
Pulang dari rumah Nana, Agil langsung meluncur ke markas Lucifer. Dia sudah di tunggu teman-temannya.
“Gil, bagaimana Nana baik-baik saja?” tanya Hendra. Dia orang yang benci dengan Nana mendadak menanyakan kabarnya.
“Baik, cuma luka di tangannya yang lumayan parah,” jawab Agil sembari melepas jaketnya dan duduk di antara Toro dan Gavin.
“Kita harus memperketat keamanan, gue kira mereka akan mengincar kita ketika sendiri,” Kata Gavin.
“Ya, terutama keamanan Nana, sepertinya mereka mengira kalau Nana itu pacar lo,” Kata Toro.
“Kalian simpan nomor Nana, jadi sewaktu-waktu dia menelepon kalian tidak bingung itu nomor siapa, Toro bagi nomor dia,” Agil meminta nomor Nana lewat Toro.
“Eh, lo belum punya nomornya kah?” Toro heran.
“Ya tentu saja belum, kita tidak kenal,” Jawab Agil tanpa dosa yang membuat anggota Lucifer melongo. Bagaimana bisa menyuruh yang lain menyimpan nomor Nana sedangkan dirinya sendiri belum menyimpannya.
Setelah mendapatkan nomornya, Agil ingin mengirim pesan namun kembali ia hapus.
Agil masih bingung dengan Nana, dia menyandang sabuk hitam namun kenapa sangat penakut. Bahkan terlihat seperti cewek lemah pada umumnya.
“Gil, lo kok bisa jalan sama Nana?” pertanyaan Toro membuyarkan lamunan Agil.
“Iya, bukanya lo benci banget sama itu cewek,” sahut Hendra.
“Nggak sengaja, itu juga tadi yang minta Zola," ujarnya.
“Tapi kalau dipikir-pikir,lo lebih cocok sama Nana daripada sama Zola,” kata Gavin.
“Setuju gue, selain dia itu imut dia lebih perhatian sama lo daripada Zola,” Toro setuju dengan perkataan Gavin.
“Move on lah Gil, toh Zola juga nggak ada respon apa-apa,” Gavin mencoba menyadarkan Agil agar move on dari gadis yang membuatnya bahagia.
“Darimana lo tahu kalau Nana lebih perhatian daripada Zola?” Agil memandangi ketiga sahabatnya bergantian. Ia tidak suka kalau mereka menjelekkan Zola. Baginya Zola lebih perhatian dari siapapun.
“Gil, kalau menurut gue lebih baik lo manfaatin Nana saja. Ya lo dekatin Nana buat Zola cemburu,” Hendra memberikan ide cemerlang menurutnya.
“Gue nggak setuju, kasian tahu,” Toro tidak setuju.
__ADS_1
“Kalian berisik, gue balik dulu,” Agil memilih pergi meninggalkan markas. Ia pusing teman-temannya berisik terlalu mengurusi hatinya.
Agil memakai helm, ia menghidupkan motornya, Toro tiba-tiba naik di jok belakang membuat Agil menoleh sebentar.
“Nebeng gue,” teriak Toro, kalau ngomong pelan pasti tidak akan kedengeran karena deru motor Agil terlalu keras.
“Nebeng sampai mana?” balas Agil.
“Sampai rumah lo,” seruny sambil tersenyum.
Agil hanya menghela napas panjang, kalau sampai rumahnya sama saja ikut pulang bareng.
“Gil, menurut gue lo jangan turutin kata Hendra,” teriak Toro.
“Soal?”
“Lo mau mendekati Nana hanya untuk membuat Zola cemburu,” Toro tidak mau Agil berbuat jahat kepada Nana. Dia bukan orang yang tepat untuk dimanfaatkan seperti itu. Menurut pandangan Toro yang sekarang Nana itu terlalu baik.
Agil menghentikan motornya mendadak, ia menstandarkan motornya lalu turun membiarkan Toro yang masih diatas motornya.
Agil membuka helmnya, ia duduk di trotoar “Lo mau temani gue minum?”
Toro melepas helmnya, ia menaruh di jok belakang motor.
