Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Menyukainya?


__ADS_3

Nana menyeringai saat ia mengusap kain di ujung bibirnya, rasanya perih saat tersentuh kain yang basah.


“Na, kenapa lo bisa ada di situ?” tanya Toro.


“Kenapa lo bisa tahu bakalan ada yang menyelakai gue?” tanya Agil.


“Dan juga kenapa lo nggak kabur saja, mereka itu berbahaya loh,” ujar Gavin.


“Lo-,”


“Cukup, kenapa kalian bertanya berbarengan.Gimana gue jawabnya coba,” Nana memotong ucapan Hendra sebelum selesai memberikan pertanyaan.


“Lo tahu kan tadi itu sangat berbahaya?” Agil menatap Nana lekat, ia ingin membantu Nana namun malu nanti di kecengin teman-temannya.


“Gue sudah bilang sama mereka jangan lawan gue, eh malah ngeyel,” ucap Nana membuat mereka berempat melongo saat mendengar cerita dari Nana. Bisa-bisanya dia tawar-menawar dengan musuh di saat genting.


“Lo beneran ngomong kayak gitu?” Hendra mengangkat ujung bibir kiri dengan mengernyitkan keningnya.


“Iya, mereka nggak mau dengar,” jawabnya tanpa dosa.


Ya Tuhan, ada ya cewek modelan begini, batin Agil


“Nana, siapa yang ingin menyelakai gue?” tanya Agil.


“Yang tadi mau bunuh gue, kemarin sebelum kita bertemu di mini market gue sempat lihat mereka,” cerita Nana.


“Amru,” ucap Agil sembari mengepalkan tangannya.


“Dia memang licik, nggak ada habisnya untuk menyerang kita dari belakang. Apa perlu kita serang ke markasnya sekarang?” ujar Hendra, jiwanya menggebu-gebu untuk menghabisi Geng Tiger.


“Jangan, kita terlalu gegabah untuk menyerang ke markasnya,” jelas Agil.


“Tunggu sebentar, mengesampingkan obrolan ini, kenapa kalian berdua bertemu di mini market. Kalian sudah pacaran ya?” Toro mengalihkan pembicaraan.


“Nggak,” Nana dan Agil menolak bersamaan.


“Iya juga nggak apa-apa kok, kalian serasi tahu,” jelas Gavin.


“Gue juga setuju,”


Agil melirik ke arah ketiga sahabatnya, harusnya mereka tahu di hatinya masih ada Zola belum tergantikan meskipun perasaan aneh mulai menyerang dengan kehadiran Nana yang di luar dugaan.


“Iya, iya, lo kan cintanya sama Zola,” cicit Gavin.


Nana menarik tangannya, meletakkan kain bekas untuk mengompresnya. Benar yang di katakan Gavin kalau Agil itu mencintai Zola, sangat jelas namun kenapa ia hampir saja baper karena di panggil ceweknya waktu di depan Rizal dan Amru.

__ADS_1


“Gue balik dulu ya,” ucap Nana.


“Gue anterin,” kata Agil.


“Nggak usah deh, gue naik ojek saja sekalian bayar yang tadi,” Nana menolak diantar Agil. Entah kenapa dia menjadi malas dengan Agil setelah nama Zola menjadi perbincangan.


“Wah, ada yang cemburu ini sepertinya, sampai nggak mau dianterin pulang,” goda Toro.


“Siapa yang cemburu,” Nana mengambil kain di depannya lalu melempar ke tubuh Toro.


“Gue anterin,” Agil mengambil kunci motor.


“Gue bisa pulang sendiri, mending lo istirahat saja,” Nana beranjak keluar.


Ia mengambil ponsel untuk menelepon Rizal yang mendadak menjadi ojek langganannya saja.


Agil mengambil ponsel Nana dan memasukan ke kantong celananya, “Gue bilang, gue anterin lo balik,” Katanya sembari memakaikan jaket ke tubuh Nana.


“Gue nggak perlu pakai jaket,” Nana berusaha melepas jaketnya namun di tahan oleh Agil.


“Pakai, lo mau di lihat orang dengan baju yang kotor seperti ini?” Agil membenarkan jaketnya lagi.


“Nanti di ambil lagi, mending nggak usah sekalian,” ucap Nana mengingat yang kejadian di mall.


