
Nana sudah menunggu sepuluh menit di halte namun bus tidak kunjung datang. Nana sedang meratapi kejadian sore ini, kalau saja ia tidak bertemu dengan Zola dan Agil pasti ia bisa menikmati mie pedas itu dengan tenang dan pulang dengan senang.
“Bagaimana bisa cowok serem itu di bilang imut,” Nana bergidik.
Nana menghentak-hentakkan kakinya, ia mulai bosan menunggu bus yang tak kunjung datang. Mana hari mulai sore, Nana berjalan mondar-mandir dari ujung halte sampai ujung lagi.
Sesekali untuk membuang bosan Nana berdiri dii kursi dan berjalan di kursi panjang yang terbuat dari besi.
“Ini niat nggak sih sopir busnya, masa sudah hampir empat puluh lima menit nggak datang,” gerutu Nana sambil menengok ke jalan raya.
Satu mobil berhenti di depan Nana, ia mengklakson lalu membuka kaca mobilnya.
“Butuh tumpangan Neng?” tanyanya.
“Nggak,” jawab Nana sambil mundur, ia duduk di kursi dengan memasang wajah yang jutek agar orang itu tidak mengganggunya.
“Ini sudah sore loh, bus atau angkutan umum lain belum tentu ada. Yok bareng kita saja,” satu orang turun dan berjalan mendekati Nana.
Nana memasukkan satu tangan di tasnya, ia siap-siap mengambil air cabe senjatanya. Kalau sampai orang itu berani menyentuhnya maka ia akan menyemprotnya.
“Nana,” panggil Agil keras. Nana mengangkat kepalanya, ia bergegas lari mendekati Agil.
“Sial,” umpat cowok itu lalu masuk ke mobil mengetahui ada Agil.
“Makasih ya,” ucap Nana.
Agil tidak menjawab, ia justru melempar helm ke arah Nana. Nana kaget, karena tanpa aba-aba, untung saja ia bisa menangkapnya.
“Naik,” kata Agil masih sama dengan nada kerasnya.
Meskipun berat hati namun Nana tetap ikut naik, ia tajut kalau kejadian seperti tadi terjadi lagi.
Deru motor Agil memecah keheningan jalan yang mereka lewati, mungkin karena sudah sore jalanan yang biasanya rame berubah menjadi sangat sepi. Atau karena sedikit mendung jadi orang-orang agak malas keluar.
Agil semakin kecang menjalankan motornya, Nana yang ketakutan langsung memeluk Agil. Ia tidak tahu harus berpegangan apa, jadi hanya itu satu-satunya cara.
“Duh, modus kali Agil,” batin Nana namun tetep melingkarkan tanganya di badan Agil.
Sedangkan Agil merasa tidak nyaman dengan pelukan yang di berikan Nana, seperti ada rasa-rasa aneh di dadanya. Ini pertama kali ada cewek yang membonceng motornya sambil mememluknya, padahal besar harapan Agil Zola lah yang melakukannya. Namun malah tidak pernah.
Agil mengurangi kecepatannya,agar Nana melepas pelukannya. Saat pelukan Nana melonggar dari spion ia melihat Geng Tiger sedang mengikutinya. Agil menarik tangan Nana agar memeluknya erat lagi. Ia akan mengendarai kecepata penuh.
“Eh kenapa?” teriak Nana.
“Diam," ucap Agil membuat Nana segera menutup rapat-rapat mulutnya.
__ADS_1
Dan terjadilah kejar-kejaran, dalam hati Nana hanya bisa berdoa. Sore ini dia sedang bertaruh nyawa, baru kali ini ia di bonceng dengan kecepatan diatas rata-rata. Bahkan rodanya seperti terbang.
“Ya Tuhan, selamatkan Nana. Masih banyak yang ingin Nana lakukan,” doanya membuat Agil tersenyum.
Dug..
Satu kaki menendang tubuhnya hingga motor Agil oleng, untungnya Agil masih bisa mengendalikannya, sehingga mereka berdua tidak jatuh.
Agil membelokkan motornya ke jalan setapak yang jauh dari keramaian.
Ia berhenti lalu turun, “Lo tunggu sini, jangan pernah buka helm lo,” Perintah Agil. Nana mengangguk tanda mengerti.
Agil membuka helm miliknya, lalu meminta Nana membawanya, ia berjalan mendekati geng Tiger.
“Kalian mau apa?” tanya Agil dengan suara berat.
“Kita mau senang-senang saja,” katanya sambil tersenyum.
“Amru, ternyata lo pecundang juga ya, melawan gue saja sampai membawa pasukan banyak,” Agil tertawa menghina Amru sang ketua Geng Tiger.
