Kekasih Ketua Geng Lucifer

Kekasih Ketua Geng Lucifer
Ulang Tahun Nenek


__ADS_3

Nana hanya memanggutkan kepalanya ketika neneknya membanggakan cucu-cucu yang lain. Sedangkan dirinya selalu saja tidak di anggap. Lumayan menyesal Nana sore ini ikut di acara ulang tahun neneknya.


Pikirnya ia ikut akan meredaka pikirannya yang gundah gara-gara Agil yang memakinya ternyata justru semakin membuat moodnya hilang.


“Om, Nana mau keluar sebentar ya,” bisik Nana di telinga Ozi.


“Kamu mau kemana?”


“Toilet,” kata Nana sembari berdiri meninggalkan ruangan.


Hanya Ozi yang peduli dengan Nana, nenek dan saudara lain pun tidak menganggap Nana itu ada. Bahkan kalau dia pulang pun tak akan peduli.


Nana memandang ruangan yang penuh canda tawa, ia berjalan mencari tempat duduk lain di luar dan memesan makanan yang disukainya.


Tidak sengaja Nana bertabrakan dengan seseorang, “Maaf,” Nana menundukan kepalanya.


Orang itu melirik dengan mendengus saat tasnya terjatuh, ia memunguti barangnya yang terjatuh dan berlalu keluar restauran.


“Sadis banget sih,” gumam Nana.


Nana menghentikan langkahnya saat kakinya menginjak sesuatu, ia mengangkat kaki kananya. Sebuah flasdisk berwarna hitam terinjak kakinya. Nana mengambilnya lalu berlari keluar hendak mengembalikan kepada orang yang di tabraknya.


Nana mencari orang, ia berjalan mendekatinya namun langkahnya terhenti saat orang itu sedang memaki salah satu anak buahnya.


“Video itu sangat berharga, lo taruh di mana?” makinya.


“Maaf bos, aku tadi menaruhnya disini, atau jangan-jangan sudah ikut terbuang dengan bukti yang lain?” ujarnya.


Nana menatap flashdisk di tangannya, ia penasaran dengan isinya. Ia mengurungkan niatnya untuk mengembalikannya.


“Bodoh, tinggal satu itu bukti agar kita bisa memeras Mariska,” orang berkulit putih seumuran dengan Ozi memukul anak buahnya. Ia kesal anak buahnya menghilangkan bukti satu-satunya yang kini berada di tangan Nana.


“Bos, tenang saja. Kita hanya perlu mengatakan kalau kita masih memiliki bukti, maka dia tidak akan berkutik. Dan uang akan terus mengalir kepada kita,” ujar salah satu orang yang baru saja datang.


“Bagaimana dengan Amru, apa dia sudah membawa barangnya?” tanya bosnya.


“Tentu saja sudah bang, sekarang aku memiliki kerjaan lagi buat lo,” jawab Amru yang baru saja datang.

__ADS_1


“Dia,” Nana menutup mulutnya dan segera bersembunyi di balik mobil yang ada di parkiran itu.


“Apa?”


“Habisi Geng Lucifer,” kata Amru.


Nana mendelik mendengar Geng Lucifer di sebut, meskipun dia selalu saja di maki sama Agil bahkan tidak berteman namun dia tetap peduli karena ini demi kemanusiaan.


“Apa imbalannya?” tanyanya.


“Bang Tagor jangan khawatir soal imbalan, gue bakalan beri barang yang akan datang besok dengan percuma.”


“Ok, apa yang harus kita lakukan?”


“Bunuh Agil, ketua Geng Lucifer. Kalau perlu bumi ratakan semua anggota Lucifer.”


“Lo yakin?”


“Tentu saja, buat seolah Agil mati kecelakaan di balap liar besok,” kata Amru.


“Ok.”


Nana bergegas kembali masuk restauran, ia pun tidak jad pesan makanan sendiri. Ia mau mengajak Ozi pulang setelah mendapatkan informasi yang sangat penting.


“Dari mana saja kamu? Orang tidak punya sopan santun sama sekali,” bentak neneknya saat ia nongol di ambang pintu.


“Nana dari toilet Ma,” Ozi membela Nana.


“Om, pulang yuk,” ajak Nana. Ia tidak peduli dengan neneknya yang mengomeli dirinya.


