Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Bingung 2


__ADS_3

Zola berpangku tangan, menatap Agil sambil tersenyum. Ketiga sahabat Agil mengikuti Zola. Agil mendengus, ia senang saja di tatap penuh cinta sama Zola namun tidak dengan ketiga sahabatnya itu.


Agil mengambil kacang di depannya lalu melempar di antara Toro dan Hendra yang membuat mereka kaget.


“Apa sih lo Gil, main lempar-lemapar,” oceh Toro.


“Kalian itu yang kenapa memandangi gue kayak nafsu, jijik banget gue,” Agil bergidik.


“Giliran Zola saja lo diem, giliran kita di maki mulu,” omel Toro.


Zola tersenyum manis, “Agil, kata mereka lo membelikan ponsel buat Nana?”


Agil langsung mengedarkan pandangan kepada ketiga sahabatnya, dengan cepat memeka membuang muka. Agar tidak bertatap muka dengan Agil yang matanya seakan berkata kalian semua mati.


“Gue bakalan ambil lagi kalau lo nggak suka,” katanya datar. Ia akan melakukan apa saja yang penting Zola bahagia, meskipun harus mengambil ponsel yang di berikan untuk Nana.


“Bukan seperti itu, justru gue senang. Lo sudah mau tanggung jawab. Dan terlebih lagu kalain mau berteman. Bukankah itu perkembangan yang bagus?” Zola memandang Toro, Hendra lalu Gavin.


“Benar, mereka juga seru loh,” Toro senang berteman dengan Zia dan Nana.


“Tuh kan, memang nggak salah penglihatan gue tentang mereka.”


Zola langsung tertarik kepada Nana saat dia di kerjai Agil, baru ada cewek yang di jaili Agil masih bertahan. Bahkan yang lebih membuatnya senang Nana berani mengambil rokok di tangan Agil.


“Gue nggak suka, gue cuma mau berteman sama lo,” ucapnya dingin.


Agil tidak mau kalau terus di tekan untuk berteman cewek. Yang di butuhkan itu hanya Zola, hidupnya sudah sangat bahagia.


“Ayolah Agil, lo nggak bisa selamanya kan berteman sama gue. Gue juga sudah mau lulus, nanti lo nggak ada teman main.”


“Mereka,” Agil menunjuk ke arah ketiga sahabatnya yang berda di samping Zola.


Hp agil berdering, ia melirik namun nomornya tidak tersimpan. Dia mengabaikannya. Baginya nomor-nomor baru itu tidak penting.


“Kenapa nggak di angkat?” tanya Zola.


“Nggak penting,” jawabnya ketus.


Agil terlanjur ngambek sama Zola moodnya menurun. Kenapa Zola tidak mengerti-mengerti kalau dirinya itu mencintai Zola. Jatuh cinta semenjak dia mengulurkan tangan dan memeluknya di hari pemakaman mama dan adiknya.


Zola adalah malaikat Agil, dia yang bisa membuat Agil bertahan menjalani hidup. Meskipun dia urakan, bandel tapi dia masih mau berbuat baik sama orang lain karena ceramah Zola setiap ketemu.

__ADS_1


“Gil, sini biar gue angkat,” Zola mengambil ponsel Agil di meja, namun Agil memintanya kembali.


Agil beranjak dari sofa, ia sedikit menjauh dari teman-temannya agar tidak terdengar. Agil menempelkan ponselnya di telinga.


“Halo,” jawabnya ketus ketika sudah tersambung.


“Halo Agil, ini gue Nana.”


“Mau apa?” ucapnya mash saja dingin.


“Gue mau ucapin makasih sudah beliin hp ini, tapi gue minta jangka waktu untuk mengganti helm lo,” ujar Nana dengan takut-takut.


Suara Agil terdengar berat dan kesal membuat Nana gemetar meskipun hanya telepon saja.


“Nggak perlu ganti.”


“Tapi-,”


“Kalau lo masih mau mengganti, lo cukup jauhi gue. Jangan pernah menyapa, bertanya ataupun interaksi lainnya. Gue hitung impas semuanya, tapi kalau lo sampai mendekati gue, gue akan tagih dua kali lipat,” kata Agil langsung mematikan sambungan teleponnya.


