Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Hp Baru 2


__ADS_3

Agil hanya tersenyum, ancaman dari Bagas sebenarnya tidak seberapa baginya. Namun mengatas namakan Nana membuat dirinya tidak senang.


“Lo siapa pacarnya?” Agil berbisik di telinga Bagas, ia tersenyum mengejek. Tangannya menepuk pundaknya lalu melewatinya.


“Nggak usah cengeng, cuma hp doang yang pecah bukan kepala,” Kata Agil dengan entengnya.


Bagas memutar pundak Agil hingga berhadapan dengan dirinya, Bagas mengepalkan tangan kiri dan melayangkan pukulan ke wajah Agil. Agil terpental hingga terduduk.


“Lo bisa nggak menghargai orang lain?” Bagas memegang kerah baju Agil.


“Gas, Bagas lepaskan, lo kenapa sih?” Nana menarik tangan Bagas.


Nana meringis melihat wajah Agil yang memar semalam belum hilang masih di tambah lagi dengan tinjuan Bagas.


Nana memegang dagu Agil pelan, “Semalam saja belum hilang, sudah di tambah lagi. Mau jadi apa ini wajah.”


Agil tersenyum, ia melirik ke Bagas menaikkan kedua alisnya menandakan kalau dia menang.


“Bangun, gue obatin,” Nana menarik tangan Agil, ia meminta Agil duduk di kursinya.


Zia panik, dia langsung berdiri diantara bodyguard Agil. Toro,Hendra dan Gavin tersenyum lebar melihat Agil mendapat perawatan Nana. Nana menggaruk kepalanya, ia tidak punya apa-apa bagaimana mau mengobati Agil.


“Kenapa?”


“Gue nggak ada apa-apa bagaimana ya mau ngobatin lo?”


Agil tersenyum, ia menarik ta ngan kanan Nana lalu menaruh di pipinya, “Cukup seperti ini sudah cukup.”


Rona merah timbul di wajah Nana, ia segera menarik tangannya setelah mendengar siulan dari Toro yang di lanjut Gavin dan Hendra.  Zia dan Sena yang awalnya tegang pun ikut senyum-senyum. Hanya Bagas yang tidak menyukai hal itu.


Agil beranjak dari kursinya, ia menggandeng tangan Nana membawanya pergi keluar kelas. Kedua nola mata Nana seperti mau copot, ia menatap tangannya yang di genggam erat.


“Mau kemana?” tanya Nana dengan mata yang masih belum lepas dari pandangannya.


“Ikut saja, Toro bawa tas Nana,” seru Agil.


“Ok bos,” Toro mengambil tas Nana, tak hanya tas Nana Toro juga menarik tangan Zia.

__ADS_1


Bagas hanya bisa menahan kesal, dadanya bergemuruh ingin sekali ia menghajar Agil dan merebut Nana. Namun dia tak mungkin melakukan kekerasan di depan Nana. Yang ada dia akan semakin benci.


Gia menatap tajam Agil dan Nana yang bergandengan tangan, ia meremas cup yang masih berisikan es teh, sampai tehnya tumpah ke lantai.


“Semakin lama semakin tidak bisa di biarkan,” katanya kesal.


“Gia, lo jangan diam saja. Lo harus kasih pelajaran sama Nana,” Lona mengompori Gia.


“Benar, lama-lama dia ngelunjak. Gia gue ada ide buat menghancurkan Nana,” Sarah mempunyai ide jahat.


“Apa?” tanya Gia.


Sarah membisikan rencana kepada Gia, Gia tersenyum lebar sepertinya ide Sarah itu memang sangat bagus. Dan bisa mmebuat nama baik Nana akan hancur seketika. Dan pastinya dia akan segera jauh-jauh dari Agil.


*****


“Agil, kita mau kemana?” Nana bingung di ajak pergi melewati gerbang belakang.


“Ikut saja,”


“Gil, lo mau ajak gue bolos ya?” Nana mencoba menarik tangannya. Agil tak mau melepaskannya, ia kembali menarik tangan Nana.


Nana di buat dag-dig-dug sama Agil, ia di buat kelimpungan. Nana beralih dari tangan yang di genggam Agil ke wajah Agil. Semenjak pertemuan pertama dengan Agil ia belum pernah melihatnya tersenyum.


