
Nana melirik ke ponsel yang ada di meja riasnya, tanganya yang sedang merapikan rambutnya langsung mengambil ponselnya. Ia meggeser tombol hijau dan menekan loudspeaker.
“Apa?” Nana mengoles bibirnya dengan lipteen.
“Gue sudah di bawah, buruan turun.”
“Ok,” Nana memutus sambungan teleponnya.
Ia meraih tas, lalu bergegas menuruni tangga menuju tempat makan yang menjadi satu dengan dapur.
“Hati-hati,” kata Ozi.
“Udah sarapan belum?” tanya Nana sama Zia.
“Belum makanya kesini,” Zia merringis.
Ozi tersenyum, ia meletakkan dua piring nasi goreng dengan toping telur ceplok setengah marang di meja.
“Sarapan disini setiap hari juga nggak apa-apa, om malah seneng jadi Nana ada teman sarapan.”
“Benar, lo juga boleh kok nginep disini setiap hari,” tambah Nana.
“Kalau nginep sini tidurnya sama siapa?” Zia meringis.
“Ya sama gue lah masa sama Om,” Nana berdesis.
“Iya siapa tahu sama Om Ozi,” Zia terkeke. “Om, mau nggak jadi suami Zia?” seru Zia.
Mendengar candaan Zia, Ozi hanya menanggapi dengan senyuman sambil geleng kepala.
“Gue yang nggak mau punya tante macam lo,” Nana menyeringai.
“Emangnya kurangnya gue apa?” Drama obrolan Nana dan Zia di mulai.
“Banyak," jawab Nana jelas singkat dan padat.
“Sudah-sudah jangan pada berdebat, sekarang makan nanti kalian kesiangan lagi.”
“Om, nanti kalau Om nikah jangan tinggalin Nana ya, sama kalau nikah jangan cari perempuan jahat. Nanti misahin kita lagi,” Nana menatap Ozi dengan wajah sedih. Ia takut kalau sampai omnya itu meninggalanya. Maka ia akan hidup sendiri tanpa satu keluarga pun.
“Kamu ngomong apaan sih, om selamanya akan jagain kamu sampai kamu punya suami,” Ozi mengusap kepala Nana.
“Om, Zia juga mau dong diusap kepalanya,” rengek Zia.
“Ih ganjen, dia om gue," Nana menepuk lengan Zia.
“Om lo juga om gue kali," Zia memeletkan lidahnya.
__ADS_1
Ozi terkekeh, ia mengusap rambut Zia seperti permintaanya. Dia anak perempuan yang sedang beranjak remaja itu memang sudah seperti anak dia sendiri. Meskipun Zia tidak kerap jadi satu tapi karena dia baik sama Nana, selalu menemani Nana maka Ozi pun mengagapnya sebagai anaknya juga.
“Uhuy, di elus juga rambut gue,” Zia senyum nyengir-nyengir mengejek Nana.
...ΩΩΩ...
Nana dan Zia saling berpandangan saat hendak memasuki gerbang sudah di hadang sama Gia dan kedua sahabatnya.
“Minggir,” usir Zia.
Gia tak bergeming, ia menatap lurus dan tajam kepada Nana.
“Ada masalah?” tanya Nana.
“Lo jangan coba-coba dekati Agil, sudah gue bilang beberapa kali masih saja ngeyel,” bentak Gia.
“Ya ampun, lagian siapa sih yang mendekati Agil.”
“Kalau nggak kenapa lo sok-sokan ngasih batagor segala, caper?” ucap Gia sinis.
“Ya terserah Nana dong mau ngasih apa ke siapa, orang lo bukan pacarnya,” Zia di buat kesal pagi-pagi.
“Nah, sadar diri kalau mampu saingin jangan melabrak seperti ini,” ledek Nana.
Gia mengangkat tanganya, siap menluncurkan ke pipi Nana namun Agil langsung menabrak Nana sehingga Nana bergeser dan tangan Gia mengenai lengan Agil.