Saat anggota Geng Tiger bermunculan dari segala arah. Mereka membuat lingkaran, sehingga Agil tak akan bisa kabur pikir mereka.
“Bacot!”
Amru berlari mendekati Agil, tangannya yang suda terkepal langsung meninju perut Agil sempai terjerembab jatuh.
Nana gemetar, ia bingung kalau mau membantu tapi musuhnya sangat banyak. Ia panik namun tak bisa menghubungi siapa-siapa karena tak punya nomor teman-temannya Agil.
Agil tersenyum, ia mengangkat kepalanya lalu menumbukan ke kepala Amru. Amru pun terjungkal. Kali ini giliran Agil, ia menarik kerah Amru dan menukulinya bertubi-tubi tanpa jeda.
Nana mengambil ponsel, ia mengirim pesan kepada Zola. Ia meminta nomor Toro karena hanya nama itu yang teringat di kepala Nana.
“Ayo dong Kak, ini darurat,” gumam Nana semakin panik ketika melihat Agil yang sekarang di keroyok. Lima lawan satu sungguh tidak adil kan.
Lima menit kemudian Zola sudah mengirimkan kontak milik Toro, dengan cepat Nana sharelok, baru menelponya. Jadi kalau terjadi sesuatu mereka sudah tahu lokasinya.
Nana melotot saat ponselnya terjatuh di aspal, hingga pecah menjadi dua bagian. Padahal ia belum menyambung ke Toro.
“Hp gue,” rengek Nana kesal dengan anggota Tiger yang sengaja membuat ponselnya jatuh.
“Lo pacarnya Agil?” tanyanya kasar.
“Ganti nggak ponsel gue?” Nana justru mau ganti rugi bukan menanggapi ucapannya.
“Ganti rugi?” katanya sambil tertawa.
__ADS_1
“Ya,” jawab Nana polos, dia memang konyol tidak tahu nyawanya dalam bahaya justru masih bisa meminta ganti rugi ponselnya.
“Baiklah, kalau lo mau tinggalin Agil,gue bakalan ganti sepuluh kali lipat,” tawarnya.
Mereka berpikir kalau Nana mau meninggalkan Agil membuatnya sakit hati, dan bisa dengan mudah menghancurkannya.
“Kenapa gue harus tinggalin dia?”
“Lihat, bos gue lebih tampan daripada Agil, kalau lo pacaran sama bos gue pasti lebih bahagia. Daripada pacaran sama Agil brengsek itu. Ceweknya banyak, mana dia sering main perempuan,” hasut anak buah geng tiger.
“Pertama gue bukan pacar Agil, kedua Agil jauh lebih ganteng daripada bos lo. Bos lo terlihat pecundang, beraninya kroyokan,” kata Nana yang memicu geram anggota geng tiger.
Dia menarik paksa Nana, ia ingin menghabisi sekalian cewek Agil karena tidak mau diajak kerjasama.
Nana meronta, ia memukulkan helm yang di bawanya, kakinya berlari menuju Agil. Ia berdiri bertolak belakang dengan Agil hingga punggungnya saling berdempetan.
“Lo kenapa kesini!” bentak Agil.
“Mereka menggangu gue, gue takut," jawabnya.
Agil mendengus, dia tidak tahu apa yang dipikirkan Nana, kenapa tidak lari yang jauh meminta bantuan. Kalau bersamanya bukanya lebih bahaya.
“Dengar, gue buka jalan. Lo lari sekencang mungkin cari bantuan,” Kata Agil.
“Terus lo bagaimana?”
“Nggak usah pikirin gue!” bentaknya kesal.
“Agil-Agil, jangan kasar-kasar kali sama cewek lo. Cantik mending lo sama gue saja,”Amru mencoba memegang tangan Nana namun langsung di tepisnya.
“Jangan pegang-pegang,” Nana mengangkat Helm, ia akan memukul Amru dengan helm itu kalau sampai dia memeganginya.
“Galak amat, sih,” godanya sambil tertawa.
“Jangan ganggu dia, dia tidak ada urusanya sama kalian," Agil menunjuk Amru dan anggota tiger lainnya.
“Agil-Agil, semua yang berhubungan sama lo itu urusan kita, ya nggak tiger," seru Amru.
“Ya,” sahutnya rame-rame.
Kaki Nana gemetar, ini benar-benar tak pernah membayangkan di hidupnya harus berada di tengah-tengah orang berkelahi. Dan lebih parahnya ini perkelahian antara geng motor yang pasti akan menelan korban.
“Kalian itu cupu banget, kalau berani lawan satu-satu jangan kroyokan,” seru Nana.
“Berani ya, ternyata cewek -cowok sama saja, cuiih!” Amru hendak menarik tangan Nana.
__ADS_1
Nana dengan cepat menendangkan kakinya hingga mengenai perut Amru.