
Agil tertarik dengan cewek yang menangis sendirian di depan mini market, ia tidak tahu cewek itu adalah Nana. Karena tidak mau ikut campur Agil menuruni motornya berlalu masuk mini market membeli pesanan milik Zola.
Agil membulatkan kedua matanya, memastikan yang di lihatnya itu tidak salah. Ia takut karena terhalang kaca penglihatanya salah.
“Itu cewek aneh bukan sih?” gumamnya sembari mengambil susu kotak rasa coklat.
Agil segera membeli pesanannya lalu keluar untuk mengecek kondisi Nana, dia kepo kenapa Nana menangis sendirian di depan mini market. Agil mengangtung kantong keresek ke motornya, lalu berjalan mendekati Nana.
Agil menendang kaki meja perlahan, Nana mengangkat kepalanya cepat. Nana langsung mengusap air matanya. Agil menarik kursi lalu duduk di depan Nana.
Nana bingung, canggung kenapa Agil tiba-tiba datang bahkan duduk dengannya. Dia melipat kedua tangannya di dada, pandangannya lekat namun datar.
Nana mengatur napasnya agar sesak di dadanya hilang dan bisa ngomong dengan lancar.
“Sudah menangisnya?” tanya Agil tanpa mengubah posisinya.
Nana mengangguk, ia menarik ice cream lebih mendekat dengan dirinya lalu melahapnya perlahan.
“Lo putus cinta?” ujarnya dengan senyum mengejek.
“Bukan urusan lo,” jawab Nana dengan suara sengau.
“Benar juga."
“Ini lo yang ngajak ngomong gue ya, jadi jangan maki gue lagi,” ucap Nana. Ia mengingatkan Agil agar tidak menyalahkan dirinya seperti siang tadi di sekolah.
“Hm,” jawabnya Datar. Ia seperti kemakan omonganny sendiri. Agil yang meminta Nana menjauh, dia juga yang peduli duluan.
Nana bingung dengan ketua Geng Lucifer ini, dia bisa marah-marah besar namun bisa setenanng ini di hadapannya.
“Lo nggak perlu temani gue, lo bisa pergi,” kata Nana dengan nada sedikit mengusir.
“Lo terlalu pede, ini tempat umum bebas gue mau di mana saja.”
Ah, benar juga. Bisa-bisanya gue kepedean memangnya gue siapa dia temani sama ketua geng macam Agil, batin Nana
Mereka berdua hanya saling diam, Nana menikmati ice cream sampai setengah sedangkan Agil hanya menatap Nana. Entah ada angin apa dia mau duduk menunggu Nana yang sedang menangis.
Agil mulai bosan, mulutnya kecut, ia merogoh kantong celananya. Agil mengambil satu bungkus rokok beserta korek. Ia mengeluarkan satu rokok dan menyelipkan di tangannya.
Nana yang melihatnya langsung mengambil dari Agil, “Sudah berapa kali gue bilang kalau rokok itu tidak bagus untuk kesehatan,” cerocos Nana.
__ADS_1
Agil melongo yang terus mendapatkan perlakuan yang sama saat dia hendak merokok di dekat Nana. Nana menyodorkan wah ice cream.
“Makan ini saja.”
“Siapa lo berani mengatur hidup gue?” Agil menatap tajam Nana rasanya menacap sampai ke ulu hati.
“Gu-e-” Nana menggigit bibir bawahnya, ia memang tidak berhak melakukan semua itu kepada Agil.
“Lo naksir ya sama gue?” kata Agil dengan pedenya.
Nana terkekeh, lucu saja mendengar pernyataan Agil yang sama sekali tidak pernah terpikir di benaknya sekali pun.
“Lo terlalu jauh mikirnya, kita nggak kenal bagaimana gue bisa suka sama lo,” Nana menggelengkan kepala.
Ia kembali mengambil box ice cream karena Agil tak kunjung memakannya. Ia memasukan sesuap, matanya melirik mencuri pandang kearah Agil karena tidak ada respon dari jawabannya.
“Gue minta maaf kalau tadi membuat lo marah, tapi jujur gue cuma mau meluruskan masalah lo sama Kak Zola,” Nana meminta maaf ke pada Agil mumpung ada kesempatan ngomong. Ditambah lagi mood Agil terlihat lumayan bagus.
