nana.
“Sialan, awas kalian berdua. Gue nggak akan tinggal diam.”
*****
Nana melambaikan tangan saat Zia pulang dengan jemputanya, ia kemudia berjalan cepat menuju halte. Nana yang terlalu fokus sampai tidak tahu ada orang dia pintu gerbang.
Agil memasang kakinya, Nana ingin menghindar namun telat hingga ia terjatuh tengkurep. Seragam yang basah menjadi kotor terkena debu. Gavin, Hendra dan Toro tertawa terbahak-bahak.
“Hati-hati tuan putri,” ledek Hendra.
“Kesandung kan, maleng sih,” Sahut Toro.
Nana menadahkan kepalanya, Agil tersenyum jahat. Hatinya senang bisa mengerjai Nana.
“Kalian kenapa jahat sih, kasian kan dia jatuh,”
Nana menatap cewek berwajah bulat, putih dengan bibir tipis. Senyumnya membuat hatinya tenang.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya dia sambil mengulurkan tangannya. Nana menyambutnya, ia berdiri sembari membersihkan seragamnya. Namun percuma seragamnya justru semakin kotor.
“Jadi ini yang namanya Kak Zola,pantes saja kalau disebut dengan ibu peri, selain cantik memang baik hati,” batin Nana.
“Buat apa?” Agil menurut saja.
“Pakai,” Zola memberikan jaket Agil untuk di pakai Nana, Agil kembali mengambil dari tangan Zola. Ia akan memberikan apa saja untuk Zola bukan untuk orang lain.
“Kok lo ambil lagi sih Gil.”
“Gue nggak mau minjami dia, enak saja.”
“Kan ini salah lo, harusnya lo tanggung jawab.”
“Gue nggak apa-apa kok,” Nana menarik ujung bibirnya, ia terpaksa mengatakan tidak apa-apa agar tidak membuat masalah lagi.
“Agil,” kata Zola dengan nada tegas.
Agil mendengus, ia melempar jaket hingga mengenai wajah Nana.
“Gue nggak apa-apa kok, ini jaketnya gue kembaliin. Gue pamit dulu.” Nana juga tidak mau memakai jaket milik Agil.
Nana bergegas meninggalkan tempat itu, ia sudah kedinginan dan tentu saja malu dengan keadaanya.
“Jaket bau begitu, siapa juga yang mau sok belagak banget,” maki Nana sepanjang jalan menuju ke halte.
__ADS_1
Agil yang berjalan di belakang menggenggam tangannya, kalau saja ia laki-laki ingin sekali memukul wajahnya. Nana adalah orang rese yang ia temui, tidak ada takut-takutnya sama dia.
Nana menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang saat merasa ada yang mengikutinya.
“L-lo apa ngikutin gue?” Nana gemetar, wajah datar Agil membuatnya takut.
Agil tak menjawab, dia mendekati Nana lalu menarik tas Nana sampai ke halte. Agil mendorong Nana hingga terduduk di kursi. Nana hanya diam tak berani melawan, kalau dia melakukan sesuatu pasti dia akan dalam bahaya besar. Ia mengingat jelas perkataan Zia kalau Agil sama ketiga sahabatnya itu raja tega tanpa memandang bulu.
“Apakah gue bakalan mati sia-sia hari ini,” batinya.
Air satu ember penuh diguyurkan di tubuh Nana oleh Gavin, Nana semakin menggigil.
“Nah sekarang kan sudah bersih, jadi Zola nggak bakalan ngambek lagi sama gue,” kata Agil dengan tersenyum.
“Kalian kok tega banget sih?” ujar Nana dengan bibir gemetar karena kedinginan. Matanya nanar, ingin sekali ia menangis namun di tahannya.
“Lo kok melihat kita seperti itu, kita kan membantu lo agar nggak malu pulang dengan baju kotor,” ucap Hendra dengan nada dibuat-buat.
“Iya, kita cuma bantu lo, harusnya lo berterima kasih dan undang kita makan,” tambah Gavin.
“Makanya jangan berani-berani cari masalah sama kita, biar hidup lo nggak sengsara,” kata Toro.
Nana menoleh ke arah Toro, semua kesialan hari senin ini karena ulah dia. Kali ini Nana kan memberikan pelajaran buat Toro.
Nana mengepalkan tangan kanannya, ia menonjok keras-keras wajah Toro hingga hidung Toro berdarah.
Nana menginjak kaki Hendra lalu berlari turun halte, ia melambaikan tangan saat bus lewat.
“Sialan,” Hendra memegangi kakinya yang sakit diinjak Nana.
“Waow, gadis itu sangat menarik ya, berani sekali dia berurusan sama kita,” Toro mengusap darah yang mengalir dari hidungnya.
Agil menatap bus yang di tumpangi gadis yang menurutnya sangat gegabah, ia berani sekali melawan geng lucifer yang di ketuai dirinya.
“Bersihkan darah lo,” Agil memberikan tisu yang dia ambil dari tasnya.
“Tonjokan dia lumayan juga,” Toro mengusap darah yang masih keluar.
“Gil, sepertinya kita harus lebih memberikan pelajaran exstra sama dia, gue takut dia bakalan besar kepala.”
“Jangan terlalu keras, dia cewek. Dan ingat jangan melakukan hal-hal itu di depan Zola. Dia bisa marah dan tak mau bertemu dengan gue,” Agil mengingatkan ketiga sahabatnya agar jangan sampai ketahuan sama Zola saat menjaili Nana.
“Siap.”
“Gue cabut anterin Zola dulu, kalian tunggu di tempat biasa.”
“Ok bos.”
__ADS_1