“Gue nggak salah dengar Gil?” Toro kaget, selama ini Agil anti sama dengan minum-minuman keras. Bahkan dia akan mengeluarkan teman-temannya kalau ada yang ketahuan mabuk.Tapi malam ini tiba-tiba dia mau mengajaknya minum.
“Apa masalah ini terlalu membuat lo putus asa?” Toro ikut duduk di samping Agil.
“Zola memperkenalkan cowok di hadapan gue,” curhatnya. Ia lebih suka cerita masalah pribadinya dengan Toro, meskipun celengean namun Toro adalah sahabatnya sejak kecil, sahabat suka duka sebelum bertemu Gavin dan Hendra. Tak hanya itu, Toro bisa menyimpan rahasia dengan rapi meskipun sama Gavin ataupun Hendra.
“Itu tandanya lo memang harus melepasnya, lo cari kebahagiaan lo sendiri. Jangan terus berada dalam bayangannya, gue tahu dia sangat berjasa dengan lo tapi lo tidak bisa stay begini saja,” Toro menepuk pundak Agil.
*****
Nana menjatuhkan tubuhnya, ia memandang langit-langit membayangkan nasib ponselnya yang sudah menjadi dua. Dan bahkan dia sekarang tidak tahu lagi keberadaannya.
“Gimana ngomong sama om ya,” Nana mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Nana bukanya takut meminta ponsel baru, namun ia tak mau membebani omnya, ia sudah terlalu banyak merepotkan omnya itu. Masa muda yang seharusnya omnya gunakan untuk mengejar karir dan juga menjalin hubungan dengan perempuan kini dia gunakan untuk merawatnya.
“Nana,” Ozi memanggil Nana sembari mengetuk pintunya pelan.
“Iya Om,” Nana duduk .
“Kamu nggak apa-apa kan?” Ozi memastikan keadaan Nana lagi, dia takut kalau keponakannya itu terluka parah namun tidak bilang.
“Nana baik-baik saja Om, cuma hp Nana yang patah tulang jadi dua dan sekarang nggak tahu kemana keberadaannya,” Nana menutup mulutnya saat keceplosan, ia sudah berniat untuk tidak mengatakannya.
“Besok beli yang baru, nggak usah risau soal barang-barang yang rusak atau diambilnya. Yang penting kamu selamat.” Ozi menarik Nana dalam pelukannya. Dia mengusap lembut rambut Nana, ia sudah menyayangi Nana seperti anak kandungnya sendiri bukan lagi keponakannya.
“Nggak usah Om, sementara Nana nggak pakai hp saja. Kan Nana masih bisa pakai punya Om atau telepon rumah."
“Ngomong apa kamu, lagian kalau kamu nggak pakai telepon Om semakin cemas nggak bisa hubungin kamu.”
Mata Nana panas, ia menadahkan wajanya untuk melihat wajah Omnya, “Om, maafin Nana, selama ini merepotkan Om terus.”
“Ngomong apa kamu,” Ozi mengusap air mata Nana yang mulai membasahi pipinya.
“Om, kalau Om mau mencari istri sekarang boleh kok. Dan nanti Nana akan cari kontrakan, kerjaan. Nana akan pindah biar tidak menambah beban keluarga Om.”
“Ngomong apa sih kamu Na, kalau toh ada yang mau sama Om ya harus terima kamu juga. Kamu nggak akan pernah boleh pindah dari sini sebelum kamu menikah,” Ozi memeluk erat Nana.
Kata-kata Nana membuatnya sakit hati, keluarga Nana hanyalah dirinya, tidak ada lagi. Keluarga besar mereka pun tak mau mengurus Nana sehingga Ozi bertanggung jawab penuh.
"Kalau saja mama sama papa masih hidup, pasti Nana nggak akan membebani Om," gumam lirih Nana.
"Kamu jangan ngomong seperti itu. Kita itu keluarga. Kalau kamu mau bisa panggil Om, papa juga boleh," ujar Ozi.
"Papa," Nana tersenyum sembari memeluk Ozi.
“Besok sepulang sekolah kita beli hp yang baru buat kamu, sekarang cepat istirahat,” Ozi mengecup kening Nana lalu menyelimutinya sampai dada.
“Selamat malam om, i love you.”
“Selamat malam, i love you too.”
__ADS_1