“A-Agil, sorry nggak sengaja,” Gia panik, justru tamparanya mengenai Agil bukan Nana.
“Mereka yang cari masalah,” Gia menuduh Nana dan Zia.
Agil melirik kearah Nana, ia langsung menggelengkan kepalanya.
“Calon pacar lo yang ambisius itu yang bikin masalah,” Ujar Nana lalu menarik tangan Zia. Mereka meningalkan tempat sebelum semakin rumit.
Agil menatap Gia dan kedua orang temannya letak, ia tahu kalau banyak di sukai wanita. Namun ia tak suka kalau sampai mengaku-ngaku menjadi pacarnya.
“Sejak kapan kita pacaran?” Nada datar, nan dingin menusuk telinga Gia.
“Jangan terlalu halu, sakit nanti,” sahut Toro.
“Mending sama gue saja,” kata Gavin.
Kaki Gia bergetar, tiba-tiba lemas suara Agil membuatnya tak punya tenaga.
“Sorry, tapi gue benar-benar suka sama lo,” dengan mulut bergetar Gia memberanikan diri menyatakan kepada Agil.
“Jangan pernah lo mengatakan ini lagi di depan gue ataupun orang lain, kalau lo mau aman. Asal lo tahu gue sudah punya orang yang gue suka.” Jelas Agil.
__ADS_1
“Apa itu Nana?”
“Bukan urusan lo siapa cewek yang gue suka, tapi yang perlu lo ingat sampai lo terus begini, hidup lo nggak akan tenang.” Agil sedikit mendorong Gia sehingga ada celah untuk berjalan masuk ke dalam sekolah.
“Dengarin itu, Agil nggak pernah main-main dengan ucapanya. Ngerti nggak?” ucap Toro saat sejajar dengan Gia.
...ΩΩΩ...
“Hai,”
“Hai,” jawab Nana dan Zia bersamaan setelah itu mereka berdua kembali asyik dengan topik yang sedang mereka berdua bicarakan.
“Kenalin gue Bagas anak baru di kelas ini,” Bagas memperkenalkan diri dengan Nana dan Zia.
“O, anak baru. Salam kenal bagas,” Nana tersenyum kearah Bagas lalu fokus lagi sama Zia.
“Gue duduk di depan kalian, minta bantuanya ya.”
“Depan kita, Sena terus Farhan kemana?”
“Tuh pindah pojok sana, katanya dia mau pindah karena kita sering berisik jadi nggak konsen belajarnya,” Jelas Sena tentang kepindahan tempat duduk Farhan sehingga anak baru duduk bersamanya.
“Yah, nggak bisa nyontek dia lagi dong,” Zia sedih jauh dari Farhan, karena dia lumayan pinter.
“Bisa-bisa nilai kita amblas ini,” tambah Nana.
“Kan masih ada gue.”
“Kepintaran lo sama kita berdua itu sama nggak usah belagu Sen,” Ujar Zia.
Bagas tersenyum, menurutnya teman-teman barunya otu sangat lucu. Meskipun dirinya masih di cuekin namun dia yakin kalau mereka akan menjadi sahabatnya dalam waktu dekat. Dia hanya butuh pendekatan saja.
“Lo kenapa lihatin gue seperti itu?”
“Gue mau tahu siapa nama lo,” Bagas tersenyum.
“Gue Nana, dan iini Zia.”
“Gimana kalau gue traktir makan di kantin nanti,” Bagas menawarkan untuk menraktir mereka.
Nana menatap Zia, dia mengangguk kepala menyetujui ajakan Bagas.
“Ok deh.”
“Gue ikut,” Sena melas.
“Iya-iya, lo ikut.”
__ADS_1
“Siap.”
Bagas mengangguk-anggukan kepala, langkah awal pendekatan kepada teman barunya berhasil. Memang benar traktiran itu jarang ada yang mau menolak.