Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Perasaan apa 2


__ADS_3

Nana duduk sembari mengambil kipas portabel di tas, tubuhnya masih saja panas meskipun kelasnya sudah ada AC.


“Kenapa buru-buru sih Na, makanan gue mana belum habis,”Zia mengipasi tubuhnya dengan tangan.


“Lo nggak lihat tadi Agil sudah serem kayak gitu,” ujar Nana sembari begidik saat mengingat suara datar dan dingin darinya.


“Serem atau lo cemburu,” goda Zia.


“Apanya yang harus di cemburuin coba, nggak jelas banget deh lo,” Nana menyangkal kalau dia cemburu. Memang ada perasaan aneh ketika Agil mengatakan dia bukan pacarnya dengan suara dinginnya.


“Na, sebenarnya lo suka nggak sih sama Agil?”


“Nggak,” jawabnya tegas.


Suara hentakan sepatu keras mengalihkan obrolan Nana dan Zia, mereka memandangi ke arah pintu saat sumber suara terpusat pada pintu kelas mereka.


“Mana gue pinjam tugas fisika,” ucap Toro dengan napas lumayan terengah-enggah karena lari dari kantin menuju kelas. Toro mengacak-acak isi tasnya mencari buku fisika.


Nana dan Zia saling berpandangan, mereka berdua langsung terawa renyah. Bisa-bisanya dia juga ikut tertipu, padahal hari ini tidak ada mata pelajaran fisika.


“Toro, lo ngelindur ya. Sekarang kan nggak ada fisika,” ujar Sena.


“Ha,” Toro melongo, ia menaruh tasnya.


“Makanya kalau sekolah itu yang benar, mata pelajaran hari ini apa saja. Bukan cuma datang, tidur, makan doang,” cicit Bagas.


“Brisik,” Toro kesal, ia merasa tertipu. Yang membuatnya semakin kesal adalah makanan yang di tinggalkannya masih terlalu banyak di kantin.


“Sialan kalian berdua, mana makanan gue masih banyak tadi,” Toro manyun.


“Tor,” panggil Gavin di ambang pintu.


“Ya,” jawabnya dengan mulut yang masih manyun.


“Cabut,”


“Ok,” Toro mengambil tasnya.


“Lo mau kemana?” tanya Nana penasaran.


“Kepo,” jawabnya sembari jalan menuju kerah Gavin.


“Toro, ini masih jam sekolah. Gue aduin Miss Ana lo biar di keluarin dari kelas ini,” ancam Bagas.


“Cepu lo,” Toro mengacungkan jari tengahnya kearah Bagas.


“Dasar anak urakan, pasti mereka akan balapan,” cerocos Bagas.


“Yah memang kerjaan mereka seperti itu, tapi mereka tetap aman. Kalau kita mah sudah di depak dari sekolah ini kalau membolos,” sahut Sena.


Nana teringat pembicaraan di restauran kemarin tentang Amru yang membayar orang untuk membunuhnya saat balapan.


Nana meninggalkan kelas ketika bel berbunyi, ia ingin mengejar Agil dan yang lain untuk memberi tahu agar tidak pergi balapan siang ini.

__ADS_1


“Nana, lo mau kemana?” teriak Zia.


“Gue ada urusan sebentar,” teriaknya.


“Semakin hari semakin aneh saja boca satu ini,” Zia menggaruk kepalanya.


Bagas tidak mau ketinggalan, ia mengejar Nana namun saat sampai di pintu di cegat sama Miss Ana.


“Mau kemana kamu Bagas?”


“Mau ke toilet Miss,”


“Nggak ada, duduk,” Miss Ana tidak memberikan izin untuk Bagas.


“Sial,” umpat Bagas pelan.


*****


Nana berlari cepat menuju ke kelas Agil, ia menengok dari ambang pintu sudah tidak ada. Nana bergegas menuju ke tempat parkir namun tertahan dengan Gia dan kedua temannya.


“Ngapain lo disini?” tanya Gia sewot.


“Gue cari Agil.”


“Tuh kan Gia, dia itu cewek munafik. Orang dia bilang nggak suka sama Agil tapi dia caper terus sama Agil,” Lona mengompori Gia.


“Lo ngeyel banget ya, gue bilang jangan dekati Agil,” Gia mendorong Nana.


Nana menghela napas panjang, “Ok gue salah ngomong, gue kesini cari Hendra.”


