
Agil mengangkat kedua kakinya dia meja, tangannya memegangi ponsel, dan kedua matanya fokus memandangi layar ponsel.
“Gil, beneran semaleman lo kobam sama Toro?” tanya Gavin sambil duduk di sebalah Agil.
Agil tak merespon pertanyaan Gavin, ia masih fokus memikirkan kata apa yang akan dikirimkan ke Nana.
“Agil,” teriak Gavin pas di telinga kanan Agil, yang membuat tanganya reflek menepuk apa saja yang di sampingnya. Gavin merintih menahan sakit saat wajahnya terkena tampolan tangan Agil.
“Sakit Gil,” rintihnya.
“Salah sendiri teriak-teriak, gue nggak budek,” ujar Agil.
“Ya habis lo nggak dengerin gue, lo sedang lihat apaan sih?” Gavin kepo, dia menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi lalu menyondong ke tubuh Agil.
Agil berdecak lalu mendorong Gavin dengan tubuhnya, “Lo kepo banget sih.”
“Lo lagi nonton enak-enak ya, makanya gue nggak boleh ikutan.”
“Pikiran lo, mesum mulu.” Agil menekan tanda pesawat di wanya, ia kemudian memasukan ponsel di kantong bajunya.
“Habisnya lo pelit, Gil beneran lo kobam semalam sama Toro?” Gavin kembali ke topik utama.
“Hm,”
“Lo kok curang nggak ngajakin gue sih, kan gue juga mau,” Gavin manyun.
“Ok, nanti kita pergi.”
“Beneran?” Gavin tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Ini akan menjadi moment bersejarah baginya.
“Agil,” panggil Gia yang sudah berdiri di samping Agil.
“Lo lagi-lo lagi, menggangu obrolan pagi yang bermanfaat antara gue sama Agil saja,” Omel Gavin.
Gia melirik tajam ke arah Gavin di tambah mulut yang meruncing. Agil mendengus, ia menurunkan kedua kakinya. Agil beranjak dari kursinya namun tangannya di tahan sama Gia.
“Agil, tunggu.”
“Ada apa?” katanya dingin.
“Gue mau minta maaf soal kemari. Gue nggak bermaksud melakukan itu,” Gia meminta maaf saat membuat Nana jatuh.
“Lo salah alamat,” jwabnya ketus dan meninggalkannya. Namun Gia kembali menarik tangan Agil kembali.
“Please, Agil lihat gue sebentar. Kenapa sih lo selalu saja ketus sama gue. Gue itu suka sama lo,” Gia menyatakan cinta kesekian kalinya sama Agil. Namun selalu penolakan yang ia dapatkan.
“Gue nggak suka,” jawabnya singkat padat dan selalu saja menyakitkan.
__ADS_1
Agil meninggalkan ruangan kelas, meninggalkan Gia tak peduli tentang perasaanya. Sejak pertama ia masuk kelas itu, ia sudah mengatakan kepada Gia kalau dirinya itu sama sekali tidak tertarik kepadanya. Meskipun Gia melakukan debus dan juga sirkus.
Agil memilih pergi ke kantin belakang, ia melewatkan pelajaran hari ini karena sudah nggak mood karena Gia. Ia duduk di kursi panjang, mengambil ponsel menatap pekat layar ponselnya. Pesan yang ia kirimkan kepada Nana belum juga terkirim.
“Kenapa mas, kelihatanya kok suntuk begitu?” tanya Mbok Minah ibu kantin belakang.
“Biasa Mbok, mikirin sekolah,” jawabnya asal.
“Mikirin sekolah bagaimana?” Mbok Minah tidak mengerti.
“Pusing sekolah makanya lebih baik makan disini,” Agil nyengir.
Mbok Minah menaruh teh panas dengan nasi goreng di depan Agil, “Sekolah yang rajin Mas, biar masa depan cerah,” Nasehat Mbok Minah.
“Saya sudah nggak punya masa depan Mbok,” Agil megaduk-aduk nasi goreng dengan sendok dan garpu yang baru di pegangnya.
“Kok ngomongnya seperti itu Mas?”
“Mama Agil sudah meninggal Mbok, Papa kawin lagi, gebetan sudah punya pacar terus buat apa masa depan cerah?” Agil memasukan nasi goreng satu sendok penuh ke mulutnya.