“Nana, kamu bisa sopan tidak. Ini kan hari ulang tahun nenek kenapa meminta Om Ozi pulang padahal acara belum juga mulai,” Cerocos Sofia sepupu Nana.


“Dengar kata Sofia, sudah baik pintar. Tidak kayak kamu tidak punya sopan santun sama sekali. Lihat Sofia, sudah mendapatkan beasiswa, penghargaan yang sangat membanggakan. Tidak kayak kamu, bodoh, nggak tahu diri hanya merepotkan Om kamu saja,” Maki neneknya.


Nana menutup kedua matanya, mengambil napas dalam-dalam. Ia siap mengeluarkan unek-uneknya.


“Ma, kenapa ngomong seperti itu?” Ozi membela Nana sebelum Nana memaki semua keluarga yang datang.

__ADS_1


“Ozi, kamu itu terus saja membela anak pembawa sial ini. Heh Nana, Ommu ini juga butuh pendamping. Bukan hanya mengurusi kamu saja.”


Kedua mata Nana panas, tenggorkanya sangat dongkol. Ia pikir setelah beberapa tahun tidak bertemu semua sudah mereda namun Nana salah. Neneknya itu semakin menjadi-jadi. Apalagi Sofia cucu kesayangannya itu terus mengompori neneknya sehingga semakin membencinya.


“Nenek, bagaimana bisa dia menghidupi dirinya sendiri. Dia kan bodoh, dan tidak memiliki apa-apa.”


“Sofia jaga mulut kamu. Ma kenapa mama tega sama Nana, dia itu cucu mama. Anak dari Kak Fera.”


“Ozi, dia yang lebih tega, membunuh anak mama beserta menantu mama.”


“Ma itu takdir, tidak ada yang membunuh,” tegas Ozi.


Kecelakanan yang terjadi hampir sepuluh tahun lalu yang membuat kedua orang tua Nana meninggal dunia. Kecelakaan tunggal saat mereka pergi menjemput Nana yang main di rumah temannya. Dan karena kejadian itu neneknya terus menyalahkan Nana. Dialah penyebab kematian kedua orang tuanya.


Nana pergi, ia membanting pintu retauran. Ia mendengar neneknya masih memaki dirinya dengan anak pembawa sial dan pembunuh orang tuannya.


“Menyesal sekali Ozi datang, kalian semua tidak mempunyai hati nurani. Ma, ini akan menjadi kedatangan Ozi yang terakhir kalau mama masih saja seperti ini. Ozi kecewa,” Ozi mengambil tasnya lalu mengejar Nana.


“Nana,” panggil Ozi.


Nana sudah tidak ada di area restauran, Ozi mencoba menghubungi Nana namun tidak diangkat.


“Pasti Nana sakit hati,” ucapnya langsung masuk kedalam mobilnya untuk mencari Nana.


Nana pulang dengan naik taksi, ia juga mematikan data agar tidak ada yang bisa menghubunginya. Nana sedang ingin menyendiri. Di sepanjang perjalanan Nana mengis tersendu-sendu.


Neneknya begitu tega mengatai dirinya, seharusnya neneknya adalah rumah baginya bukan malah membencinya.


“Harusnya aku tidak terlahir dari rahim mama, biar mama tidak sial dan meninggalkan nenek,” ujarnya dengan sesenggukan.


“Neng, mau turun mana?” tanya sopir taksi yang sejak tadi memperhatikan Nana namun tak berani bertanya.


“Jalan dulu saja Pak,” kata Nana. Dia masih bingung mau pergi kemana.


Nana melihat keluar jendela, memandang pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Nana menghentikan taksi saat melihat mini market. Nana mengambil coklat, ice cream tiga rasa ukuran delapan liter.


Nana duduk di kursi yang di sediakan oleh mini market, ia membuka tutup ice cream. Nana melahap dengan cepat ice creamnya. Matanya kembali memanas saat ingat ucapan nenek dan sepupunya.

__ADS_1


Semakin dalam ia menekan agar air matanya tidak keluar semakin besar suapan ice cream yang masuk ke dalam mulutnya. Ia ingin meredakan rasa sakitnya dengan dingin, lembut dan manisnya ice cream.


Ia menutup mata dengan tangan kirinya saat tak tahan untuk tidak menangis, ia pun tidak peduli saat menjadi pusat perhatian orang-orang yang datang ke mini market.


__ADS_2