
Nana melepaskan diri dengan memberikan pukulan diwajahnya juga, saat ia terpanting Nana menendang perutnya. Nana melakukan pembalasan sampai orang itu tak berdaya.
Nana jatuh saat tenaganya habis, napasnya memburu ia sudah tidak kuat berkelahi lagi. Melihat temannya tak berdaya salah satu orang yang berkelahi dengan anggota lucifer berlari menuju Nana.
Agil menghadang saat hendak mendekati Nana.
"Lo mau kemana?" Tanya Agil. Ia menyuruh beberapa anak buahnya membatu temannya.
“Akhirnya lo datang juga, waktunya gue habisi lo,” ucapnya.
Nana membuang mukanya karena takut di lihatin Agil, ia sedang mengisi tenaganya untuk segera lari dari tempat ini. Ia sudah tenang melihat Agil tidak celaka.
“Lo yakin bisa menghabisi gue, sedangkan sama cewek gue saja sudah di buat babak belur. Teman lo sampai tak berdaya,” Agil meremehkan lawan.
Nana mendelik, ia melihat sekilas ke arah Agil yang juga sedang memandanginya. Dengan cepat Nana langsung membuang muka ke samping.
"Gue harus buru-buru cabut nih," gumam Nana.
“Lemah,” sahut Toro yang berjalan mendekati Agil.
“Bacot,” orang itu langsung menyerang.
Agil dan Toro menyerang bersamaan, ia tidak peduli itu tidak adil karena keroyokan. Karena mereka sendiri yang mencari masalah.
Nana berusaha berdiri, ia menyeret tubuhnya yang masih lemas untuk kabur saat Agil dan yang lain masih sibuk melawan suruhan Geng Tiger. Nomor dari Bang Rizal sangat berguna, ia bisa meminta jemput juga di saat keadaan mendesak.
"Halo Bang, bisa jemput Nana di tempat tadi," bisik Nana mulai menjauh dari tempat Agil dan Toro.
Nana di cegat oleh Amru, "Mau pergi kemana?"
"Udah ya, gue capek. Lo kalau mau berantem sama mereka," tunjuk Nana kearah Agil dan Toro yang masih berantem hebat.
Nana masih sempatnya tawar menawar dengan Amru di dalam keadaan yang bahaya.
"Ok, kalau lo mau gue lepasin, tinggalin Geng Lucifer," ajak Amru.
"Gue bahkan buka anggota kenapa harus keluar," kata Nana.
"Jadi lo pacarnya Agil?"
"Bukan, gue orang lewat. Udah ya jangan tanya-tanya lagi," Nana berlari masuk ke semak - semak. Ia mau kabur dari Amru.
"Jangan kabur lo," seru Amru yang mengalihkan Agil.
Ia menyerahkan orang yang di hajarnya sama Toro dan mengejar Nana dan Amru.
Nana yang sudah kehabisan tenaga tidak bisa berjalan cepat. Ia akhirnya ketangkap sama Amru. Amru menyeret Nana keluar dari semak-semak, Nana tidak berontak.
"Kalau lo nurut, gue nggak bakalan nyakitin lo," ucapnya.
__ADS_1
"Lepaskan dia," seru Agil.
"Lo mau dia, menyerahlah," kata Amru.
Amru memperalat Nana agar Agil mau menurutinya. Ia meminta Agil menyerahkan diri.
"Memangnya gue siapa dia mau menyerah, gue bukan anggotanya. Lo mau bunuh gue pun juga nggak ngaruh," cicit Nana.
"Diam," Amru menarik rambut Nana sampai merintih.
"Jangan sentuh dia atau lo mati," ancam Agil.
Amru tertawa renyah, ia mengeluarkan pisau dan mendekatkan di leher Nana.
"Maju selangkah, dia akan mati," ujarnya sembari tertawa penuh kemenangan.
Jantung Nana berdetak tidak karuan, ia benar-benar ketakutan.
Tenang Nana, tenang, pikirkan cara buat keluar dari posisi ini, batinya.
"Menyerah atau lo akan lihat dia tinggal nama," seru Amru lagi.
Agil mengangkat tangan, ia tidak mempunyai pilihan lagi. Meskipun Nana bukan siapa-siapanya baginya. Namun ia berada dalam pihaknya saat ini. Jadi Agil harus melindunginya.
