
Nana berpegangan erat, ia memasukan wajahnya ke dada Agil karena malu menjadi tontonan orang-orang di rumah sakit.
“Agil, turunin gue,” pinta Nana.
Agil hanya diam, dia tidak mau menuruti kata Nana. Ia mau merawat Nana, semua ini salah dia. Dan kali ini dia tulus melakukannya bukan karena desakan dari siapapun seperti waktu di uks. Yang menjaga Nana karena permintaan Zola.
Agil membuka pintu mobil, ia menduduk kan Nana. Tangan kanannya menarik seatbelt, Nana menahan napas ketika Agil sangat dekat dengan dirinya. wajahnya memerah saat hembusan napas Agil mengenai wajahnya.
Agil menarik kepalanya keluar, ia pun merasakan tubuhnya panas. Kepalanya belum keluar sempurna sudah ia angkat sehingga kejedot atas pintu mobil. Agil nyengir sambil mengusap kepalanya, ia malu langsung menutup pintu mobil.
“Lo nggak apa-apa?” Nana mengusap kepala Agil yang kejedot.
Agil menatap Nana, setelah menjadi aneh dan keren kini ia melihat sisi perhatian dari Nana.
“Gue nggak apa-apa?” Agil meraih tangan Nana dan menurunkan.
“Maaf,” Nana menunduk, ia merasa bersalah karena dengan berani memegang kepala Agil.
Agil segera tancap gas, ia mengemudi dengan kecepatan sedang. Satu jam perjalanan dari rumah sakit sampai ke rumah Nana.
Mobil berhenti di depan rumah dengan tampilan dua buah meja dengan kursi panjang. Tak lupa payung besar. Agil sedikt berlari, untuk membukan pintu Nana.
“Sepertinya gue tadi belum ngomong alamat rumah gue, kok lo bisa tahu rumah gue?” tanya Nana dengan heran.
“Buruan turun,” Agil tidak mau menjawab, ia tak mungkin mengatakan mengikutiya setelah ia membantu dirinya di sore itu.
Agil mendorong pintu, dan menyuruh Nana masuk lebih dahulu. Ozi meletakkan ponsel yang sedang menempel di telinganya.
“Nana kamu kemana saja, dan kenapa dengan tangan kamu?” Ozi menarik Nana dalam pelukannya.
“Om, sakit,” rintih Nana manja saat tangannya terlalu erat dalam pelukan Ozi.
“Maaf-maaf, kamu kenapa dan apa yang terjadi? Kenapa nggak bisa di telpon?” Ozi memberondong pertanyaan.
Ozi cemas, Nana yang hanya ijin pergi tidak sampai magrib ternyata pulang hampir pukul sembilan malam itu pun dengan luka di tangannya.
“Satu-satu kali om,”
“Kamu siapa?” Ozi menggeser Nana di sampingnya lalu menatap Agil, kedua matanya menganalisa dari ujung kaki sampai ujung rambut Agil.
“Saya Agil,” Agil memperkenalkan diri, tak lupa ia mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Ozi menyambutnya, ”Apa kamu ikut geng motor?” tanya Ozi saat membaca tulisan yang ada di jaket Agil.
“Om, Agil itu teman sekolah Nana,” Nana mencoba mengalihkan perhatian Ozi terhadap pertanyaan Ozi untuk Agil.
“Kalian pergi berdua?” Ozi menatap Agil sekilas lalu kearah Nana lekat-lekat.
“Nggak Om, tadi setelah Nana makan mie pedas, Nana di ganggu orang di halte. Dan Agil menolong Nana, lihat wajahnya sampai babak belur seperti itu,” Nana menunjuk memar-memar di wajah Agil.
“Kamu nggak apa-apa kan?”
“Nggak Om, lihat aku baik-baik saja kan,” Nana memutarkan tubuhnya menunjukkan kalau dirinya tidak terluka berat.
“Agil, ayo duduk dulu biar Om buatin minuman buat kamu.”
“Nggak usah Om, Agil langsung pulang saja,” Agil menolak di buatakan minuman, itu hanya akan memperpanjang pertanyaan yang akan di berikan oleh Ozi.
“Duduk dulu, biarkan Om berterima kasih sama kamu, Nana ambil es buat seka luka Agil.”
“Iya Om.”
Agil dengan berat hati ia duduk dua kursi depan kasir, ia melihat ruangan yang tak besar. Namun sangat rapi, kursi meja tertata rapi. di tambah setiap sudut ruangan ada tanaman hias. Kafe yang cocok untuk mencari ketenangan selain hanya sekedar makan.