“Jangan pernah lakukan itu lagi, gue bisa urus masalah gue sendiri,” tukas Agil.
“Ok,” Nana mengangguk-angguk.
Nana mengambil satu sendok besar ice cream yang rasa coklat, ia menyodorkan ke mulut Agil. Agil mengerutkan keningnya.
“Lo mau apa?” Agil tidak mau, namun saat mulut Agil melongo Nana langsung menyuapinya.
Agil mendelik, sedangkan Nana tersenyum manis. Agil hanya bisa mengelus dadanya, Nana saat di kasih tahu pasti jawabnya iya-iya namun tikahnya selalu berbeda. Dengan berani ia melakukan hal yang di luar kendalinya, padahal sudah memintanya untuk menjauh.
“Lo,” ucapnya dengan mulut penuh ice cream.
“Lo bisa nggak kalau ngomong itu yang halus, seperti lo ngomong sama Kak Zola,” Nana kembali menyuapi Agil.
“Terserah gue,” katanya datar. Agil tidak menolak ketika Nana menyuapi ice cream.
“Gue harap setelah lo makan ice cream ini, lo berubah seperti dia. Meskipun dingin namun lembut dan manis,” cerocos Nana. Ia seakan hilang kendali kalau orang yang di nasehati itu ketua lucifer.
“Lo juga harus senyum, lo itu kelihatan ganteng kalau tersenyum.”
Nana menutup mulutnya dengan tangan kirinya saat mendengar hembusan napas Agil. Sepertinya ia jengah mendengar ocehannya. Jantungnya berdetak cepat, ia kembali merasa takut duduk dengan Agil. Tadi dia merasa enjoy sebelum banyak bicara.
“Gue balik dulu ya,” Nana memasukan coklat yang belum buka dan memberikan ice cream kepada Agil.
__ADS_1
“Lo balik naik apa?” tanya Agil.
Nana menghentikan langkahnya, ia perlahan menoleh ke belakang.
“Taksi.”
Agil berdiri, “Lo bareng gue saja, taksi pasti lama datangnya.”
Nana memandang Agil dengan mengerutkan keningnya, ujung bibir kirinya terangkat.
“Punya berapa kepribadian sih dia?” gumamnya.
“Buruan, atau gue tinggal?” ketusnya.
Nana kembali melongo, belum juga mulutnya tertutup suara Agil berubah menjadi kaku lagi.
Tumben pakai motor seperti ini, batinya
Nana tidak berani menanyakan kenapa Agil memakai motor matik, bukan motornya yang gagah itu. Namun pakai motor ini lebih nyaman, ia bisa membonceng dengan tenang.
Nana menadahkan kepala ke langit, merasakan hembusan angin yang menyapu wajahnya. Ia merentangkan kedua tangannya untuk melepaskan semua rasa kesalnya.
“Apa lo sudah merasa lega?” seru Agil.
“Ya.” Nana tersenyum, ketika hatinya mulai tenang.
“Cowok mana yang sampai membuat lo menangis?” Agil memancing Nana agar memceritakan masalah yang di hadapinya.
“Tidak ada.”
“Lalu?”
“Hanya keluarga, ah, orang luar yang banyak omong cukup membuat gue kesal.”
Agil diam, ia mengambil kata pertama ucapan Nana yaitu keluarga. Sepertinya mereka berdua memiliki nasib yang sama pikir Agil.
“Tidak usah di pikirkan, lo jangan lagi menangis sembarangan. Lo bisa cari gue kalau mau menangis,” kata Nana.
Nana mengerjapkan matanya lalu tersenyum, ia merasa kalau bukan Agil yang baru saja mengatakan. Sejak kapan ia peduli dengan dirinya, orang beberapa jam lalu saja masih sangat kaku.
Mungkin seperti ini kali ya rasanya punya pacar, bisa buat sandaran. Andai saja orang galak ini menjadi pacar gue, batinya.
__ADS_1
Nana, apa yang lo pikirkan?
Nana menepuk keningnya saat pikiranya mulai kesana-kemari, bagaimana bisa dia berhayal kalau Agil menjadi pacaranya.