Nana memejamkan mata sebentar, ia mengatur strategi agar bisa keluar dari situasi ini.
Nana mendorong tangan Amru hingga pisau di tangannya terjatuh. Nana menginjak kaki Amru lalu berlari kearah Agil setelah terlepas.
"Sialan, matilah kalian," Amru berlari menuju Agil. Ia melayangkan pukulan namun Agil bisa menghindarinya.
"Gue harus segera pergi sebelum mereka banyak yang datang," ujarnya sembari berlari menuju parkiran dekat makam. Ia sudah janjian sama Rizal.
“Mau kemana?” tarik Agil yang sudah berada di dekat Nana.
"Pulang," jawab Nana saat Rizal datang.
"Lo pulang sama gue," Agil menarik tangan Nana tidak membiarkannya pulang dengan ojek.
"Oh, jadi ini pacar Eneng. Cakep bener pantesan di susulin," ucap Rizal sembari mengangguk-anggukan kepala.
"Bukan pacar di bilang, udah ya gue balik," Nana berusaha melepaskan pegangan Agil namun Agil tidak membiarknya.
"Bang, dia biar jalan sama gue. Lo ojek dekat sekola Ksatri kan?" tanya Agil.
"Iya."
"Gue bayar nanti di sana, biar cewek gue jalan bareng gue," kata Agil.
"Siap, Neng cabut dulu abang."
__ADS_1
"Bang, jangan pergi," Nana meminta Rizal untuk tidak pergi meninggalkanya bersama Agil.
Agil menoleh kearah Nana dengan wajah datar, seakan mengancam Nana. Nana pun langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
...ΩΩΩΩ...
Agil membawa Nana ke markas Lucifer, mungkin lebih tepatnya rumahnya karena tempatnya sangat rapi dan nyaman. Rumah yang ada di ujung perumahan, yang jarak dengan rumah lainnya lumayan jauh. Jadi sangat sepi.
"Ini di mana?" tanya Nana sembari melepas helmnya.
"Di markas," sahutnya. Agil menggandeng Nana masuk ke dalam.
"Duduk," pinta Agil.
Nana menurut saja, karena tak bisa kabur juga. Nana melihat penjuru ruangan tamu yang sangat rapi untuk kadar markas sebuah geng.
Nana menyenderkan tubuhnya, ia memegangi tangannya yang mulai terasa pegal.
"Jadi gini rasanya berantem sungguhan," lirihnya.
Agil datang membawa baskom dan kain untuk menyeka luka Nana. Agil menarik dagu Nana pelan, ia melihat wajah Nana yang penuh lembam dan darah.
"Lo kenapa nekat?"
"Gimana kalau lo kenapa-kenapa?" Omel Agil menarik tangan yang di pegangi Nana terus.
Nana menangis, ia sudah menahan agar tidak nangis. Tapi mendengar pertanyaan Agil membuat pertahanannya runtuh.
"Kenapa menangis?" Agil panik.
“Lo kenapa lama sekali datangnya, tangan gue sakit,” Nana mengibaskan tangannya.
"Gue hampir mati juga, kenapa lo lama," Nana menangis semakin jadi.
Sebenarnya Agil ingin memarahi Nana, namun saat ia menangis rasanya tidak tega kalau membantak cewek yang sudah berani berkelahi membela anggotanya meskipun tidak diminta.
Agil menarik Nana di dalam pelukannya, ia mengusap lembut untuk menenangkanya.
...ΩΩΩΩ...
Sungguh pemandangan yang indah untuk para anggota Lucifer, melihat sang ketua memeluk cewek.
“Manisnya,” celetuk Toro yang membuat Agil dan Nana kaget, dengan cepat Agil melepaskan pelukannya.
“Iya, seperti film-film romantis,” sahut Gavin.
“Gue meleleh, lumer, menguap, membeku, menyublim, mencintaimu,” celoteh Toro yang membuat semua orang tertawa.
Wajah Nana memerah, ia malu ternyata menjadi tontonan Geng Lucifer. Dan kembali lagi dia ingin memiliki ilmu menghilangkan diri.
__ADS_1
“Berisik,” seru Agil.
Agil salah tingkah ketahuan sama teman-temannya. Ia memberikan kepada Nana kain agar menyekanya sendiri lukanya.