
Nana melepaskan pegangan tangan Bagas, ia berjalan sejajar dengan Bagas.
“Lo ada apa cari gue?” tanya Nana.
“Lo tadi buru-buru keluar kelas gue kira lo ada masalah apa, makanya gue ikutin lo,” jelas Bagas.
Bagas tidak bisa cuek dengan Nana ada pergerakan yang mencurigakan sedikit dia pun langsung penasaran.
“Nana, lo kenapa sih pergi ke depan warung belakang?” tanya Bagas saat dirinya baru saja menempelkan pantatnya di kursi.
“Lo ada perlu apa Na kesana?” Zia yang sedang sibuk menyalin tugas milik Sena langsung menghentikannya.
“Iya, disana itu banyak cowok-cowok nggak bener loh,” Sena ikut menasehati Nana.
“Untung saja gue datang tepat waktu, kalau nggak sudah di bawa Agil pergi entah kemana,” adu Bagas kepada Zia dan Sena.
Nana mendengus kesal, teman-temannya langung menyerang dirinya tanpa tahu tujuan dia.
“Nana, lo tahu kan kalau Agil itu ketua geng Lucifer, musuh mereka itu banyak. Gue takut kalau lo jadi sasaran mereka.”
“Gue tahu, tapi gue itu nggak ada hubungan apa-apa sama Agil, jadi kenapa gue jadi sasaran,” ujar Nana manyun.
Nana merasa tidak senang dengan Bagas yang mulai mengatur dirinya, menurutnya ia tahu apa yang dia kerjakan.
“Yang dikatakan Bagas itu benar Na, ya kalau musuhnya pikir lo pacarnya bagaimana, pastikan mereka bakalan kejar lo sampai dapat.”
“Pengalaman gue tentang geng motor ya, itu tidak ada baiknya. Bahkan hidup pun tidak akan pernah tenang. Karena geng motor memiliki musuh dimana-mana. Mereka itu biang masalah, hidup tidak teratur, melanggar peraturan, dan tindak kriminal,” Bagas mendidkripsikan panjang lebar tentang geng motor.
“Tapi ada kok geng motor yang bagus, gue lihat mereka sangat taat beribadah, sopan, penolong,” Nana masih melakukan penyangkalan bahwa nggak semua geng motor itu seperti yang di katakan oleh Bagas.
“Ya ada satu banding sejuta, dan itu pasti bukan geng Lucifer,” kata Bagas dengan tegas dan mantap.
“Geng prediksi jaya-jaya,” kata Nana langsung disusul dengan tawa.
“Gembel lo,” Zia ikut tertawa.
Tentu saja itu geng motor yang sangat baik, dan lucu. Itu tidak bisa di sandingkan oleh geng motor yang ada.
“Itu meh geng bapak-bapak, bukan geng motor,” tambah Sena.
“Gue harap lo benar-benar jauhi geng Lucifer,” Kata Bagas lirih namun terdengar oleh ketiga orang di sebelahnya itu.
“Lo perhatian banget sama Nana, Gas?” Sena menatap curiga Bagas.
“Kalau gue lihat-lihat benar juga, lo bahkan mencemaskan Nana tanpa kita. Kan bisa saja kita nanti di ganggu sama mereka,” Zia ikut menatap Bagas, mengintrogasinya terang-terangan di depan Nana.
__ADS_1
“Lo nggak suka sama gue kan?” kata Nana to the point.
Wajah Bagas berubah merah merona, ia malu karena perbuatanya terlihat sangat jelas dengan cewek-cewek itu. Entah karena tindakanya yang terlalu jelas atau ketiga teman barunya itu yang terlalu peka.
“E-enggak lah, gue itu cuma mau jaga Nana dan tentunya kalian. Karena kan kalian teman gue,” Bagas menyangkalnya.
“Bagus deh, jangan sampai lo suka sam gue. Atau lo akan menyesalinya seumur hidup,” Nana memperingatkanya.
Bagas merasa heran karena Nana sudah mengingatkanya, namun tak membuatnya menyerah. Bagas bakalan pelan-pelan mengambil hati Nana.
“Zia,” panggil Bagas pelan.
“Hem?” Zia mengangkat kepalanya.
“Kenapa Nana bilang kayak begitu? Apa dia punya trauma?” bisik Bagas.
“Tidak.”
“Terus kenapa begitu? Apa dia punya pacar?”
“Lo beneran suka ya?” Zia tersenyum jail.