Nana terpesona dengan wajah Agil yang sumringah, wajahnya terlihat keren dan aura positifnya terpancar. Yang Nana lihat sekarang bukanya Agil sang ketua geng Lucifer yang garang dan menakutkan. Melainkan Agil yang manis, dan membuat jantungnya berdebar. Mungkin cewek-cewek bakalan lebih menempel kalau dia seperti ini.


Agil mengembalikan bibirnya yang melengkung menjadi datar ketika Nana memperhatikannya.


“Kenapa, padahal lo keren kalau tersenyum,” ucap Nana.


Kini Agil yang di gombalin Nana, dia juga menjadi kelimpungan, baru Nana yang berani menggombali ketua geng lucifer dengan terang-terangan dan membuat Agil ingin melayang.


“Ini benar-benar di luar BMKG,” Toro merenges. Zia menarik tangan yang dari kelas di gandeng sama Toro.


“Perkembangan yang begitu pesat,” Gavin tepuk tangan namun tak terdengar.


Agil melambaikan tangannya saat satu angkot lewat, “Kalian mau ikut nggak?” Agil menoleh sebentar lalu menyuruh Nana masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


“Ikut,” Toro berlari disusul Gavin.


Sedangkan Zia nasih bingung, dia mau ikut pelajaran selanjutnya atau membolos.


“Buruan, nanti ketahuan,” tas Zia di tarik Hendra.


Di dalam angkot hanya ada mereka berenam, Nana berpandangan kepada Zia. Mereka seperti mengobrol lewat batin, karena Nana tidak punya hp saat ini.


“Gil, lo mau ajak gue sama Nana kemana sih?” Zia memberanikan diri ngomong.


“Lo nggak bakalan jual kita kan?” Nana menyampingkan duduknya sehingga menhadap ke arah Agil.


Agil, Toro, Gavin dan Hendra langsung tertawa renyah. Pikiran mereka sama yaitu siapa yang mau dengan cewek-cewek cupu macam Nana dan Zia. Kalau memang mau menjual tentunya cewek-cewek yang seksy bukan bocil yang doyanya makan cilor.


“Terlalu pede lo, memangnya lo bakalan laku kalau kita jual,” kata Hendra masih dengan tertawa.


“Jangan salah ya, jantung, hati, ginjal dan oragan lain kita masih sehat. Pastinya akan laku. Nggak ada yang menolak,” ujar Nana tak mau di remehkan.


“Nana, kenapa lo ngomong seperti itu,” Zia panik dengan kepoosan Nana, dengan mengatakan seperti itu justru memberikan informasi jelas kepada Agil dan sahabatnya.


Nana menutup mulutnya rapat-rapat, Nana menjadi panik. Agil tersenyum tipis, semakin lama bersama Nana dia melihat tingkah lucu Nana.


“Benar juga kata lo, guys, kita bisa kaya jual mereka gue cek satu ginjal harganya hampir dua koma satu milyar,” Agil menggoda Nana.


“Wah kita bisa jadi anak muda kaya raya,” Hendra mengangguk-angguk.


Wajah Nana dan Zia berubah pucat, mereka berdua menganggap Agil, Hendra, Toro dan Gavin sungguhan bakal menjual mereka.


Agil tertawa sambil menggelengkan kepalanya, kalau Nana dan Zia polosnya nggak ketulungan.


“Lo nggak bakalan jual gue kan? Gue bakalan ganti kok helm yang gue rusakin?” Nana mengingat helm Agil yang ia lempar untuk menyerang geng Tiger malam itu.


“Helm?” Agil menatap Nana, Agil mencoba mengingat helm apa yang di bahas Nana.


“Iya, kemarin helm yang gue pakai gue lempar dan kayaknya pecah,” mata Nana nanar, ia ingin menangis.


Agil mengusap kepala Nana, ia gemes banget sama Nana. Ia merasa kok masih ada cewek seperti Nana. Ia menyentuh hidung Nana dengan jari telunjuknya,  Nana meluruskan duduknya, mengusap air ata yang masih tersisa di ujung mata.

__ADS_1


“Dunia serasa milik berdua ini,” Kata Gavin.


“Laporan BMKG hari ini tepat sasaran, katanya cerah tak berawan,” Sahut Toro.


__ADS_2