Nana duduk di samping Agil, ia perlahan menempelkan es yang di bungkus dengan kain.
Nana memberikannya tanpa protes , tangan kanannya yang masih sakit membuat ia tak bisa bergerak terlalu banyak. Ozi menaruh dua gelas teh hangat, dan juga pancake di meja.
“Makasih Om, nggak usah repot-repot,” Agil sungkan di jamu dengan hangat. Sedangkan kejadian ini sebenarnya salahnya, Nana ikut menanggung semua karena bersamanya.
“Ini nggak repot, oiya Agil apa kamu perlu ke rumah sakit. Biar om anterin.”
“Nggak usah Om, Agil nggak apa-apa,”
“Nana, pasti kamu tidak melawan orang-orang jahat itu kan?” tebak Ozi.
Nana meringis, omnya pasti mengira kalau Nana hanya berlari dan terus minta tolong sama Agil.
“Kamu itu ya, Om kan sudah bilang lawan mereka. Bagaimana kalau nggak ada Agil tadi, atau nggak ada orang yang datang menolong kamu. Percuma kan Om sekolahkan kamu bela diri,” omel Ozi.
“Percuma kamu menyandang sabuk hitam, tapi kamu nggak bisa mempraktekannya," Ozi terus mengomel, ia masih belun puas mengomeli keponakannya itu.
“Kalau orangnya satu Nana berani, ini orangnya banyak Om, mana orangnya besar-besar. Nana takut,” Rengek Nana dengan sangat manja.
__ADS_1
“Sabuk hitam?” Agil kaget, ternyata cewek yang menurutnya aneh itu menyandang sabuk hitam.
“Iya, tapi ya begitu dia penakut, kalau ketemu orang jahat bukanya di lawan malah kabur,” Ozi geleng-geleng kepala.
Agil menatap Nana, Nana menggaruk kepalanya ia malu aibnya di bongkar oleh Omnya.
“Om, jangan bikin malu Nana kenapa. Wajarkan kalau Nana takut sama orang-orang berbadan besar. Bagaimana kalau wajah Nana memar-memar.”
“Sudah sana naik istirahat, sudah malam biarkan om ngobrol sebentar sama Agil.
Jantung bergetar, seperti ia mau ngobrol sama calon mertua padahal dia tidak menjalin hubungan apa-apa sama Nana. Di bilang teman saja tidak, soalnya mereka hanya tahu nama bukan kenal dekat.
“Om mau ngobrol apa?” Nana was-was.
“Cuma mau ngucapin terima kasih, buruan naik.”
Nana cemas meninggalkan Agil, takut omnya akan berbicara yang aneh-aneh membuat Agil marah dan yang pasti akan membuat dia semakin di bermasalah dengan Agil.
“Agil apa kamu teman sekelas Nana?”
“Bukan, kita beda kelas. Ada apa ya Om?”
“Om mau tanya, apa di sekolah dia punya musuh?”
“Musuh?”
“Maksud Om, ada teman yang jail. Kemarin Nana seperti di bully, namun dia cuma bilang temannya ulang tahun jadi mereka main siram-siram air," Ozi menceritakan kejadian beberapa waktu lalu.
Agil tak bisa menjawab, orang yang ia maksud itu adalah dirinya. Orang yang telah jail membuly keponakanya ada di depannya.
“Sudah lah nggak usah di pikirkan lagi, mungkin kamu tidak tahu karena beda kelas. Oiya, minum tehnya mumpung masih hangat.”
“Makasih Om,” Agil meneguk teh langsung habis.
Setelah itu Agil pamit dengan Ozi, ia tidak bisa lama-lama di rumah Nana. Ia akan terus merasa bersalah dengan sikap yang ia lakukan sama Nana.
“Agil.”
“Ya Om.”
“Om minta tolong, jagain Nana di sekolah bisa. Om cemas kalau sampai ada yang jahil. Selain penakut, Nana juga sering konyol, gegabah dalam melakukan sesuatu,” Ozi meminta bantuan Agil untuk menjaga Nana.
__ADS_1
“Saya nggak bisa janji Om, tapi saya akan usahakan.”
“Terima kasih,” Ozi menepuk pundak Agil sambil tersenyum, meskipun tidak bisa di janjikan namun niat untuk mengusakanya sudah membuat Ozi merasa senang.