“Ya buat Mas sendiri, sama istrinya nanti. Buat keluarga kecil yang bahagia.”
Agil menarik ujung kiri bibirnya, dia bahkan tidak sanggup memikirkan keluarga. Semuanya blur abu-abu, tidak bisa tertembus olehnya.
“Apa mau bibik cariin pacar buat Mas Agil,” Mbok Minah mendaftarkan diri menjadi pencomblang Agil.
“Kok tertawa sih Mas, cewek yang itu manis lo mas,” Mbok Minah menunjuk Nana yang sedang tengak-tengok di gerbang.
Agil menoleh, “Memangnya dia cocok sama saya Mbok?”
“Cocok, cantik,imut, tapi agak aneh. Pagi-pagi ngapain ya di situ. Nggak ada loh siswi yang pergi ke area sini,” Mbok Minah heran melihat Nana.
“Mau bolos kali Mbok,” Jawabnya enteng.
Agil menyudahi makanya yang masih separuh, ia menyeruput teh hangatnya sampai habis.
“Mbok, rokok sebatang dong,” Agil memberikan uang lima puluh ribu.
“Masih pagi kok sudah merokok Mas, nanti kalau ketahuan guru bagaimana?” tanya Mbok Minah.
“Santai Mbok.”
Agil mengusap area mulutnya, ia kemudian menghidupkan rokoknya. Ia berjalan mendekati Nana yang masih celingukan.
“Ngapain lo disini, mau bolos?”
Nana langsung berdiri tegak, mendengar suara yang tidak asing di telingannya dan membuatnya bergidik. Nana menatap Agil, ia tertarik dengan gulungan putih sebesar kelingking yang ada di tangan kiri Agil.
__ADS_1
“Bengong lagi,” Agil menjentikkan jarinya di depan wajah Nana.
“Lo kenapa masih merokok, buat masa depan nggak cerah tahu,” Nana merebut rokok Agil. Ia menjatuhkan ke tanah lalu menginjaknya.
“Rokok gue,” Agil menatap rokok yang sedang di injak Nana, ingin sekali ia menjotos Nana. Belum juga sempat ia menghirupnya sudah hancur sia-sia.
Nana membuka permen lolipop bulat rasa susu, “Nih makan ini saja buat pengganti rokok lo,” Nana menyuapi permen ke mulut Agil.
Nana membalikan badan, ia mengurungkan niatnya yang ingi menanyakan keadaan Agil. Ia mendadak takut setelah membuang rokok Agil.
“Mau kemana lo?” Agil menarik tangan Nana.
“Ma-u ke kelas,” ucapnya gugup.
“Nggak segampang itu,” Agil membawa Nana masuk ke warung Mbok Minah.
Terdengar samar-samar Bagas memanggil Nana, “Bagas,” Nana menoleh ke belakang.
Mendengar kata Bagas, Agil mengeratkan genggaman di pergelangan tangan Nana.
“Agil, lepasin gue,” Nana memohon.
“Nggak mau,” jawabnya sambil senyum tipis.
“Tapi ini kan masih jam pelajaran, gue bisa di hukum sama Miss Ana.”
“Bukannya biasanya lo juga di hukum tanpa pergi sama gue,” ujar Agil.
Tangan Nana rasanya mau putus saat ada yang menarik tangan kirinya, ia seperti bahan tarik tambang.
“Lo mau bawa Nana kemana?” tanya Bagas yang sudah menggandeng tangan Nana.
“Apa urusan lo?” Agil sengak.
“Sekarang masih jam sekolah, lo nggak bisa seperti ini.”
“Bagas-bagas, tangan gue sakit,” rintih Nana pelan saat tangan Kanannya kembali di tarik agar Nana berada di samping Bagas.
“Dengar nggak, lepasin dia,” Agil menepis tangan Bagas hingga terlepas dari Nana.
“Lo yang harus lepasin dia, jangan bawa dia dalam masalah lo,” ujar Bagas.
“Masalah gue?”
“Agil, gue tahu lo itu ketua geng lucifer yang musuhnya dimana-mana. Kalau mau membahayakan diri sendiri terserah jangan membawa orang lain.”
Kata-kata Bagas membungkam Agil, ia melepaskan tangan Nana. Memang benar beberapa kali ini ia telah menepatkan Nana dalam bahaya. Bagas menggandeng Nana dan segera membawa pergi Nana dari tempat itu.
__ADS_1