Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Berterima Kasih


__ADS_3

Agil menarik kursi lalu duduk sambil memandang wajah Nana yang pucat pasi. Tangannya reflek menggecek kening Nana.


“Baru segitu saja lo sudah terbaring sakit, kok berani-beraninya mengganggu gue,” gumam Agil di bubuhi senyum sinis.


“Gil, tehnya,” Toro menaruh tehnya di meja kecil.


“Vin, buruan,” seru Agil.


“Gil, apa semua ini gara-gara kita kemarin ya?” Toro merasa bersalah dengan apa yang dia perbuat.


“Kenapa jadi lembek begitu, bukanya itu salah dia karena menggangu kita,” Hendra sedikit melempar obat demam dekat gelas.


“Hendra, lo kenapa sadis begitu sih. Dia kan perempuan bukanya motto kita itu melindungi perempuan juga," Toro mengingatkan Hendra.


Agil hanya diam tidak menyahut teman-temannya, ia mengambil baskom kecil beserta kain yang ada di tangan Gavin. Agil mulai mengompres Nana, ia juga tidak tahu kenapa dengan enteng melakukannya.


“Vin, tumben Agil mau merawat orang. Bokapnya sakit saja boro-boro ngompres. Menjenguk saja nggak mau,” bisik Toro.


Agil adalah anak broken home yang sudah di tinggal pisah kedua orang tuanya sejak SMP. Sifatnya yang dulu riang, penyayang menjadi kasar dan sadis seperti tak punya perasaan.


Bahkan Agil menjadi pembangkang, biang onar serta menyandang ketua geng lucifer karena keluarganya yang  berantakan.


“Benar juga, apa Agil suka sama siapa?” Gavin melongok ke kasur melihat nametag di baju Nana.


“Natasha Yunita,” baca Gavin.


“Mana mungkin Agil suka sama dia, ya nggak Gil?” kata Hendra. Ia tidak setuju dengan pemikiran Toro dan Gavin.


“Kalian kalau mau debat, mending pergi dari sini,” Agil melihat kearah ketiga temannya, yang sekaligus omongannya membungkam mulut mereka yang sejak datang sangat berisik.


“Agil sepertnya memang suka,” Gavin membisikan di telinga Toro. Toro hanya menjawab dengan anggukan.


"Kalian nggak usah menebak-nebak. Ini semua karena Zola. Dia yang memintanya," Hendr kekeh, dia tidak menyetujuinya kalau Agil suka dengan Nana. Agil menoleh, kedua matanya menyipit. Mereka bertiga langsung terdiam.


Setengah jam sudah berlalu, Agil dan ketiga temannya senantiasa dengan sabar menunggu Nana. Nana menggeliat, ia mengerjamkan matanya berkali-kali agar terlihat jelas pandangannya.


Nana memejamkan matanya kembali memastikan yang ia lihat itu benar. Bukan mimpi atau hayalan. Empat siswa laki-laki terseram di sekolahan ini sedang memandangi dirinya. Ingin rasanya dia pingsan lagi, malu dan takut di tatap seperti itu.


“Udah sadar?” tanya Toro dengan senyuman tipis.


“Cabut yuk, sudah bangun dia.” ujar Hendra.


Agil mengambil kain di kening Nana, lalu menaruh di baskom kecil. Ia kemudian beranjak tanpa berkata apa-apa. Ia keluar lebih dulu diikuti oleh Hendra.

__ADS_1


Nana bingung, kenapa keempat siswa yang di takuti disekolah itu mengompresnya. Nana duduk, rasanya aneh ia melihat sekeliling takut ada jebakan atau hal lain yang di lakukan oleh Agil, Toro, Gavin dan juga Hendra.


“Masih pusing?” tanya Gavin.


Toro menyentuh kening Nana, sehingga Nana menarik memundurkan tabuhnya.


“Udah mendingan, minum obatnya,” Toro menarik tangan Nana menaruh obat di telapak tangan kiri. Dan gelas berisikan teh yang sudah dingin di tangan kanannya.


Nana masih terheran-heran, ia tidak segera minum obatnya justru memandangi Toro lekat-lekat.