“Nggak, gue cuma penasaran kenapa dia mengatakan seperti itu?”
“Dia belum pernah pacaran, tapi dia itu memiliki kekasih kecil.”
“Gue juga nggak tahu,” Zia menyandarkan tubuhnya sembil melipat kedua tangannya.
“Kalian kenapa bisik-bisik?” Nana menatap Bagas dan Zia bergantian.
Zia mengibaskan tangan kanannya, “Nggak ada.”
*****
“Bos,” panggil Hendra dari ambang pintu, Agil mengangkat kepalanya menatap Hendra.
“Gue temuin hp ini, gue rasa punya Nana,” Hendra menaruh ponsel yang sudah menjadi dua bagian.
“Lo yakin ini milik dia?” Agil memastikan lagi.
“Ya, Obim menemukan hp ini di dekat motor lo semalam.”
Agil mengambil lalu membolak-balikan ponsel yang sudah jadi dua, ia mengaguuk-angguk mengerti kenapa pesannya nggak terbalas.
“Mau kemana Gil?” tanya Hendra saat Agil meninggalkan dirinya tanpa pamitan.
__ADS_1
“Gue ada urusan sebentar,” jawab Agil tanpa menoleh. Hendra yang tidak mau di tinggal sendiri langsung berlari mengikuti Agil.
Toro dan Gavin yang hendak masuk kelas langsung mengurungkan niatnya memilih ikut Agl.
“Kalian mau kemana?” tanya Toro yang berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Agil dan Hendra. Toro menatap Hendra karena tidak mendapatkan jawaban.
Hendra mengangkat kedua pundaknya, dia juga tidak tahu Agl bakalan pergi kemana.
“Apa ada masalah?” Gavin menerobos diantara jajaran Agil dan Hendra.
“Nggak ada, mending kalian pada ke kantin atau tidur di kelas,” pinta Agil.
“Kita kan setia kawan Gil, masa iya mau meninggalkan lo yang sedang bermasalah,” Gavin tidak mau dianggap lupa teman.
Agil menghentikan kedua kakinya, ia menatap tiga sahabatnya bergantian.
“Jangan banyak tanya, dan jangan membuat ke kacauan,” pesan Agil sebelum ia memasuki kelas Nana.
“Lo kenapa masuk kelas ini?” tanya Toro padahal baru saja Agil mengatakan agar ketiga sahabatnya itu tidak banyak tanya.
Agil menoleh dengan memicingkan matanya, Toro langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.
Agil meneruskan jalannya, ia melangkahkan kakinya pelan, kedua matanya mengedarkan ke seluruh kelas mencari tempat duduk Nana. Nana yang melihat Agil langsung turun dari kursi, ia bersembunyi di kolong meja.
Agil tersenyum, ia sekelibat melihat seseorang yang menunduk. Ia tahu hanya Nana yang akan merespon dengan menghilang. Zia dan Sena langsung duduk tegang, karena Toro,Hendra dan Gavin berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada seperti seorang bodyguard Agil.
Agil mengetuk meja sedikit keras, Nana menghela napas ia mengangkat kepalanya. Agil menggerakan jari telunjuk kiri agar dia menghampirinya.
“Mampus gue, pasti ini gara-gara gue membuang rokoknya lagi,” gumamnya pelan.
Nana berdiri, tangan kanan Agil memegangi ujung meja agar kepala Nana tidak membenturnya. Nana berdiri menatap Agil sebentar lalu menundukan kepalanya.
“Duduk,” suruh Agil.
Meskipun hanya menyuruh duduk, namun suaranya datar membuat Nana dan yang mendengarnya bergemetar. Agil menaruh ponsel di depan Nana. Nana menatap Agil, lalu menatap ponselnya dan menangis.
“Hp gue,” Nana mengatur napasnya, agar ia tidak menangis. Namun ia gagal, napasnya mulai tersendat-sendat.
“Zia hp gue,” Nana mengangkat hpnya memperlihatkan kepada Zia, air matanya sudah membasahi Nana.
“Puas lo!” Bagas berdiri lalu mendorong Agil sampai dia menabrak dinding. Bagas gerah melihat Nana di perlakukan seperti itu sama Agil.
Agil mengangkat tangan kirinya, saat Toro,Gavin dan Hendra ingin menghajar Bagas.
“Lo ada masalah apa sama gue?”
__ADS_1
“Gue memang nggak ada masalah sama lo, tapi kalau lo menggangu Nana itu menjadi masalah gue,” Ucap Bagas tegas.