
Nana segera bergegas pergi dari makam, ia menatap langit yang sudah mendung sehingga gelap. Belum berjalan jauh dari makam gerimis sudah mulai membasahi badannya.
“Gue harus cepat ini,” gumamnya.
Kali ini Nana memilih lewat jalan utama, ia tidak peduli dengan orang-orang yang sedang balapan. Nana melewati tepi jalan, beberapa motor telah melewati dirinya.
Nana mengayuh sepedanya kuat ketika terdengar dentuman yang sangat keras. Ia menekan remnya kuat-kuta, lagi-lagi ia ditunjukan dua motor yang terjatuh saling bertabrakan. Satu motor bisa berdiri, dan satunya masih tergeletak.
Nana menstandar sepedanya kakinya berlari cepat untuk membantu. Nana menoleh kebelakang saat mendengar deru gas yang sengaja di buat. Sepertinya meminta Nana untuk minggir.
Nana menendang pengemudi motor, hingga terjatuh bersama motornya. Dada Nana bergemuruh, rasa takut bermunculan ini pertama kalinya ia menggunakan kekuatanya.
“Sial,” umpatan itu terdengar jelas. Namun Nana tidak menggubrisnya. Ia justru membantu orang yang jatuh pertama lebih dulu.
“Lucifer, pasti ini anak buah Agil,” gumam Nana pelan. Tangannya berusaha membuka helm.
“Bangun lo!” Orang yang di buat Nana jatuh menarik baju Nana dari belakang.
Nana menyiku perut orang yang di tendangnya tadi. Sampai dia mundur menahan sakit.
“Lo mau apa?” ujar Nana saat terlepas dari gengamanya.
“Gue mau dia,” menunjuk geng lucifer yang tergeletak tak berdaya itu.
“Lo mau dia, langkahi dulu gue,” katanya dengan lantang hingga menembus gemrisik angin dan hujan yang sudah turun.
Terjadilah baku hantam di bawah hujan, Nana pun tak bisa diremehkan begitu saja saat nyalinya muncul. Ia begitu lincah sehingga bisa menangkis pukulan-pukulan yang di layangkan.
Agil membuka kaca helmnya saat ia tersadar, remang-remang ia melihat pertarungan hebat di depannya.
“Siapa cewek itu,keren juga,” ujarnya sambil membuka helm.
Agil berdiri, ia siap membantu saat Nana mulai sedikit kuwalahan. Ia menarik tangan Nana dan melakukan tendangan di perut hingga lawanya terpental.
“Agil?” kata Nana lirih.
Agil hanya melirik, lumayan kaget ketika cewek yang di katanya keren itu Nana, teman sekolahnya yang selama ini ia benci.
Nana bergegas mengambil sepedanya saat Agil menang, ia segera kabur sebelum Agil mewawancarai dirinya. Dan dia tidak mau ikut campur lebih lanjut. Dia hanya sekedar menolong.
__ADS_1
Agil menatap sepeda yang melaju cepat, ia pun bergegas mendirikan motornya dan mengejar Nana. Tak lama sepeda Nana terkejar, Agil berhenti kurang dari setengah meter hingga Nana mengerem mendadak.
Agil melepas helmnya, ia berjalan mendekati Nana. Nana melihat sampai tak berkedip mata. Melihat Agil menembus hujan terlihat sangat keren, seperti pahlawan super yang akan menolong wanitanya.
Agil sudah di depan Nana, ia melihat wajah Nana dengan teliti takutnya ada luka di wajahnya. Ia menjentikan jari tengah dengan ibu jari saat melihat Nana bengong.
“Kenapa?” tanya Nana.
“Gue anterin pulang,” sahut Agil.
“Nggak usah, rumah gue dekat.” Nana mengayuh sepedanya lagi.
Agil mendengus, ia menstater motornya mengikuti Nana, ia takut kalau Nana diikuti geng tiger. Meskipun ia tak punya masalah dengan apa yang di lakukan Nana pasti akan memicu kemarahan anggota yang lain.
Agil berhenti dengan jarak satu meter dari rumah Nana, ia memperhatikan Nana sampai dia masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan aman dia langsung pulang.
...ΩΩΩ...