Nana tidak mau mengulang yang kedua kalinya, itu hanya akan membuat beban pikirannya bertambah.


“Lo sih Vin, pakai acara menyebut-nyebut nama Zola. Marahkan Nana,” bisik Toro.


“Lah tapi kan benar, yang ada di hatinya Agil cuma Zola.”


“Ya tapi jangan ngomong di depan Nana juga kali, kasiahan kan dia,” tutur Hendra.


“Berantem kan mereka,” Toro menepuk lengan Gavin.


“Nggak akan,” jawabnya tegas.


Agil merapikan jaket yang di pakai Nana, ia juga merapikan rambut Nana lalu memakaikan helm. Mendadak jantung Nana seperti rolercoster, tiba-tiba turun tiba-tiba naik. Seandainya tidak memakai helm pasti terlihat sangat jelas wajahnya memerah.


“Positif ini mah, meskipun masih ada Zola namun Nana mulai memasuki ke ruangan khusus,” ujar Toro.


“Benar, gimanakalau kita jomblangin mereka berdua,” usul Hendra.


“Hen, sejak kapan lo setuju sama hubungan mereka?” Toro melihat ke arah Hendra. Sejak kedatangan Nana, ia terus menolak kalau Toro dan Gavin ingin menjodohkan Nana dengan Agil.


“Sejak saat pertama, ku mulai merasa,” jawab Hendra dengan menyanyi.

__ADS_1


“Gue cabut dulu,” seru Agil.


Mereka langsung berjongkok, tanpa menjawab Agil takut ketahuan padahal memang Agil sudah tahu sejak awal mereka mengintip.


Nana dalam perjalanan di buat campur aduk dengan sikap Agil padanya. Sikap Agil berubah-ubah setiap waktu. Nggak jelas kadang baik banget kadang ketus banget. Selalu di luar BMKG tingkahnya yang membuat Nana hanya bisa melongo.


Agil memarkirkan motornya di mini market, “Turun sebentar,” pinta Agil.


“Lo mau beli apa?” tanya Nana.


“Minum, haus sejak tadi belum minum,” katanya sembari mencopot helmnya.


Nana mengekor di belakang Agil, ia melihat-lihat makanan yang di lewatinya.


“Lo mau ini?” Agil mengambil susu kotak rasa coklat.


Nana mengangguk sembari senyum seperti anak kecil yang di berikan jajan. Ia sangat senang dengan coklat, segala makanan yang berasa coklat.


“Ice cream?” tanya Agil lagi.


“Boleh?” tanya Nana.


“Ambil,” suruh Agil.


Sedikit tidak tahu diri Nana mau saja di jajanin sama Agil, meskipun ia selalu bilang kalau tidak kenal. Namun dibeliin makanan tidak menolak.


Nana dan Agil duduk di depan mini market, Nana membuka tutup cup es cream.


“Coba sini,” kata Agil mengeluarkan salep dari kantong plastik kecil.


Nana memeberikan ice cream yang baru saja di bukanya, “Nih,” jawabnya sedikit manyun.


Ia mengira Agil ingin meminta ice cream yang baru saja di belinya.


“Gue nggak minta ice creamnya, tapi wajah lo” Agil menarik dagu Nana pelan. Agil memberi salep ke luka memar di wajah Nana.


Nana mengaduh saat merasa perih ketika salep mendarat di kulitnya.


“Tahan sebentar,” Katanya. Agil meniupi luka setiap dia selesai memberikan salep.


Jantung Nana langsung tidak aman, apakah ia tidak tidak boleh baper kalau di perlakukan seperti manis seperti ini.


Nana memberanikan diri menatap wajah Agil, wajah yang lumayan putih dengan garis wajah yang tegas. Matanya sangat cantik, Nana terhipnotis kali ini. Ia tidak melihat Agil yang garang di depannya, namun lebih ke pacarable kata orang-orang sekarang.


"Jangan ulangi lagi seperti tadi, itu berbahaya. Gue nggak mau lo sampai celaka," Agil mengusap kepala Nana.

__ADS_1


Apa ini nyata, rasanya aneh sekali bisa menatap dia gue menjadi deg-degan. Apa gue mulai menyukainya, tanya Nana dalam hatinya.


__ADS_2