“Agil siapa? Kok lo marah-marah?” tanya Zola.


“Orang iseng,” jawabnya sambil memasuka hp di kantong. Ia mengajak Zola kembali ke sofa.


*****


“Dasar gila, bisa-bisanya dia bilang mendekati dia,” Omel Nana.


Baru saja dia berpikir kalau Agil itu lumayan baik, kini kembali di tampar kenyataan. Agil tetap saja menakutkan dan sangat kejam. Tubuhnya mendadak kaku, bagaimana kalau Nana menghadapi Agil langsung, pasti Nana bisa pingsan dadakan tanpa pusing, tanpa sakit.


“Apa Kak Zola tahu?”


Nana berpikir kalau Zola mengetahui dia membelikan ponsel dan mereka menjadi marahan.


Jari Nana bergerak mengetik chat kepada Agil, mengirim maaf karena membuat dirinya berantem dengan Zola.


Chat yang di kirimnya tidak di respon sama Agil, Nana menjadi kelimpungan sendiri. Dia takut banget kalau mereka sampai putus pasti dia akan selalu di salahkan.


“Eh, bukanya Kak Zola sudah punya pacar?” Nana menggaruk kepalanya. Ia baru ingat ketika Zola memperkenalkan pacarnya saat makan mie pedas.


“Terus kenapa dia marah sama gue ya?” Nana bingung.

__ADS_1


“Terserahlah, kenapa gue jadi panik seperti ini. Bukankan ini bagus, gue nggak bebas bergerak yang penting tidak ada urusan sama mereka,” ujar Nana dengan senyum yang lebar.


Bukankah itu berkah untuk Nana, setelah masalah yang di hadapi dengan Agil kini ia bisa terlepas dengan sendirinya. Dia bisa sekolah dengan nyaman dan bebas.


*****


Nana keluar kamarnya sembari bersenandung, pagi ini seperti hidup yang baru buat Nana. Setelah pernyataan Agil membuatnya seperti merdeka dari penjajah.


“Wah, ponakan om ini sepertinya sedang happy sekali. Pasti karena hp baru ya?” tanya Ozi.


Nana menggelengkan kepala cepat.


“Lalu?” Ozi menaruh nasi goreng di depan Nana.


“Tidak tahu, cuma pagi ini rasanya bangun tidur itu mau senyum saja,” jawab Nana tanpa memberi tahu Ozi alasan yang sebenarnya.


“Sayang, besok ulang tahun nenek kamu mau ikut datang tidak?”


“Nana pikir-pikir dulu deh Om.”


Nana bukan membenci neneknya, namun saat dia datang pasti dia di tuduh sebagai pembunuh anaknya yaitu kedua orang tuannya. Semenjak meninggalnya mama dan papanya Nana merasa di kuciilkan neneknya, padahal dulu dia sangat di sayang.


“Ya Om tahu, kalau kamu nggak ikut nggak masalah kok, Om akan datang sendiri nanti,” Ozi mengusap rambut Nana.


“Om, Nana berangkat dulu ya,” Nafsu makan Nana menghilang seketika mendengar neneknya di sebut.


“Loh, ini kenapa nggak di makan?”


“Buru-buru Om, Nana dapat tugas piket hari ini,” Nana mengambil tasnya.


“Tunggu sebentar,” Ozi berlari ke dapur.


Ozi mengambil tempat bekal, ia tidak mau Nana kelaparan karena tidak sarapan. Kalau ia bawa bekal bisa makan kapan saja.


“Om, Nana bisa makan di kantin kok,” Nana menolak membawa bekal.


“Om kan sudah masak buat kamu, masa kamu nggak mau mencicipi masakan Om,” Ozi memasukan nasi goreng.


Nana terdiam, Omnya sudah susah payah banyun pagi hanya untuk meyiapkan sarapanya sedangkan dia malah menolak karena moodnya yang kurang bagus.


“Iya Om, Nana bawa kok,” ucapnya dengan senyum merekah.

__ADS_1


Nana menerima kotak bekal, lalu mencium punggung tangan Ozi. Hanya itu hal yang saat ini dia bisa lakukan untuk membalas jasa-jasa Ozi. Dengan menghargai segala usaha Ozi , dan tidak membuatnya cemas.


__ADS_2