Toro, Gavin dan Hendra sudah menunggu di teras rumah Agil, menunggu sang bos setelah dia beri pesan agar segera kembali ke rumahnya.
“Lo darimana Gil?” tanya Toro.
“Iya, gue lihat geng tiger sengaja menabrakan diri agar menang balapan kali ini,”
“Untung saja apa?” Gavin penasaran kenapa Agil tiba-tiba menghentikan ucapanya.
“Ada yang menolong gue, jadi gue masih bisa berdiri di hadapan kalian sore ini,” Kata Agil sambil masuk ke dalam rumahnya.
Toro, Gavin dan Hendra mengikuti Agil, mereka penasaran siapa orang yang menolong Agil. Agil meletakan helmya, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah di guyur hujan lebat.
“Kira-kira siapa ya yang menollong Agil?” Toro masih penasaran.
“Gue kira bukan anak geng kita, soalnya ketika mereka balap semua orang ada di area,” Hendra memastikan kalau semua Geng Lucifer ada di tempat garis star.
“Malaikat kali ya, pokoknya siapapun dia gue sangat terima kasih,” ujar Gavin sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
“Benar, kalau cowok gue anggap saudara kalau cewek mau gue jadiin -”
“Jadiin apa?” Agil mendorong pintu kamar mandi memotong pembicaraan Toro. Agar ucapanya tidak di lanjutkan.
__ADS_1
“Jangan ngada-ngada, nanti kalau yang menolong Agil nenek-nenek umur enam puluh tahun apa lo mau jadiin dia istri juga,” Gavin terkekeh di sahut Agil sama Hendra.
“Sialan, ya kalau nenek-nenek itu kaya raya banyak warisan nggak masalah toh, kalau dia mati kan semua harta milik gue,” canda Toro yang mendapatkan timpukan bantal dari Gavin dan Hendra.
“Geng Tiger semakin licik, kalian harus hati-hati,” Agil mengingatkan ketiga sahabatnya.
“Kapan saja dia bisa menyerang kita, apa perlu kita habisi sampai akar-akarnya?”
“Jangan gegebah Hen, balap tadi apakah tiger juara?”
“Ya, mereka dengan bangga mengejek kita,” ujar Hendra.
“Kita balas besok, kita atur strategi baru. Dan perkuat keamanan kita, sepertinya mereka akan melakukan hal yang sama seperti hari ini,” kata Agil dengan tatapan tajam.
“Gil, gue masih penasaran siapa yang menolong lo?” tanya Toro.
“Apa dia akan baik-baik saja, takutnya dia jadi sasaran geng tiger karena membantu kita,” Hendra menghawatirkan orang yang membantu Agil.
“Lo nggak akan percaya kalau gue bilang siapa yang membantu gue?” Agil rebahan di samping Toro.
“Jadi beneran nenek-nenek?” Toro memiringkan tubuhnya, lalu menyangga kepala dengan tangan kanannya.
“Tapi mereka nggak melihat wajah nenek-nenek itu kan Gil?” Hendra merasa was-was dengan nenek itu.
“Sepertinya tidak, hujan deras tadi menyemarkan wajahnya. Gue saja kalau nggak dekat nggak bisa mengenalinya.”
“Wah, ternyata lagu wali memang ada di dunia nyata,” Toro mengangguk-angguk.
“Lagu yang mana?” tanya Gavin.
“Nenekku pahlawanku,” jawabnya sambil tertawa.
“Sialan,” Umpat Gavin sembari melepat boneka keropi berbentuk guling. Entah darimana boneka itu berasal.
Agil menahan senyum, teman-temannya mengira benar-benar nenek-nenek yang menolongnya padahal sebenarnya Nana. Gadis imut yang kepo tapi penakut. Yang suka sekali rusuh terhadapnya.
“Gil, kapan-kapan ke rumah nenek itu. Kita harus berterima kasih. Sudah tua masih mau menyelamatkan nyawa orang.” Ajak Hendra.
“Ok, nanti kapan-kapan gue kenalin.”
__ADS_1
“Lo sudah tahu rumahnya?” tanya Toro.
“Sudah Tor, kalau kita senggang gue ajak kesana.”