“Kalian nggak lagi ngerjain gue kan?” Nana curiga bakalan di kerjain lagi sama mereka.


“Mana ada, kalau kita mau ngerjain lo nggak bakalan kita tungguin lo sampai siuman begini,” kata Gavin meyakinkan Nana.


“Iya, asal lo tahu ya Agil yang kompres lo nggak hanya itu yang angkat lo kesini juga dia,” cerocos Toro.


“Masa?”


“Nggak percaya amat sih lo, tahu begitu gue video tadi.”


Nana masih tidak percaya kalau Agil yang sejak kemarin mengerjainya tiba-tiba baik dengan dirinya. Pasti akan ada maksud lain di balik semua itu pikir Nana.


“Makasih,” jawab Nana pelan lalu meminum obatnya.


“Iya.”


“Kalau begitu kita cabut dulu ya,” Gavin merangkul Toro sembari melambaikan tangan kirinya.


Nana termenung, masa iya seorang Agil merawatnya. Semua terasa sangat mustahil.


“Hey,” Zia membuyarkan lamunan Nana.


“Zia, coba deh cubit pipi gue.”


Zia bingung namun tetap melakukannya, kapan lagi bisa mencubit sahabatnya dengan suka rela. Nana meringis, rasanya sakit berati semua yang terjadi barusan itu benar.


“Kenapa?” Zia menarik kursi lalu duduk siap menunggu cerita dari Nana.


“Tadi gue pingsan, dan pas gue bangun melihat Agil,Gavin, Hendra dan Toro. Mereka disini tungguin gue.”


“Demi apa?” Zia kaget.


“Demi apapun deh, bahkan katanya yang gotong gue sampai kompres gue itu dia.”

__ADS_1


“Hati-hati Na, takut saja dia modus.”


“Gue juga takut, mereka kasih obat gue bener kan ya bukan narkoba,” pikiran Nana terlalu jauh.


Zia menghembuskan napas kpanjang, lalu memutarkan kedua bola matanya mendegar ucapan Nana.


“Ya siapa tahu, dia kan jahat.”


“Na, sejailnya mereka palingan di kasih obat diare nggak sampai narkoba. Sayang juga kali duitnya.”


“Ya kan gue nggak tahu.”


“Lo sudah baikan belum, atau mau ijin pulang saja?” tanya Zia.


“Gue ke kelas saja, sudah lumayan baikan kok.”


Nana yang awalnya takut dan benci kini berubah jadi penasaran dengan Agil. Nana berhenti di pintu lapangan basket, ia berdiri diambang pintu. Nana melihat Agil meskipun tidak jelas karena gelap.


“Masa iya orang seperti dia menolong gue, atau itu akal-akalan mereka biar gue punya hutang budi. Dan mau melakukan apa yang dia mau, apa dia akan mengancam gue,” batinya penuh dengan pertanyaan.


Dug! Bola melayang mendekati ambang pintu, dengan cepat Nana menangkis bola yang hampir saja mengenai kepalanya.


“Minggir, kena bola pingsan lagi,” seru Agil.


“Menurut lo orang kayak dia beneran merawat gue nggak?” tanya Nana sambil menggandeng tangan Zia meninggalkan lapangan basket.


“Bisa iya bisa juga nggak.”


“Maksud lo?”


“Ya mungkin tadi Agil menolong lo karena merasa bersalah kemarin telah buat lo basah kuyub.”


“Bisa punnya hati juga ya, gue harus berterima kasih nggak?”


“Harusnya.”


“Gimana cara gue berterima kasih?”


“Ya bawa kan saja makanan, atau apa begitu,”


“Tapi gue takut Zi, selama di UKS tadi dia itu nggak pernah ngomong cuma menatap gue dengan dua mata yang tajam.”


“Kalau begini gue jadi bingung, atau lo nggak usah minta maaf saja lah. Anggap saja semua ini impas,” Zia menjadi bingung, dia juga ragu memberikan saran kepada Nana. Takutnya Nana malah kenapa-kenapa, karena Agil bukan orang sembarangan.

__ADS_1


“Begitu saja kali ya, biar gue nggak ada urusan sama dia.”


__ADS_2