“Terserah kalian merak itu gebetan siapa, sekarang kalian minggir,” kesabaran Nana mulai habis, ia takut Agil dan ketiga sahabatnya sudah meninggalkan parkiran dan dia tidak sempat mengingatkannya.


Gia membuka jalan, namun saat Nana melangkah dia memasang kakinya sehingga Nana jatuh tersungkur. Suara kerannya itu membuat seluruh kelas Gia keluar. Mereka menertawakan Nana, ia hanya bisa mengatur napasnya agar tidak tersulut emosi. Nana memilih bangun dan pergi daripada meladeni Gia. Kalau bukan soal nyawa ia pasti akan memberi pelajaran Gia dulu.


Terlambat, motor Agil sudah tidak ada di parkiran. Nana bingung harus bagaimana sekarang.


“Telepon saja,” ucapnya sembari mengambil ponsel di kantong bajunya. Panggilan tersambung namun tidak ada jawaban.


“Eh, kamu kenapa masih ada di luar. Bel sudah bunyi dari tadi,” tegur satpam.


Nana panik, ia langsung lari saja sebelum di tangkap satpam. Nana pergi ke gerbang belakang.


“Nana, apa yang lo lakukan. Lagian mereka bukan siapa-siapa lo. Jangan terlalu peduli,” ucapnya pada dirinya sendiri.


Nana tidak jadi membuka gerbang, ia memutuskan untuk kembali. Baru dua langkah, Nana memutar badannya dan membuka pintu untuk membolos.


“Hitung-hitung untuk membalas budi semalam karena dia sudah mengatar gue pulang,” ucapnya sambil lari.


Nana mencari ojek untuk mempercepat perjalanannya daripada naik angkot. Nana berlari mencari pangkalan ojek terdekat dari sekolahnya.


“Bang, ojek,” kata Nana.


“Mau kemana Neng?”

__ADS_1


“Jalan saja dulu Bang,” ucap Nana sembari naik ke motor.


“Siap.”


Nana mencoba menelepon Toro, ia ingin tahu di mana tempat mereka balapan. Nana mencoba beberapa kali namun tak ada jawaban.


“Neng, kenapa kok bolos?”


“Urgent Bang,”


“Sepenting apa sih Neng, sampai hurus bolos sekolah?” tanya Abang Ojek.


“Demi nyawa seseorang Bang, bisa geger seantero Jakarta pokoknya,” celoteh Nana.


“Ok kalau begitu, Bang Rizal siap mengantar sampai tujuan dengan aman,” Bang Rizal menambah kecepatan motornya.


“Bang, ke makam besar ya,” pinta Nana.


“Makam besar?”


“Iya.”


“Neng, makam besar itu isinya mayat semua. Terus yang mau di selamatkan apa?” Bang Rizal heran.


Bang Rizal mendadak menghentikan motornya, lalu bergegas turun meskipun Nana masih nengkreng di atas motor.


“Bang, kenapa berhenti sih?” Nana ikut turun.


Bang Rizal melihat Nana dari atas sampai bawah memastikan yang di boncengnya itu anak sekolahan atau hantu.


“Bang, ayo buru-buru?” kata Nana.


“Kamu beneran anak sekolahan kan, bukan hantu yang menyamar?” tanya Bang Rizal sembari memutari Nana.


“Ya ampun Bang, ini beneran manusia. Nama saya Nana, anak sekolah SMA Ksatria. Perlu juga saya tunjukan kartu pelajar Nana?” Nana meyakinkan kalau dirinya itu manusia bukannya hantu.


“Lagian Neng pakai acara pergi ke makam, mau ngapai?”


“Bang, teman saya mau balapan disana. Makanya saya mau cegah,” Nana jujur daripada Bang Rizal itu bertanya terus.


“Teman apa pacar?”


“Udah deh Bang, mau anterin atau nggak?”


“Ok-ok, naik,” Bang Rizal percaya kalau Nana bukan hantu.


“Memangnya pacarnya namanya siapa Neng?” Bang Rizal kepo.


“Bukan pacar, tapi teman.”


“Iya sama saja, nanti juga jadi pacar,” kekeh Bang Rizal.


“Mana bisa sama, teman ya teman, pacar ya pacar,” Nana pun tak mau kalah.

__ADS_1


“Ya kan kalau pacaran di mulai dari pertemanan yang cocok dulu.”


“Terserah Bang, sekarang buruan bawa Nana ke sana dengan cepat,” kata Nana jengah bertengkar dengan tukang ojek yang baru di kenalnya itu.


__ADS_2